Jumat, Desember 04, 2009

Kurban Buku ala John Wood


oleh A Qorib Hidayatullah
[Digunting dr Jawa Pos, 29 November 2009]

BERKAT Microsoft, John Wood bergelimang harta dan materi. Namun, dia kemudian memilih banting setir, menjadi seorang filantropi untuk masyarakat negara-negara miskin. Dia sedang membangun 7.000 per­p­us­takaan di pelosok dunia.

***

Ada benarnya petuah buku-buku how to (bu­­ku serial motivasi) bahwa hidup mapan tak menjamin kebahagiaan seseorang. Se­per­ti yang dijalani John Wood, mantan bos Mi­crosoft. Profesi, gaji, dan saham menjadi per­taruhan John Wood yang kemudian memi­lih tenggelam dalam arus kemanusiaan.

Sejak kecil, John Wood memang gemar mem­baca. Menurut pengakuannya, saat ma­sih SMP, dia kerap menambah stok pinjaman bu­kunya di perpustakaan sekolah. Dia sering me­rayu pihak manajemen perpustakaan seko­lah agar bisa meminjam buku lebih banyak. Dia pun akhirnya diperbolehkan meminjam buku lebih banyak daripada siswa-siswa lain.

Keranjingan baca John Wood berjalan hing­ga dia dewasa. Dia lalu menggagas ber­di­rinya lembaga nirlaba Room to Read pa­da 1999. Lembaga itu bergerak di bidang pembangunan sekolah-sekolah serta penyediaan buku-buku untuk anak-anak di negara miskin.

Keteguhan cintanya pada dunia literasi (ba­ca-tulis) dibuktikan John Wood dengan se­penuh hati. Dia amat rajin mengisi jurnal ha­riannya. Misalnya, catatan perjalanan saat dia berekspedisi menaklukkan keangkuhan pun­cak Himalaya. Dalam perjalanannya itu, John Wood menyaksikan langsung kemela­ra­tan dunia ketiga (Nepal) yang kesulitan men­dapatkan akses pendidikan. Mayoritas ma­s­yarakatnya mengalami buta huruf. Ba­nyak sekolah yang dikelola apa adanya. Se­kolah-sekolah di wilayah Kathmandu, ibu kota Nepal, yang dikunjungi John Wood, tak memiliki banyak buku di perpus­takaannya. Pihak sekolah pun tidak tahu ke­pada siapa mereka harus miminta bantuan. Akhirnya, pengelola sekolah berinisia­tif mengetuk hati para pendaki pegunungan Hi­malaya, termasuk John Wood, agar mau mem­bantu mereka.

Potret kelam itulah yang memantik sema­ngat John Wood menjadi filantropi untuk pro­gram pemberantasan buta huruf, mem­bangun gedung sekolah, dan mengasah gai­rah membaca warga dunia ketiga (Nepal, India, Vietnam, Kamboja, dan lain-lain). Sepulang dari pendakian di pegunu­ngan Himalaya, John Wood langsung me­la­yangkan surat elektronik (e-mail) kepada te­man, kerabat, dan para donasi di seluruh du­nia. Dia mengabarkan kesaksiannya di Ne­pal. Pengalaman menjadi direktur bidang pemasaran Microsoft di wilayah Asia Pa­sifik menjadikan John Wood tak kesulitan untuk menarik simpati dunia dalam aksi voluntirnya itu.

Personifikasi John Wood memang sangat me­narik. Dia tak tergilas oleh mesin hitam-pu­tih bisnis kapitalisme Microsoft. Kenda­ti bekerja cukup lama di Microsoft, dia te­tap meluangkan waktu untuk kegemarannya membaca dan menulis buku. John Wood bercita-cita mewarisi semangat man­tan Presiden AS Jimmy Carter yang dia a­le­­gorikan sebagai ''Si Pengasih Manusia''. Dalam buku The Unfinished Presiden­cy (1998), dia menceritakan kisah perjalanan Jimmy Carter di luar Gedung Putih. Car­ter menahbiskan dirinya sebagai peker­ja sosial yang membangun tempat tinggal bersama Habitat for Humanity dan memantau pemilihan umum di seluruh dunia untuk mem­berikan aspirasinya.

Pada awal 1990, Carter memimpin gerakan sosial memberantas penyakit cacing guinea. Parasit mikroskopis itu telah menyengsarakan jutaan orang di Afrika dan Asia. Carter bersama William Foege, mantan kepala Centers for Disease Control (Pusat Pengendalian Penyakit di AS), perlu meyakinkan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) untuk memilih penyakit cacing guinea sebagai penyakit kedua yang harus diberantas dari muka bumi, setelah cacar.

Berkat kegigihannya melayani kemaslahatan manusia, John Wood bersama Room to Read berhasil menyita simpati masyarakat internasional. Dia pun layak mendapatkan banyak penghargaan, di antaranya anugerah Time Asia's Heroes Award 2004.

Dalam setiap aksi amalnya tersebut, John Wood tak pernah menampilkan sisi kelam ma­nusia, malapetaka, dan kesuraman. Se­ba­­liknya, dia selalu menunjukkan optimis­me penuh harapan di daerah garapannya. Dalam lembar-lembar proposal yang dikirim­kan ke para donatur, dia tak pernah me­lampirkan foto-foto anak yang dikerubu­ngi lalat atau potret keluarga kurang gizi yang berbaring dalam debu. Dia tak me­nga­mal­kan idiom ''Tangisan Panjang Sally Struthers''.

Ada lima prinsip yang dipegang John Wood untuk meyakinkan para donatur. Sa­lah satunya dengan mengatakan, ''Orang-orang sedang mencari lebih banyak makna da­lam hidup mereka. Mendanai pendidikan akan memberikan suatu perasaan yang he­bat bahwa Anda telah membantu mengubah dunia menuju lebih baik.''

Kini, Room to Read berkembang pesat di ba­nyak negara. John Wood tak lagi sendiri. Dia didukung para pahlawan yang berlomba-lomba membantu mengembangkan Ro­om to Read.

Di Tumpang, Kabupaten Malang, ada Per­pustakaan Anak Bangsa ampuan Eko Cah­yono yang gerakannya mirip seperti di­lakukan John Wood dengan Room to Re­ad-nya. Namun, untuk mengembangkannya, dia butuh support dari berbagai kala­ngan, termasuk pemerintah. Hal itu dilakukan agar perpustakaan yang kini memiliki pu­luhan ribu koleksi buku dan beranggota lebih dari dua ribu orang itu mati setelah pengelolanya tak kuat lagi membayar uang sewa bangunan. (*)

Minggu, November 08, 2009

Melampaui Ikhtiar Ahmad Wahib


Oleh A Qorib Hidayatullah

“Aku ingin al-Quran itu membentuk pola berpikirku. Aku tak tahu apakah salama ini aku sudah Islam atau belum. Tapi bagaimana mengintegrasikan al-Quran itu dalam kepribadianku? Bagaimana?” (Pergolakan Pemikiran Islam: Catatan Harian Ahmad Wahib LP3ES: Cet I 1981). Ditulis pada tanggal 11 Maret 1969, hlm 320.

Prolog
Hingga kini, titik keyakinan saya pada wacana keislaman kaitannya dengan HMI, buku Pergolakan Pemikiran Islam: Catatan Harian Ahmad Wahib (LP3ES: Cet I 1981), bisa dijadikan pemantik tunggal diskusi keseharian tentang Islam. Jika tak berlebihan, buku itu selalu relavan dengan keadaan zaman. Sebab, Ahmad Wahib pada tahun 70-an mampu mengarsiteki tema-tema diskusi tentang teologi, pembaharuan pemahaman Islam, politik, dan kebudayaan, di mana masalah-masalah yang diusung dalam tiap-tiap tema diskusi tersebut tampak melampaui pemikiran arus utama, Wahib mampu melirik kritis permasalahan-permasalahan keislaman dan keindonesiaan masa depan.

Ahmad Wahib dilahirkan di Sampang, Madura, 9 November 1942. Menapaki pendidikan di perguruan tinggi, UGM (Universitas Gadjah Mada) Yogyakarta di Fakultas Ilmu Pasti dan Alam (FIPA). Kendati mahasiswa eksakta, Wahib gemar membaca buku-buku ilmu sosial modern. Wahib bukan tipikal mahasiswa yang mengamalkan prinsip 3 K (kampus, kantin, dan kos-kosan).

Ia sangat gemar membaca dan berdiskusi. Al-hasil, Wahib membikin limited group (kelompok diskusi) bersama M. Dawam Rahardjo serta Djohan Efendi yang bertempat di rumah Prof. Mukti Ali (dosen IAIN Sunan Kalijaga saat itu).
Dalam kehidupan menjadi mahasiswa, Wahib melakoni aktivisme konkret. Ia berorganisasi HMI (Himpunan Mahasiswa Islam), hingga menjabat pengurus Badko (Badan Koordinator) HMI Jawa Tengah. Kaitannya dengan HMI, Wahib menjadi pengkritik (insider) bagaimana kader-kader HMI mampu memahami sebagai insan akademis, insan pencipta, dan insan pengabdi.

Sayangnya, Wahib lekas tutup umur di usia muda (31 Maret 1973). Ia tertabrak motor saat keluar dari kantor majalah Tempo Jakarta. Meski mati muda, Wahib tak hidup sia-sia. Ada 2 (dua) outsider (peneliti dari luar), Greg Barton dan A. H. John, yang membicarakan Wahib secara bernas. Greg Barton membesut Gagasan Islam Liberal di Indonesia: Pemikiran Neo-Modernisme Nurcholish Madjid, Djogan Efendi, Ahmad Wahib, dan Abdurrahman Wahid (Pustaka Antara: 1999), dan A.H. John membikin tulisan di jurnal Ulumul Qur’an Vol. III No. 2, Sistem atau Nilai-nilai Islam? Dari Balik Cacatan Harian Ahmad Wahib (1990).

Wahib dan Islam yang belum usai
Dari sekilas kehidupan Ahmad Wahib itu, saya hendak mengajak kawan-kawan mengamalkan geliat intelektualisme keislamannya Wahib. Minimal kawan-kawan membaca buku catatan harian Ahmad Wahib itu. Sehingga, dari situ kawan-kawan mampu mewarisi ide cemerlang dari Wahib.

Wahib pemuda yang berani. Ia tanpa rasa takut sedikitpun mendiskusikan masalah-masalah tauhid (teologi). Keislaman yang hendak dicapai Wahib adalah keislaman yang selalu dan harus terus dicari (proses), yang belum usai. Bagi Wahib, orang yang menganggap bahwa Islam itu sudah final dan universal adalah sesat (sikap berpikir yang salah). Wahib tidak setuju bila Islam dianggap agama yang telah lengkap bekal untuk menjawab masalah-masalah kemanusiaan dan kehidupan. Hal ini, kata Wahib, hanya akan membawa pada kejumudan, kemandekan, statis, dan bekunya Islam.

Lebih jauh, Wahib mengatakan bahwa kebekuan umat Islam disebabkan pada orientasi yang sangat kuat terhadap syariat (fiqh mainded). Orientasi keagamaan yang seperti itu akan memunculkan keberagamaan yang formalistik dan artifisial, lalu menggiring kepada eksklusivisme agama. Fiqh, menurut Wahib tak lain adalah hasil interpretasi ajaran Islam di suatu tempat dan waktu tertentu. Ia tak bisa dianggap dan disikapi secara sama seperti al-Quran maupun hadist. Jika al-Quran dan hadist adalah sumbernya, maka fiqh adalah penafsiran atas kedua sumber tersebut. Sebab, fiqh ialah hasil penafsiran kontekstual, sehingga fiqh tidak mutlak.

Dengan demikian, Wahib bukan penganut agama yang hitam putih (halal-haram). Ia dalam beragama sangat toleran, memperjuangkan nilai-nilai keragaman dalam agama. Di Yogyakarta, Wahib bermukim di asrama Katolik, asrama mahasiswa Realino. Sehingga, ia pun kenal dan kerapkali diskusi dengan pemuka Ordo Jesuit, seperti Bruder Van Zon, Romo Stolk, Romo Willenborg, dan Romo De Biliot. Hal ini wujud inklusivisme (keterbukaan) keberagamaan Wahib.

Dalam memahami Islam, Wahib menjadikan akal sebagai alat. Ia tidak cukup memiliki bekal “studi agama” yang rumit untuk memahami Islam. Penggunaan akal bagi Wahib tidak terbatas pada fungsi akal sebagai salah satu sarana memahami realitas dan hakikat agama. Akal yang dimaksud Wahib adalah akal bebas dan akal sistematis sebagai seperangkat ilmu.

Dengan akal bebas, seseorang akan bisa memahami segala fenomena dari sudut pandang ia sebagai manusia, bukan dari sudut pandang Ilahiah (Tuhan). Sebab hakikatnya, pengetahuan terhadap yang Ilahi mempunyai konsekuensi bagi kehidupan dan kepentingan manusia sendiri, dan bukan kepentingan Tuhan. Serta, manusia itulah yang paling mengetahui keadaannya sendiri. Sedangkan akal sebagai seperangkat ilmu bisa diartikan sebagai metode (cara) untuk memahami realitas secara lebih sistematis (tersusun).

Kepercayaan Wahib yang begitu mengagungkan kemampuan akal menghantarkannya berada pada barisan kaum rasionalis, atau dalam istilah Greg Barton sebagai pemikir liberal. Implikasinya, pemahaman Islam yang dikembangkannya memiliki kekhasan tersendiri yang ditengarai berbeda dengan paham kebanyakan umat Islam lainnya. Islamnya Wahib adalah Islam yang rasional, inklusif, pluralis, dan toleran.

Sejarah Ahmad Wahib adalah sejarah pergulatan, doktrin, dan realitas sosial. Mari ramai-ramai mewarisi semangat Ahmad Wahib. Menahbis diri menjadi Wahibian, pengikut Ahmad Wahib. ***

Minggu, Oktober 25, 2009

Kebajikan Khas Manusia Unggul (Ulul Albab)


Oleh A Qorib Hidayatullah

Syahdan, John Wood, dewan eksekutif Microsoft melakoni tradisi hidup unggul. Lewat proyek raksasa di bidang humaniora (Room to Read) yang mengarsiteki 7.000 perpustakaan di seluruh pelosok dunia, John –sapaan akrab John Wood– rela menanggalkan karir cemerlang di Microsoft lalu dia tapaki hidup mendengar jerit lirih panggilan kemanusiaan, yaitu meminimalisir angka buta huruf warga dunia ketiga, Nepal.

Jika jamak dipahami bahwa ulul albab sebagai representasi dari orang-orang yang memiliki daya intelektual tinggi dan keteguhan hati, maka sangat membanggakan bila UIN Maulana Malik Ibrahim terus menggawangi mahasiswanya dengan laboratorium ulul albab. Sebuah laboratorium kebajikan hidup yang hendak menyutradarai manusia-manusia unggul dengan 4 (empat) kekuatan khas: Kedalaman Spiritual, Keagungan Akhlak, Keluasan Ilmu, dan Kematangan Profesional.

“Pikiran picik membicarakan orang lain. Pikiran biasa membicarakan kejadian. Pikiran besar membicarakan ide-ide.” (Arvan Pradiansyah, The 7 Laws of Happiness: 2008). Manusia unggul diharap mampu membicarakan tentang ide-ide besar. Ia berada pada bayang-bayang kebesaran (shades of greatness). Buku Universitas Islam Unggul; Refleksi Pemikiran Pengembangan Kelembagaan dan Reformulasi Paradigma Keilmuan Islam (UIN Malang Press: 2009), Prof. Dr. Imam Suprayogo menjadikan mimpi (ide) sebagai signature strength berkembang dan besarnya kampus UIN yang beliau pimpin. Intelektualisme kampus ulul albab lahir dari tradisi keilmuwan yang mapan (sintesis agama dan sains).

Teori Manusia Unggul

Jalaluddin Rakhmat –akrab disapa Kang Jalal–, pemikir modern Islam di Indonesia memberi alegori khusus bagi manusia unggul, yaitu manusia besar (Rekayasa Sosial: Reformasi, Revolusi, atau Manusia Besar: 1999). Kang Jalal merujuk teori-teori tentang great individuals (manusia-manusia besar yang mengubah sejarah). Thomas Carlyle, misalnya, adalah penulis buku Heroes and Hero Worshipers (Para Pahlawan dan Pemujaan). Menurut Carlyle, sejarah adalah biografi manusia besar “history of the world is the biography of the great man.” Pada salah satu bagian dalam bukunya, Carlyle menulis tentang Rasulullah, The Hero as The Prophet, Pahlawan sebagai Nabi.

Lebih lanjut, Thomas Carlyle, filosof dan sejarawan Skotlandia itu, membesut aforisme seperti ini, “Pada seluruh babakan sejarah dunia, kita akan menemukan manusia besar (unggul) sebagai juru selamat yang niscaya di zamannya; sebagai sambaran kilat yang tanpa itu bahan bakar tidak akan terbakar. Sejarah dunia… hanyalah biografi manusia besar.”

Dalam teori Carlyle, seorang manusia unggul adalah intelektual universal. Ia berpijak pada nilai-nilai universal dan mengubah manusia sejagat. Perubahan yang dilakukan bukan semata-mata karena kemampuan intelektualnya, melainkan lebih banyak karena kemampuan bertindaknya. Manusia unggul adalah “man of actions”, lebih dari “man of thoughts.” Ketika manusia unggul itu bertindak, ia ditanggapi, dibalas, dan disambut oleh masyarakat luas, atau massa yang besar dan setia. “Kita semua mencintai, menghormati dan merunduk pasrah pada manusia di hadapan manusia unggul. Masyarakat ditegakkan di atas pemujaan pahlawan, hero-worship.

Berbeda dengan Ali Syariati dalam memahami manusia unggul. Pemikir asal Iran itu mengidentikkan manusia unggul dengan manusia yang berkapasitas intelektual canggih. Namun, Ali Syariati lebih rinci lagi membagi 2 (dua) kategorisasi orang pintar: ilmuwan dan intelektual. Ilmuwan bersifat universal. Ia diterima di mana pun. Newton adalah ilmuwan di Inggris, Jerman, Jepang, hingga di Indonesia, dll. Sedangkan intelektual lebih bersifat lokal. Ia adalah orang yang berhasil menangkap dan memahami realitas bangsanya. Ia memengaruhi bangsanya dengan berpijak pada nilai-nilai yang dianut bangsanya. Sebab itu, Jean Paul Sartre, hanya bisa menjadi intelektual Perancis. Ia tidak cocok di negara lain.

Tak semua orang bisa ditahbis sebagai manusia unggul. Mungkinkah terjadi perubahan besar dalam sejarah umat manusia sekiranya Muhammad SAW tidak lahir? Hanya orang yang memungkinkan dirinya saja bakal menjadi pemimpin tangguh, yang lahir dari rahim manusia unggul (ulul albab). Sebab, mereka memberi bekas yang abadi di dalam jejak-jejak sejarah, lasting imprint in history.

Keunggulan manusia ialah kesahajaan dan kemuliaan (isy kariman au mut syahidan). Mampu memperjuangkan hidup secara mulia, bukan malah takut hidup dan mengakhiri hidup dengan mimpi buruk mati bunuh diri (terorisme). Meraih derajat manusia unggul merupakan avonturisme pencarian hidup. Manusia unggul hanya mampu dicapai oleh orang-orang yang mau mengupayakan, dan orang yang gemar membicarakan hal-hal yang mungkin.

Dalam tradisi masyarakat Timur, sebagai homo simbolakum, manusia unggul bukan pada status sosialnya yang mentereng (self glory). Kajian teori kritis memaparkan, status sosial manusia modern (Barat) diditerminasi oleh pola konsumsinya. Dalam perspektif Baudrillard, konsumsi berkaitan dengan tanda. Dalam mengonsumsi, sesungguhnya pribadi manusia menentukan diri mereka sendiri. Woodward meyakinkan, manusia dinyatakan berbeda antara satu dengan yang lain menurut barang yang mereka beli. Semakin tinggi tingkat konsumsi (akses modal) manusia modern Barat, maka status sosialnya makin terangkat dan menjadi manusia unggul.

Manusia unggul (kader ulul albab) bukan sebuah identitas sosial yang berkaitan dengan labelik konsumtif-material (akses modal). Manusia unggul ulul albab ialah manusia yang memiliki kebajikan khas (seperti tokoh-tokoh yang penulis sitir di atas), progresif-transformatif, nyaman bergelut dengan pengetahuan dan berani bertarung di pentas akademis-ilmiah. Dengan kata lain, manusia unggul ulul albab berada pada titik genius keprigelan terbinanya insan akademis, pencipta, pengabdi, yang bernafaskan Islam dan bertanggung jawab atas terwujudnya masyarakat adil-makmur yang diridhai Allah SWT.

Selasa, September 15, 2009


MOHON MAAF LAHIR BATHIN.

SALAM TAKZIM,
A Qorib Hidayatullah & Tri Wahyuni
Sekeluarga...

Sabtu, Agustus 29, 2009

Kemerdekaan dan Ramadhan


Oleh A Qorib Hidayatullah

Dua tema di atas tidak melulu menjadi tema wacana menara gading (absurd). Kemerdekaan dan ramadhan bebas dicicipi hingga masyarakat pereferal (pinggiran). Semarak perayaan kemerdekaan tanggal 17 Agustus pada hari-hari sebelumnya tampak gempita dengan riuh semangat segar masyarakat pedesaan. Panjat pinang, tarik tambang, hingga lomba makan krupuk menjadi soliditas keakraban antar masyarakat.

Dus, menarik dilirik kedekatan waktu acara kemerdekaan (Dirgahayu Republik Indonesia) dengan bulan suci ramadhan. Sekilas ditelisik dari luar dua momen tersebut mengusung elan vital yang sama yaitu semangat mengenang dan kebaruan serta pengabdian (ibadah).

Di arus pewacanaan media, kemerdekaan dan ramadhan menjadi ulasan segar dan menarik. Pengamat dan analis berkompetensi serempak ramai mengulas dua tema tersebut. Di koran misalnya, menyediakan rubrik/edisi khusus tentang kemerdekaan dan ramadhan. Beragam tilikan yang sengaja dibidikkan terhadap dua momen agung itu. Ada yang menelisik berdasar semangat historisitas hingga kontekstualitas (meminjam istilah almarhum WS Rendra disebut manjing kahanan).

Kemerdekaan adalah memoria slip yang harus dihadirkan “master”nya di zaman/era kekinian. Perjuangan sukses para pahlawan menendang lemah dan mengusir kependudukan Belanda dan Jepang saat itu tidak hampa semangat. Sehingga, penghadiran semangat yang sama itu –di era reformasi— ini sangatlah niscaya. Jika semangat pejuang lampau melawan penjajah sonder pamrih maka sekarang terbalik. Pejuang dan pahlawan berlomba merangkak merebut elitisme yang gemar pamrih. Jika zaman dahulu pejuang gugur jasadnya disemanyamkan di makam pahlawan, beda dengan sekarang, penghargaan pada “pahlawan” abad 21 lebih meriah dan bertumpuk tanda jasanya.

Tak ayal, prakarsa mengenang kekentalan semangat pahlawan di zaman penjajahan perlu ditampilkan. Hal ini, mengundang kepedulian pakar filmis Hollywood, Rob Allyn (produser film), seorang specialist effect di bidang film perang dan dibantu anaknya, Connor Allyn, membesut film Merah Putih. Film Merah Putih disutradarai Yadi Sugandi dan diarsiteki oleh kru orang Indonesia sendiri dan asing. Pembikinan film yang berlatar tahun 1946-1947 itu memagut biaya yang tergolong besar, 60 miliar.

Lewat film Merah Putih itu kesadaran kita dihentak, betapa mahalnya harga mengenang masa silam. Kendati kenangan tak melulu manis, pun pula ada kenangan pahit (kelam), namanya sejarah kudu diapresiasi secara apa adanya. Sejarah yang tak dibungkam dan tidak ditunggangi kepentingan apapun, demikian harapan dari film Merah Putih tersebut.

Itulah iktikad mengenang sejarah masa silam lewat film. Berbeda dengan problematika kemerdekaan era kini. Jamak diketahui, meski kita de jure merdeka tapi secara de facto belum tentu. Misalnya, kita ditengarai telah dijajah secara soft (halus) dengan baju (kemasan) imperialisme budaya. Kita sejatinya tidak merdeka di aras budaya. Budaya yang kita lakoni saat ini adalah budaya yang mengabdi pada pihak luar (asing), tak ada independensi. Baik di sisi teknologi hingga perkara mengenakan busana (pakaian). Sehingga, permasalahan imperialisme budaya kita sejatinya dituntut kuat berada pada awareness ke-Indonesiaan.

Lain lagi dengan masalah kelonggaran kedaulatan teritorial Indonesia. Indonesia acap ditertawakan negara tetangga ihwal kelemahan kuasa teritorial yang sering kebobolan. Indonesia yang memiliki luas yang lebih di bidang teritorial (kelautan) dibanding daratan menjadi ancaman serius di bidang sekuritas kemaritiman. Al-hasil Harian Umum Kompas menurunkan laporan jurnalistik bernas terkait Nasionalisme di Tapal Batas. Wartawan investigatif Kompas menelusuri kawasan-kawasan teritorial yang kerap menyulut sengketa dengan negara tetangga. Laporan koran Kompas itu mengabarkan ontologi nasionalisme kemerdekaan adalah penghayatan penuh orang-orang (warga Indonesia) yang berada di perbatasan. Di mana nasib dan kesejahteraannya kerapkali terancam bahkan tergadaikan (yaitu memihak pada negara tetangga/asing). Benar-benar masygul nasib warga perbatasan.

Merdeka! Let’s Come Ramadhan
Pasca kemerdekan RI usai diperingati, kita umat muslim diperhadapkan pada momen suci-transenden cegah dahar klawan guling (bulan ramadhan). Umat muslim dalam bulan ramadhan (puasa) diseru wajib menanggalkan kebutuhan manusiawi di saat siang hari selama sebulan penuh. Dan umat muslim pun dituntut menjauhi dan tak menuruti nafsu “daging”.

Kemerdekaan dan ramadhan berkait-kelindan. Dilirik perspektif teologis kedua momen itu sama-sama menyeru pesan hidup mulia (asketis) atau mati syahid, menghantarkan pada kesyuhadaan. Ditarik pada relasi ibadahnya, keduanya sama-sama menyiratkan pola hubungan ibadah vertikal dan horisontal dan berdaya nyala transendensi.

Titik perjumpaan yang sama yaitu narasi perjuangan berlarat menahan diri dalam kemerdekaan dan ramadhanisasi adalah wahana karantina tubuh-jiwa. Ramadhan bisa dibilang “pemerdekaan” manusia lepas diperbudak nafsu “daging” di antara dua kaki. Sedangkan kemerdekaan ialah upaya pelepasan secara fisik maupun jiwa dari intervensi jajahan kolonial. Kemerdekaan dan ramadhan pula sama-sama memendarkan penderitaan. Penderitaan yang menggiring pada sakralitas tubuh dan jiwa. Alegori bijak dari Dono Baswardono patut ditampilkan, Kesedihan lebih baik ketimbang tertawa. Kesedihan memurnikan kita. Hadapi kesedihan dengan air mata, waktu, kejujuran, dan pengharapan.

Berdalih memerdekaan diri, manusia mampu secara lambat-laun meraih derajat jati dirinya, baik jati kebangsaan maupun jati diri hakiki, yaitu sebagai insan pengabdi kepada Allah SWT. Dan, diri yang sejati hanya bersemayam di lubuk hati tepian ilmu. Merdeka! Marhaban Ya Ramadhan…

Kamis, Juli 30, 2009

Dongeng Perubahan dari PSIF


Oleh A Qorib Hidayatullah

Tak banyak lembaga kebudayaan yang mengusung nilai keislaman dan humanisme. PSIF (Pusat Studi Islam dan Filsafat) Universitas Muhammadiyah Malang menggawangi ihwal gerakan budaya intelektualisme agar tak masygul. Islam dan kemanusiaan memang menjadi wacana eksotis di mana banyak kalangan membonceng kedua kajian itu sebagai arah dan inspirasi gerakan.

PSIF sebagai ikon gerakan humanisme beberapa pekan silam pernah menggelar seremonial kebudayaan yaitu Dongeng Perubahan (di pengujung bulan Juni). Acara tersebut diampu oleh Garin Nugroho (Sineas), Franky Sihalatua (musisi), dan Sukardi Rinakit (politisi). Kemasan acaranya pun tampak tak monoton. Pesan-pesan (dongeng) perubahannya diiringi musik, hingga akhirnya mewujud menjadi karya konkret kemanusiaan. Ada musikalisasi puisi serta nyanyian perubahan yang menghentak nurani. Gabungan antara pakar dunia filmis dan komunikasi, Garin Nugroho, dengan Bung Franky membikin dongeng terbuhul hingga nyaman disimak. Dongeng yang lazimnya dihantar menidurkan anak manusia, namun dongeng perubahan malam itu justru malah tak membuat leyeh-leyeh pemirsa, malah mamaksa “bangun” dari tidur lama kebungkaman menuju kelahiran embrio kritisisme.

Safari budaya yang dihelat dalam Dongeng Perubahan tersebut bukan nir-kepentingan. Kedekatan waktu dengan pilpres (8 Juli 2009), dijadikan ajang “basah” para seniman dan musisi berparade demi dalih kesadaran bagi pemilih untuk memilih pemimpin secara objektif, yaitu memilih berdasar track-record masing-masing kandidat.

Bung Franky dan Garin saling sahut-menyahut menembang lagu romantik, kritik, dan pencerahan. Mereka saling bergantian menampilkan ekspresi masing-masing. Dan jeda parade penembangan itu, Sukardi Rinakit maju ke depan podium, lalu mengulas secara kritis terkait kepemimpinan muda.

Selain Dongeng Perubahan, PSIF beberapa hari silam menghadirkan sastrawan kawakan yang sekaligus redaktur majalah Horison: Jamal D. Rahman, Agus R. Sarjono, Joni Ariadinata, dan Iman Soleh. Mereka diundang ke PSIF guna mengulas kelindan sastra dengan humanisme.

Saat mengawali acara, mereka berempat saling memperkenalkan dirinya masing-masing. Setelah momen perkenalan selesai, kang Iman Soleh menampilkan teatrikalisasi puisi. Audiens dibikin tercengang berkat penyampaian puisi yang sangat menyentuh hati, dan dibumbui kekocakan-kekocakan khas.

Sastra dan humanisme memang sangatlah dekat, bererat kait. Majalah Horison yang mereka (Jamal D. Rahman, dkk) gawangi mengusung nilai-nilai humanisme. Kedekatannya dengan kalangan siswa merupakan bentuk konkret kemanusiaan. Horison menabalkan dirinya sebagai majalah yang telah lama eksis mengabdi demi keberlangsungan daras sastra bagi pelajar. Sehingga alhasil, Horison menjadi ajang apresiasi estetis-kesusastraan siswa.

Tentu, kehadiran para maestro literer tersebut di PSIF berdalih menyeharikan semangat sastra dan humanisme. Sesuai dengan misi PSIF kepada umat, yaitu meladeni perihal gerakan Islam, kebudayaan (sastra), dan kemanusiaan. Dua rangkaian acara yang benar-benar mencerahkan.

Selasa, Juni 09, 2009

Mimpi Menjadi Presiden Hebat


Judul Buku : Andai Presiden Sehebat Harry Potter
Penulis : Agenda 18
Penerbit : Kanisius
Cetakan : Pertama, 2009
Tebal : 188 hlm
Peresensi : A Qorib Hidayatullah*

Tahun 2003, Agenda 18 mewujud. Agenda 18 dihuni anak-anak muda (baca: penulis muda) yang berbasis Katolik dan berwawasan plural.

Buku setebal 188 halaman ini memuat 16 judul tulisan dari 14 penulis muda yang tergabung di Agenda 18. Buku yang mampu meringkas percikan mimpi para kuli tinta yang sadar menegur pemimpin bangsa lewat aksi literasi.

Tulisan yang terhimpun dalam buku rampai ini sengaja dikemas renyah-mengalir sesuai selera anak muda. Nuansa keremajaan ditemukan tatkala membuka lembaran buku di mana tiap-tiap judul tulisan dibuat “tak ilmiah.”

Hal itu tampak saat mata memelototi judul buku ini: Andai Presiden Sehebat Harry Potter. Sekilas memantik kesan bahwa pemimpin negeri ini didamba laiknya tukang sulap (sihir). Pemimpin diharap mampu menyulap rakyat melarat menjadi makmur-sejahtera.

Buku rampai ini menyajikan tulisan yang amat beragam terkait persoalan pelik pemimpin bangsa. Roy Thaniago, Selamat Pagi, Mas Presiden (hlm.15), mengabarkan pesan pentingnya pemimpin muda. Roy, di awal tulisannya menyitir petuah Pramoedya Ananta Toer: “Ya, yang bisa mengubah hanyalah generasi angkatan muda…”. Lalu siapa generasi muda itu?

Menurut Roy, generasi muda adalah mereka yang berusia belia (muda). Usianya kisaran 35-50 tahun. Tapi usia bukanlah syarat mutlak seseorang terkategori generasi muda. Ia bisa saja berusia di atas 50, tapi memiliki pikiran yang baru (muda), kultur yang baru (belum pernah terlibat dalam kerja parpol atau pemerintahan yang korup), semangat yang baru, dan juga mimpi yang baru (hlm. 20).

Seperti Ninoy, panggilan akrab Benigno Aquino Jr., suami Corazon Aquino, mantan presiden Filipina. Ninoy pemuda aktif berpolitik. Ia menjadi walikota pada usia yang sangat muda, 22 tahun, lalu berlanjut diganjar jadi gubernur di usia 28 tahun. Dalam usia 34, ia pun masuk sebagai senator termuda Filipina saat itu.

Di belahan dunia lain, sederet nama tokoh muda tampil gagah, seperti Evo Morales, memimpin Bolivia pada usia 47 tahun. Bashar Al Assad dari Suriah menjadi presiden di usia yang belum genap 45 tahun. Hugo Chaves ditahbis menjadi presiden Venezuela pada usia 44 tahun. Pun deretan nama pemimpin muda di Amerika, dari J.F. Kennedy (berusia 43 tahun menjabat presiden), Bill Clinton (47), hingga yang populer dibicarakan saat ini, Barack Obama (47).

Kekuatan dari pemimpin muda itu ialah piawai memelihara mimpi. Seturut Arvan Pradiansyah, The 7 Laws of Happiness (2008): “Pikiran picik membicarakan orang lain. Pikiran biasa membicarakan kejadian. Pikiran besar membicarakan ide-ide atau mimpi-mimpi.” Dan, mungkin kita pun masih ingat kata-kata Benedict Anderson dalam bukunya yang telah menjadi klasik: Imagined Communities (1983) atau, dalam terjemahan Indonesia, Komunitas-Komunitas Imajiner (Insist, 2001). “Bangsa sesungguhnya adalah sebuah komunitas yang diangankan, sebuah komunitas yang dianggit, sebuah komunitas yang diimpikan.”

Betapa penting dan mahalnya menggubah mimpi. Hingga Christa Sabathaly menulis di buku rampai ini, Kalau Presiden Punya Facebook (hlm. 28). Christa mengimpikan presiden turut memiliki jejaring pertemanan (sosial) yang kini lagi mentereng itu. Ia rela mendadani tampilan Facebook-nya dengan profil presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Dan foto yang ditampilkan di Facebook adalah foto Bapak SBY dan Ibu Ani.

Harapan Christa, tatkala Bapak SBY punya account Facebook, bakal banyak rakyat yang akan mengecek profil presiden. Tak hanya untuk memberi penilaian, tapi juga ingin mengenal Bapak presiden lebih dekat dan mendalam (hlm. 30). Sehingga, aspirasi rakyat pun gampang didengar, sebab Facebook menyiadakan wall (dinding) buat komentar.

Tak kalah menarik, Sri Maryanti menulis Dicari: Presiden dan Wapres yang Sensitif Perempuan (hlm. 59). Di tengah makin dekatnya pemilu dan pilpres, Sri gelisah atas nasib perempuan sebagai kaum pemilih yang lebih banyak dibanding laki-laki. Sementara ini, perempuan melulu ditunggangi kepentingan politis, lalu dieksploitasi. Nasib perempuan tak terlalu diperhitungkan. Tak sedikit dari kebijakan elite pemerintah ini ditengarai tidak sensitif berpihak pada perempuan.

Beberapa waktu silam presiden SBY memberikan aspresiasi menarik kepada perempuan Indonesia. Perempuan, ia persepsikan memiliki kelebihan-kelebihan khusus, seperti teliti, hemat, dan lebih sukar diajak korupsi. Persepsinya yang demikian itu diperkuat pengalamannya saat berdiskusi dengan tokoh peraih Nobel, Muhammad Yunus. Yunus berhasil mendorong usaha kecil kelompok miskin dengan melibatkan perempuan dalam program tersebut di negaranya.

Kendati demikian, pilpres kini sudah di ambang pintu. Beragam cara bagaimana berharap agar pemimpin terpilih kelak lebih baik dari sebelumnya. Berseberangan dari itu, Agnes Rita menulis Apa Iya, Kita Butuh Presiden…? (hlm.114). Rita berspekulasi dan membeberkan fakta kota Medan yang tidak mempunyai kepala daerah, setelah Walikota Abdillah dan Wakil Walikota Ramli Lubis ditahan awal bulan Januari 2008. Apakah kota Medan kemudian mandek?

Ternyata tidak. Aktivitas kehidupan masyarakat tetap berlangsung seperti biasa. Pemerintahan daerah masih berlanjut. Media massa pun tak pernah melansir terjadi kekacauan pasca-ketiadaan Walikota dan Wakil Walikota di Medan. Memang, iklim demokrasi saat ini menuntut keleluasaan masyarakat menentukan pilihan sesuai hatinya.

Menikmati sekujur detail tulisan yang disaji dalam buku rampai ini, tampak sekali anak muda memiliki kekhasan tersendiri memotret pemimpin Indonesia ke depan. Komentar Fadjroel Rachman untuk buku ini, “Buku ini mirip sihir, hadir dari anak-anak muda yang tak mau kehilangan mimpi. Kalau terbit di zaman Orde Baru, buku ini pasti dilarang beredar.”

Rute Buntu Peta Pemikiran Islam


Oleh: A Qorib Hidayatullah

Mula-mula dari diskusi bertemakan Peta Pemikiran Islam, yang diampu kakanda Fauzi Hasyim di aula HMI Cabang Malang, memantik pertanyaan yang amat mendasar, “Apa betul Islam memiliki peta pemikiran?.” Kendati pertanyaan ini terkesan sederhana, namun bila disikapi ugal-ugalan akan membikin kemasygulan dalam pentas pemikiran Islam.

Rupa-rupanya gampang dicurigai bahwa daya tafsir keagamaan tidak berangkat dari kesadaran ilmiah, melainkan kesadaran ideologis. Segala kerja tafsir keagamaan ditengarai dibonceng dan dihadiri kepentingan ideologi. Tak ayal, kemaslahatan yang ditawarkan agama semata representasi dari “kuasa selera” mufassir/pemikir/ulama.

Hal ini dapat ditandai dari ikhtiar Dr. Fatima Mernissi yang intim meriset hadis-hadis misoginis (hadis yang berdaya-nyala/berideologi superioritas). Tengok misalnya, di buku garitan Fatima Mernissi, Wanita dalam Islam (Cet. Pertama 1994, edisi Bahasa Inggrisnya terbit pada 1991). Di bukunya itu, Mernissi bersyak-wasangka bahwa muhaddis —meski sekaliber al-Bukhari pun dalam kitab Shahihnya— memiliki ideologi tertentu (baca: kepentingan) dalam menyampaikan hadis rasul, Muhammad SAW.

Diperkuat lagi lewat upaya kawan-kawan di Forum Kajian Kitab Kuning (FK3), yang digawangi Sinta Nuriyah Abdurrahman Wahid, yang intens menyibak muatan ideologi dalam kitab Uqud al-Lujjayn fi Bayan Huquq az-Zawjayn karya Syeikh Nawawi al-Bantani (Lihat Kembang Setaman Perkawinan, 2005). Bertolak dari kerja riset pejuang perempuan asal Maroko itu dan kawan-kawan dari FK3, makin menggenapi asumsi bahwa tiap pola kerja tafsir agama tak luput dari kepentingan ideologi.

Dengan begitu, hemat saya, tampak sukar bila pengkaji agama melulu disibukkan membikin dan mencari peta pemikiran agama (Islam). Sebab, keemasan agama Islam dilirik beres pada masa silam. Pun pemikiran Islam tak luput dari muatan terselubung ideologi tertentu, sangat sulit mendaras peta pemikiran intelektual/mufassir Islam. Selain juga, seakan tak ada dinamisasi pemikiran Islam sehingga menggiring kepada kebuntuan epistemologi pemikiran Islam. Sementara, umat Islam kontemporer berasyik-masyuk (euforia) atas masa kejayaan pemikiran Islam masa silam.

Berbeda dengan umat Barat dalam tradisi pemikirannya yang mapan epistemologi dari tiap undakan preseden paradigma pemikirannnya. Barat memiliki epistemologi pemikiran yang siap saling sahut-menyahut dengan preseden/sejarah bahkan kebutuhan zamannya. Misalnya, dinamisasi epistemologi rasionalisme, empirisme, positivisme, kritisisme, idealisme Jerman/anti-esensialisme, mazhab frankfurt, hingga posmodernisme. Dus, peta pemikiran Islam hanyalah anggitan/anganan semu, mistifikasi.

Generik Studi Agama
Kendati demikian, peluang eye catching pemikiran Islam ialah ketika ditilik dari sudut metodologi studi agamanya. Ada buku bunga rampai besutan Amin Abdullah, Studi Agama: Normativitas atau Historisitas? (1996). Dalam bukunya ini, Amin Abdullah hendak menghijrahkan studi agama yang bercorak normatif-doktriner menuju pendekatan studi agama sosio-historis.

Dalih keberanjakan studi agama ini ialah absennya telaah yang bersifat sosio-historis seperti yang direlikui tradisi studi agama di masa silam akan berkonsekuensi dalam kecenderungan absolutis dan menjadikan teks-teks keagamaan seolah-olah ahistoris tanpa dipengaruhi oleh kondisi ruang dan waktu.

Sejatinya, teks-teks keagamaan yang primer (Qur’an dan Sunnah) maupun yang sekunder (teks-teks tafsir, kalam, dan fikih, misalnya)—dalam pandangan para pendukung studi agama dengan pendekatan historis-empiris—tidak pernah lahir tanpa dipengaruhi konteks sosio-historis (asbab al-nuzul dan asbab al-wurud).

Jika tak berlebihan, Amin Abdullah di buku itu mengajak kita untuk memosisikan aspek historisitas dan normativitas ajaran agama sebagai dua kesatuan integral yang tak harus dipisahkan satu dari yang lainnya. Ibarat dua sisi mata uang dari sekeping koin, demikian Amin Abdullah membuat tamsil, aspek normatif dan historis ajaran agama—begitu juga dua pendekatan studi agama: normatif dan historis—merupakan dua sisi dari satu koin (baca: agama) yang memang harus bisa dibedakan tapi tidak mungkin bisa, dan memang tidak boleh, diabaikan salah satunya.

Studi Agama sebagai Alternatif
Kemajemukan agama dan keanekaragaman pemahaman keagamaan merupakan kenyataan sosio-historis yang tak bisa ditampik oleh siapa pun. Pluralitas agama dan pemahaman keagamaan ini pada akhirnya menjadikan pendekatan studi agama yang melulu mengedepankan pendekatan normatif-teologis-doktriner akan menghadapi beragam kesulitan. Pendekatan historis-kritis, karena itu, harus juga menjadi bagian integral dalam melakukan kajian keagamaan.

Perkembangan gesit sains dan teknologi yang dicapai umat manusia dan perkembangan pesat ilmu-ilmu sosial-kemanusiaan—yang pada akhirnya tentu saja berkonsekuensi juga dalam pergeseran kesadaran manusia dalam memandang fenomena keagamaan--merupakan salah satu penyebab keniscayaan munculnya pendekatan studi agama berwajah ganda tersebut.

Sejak akhir abad ke-19 dan paruh kedua abad ke-20, mulai terjadi pergeseran paradigma pemahaman tentang agama yang semula terbatas sekadar pada aspek-aspek entitas “idealitas”, “doktrin”, dan “esensi”-nya, merambah aspek-aspek lain berupa entitas “historisitas”, “sosiologis”, dan “eksistensi” agama.

Turut mengamini dinamika sejarah kemanusiaan tersebut, adalah absah jika dalam perkembangan selanjutnya fenomena agama pun tidak dilihat semata-mata dalam koridor doktrin teologis-normatifnya (sebagai hard core keberagamaan manusia). Tapi juga meluaskannya pada fenomena agama sebagai sebuah tradisi hasil konstruksi manusia (human construction), sebuah living history, dalam suatu rentang sejarah panjang perjalanan umat manusia dalam memahami dan mengamalkan agama.

Apalagi, meski ungkapan keagamaan manusia semula merupakan ekspresi yang bersifat batiniah-esoteris, dalam perkembangan selanjutnya secara eksternal potensial juga berubah “melembaga” dan dipengaruhi oleh pranata-pratana sosial-kemasyarakatan. Karena itu, ekspresi keagamaan yang melembaga tersebut tidak bisa tidak juga mengalami proses evolusi yang berjalin-kelindan dengan faktor-faktor ekonomi, sosio-budaya, bahasa, dan seterusnya, yang tak kalah rumit dan kompleksnya dibandingkan dengan hard core keberagamaan.

Dengan tetap tak mengabaikan kenyataan bahwa setiap jenis pendekatan agama pada hakikatnya tidak ada yang bersifat exhaustive (mampu menyelesaikan dan memecahkan pelbagai persoalan keagamaan dengan tuntas dan sempurna); maka memadukan kedua pendekatan normatif-doktriner dan historis-kritis tampaknya menunjukkan relevansinya yang penting.

Sebab, tatkala agama melulu didekati secara doktriner-normatif, misalnya, maka ekslusivisme keagamaan merupakan wajah dominan yang akan tampil dari fenomena agama. Apalagi, struktur fundamental bangunan pemikiran teologi memang secara umum bersifat: pertama, mengutamakan loyalitas kepada kelompok sendiri; kedua, subjektif dan menunjukkan keterlibatan pribadi (self involvement) yang kuat; serta ketiga, cenderung menggunakan bahasa aktor (actor), bukan pengamat (spectator) yang mampu “mengambil jarak”.

Di sisi lain, jika fenomena keagamaan hanya dilirik dengan kacamata historis-empiris, maka tidak menutup kemungkinan agama akan terus-menerus dilihat dan diposisikan sekadar sebagai fenomena sosial yang telah kehilangan nuansa kesakralan, normativitas, dan kesuciannya.

Alhasil, bukankah lebih penting memikirkan nasib studi agama dibanding ikhtiar melacak rute/peta pemikiran Islam? Jangan-jangan pemikiran Islam tak memiliki peta alias buntu. Sehingga, jasa studi agamalah yang mampu menangkis serangan kebuntuan peta pemikiran Islam. Wallahu A’lam bi al-Shawab.

Kamis, Mei 14, 2009

Aktivis Kamar yang Kreatif


Oleh A Qorib Hidayatullah

Sangatlah sulit mencari manusia kreatif. Tak segampang sekadar pengakuan diri: sayalah yang kreatif. Kreatifitas adalah praktik atau amal yang sangat menyehari.

Menjadi manusia kreatif niscaya dibutuhkan dalam hal penyelesaian masalah. Tiap sesuatu bila selesai secara kreatif akan tampak beda dibanding dengan penyelesaian masalah sebelumnya.

Mula-mula membaca rubrik Humaniora-Dedaktika, Susah Menjadi Guru Kreatif (Kompas, 20/04), saya tersadar sehabis membacanya. Kreatifitas tak melulu berguna bagi insan pers, artistik, iklan, entertain, dll, yang semua ini tergolong pekerja kreatif. Tapi kreatifitas pula menyelusup di tiap-tiap aras edukasi. Misalnya, agar siswa kreatif, maka itu tak luput dari sejauh mana kreatifitas gurunya.

Mencapai derajat kreatif, guru dituntut menanggalkan otoritas linearnya di kelas dalam mendidik siswa. Guru tak lagi bersikap laiknya instruktur kepada murid hingga ia leluasa dan memiliki kuasa memerintah. Jika guru memaksa melakukan tindakan itu, maka jelas akan menumpulkan daya kreatifitas murid/siswa.

Jika zaman dulu guru ditempatkan sebagai penceramah tunggal di kelas, kini sudah berbeda. Di kelas guru tak hanya tunggal dalam proses belajar-mengajar. Demi dalih kreatifitas, guru turut mengapresiasi siswa yang aktif-kreatif dalam proses belajar-mengajar. Sehingga, ada masa di mana sumber inspirasi pengetahuan tak selalu hadir dari guru, tapi juga bersumber dari siswanya.

Nyala kreatifitas haruslah dianggit atau diimajinasikan. Imajinasi dan kreatifitas bak uang yang memiliki dua mata sisi. Mata air kreatifitas bisa mengalir bila didekati dengan imajinasi. Kekuatan dasar kreatif tergantung seberapa kuat berimajinasi.

Di jagad penelitian pun, imajinasi memiliki andil penting. Menurut pengakuan peneliti Biologi-Molekuler Eijkman, Herawati Sudoyo, agar penelitian itu dinamis maka peneliti niscaya berimajinasi. Hal itu, Hera buktikan dalam karya penelitiannya yang berjudul Keanekaragaman Genetik Manusia Nusantara. Pra-riset asal-usul nenek moyang Nusantara berbasis penelusuran DNA itu, Hera mengimajinasikan bagaimana mereka bermigrasi. “Saya membayangkan mereka berjalan dari Afrika, lalu ke Eropa, terus ke Asia Timur, India, dan masuk ke Sumatera, Kalimantan, dan Jawa yang ketika masih bersatu. Setelah itu meraka menyeberang ke Papua dan Australia. Sebagian ke Nusa Tenggara.”

Dirasa penting berimajinasi demi tampilnya daya kreatifitas. Sehingga, pekerjaan apapun yang dikerjakan itu seakan butuh sentuhan tangan-tangan kreatif. Tak hanya seorang guru dan peneliti melulu. Tak hanya pengecer jasa iklan, artististik, dan audio-visual saja. Tapi bagi seluruh lini-lini pekerjaan butuh kreatifitas. Di mana, pemantik kreatifitas tersebut bermula muncul dari kamar kerja yang imajinatif.

Imajinasi dan Kamar
Kencangnya arus informasi di dunia ketiga membuat siapa saja gampang mengakses apapun. Sekali klik berjibun-jibun data mudah teraup. Hal ini tak dapat ditampik, sebab kelaziman perubahan zaman (perubahan tekhnologi mengubah perubahan sosial) menghantarkan kemajuan manusia. Mc Luhan menuturkan runtuhnya sekat-sekat negara yang disebabkan gencarnya arus informasi. Semuanya mengklimaks menjadi warga global. Lebih rinci Mc Luhan menyebut zaman ini dengan global village.

Temuan Mc Luhan itu memicu asumsi bahwa apapun kini bisa dikerjakan dalam kamar. Jika saat Sekolah Dasar (SD), saya sering dipetuahi guru bahwa membaca membuka jendela dunia. Dengan membaca maka kita bakal tahu pengetahuan dunia. Ini mirip amal tesis Mc Luhan. Dunia dapat dipandang dengan sekadar melongok dari jendela dalam kamar. Kita bakal serba tahu seluruh informasi dunia dengan hanya berada dalam kamar. Tentunya, kamar yang dimaksud ialah kamar imajinatif. Sebuah kamar yang dianggit sebagai peranti dasar mewujudkan nyala kreatif.

Kamar imajinatif tak lepas dari pelaku atau penghuni kamar yang imajinatif pula. Dan, penghuni kamar tersebut juga harus memangku perilaku prolifik, yaitu gemar menyimpan dirinya dalam kamar. Ia mau berlarat sepi, tekun di suasana hening, tak getir dirajam kesenyapan.

Naguib Mahfouz, pesastra adib Mesir ditengarai gemar mengamalkan lelaku prolifik. Ia kerap menangkis serangan keramaian kerumunan masyarakat sekitarnya. Saat berangkat bekerja ia mesti mampir di sebuah kafe langganannya sekadar menghisap rokok dan menyeruput kopi. Lalu ia tak menyengaja dirinya ngobrol atau ngerumpi dengan orang lain, tapi ia memilih membaca koran. Aktivitas seperti itu telah menyehari dilakukannya.

Kendati Mahfouz prolifik ia tak bakal jenuh dengan aktivitasnya yang tampak linear itu. Sebab, ia mampu menafsir kreatifitas dalam kamar kerjanya. Ia menempatkan secara mapan kamar kerja imajinatifnya. Kamar kerja kreatif-imajinatif, lebih tepat Mahfouz menganggap tempat itu laiknya ladang tunggal yang bisa berganti-ganti ditanami tumbuh-tumbuhan. Dan di ruang itulah, pesastra tersohor Mesir itu membesut karya agung literer demi pencerahan masyarakat Mesir. Dengan sastra, Mahfouz hendak mengungkap ketabuan yang meliliti pemafhuman masyarakat Mesir. Hingga pada masanya, karya Mahfouz dilarang beredar.

Kendati demikian, manusia kreatif yang lahir dari embrio kamar kerja kreatif tak mudah dilumpuhkan dan dibungkam suaranya. Sebab, ia terbiasa dalam kamar yang didera kesepian berlarat. Kamar sejatinya ruang ibadah mengabdi pada hidup dengan berkarya. Tentunya, kamar yang dimaksud ialah kamar yang disesaki serakan buku-buku, jurnal, majalah, dan kliping koran.

Mari jadi aktivis kamar, memulai gerak-gerilya dalam kamar. Mengusung dan melakukan perubahan besar dari kamar. Menyusun strategi pergerakan dalam kamar. Memimpikan idealisme mahasiswa dalam kamar. Al-hasil, kamar pun rupa-rapanya menjadi rekayasa sosial baru. Semoga!

Buku dan Pergerakan


A Qorib Hidayatullah

Di pelbagai pagelaran seminar, pembicara andal sederhananya bisa dilirik dari kekayaan referensi dalam penyampaiannya. Tampak argumentasi kukuh yang dipancarkan tiap-tiap pembicara, tak luput seberapa lihai ia menyitir referensi. Dan, keampuhan pembicara meramu apa yang disampaikan hingga ia elegan menjawab pertanyaan penanya, pun tak lepas semesta referensi yang ia baca.

Berdaya referensial di pentas ilmiah seakan niscaya. Pertarungan pakar pengetahuan/akademisi demi memenangkan di arena keilmiahan tentu dipersenjatai referensi yang tak sedikit. Referensi dalam hal ini rupa-rupanya ditempatkan laiknya amunisi guna mengukuhkan teori. Dan, teorilah yang nantinya mewujud sebagai dasar pijakan menjalankan hidup di jagad lelaku keilmiahan. Misalnya, melakoni riset, dll.

Namun, amal referensial tak melulu digunakan saat kerja ilmiah. Aktivitas yang sangat menyehari sekalipun, bisa menunggangi referensi. Misalnya, menyitir referensi saat obrolan ringan bersama teman ataupun kawan sembari menyeruput kopi di café, dll. Sehingga, obrolan yang tadinya hanya terkesan biasa-biasa saja dengan referensi bisa memiliki kekuatan. Tentu, perilaku sang pengobrol tak serampangan menyitir referensi. Dengan kata lain, ia pas memilah referensi dalam mempertajam obrolannya.

Referensi dan Pergerakan
Tak sedikit yang alergi dari kawan-teman kita, bila dalam obrolan bersamanya dipijakkan pada referensi. Sebagai mahasiswa –untuk tidak menyebut aktivis mahasiswa— lazim membicarakan centang-perenang bangsa Indonesia pasca reformasi. Dalam presedennya, mahasiswa terbilang idealis saat ditandai dengan kemenangan memakzulkan rezim lalim Soeharto pada 1998. Sehingga, ada istilah khusus untuk menyebutkan hal ini: Gerakan Masif Aktivis 98. Gerakan aktivis 98 jika tidak berlebihan bisa dibilang asketisme idealis yang pernah dimiliki dalam sejarah pergerakan mahasiswa. Sebab, gerakan tersebut mengusung perubahan agung, reformasi. Mereka –seluruh elemen mahasiswa se-Indonesia— serempak, bersama-sama menyingsingkan lengan baju menangkis dan mengakhiri serangan represifitas Orde Baru. Mereka bergeliat dan bergerak maju membonceng demokratisasi, egalitarianisme, dan humanisme.