<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-1009294533582344733</id><updated>2012-02-16T23:16:46.985+07:00</updated><title type='text'>Je pense donc je suis</title><subtitle type='html'>KEBENARAN ADALAH APA YANG HARUS DI TERTAWAKAN (JEAN BAUDRILLARD)</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://indonimut.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1009294533582344733/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://indonimut.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>[A Qorib Hidayatullah]</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15367290909727515085</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_QWqh36EuAxs/SMw1P_rh7-I/AAAAAAAAAJo/W26QVuYW-Y4/S220/New+Image.JPG'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>73</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1009294533582344733.post-124160730031943312</id><published>2010-05-01T23:06:00.003+07:00</published><updated>2010-05-01T23:10:17.004+07:00</updated><title type='text'>Soe Hok-gie, Inspirator Kaum Muda</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_QWqh36EuAxs/S9xSD18z4gI/AAAAAAAAAS0/PGOqMjROWO4/s1600/Soe+Hok.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 158px; height: 200px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_QWqh36EuAxs/S9xSD18z4gI/AAAAAAAAAS0/PGOqMjROWO4/s200/Soe+Hok.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5466334273696162306" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;DATA BUKU:&lt;br /&gt;Judul Buku  : SOE HOK-GIE…Sekali Lagi, Buku Pesta dan Cinta di Alam Bangsanya&lt;br /&gt;Penulis : Rudy Badil, dkk&lt;br /&gt;Penerbit : KPG (Kepustakaan Populer Gramedia)&lt;br /&gt;Cetakan : Pertama, Desember 2009&lt;br /&gt;Tebal : xl + 512 Halaman&lt;br /&gt;Harga : Rp. 50.000&lt;br /&gt;Peresensi : A Qorib Hidayatullah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski Soe Hok-gie mangkat di usia muda (27), banyak teladan perjuangannya yang perlu kita warisi. Hok-gie pemuda energik jebolan Fakultas Sastra Universitas Indonesia (kini Fakultas Ilmu Budaya UI) yang kritis atas kebijakan-kebijakan politik rezim Orde Lama. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tengah kecintaannya mendaki gunung, Hok gie meninggal pada 16 Desember 1969 di gunung Semeru Jawa Timur. Mula-mula, ia bersama 7 orang temannya dari Jakarta hendak mencicipi eksotisme Gunung Semeru. Tak ayal, 2 orang (Soe Hok-gie dan Idhan Dhanvantari Lubis) dari rombongan tersebut meninggal disebabkan hipotermia dan kekurangan oksigen di ketinggian 3.400 meter di puncak Mahameru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hok-gie merupakan ikon pelopor pergerakan mahasiswa. Di tahun 60-an, Hok-gie ditengarai kritis terhadap rezim Orde Lama lewat tulisannya. Hok-gie selain demonstran jalanan, ia juga kolomnis di beberapa media. Tulisan dijadikan Hok-gie sebagai senjata kritik terhadap rezim penguasa waktu itu. Suatu ketika, Hok-gie mengirim surat kepada Benedict Anderson, “Saya merasa semua yang saya tulis dalam artikel-artikel saya adalah sejumput petasan. Dan saya ingin mengisi semuanya dengan bom!.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku ini mengungkap kembali perjuangan-perjuangan Hok-gie yang tampak luar biasa. Di bab-bab awal tulisan yang terangkum di buku ini memaparkan kegemaran Hok-gie mendaki gunung. Kawan-kawan Hok-gie (Rudy Badil, Herman O Lantang, Luki Sutrisno Bekti, Nessy Luntungan R, dan lain-lain) membuka ingatan kembali mengenang antusiasme Hok-gie pada alam 40 tahun silam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kecintaan Hok-gie pada keindahan alam pegunungan bukan tanpa alasan. Hok-gie mendaki gunung sebab ia ingin mendapat ketenangan di tengah carut marut politik dan menguatnya kediktatoran Orde Lama. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sikap kritis Hok-gie dipraktikkan secara konkret. Ia memisahkan sosok Soekarno sebagai pribadi dan Soekarno sebagai Kepala Negara. Dia tak menyembunyikan rasa simpatinya terhadap Bung Karno yang dikucilkan pasca makzul dari kekuasaannya. Sikap itu, Hok-gie tegaskan dalam berbagai pernyataan atau artikel yang dimuat Kompas, Sinar Harapan, atau Mingguan Mahasiswa Indonesia (hlm. xxvi).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di bab-bab akhir buku setebal 512 halaman ini membeberkan kekritisan Hok-gie yang menyala-nyala. Hok-gie adalah mahasiswa yang mengusung nilai-nilai idealisme murni. Ia penganut paham humanis universal dalam pergerakannya. Sebagai moralis, Hok-gie tak mau akrab dan mengabdi di bawah kekuasaan Orde Lama. Kendati pun ada kawan-kawan seangkatannya yang memilih jadi anggota DPR, Hok-gie malah membuat jarak dengan mereka. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain cinta alam, Hok-gie gemar diskusi. Di kampus, Hok-gie menggawangi diskusi-diskusi kritis tentang politik, sosial, sejarah, dan sastra. Tradisi membaca Hok-gie sangatlah kuat. Al-hasil, ia kerapkali dijuluki oleh teman-temannya sebagai perpustakaan berjalan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membaca buku ini menghantarkan pada kompleksitas diri Hok-gie. Hok-gie tak hanya lihai berdemonstrasi, ia juga merayakan pesta dan cintanya. Sungguh Hok-gie inspirator bagi kaum muda.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1009294533582344733-124160730031943312?l=indonimut.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://indonimut.blogspot.com/feeds/124160730031943312/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1009294533582344733&amp;postID=124160730031943312' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1009294533582344733/posts/default/124160730031943312'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1009294533582344733/posts/default/124160730031943312'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://indonimut.blogspot.com/2010/05/soe-hok-gie-inspirator-kaum-muda.html' title='Soe Hok-gie, Inspirator Kaum Muda'/><author><name>[A Qorib Hidayatullah]</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15367290909727515085</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_QWqh36EuAxs/SMw1P_rh7-I/AAAAAAAAAJo/W26QVuYW-Y4/S220/New+Image.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_QWqh36EuAxs/S9xSD18z4gI/AAAAAAAAAS0/PGOqMjROWO4/s72-c/Soe+Hok.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1009294533582344733.post-2172494833151943544</id><published>2010-05-01T23:02:00.002+07:00</published><updated>2010-05-01T23:06:03.969+07:00</updated><title type='text'>Meremajakan Komunitas Kebudayaan di Malang</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_QWqh36EuAxs/S9xRYReJEHI/AAAAAAAAASs/--dYrLUveBc/s1600/Komunitas.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 196px; height: 200px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_QWqh36EuAxs/S9xRYReJEHI/AAAAAAAAASs/--dYrLUveBc/s200/Komunitas.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5466333525169475698" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Oleh: A Qorib Hidayatullah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tengah geliat proyek pembangunan di Malang yang tampak menggila, masyarakat (juga termasuk mahasiswa) digiring akrab dengan mal, dan ritel modern lainnya. Masygul, sejalan dengan itu, komunitas kebudayaan di Malang perlahan-lahan ditinggalkan masyarakat dan absen pengunjung. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejatinya, komunitas kebudayaan menjadi pilar saling tukar pikiran dan ajang tegur sapa antar masyarakat di Malang. Namun, tampak tragis, di awal tahun 2009 komunitas Poestaka Rakjat yang bertempat di jalan MT. Haryono sudah gulung tikar. Poestaka Rakjat populer dengan komunitas 28-an (baca: komunitas wolu likuran) yang menjembatani masyarakat konsisten merawat tradisi-tradisi lokal Malang lewat diskusi-diskusi tentang kebudayaan. Seingat penulis, Poestaka Rakjat di pengujung 2007 sempat bekerjasama dengan DKM (Dewan Kesenian Malang) menggelar pentas amal untuk mbah Gimun (tokoh Topeng Malangan) saat sakit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di samping mengecer diskusi kebudayaan, Poestaka Rakjat juga membuka transaksi jual beli buku-buku klasik. Sehingga, gerai yang ditempati Poestaka Rakjat dibilangan MT. Haryono terdiri dari dua lantai. Lantai satu tempat menjajakan dan menjual buku-buku klasik, di lantai dua disulap menjadi ruang diskusi yang sangat asyik-masyuk.&lt;br /&gt;Selain Poestaka Rakjat, di jalan Bogor ada komunitas Kedai Sinau. Kedai Sinau merupakan tempat diskusi-diskusi kritis renyah mengalir yang dihadiri para aktivis-aktivis gerakan mahasiswa dan masyarakat. Di Kedai Sinau juga menjajakan buku-buku dengan beragam tema. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Perpustakaan Kota Malang, ada Forum Penulis Kota Malang (FPKM) yang lazim menggelar diskusi tiap Minggu siang di areal lantai satu. Forum ini lebih mengarah pada kajian-kajian penulisan kreatif, fiksi maupun non fiksi. Fokus pada tulisan-tulisan fiksi, di jalan Diponegoro ada Forum Pelangi ampuan mbak Ratna Indraswari Ibrahim membidani bagi siapa pun yang cinta akan sastra, karangan prosa (novel, cerpen, cerbung, novellet, dll) serta puisi.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam rangka menyemarakkan tradisi literasi (budaya baca-tulis), aktivis MCW (Malang Corruption Watch) menyediakan tempat bagi penulis-penulis muda Malang di jalan Kali Metro. Sehingga, pertengahan 2009, lahirlah komunitas Lembah Ibarat yang sekaligus ditandai dengan launching antologi puisi Doa Akasyah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari sekian komunitas kebudayaan di Malang, yang masih aktif beroperasi hanya beberapa gelintir saja. Misalnya, Rumah Baca Cerdas (RBC) di areal Perumahan Permata Jingga yang hendak meluncurkan buku rampai, tulisan-tulisan hasil dari diskusi saban hari Jumat. RBC didirikan oleh mantan Menteri Pendidikan Nasional (Mendiknas) era Megawati Soekarnoputri, Bapak Malik Fadjar. Selain menjadi wahana diskusi, RBC juga perpustakaan buku yang bisa diakses oleh masyarakat umum. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di wilayah Tumpang, Kabupaten Malang, ada pula Perpustakaan Anak Bangsa ampuan Eko Cahyono. Perpustakaan Anak Bangsa berada di wilayah pedesaan. Perpustakaan yang berdiri telah lama itu, saat ini memiliki puluhan ribu koleksi buku dengan anggota lebih dari dua ribu orang. Namun, nasib miris melanda eksistensi perpustakaan yang dikelola Eko Cahyono tersebut. Pasalnya, Perpustakaan Anak Bangsa terancam ditutup, tak lagi melayani masyarakat ihwal membaca disebabkan pengelola tak kuat lagi membayar uang sewa bangunan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari kejadian yang menimpa Perpustakaan Anak Bangsa tersebut, diharap bagi pihak pemerintah Kabupaten Malang dan pihak siapa pun yang ikhlas menyalakan filantropinya membantu perpustakaan pelosok itu agar urung ditutup. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keberadaan beragam komunitas kebudayaan merupakan aset berharga bagi masyarakat Malang. Dengan begitu, pasang surutnya komunitas kebudayaan di Malang adalah tanggungjawab kita semua, terlebih bagi generasi muda seperti mahasiswa. Membangkitkan mesin komunitas kebudayaan memerlukan kesadaran lebih dan mendalam serta aksi yang konkret dengan mengikuti kegiatan-kegiatan yang diselenggarakan.        &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengaktifkan komunitas kebudayaan memang tak mudah. Dalam gerakan kebudayaan yang diimplementasikan pada komunitas-komunitas, pun juga membutuhkan mufakat kebudayaan. Budayawan Radhar Panca Dahana menjadikan mufakat kebudayaan sebagai medium tempat seniman, cendekiawan, budayawan, dan masyarakat berkumpul, mencoba menjalankan fungsi dan peran strategis serta historisnya dalam menemukan beberapa kesimpulan yang penuh visi terhadap berbagai persoalan kebudayaan (Kompas, 26/12/2009).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Medio tahun 1973, profesor Koentjaraningrat yang pakar bidang kebudayaan dihubungi wartawan Kompas untuk menulis masalah mentalitas dan pembangunan (Kebudayaan Mentalitas dan Pembangunan, Cet ke 19, Tahun 2000). Pembangunan juga menyumbang problem bagi kebudayaan. Koentjaraningrat berbicara mengenai kesiapan mentalitas kita menghadapi pembangunan. Misalnya, kematangan konsepsi (pandangan), dan sikap mental terhadap lingkungan di tengah semaraknya proyek pembangunan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Merujuk profesor Koentjaraningrat mendefinisikan budaya sebagai hasil kreasi/cipta, rasa dan karsa. Komunitas kebudayaan bukanlah semata tempat berekspresi yang hampa. Dari komunitas kebudayaan, masyarakat Malang bisa memelihara tradisi kuna dan mampu mencipta kebudayaan masa depan yang bergelimang nilai dan makna.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ekspektasi paling besar akan eksistensi komunitas kebudayaan di Malang ialah lahirnya seniman, budayawan, dan cendekiawan baru seperti Agus Sunyoto dan Ratna Indraswari Ibrahim, dll. Lewat komunitas kebudayaan semangat mereka bisa kita warisi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cinta pada komunitas kebudayaan itu niscaya. Sehingga, Goethe menulis simponi kelima Beethoven, “Seandainya semua pemusik di dunia memainkan gubahan ini secara serempak, maka planet bumi ini akan lepas dari porosnya.” Di tahun yang baru ini, 2010, mari berjemaah meremajakan komunitas kebudayaan di Malang.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1009294533582344733-2172494833151943544?l=indonimut.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://indonimut.blogspot.com/feeds/2172494833151943544/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1009294533582344733&amp;postID=2172494833151943544' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1009294533582344733/posts/default/2172494833151943544'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1009294533582344733/posts/default/2172494833151943544'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://indonimut.blogspot.com/2010/05/meremajakan-komunitas-kebudayaan-di.html' title='Meremajakan Komunitas Kebudayaan di Malang'/><author><name>[A Qorib Hidayatullah]</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15367290909727515085</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_QWqh36EuAxs/SMw1P_rh7-I/AAAAAAAAAJo/W26QVuYW-Y4/S220/New+Image.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_QWqh36EuAxs/S9xRYReJEHI/AAAAAAAAASs/--dYrLUveBc/s72-c/Komunitas.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1009294533582344733.post-4325072085652514966</id><published>2010-05-01T23:00:00.001+07:00</published><updated>2010-05-01T23:01:54.324+07:00</updated><title type='text'>Kecerdasan Yahudi yang Menginspirasi</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_QWqh36EuAxs/S9xQV77yeMI/AAAAAAAAASk/xzmJakLC3Do/s1600/Cover+Buku.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 130px; height: 200px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_QWqh36EuAxs/S9xQV77yeMI/AAAAAAAAASk/xzmJakLC3Do/s200/Cover+Buku.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5466332385516878018" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;DATA BUKU:&lt;br /&gt;Judul Buku  : Jerome Becomes A Genius (Mengungkap Rahasia Kecerdasan Orang Yahudi)&lt;br /&gt;Penulis : Eran Katz  &lt;br /&gt;Penerbit : Ufuk Press, Jakarta&lt;br /&gt;Cetakan : Pertama, Oktober 2009&lt;br /&gt;Tebal : 442 Halaman&lt;br /&gt;Peresensi : A Qorib Hidayatullah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tengah semarak perbukuan, tema-tema buku “Melejitkan Kemampuan Otak”, acap dilirik khalayak pembaca. Harapannya, masyarakat pembaca dapat berlomba dan berikhtiar gigih mengasah kecerdasan otak masing-masing. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hernowo, CEO Mizan Learning Center, membesut serial Quatum Reading dan Quantum Writing. Memasuki gerbang quantum Hernowo, pembaca dibimbing mampu mengubah potensi diri menjadi cahaya dengan merawat emosi positif. Emosi positif berkelindan dengan semangat, gairah, dan ketakjuban. Sedangkan  quantum adalah interaksi yang mengubah potensi menjadi radiasi dengan ledakan-ledakan gairah yang menyala-nyala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kecerdasan tak datang tiba-tiba. Otak niscaya berkembang apabila kita hidup dalam lingkungan yang penuh tantangan. Mempelajari hal-hal baru, memecahkan masalah-masalah baru, hidup dalam lingkungan baru, hingga cerdas dalam pengayaan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti Eran Katz tulis dalam buku ini, kecerdasan bangsa Yahudi memiliki kekhasan tertentu. Buku Jerome Becomes A Genius ini memperlihatkan orang-orang Yahudi tekun mengamalkan prinsip-prinsip kecerdasan yang mereka yakini. Sejatinya, “Mereka tidak lebih cerdas, namun yang pasti mereka berhasil menggunakan kecerdasan mereka dengan sebuah cara yang berbeda.” (hlm. 45) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beragam prinsip yang dipegang orang Yahudi. Salah satunya, mereka memanjakan imajinasi ramalan, dengan mewujudkan yang tidak mungkin dengan cara-cara yang mungkin. Sehingga dalam kehidupan yang sangat menyehari, mereka gemar dalam penyelidikan, argumentasi, serta penelitian yang luas dan mendalam mengenai berbagai hal. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Testimoni kecerdasan bangsa Yahudi telah jamak diketahui publik dunia. Albert Einstein, Alan Greenspan, Rupert Murdoch, hingga George Soros adalah orang-orang Yahudi yang hebat dan berintelektualisme tinggi. Bahkan, Charlie Chaplin di film The Great Dictator menukil, “Orang Yahudi adalah manusia luar biasa cerdas, sukses, indah, kuat, dan sangat maju.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemajuan orang Yahudi juga dibuktikan dalam merajai media. Ada tiga jaringan televisi besar, ABC, NBC, dan CBS, yang dikelola orang Yahudi. Di media cetak, bangsa Yahudi menguasai Time, The Washington Post, The New York Time, dan The Wall Street Journal.      &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketertarikan Eran Katz menulis buku ini berdasar pada hasil obrolan di kafe Ladino. Eran ditemani profesor cerdas Itamar Forman dan Jerome Zomer, mahasiswa Seni dan Sains Universitas Hebrew yang bertalenta tinggi di bisnis pakaian, serta pemilik kafe Ladino, Fabio. Mereka melacak kecerdasan-kecerdasan khas para rabi (tokoh-tokoh Yahudi).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diskusi di kafe Ladino semakin mendalam tatkala dihadiri rabi Dahari, seorang rabi pakar bahasa Ibrani, dan Joseph Hayim Schneiderman, seorang Yahudi saleh bermukim di Yeshiva. Yeshiva adalah lembaga pendidikan Yahudi. Di tempat ini mengamalkan konsep belajar dengan hevrutah (mitra belajar), belajar dengan membaca bersuara lantang sembari bergerak riang.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prinsip keagungan bagi pelajar Yahudi diwajibkan untuk senantiasa bahagia. Mereka dianjurkan memagari kebijaksanaan dengan keheningan. Sehingga, suasana-suasana belajar didekat sebuah sungai akan memberikan ketentraman tertentu dan membuat daya ingat pelajar Yahudi menguat.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Misalnya, Solomon Shershevsky. Ia orang Yahudi berkebangsaan Rusia yang mampu mengingat segala hal dengan menggunakan teknik asosiatif berdasarkan imajinasinya yang gila. Shershevsky dapat mengingat daftar kata-kata tak bermakna yang pernah ia dengar hanya dalam sekali baca dan mengulangi keseluruhan daftar dari awal hingga akhir. Delapan tahun kemudian, saat ditanya psikolog A. L. Luria, apakah dia masih ingat pada daftar itu, Shershevsky mampu menyebut kembali seluruhnya dengan sempurna. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kehebatan Shershevsky, pada tahun 1920, membuat para psikolog Soviet mulai mempelajari ingatannya yang luar biasa itu. Al-hasil, mereka mampu memecahkan rahasianya atas dasar olah teknik yang sama sesuai anjuran Joseph Jangkung, yaitu mengintensifkan aplikasi dari semua pancaindra. Shershevsky melihat ada warna-warna saat dia mendengar musik. Ia dapat mencium suara-suara, dan hal-hal yang cukup aneh lainnya. Misalnya, ketika berbicara dengan Vigotsky, psikolog yang pernah dikenalnya, Shershevsky menyela, “Betapa renyahnya warna kuning suara Anda!.” (hlm. 61) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Eran Katz di buku setebal 442 halaman ini memberikan dua bab khusus (bab 11 dan bab 12) menceritakan seminar daya ingat Jerome Zomer. Jerome pembelajar energik bermental bisnis, dan juga seorang Yahudi sekuler yang disebut-sebut Eran sebagai master pikiran-raksasa Yahudi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Antusiasme konkret Jerome di bidang penguatan daya ingat menuntutnya memiliki hevrutah khusus, Itzik Ben-David. Kendati Jerome menahbis dirinya sebagai pembelajar dengan perjuangan tak mengenal kata akhir, ia juga diselimuti renik-renik romantisme. Dipengujung kehebatan dirinya, ia menyunting Lisa Goldman, seorang Yahudi religius, mahasiswi jurusan Pendidikan Yahudi Universitas Hebrew. Dan akhirnya, B’ezrat Hashem (dengan pertolongan Tuhan) pesta pernikahan mereka digelar di kafe Ladino yang khas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kecerdasan bangsa Yahudi sungguh menginspirasi. Prinsip inspirasi bangsa Yahudi, “Temukanlah seorang teladan untuk kau tiru, berjalanlah tepat dalam langkah-langkahnya, dan tambahkan inovasi kreatifmu sepanjang jalan itu.” (hlm. 434)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menguak rahasia berabad-abad bagaimana tokoh bangsa Yahudi memaksimalkan fungsi otak mereka bukanlah ikhtiar yang ringan. Di buku ini, Eran Katz cukup detil menulis kecerdasan Yahudi. Hal ini tentu tak lepas dari kompetensi Eran sebagai orang yang mampu mengingat banyak hal dengan kecepatan super tinggi, hingga ia diganjar Guinness Book of World Record.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membaca buku ini diharap mampu mengilhami kita mencicil mengamalkan teknik-teknik kecerdasan bangsa Yahudi yang inspiratif.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1009294533582344733-4325072085652514966?l=indonimut.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://indonimut.blogspot.com/feeds/4325072085652514966/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1009294533582344733&amp;postID=4325072085652514966' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1009294533582344733/posts/default/4325072085652514966'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1009294533582344733/posts/default/4325072085652514966'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://indonimut.blogspot.com/2010/05/kecerdasan-yahudi-yang-menginspirasi.html' title='Kecerdasan Yahudi yang Menginspirasi'/><author><name>[A Qorib Hidayatullah]</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15367290909727515085</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_QWqh36EuAxs/SMw1P_rh7-I/AAAAAAAAAJo/W26QVuYW-Y4/S220/New+Image.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_QWqh36EuAxs/S9xQV77yeMI/AAAAAAAAASk/xzmJakLC3Do/s72-c/Cover+Buku.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1009294533582344733.post-2799241462359539654</id><published>2010-05-01T22:52:00.002+07:00</published><updated>2010-05-01T22:59:13.480+07:00</updated><title type='text'>Buku Di Balik Penjara</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_QWqh36EuAxs/S9xPnKEs2JI/AAAAAAAAASc/sUB0hrMfkn0/s1600/dari+penjara+ke+penjara2.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 194px; height: 200px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_QWqh36EuAxs/S9xPnKEs2JI/AAAAAAAAASc/sUB0hrMfkn0/s200/dari+penjara+ke+penjara2.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5466331581858502802" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Oleh: A Qorib Hidayatullah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rupa-rupanya, penjara tak melulu sebagai tempat para pesakitan yang terpatologi secara sosial hingga akhirnya mereka tak produktif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak karya literasi bertengger dahsyat di balik terali penjara. Pada masa kolonial, Soekarno, Mohammad Hatta, Sutan Sjahrir, dan lain-lain membesut pemikiran-pemikirannya di ruang tahanan. Bung Hatta menulis, “Dengan buku, kau boleh memenjarakanku di mana saja. Karena dengan buku, aku bebas!.”  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbeda dengan temuan Satuan Tugas Pemberantasan Mafia Hukum saat sidak (inspeksi mendadak) ke Rutan Pondok Bambu, Jakarta Timur. Satgas mendapati ruang Lembaga Pemasyarakatan yang dihuni Artalyta Suryani (Ayin) dan Limarita (Aling) sangatlah megah. Kehidupan penjara yang ditempati mereka alegori hotel prodeo bintang lima. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan ungkapannya di atas, Bung Hatta memiliki tafsir kenyamanan sendiri untuk mengusir kesumpekan dan kekejian penjara. Tentu, berbeda dengan Ayin dan Aling. Bung Hatta menjadikan buku sebagai alat kemerdekaan kreatifitas dan kronik berkarya untuk publik kendati di penjara. Bukan malah memperkaya fasilitas ruang tahanan dengan penyejuk ruangan, kulkas, TV layar datar, hingga ruang khusus karaoke seperti yang dilakoni Ayin dan Aling. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prinsip tersebut Hatta buktikan secara konkret. Saat pengasingan dirinya oleh pemerintah Hindia Belanda ke Boven Digul, Papua Selatan, Bung Hatta ditemani buku sebanyak 16 peti. Di tempat pembuangan itulah Bung Hatta membesut Alam Pikiran Yunani yang pada akhirnya buku itu dijadikan mahar (mas kawin) saat menikahi Rahmi Hatta. Dan di Digul pulalah Hatta tekun menurunkan tulisan-tulisannya di surat kabar Adil, Pandji Islam, dan Pedoman Masjarakat.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Boven Digul yang masygul, Hatta tak sendirian. Ia ditemani pemikir kritis Sutan Sjahrir. Mereka berdua dikirim ke pembuangan di Digul pada Februari 1934. Di tengah keganasan Digul, Sjahrir juga tekun mengarsiteki tulisan-tulisannya. Tulisan terpenting Sjahrir saat di pengasingan adalah Perjuangan Kita. Tulisan ini yang dikirim langsung oleh Sjahrir dari Digul ke surat kabar Daulat Rakjat.    &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum di Digul, Hatta pada 23 September 1927 juga pernah mencicipi penjara di Belanda sebab aktivitas politik di PI (Perhimpunan Indonesia). Selama di ruang tahanan, Hatta merancang pledoi (pidato pembelaan) yang siap disampaikan saat persidangan. Hatta memberi judul pledoinya dengan  Indonesie Vrij (Indonesia Merdeka).  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak melulu Bung Hatta yang menggubah pledoi. Bung Karno saat di penjara pun juga merancang pledoi yang ampuh dengan judul Indonesia Menggugat. Pledoi itu Bung Karno sampaikan di gedung landraad (pengadilan rendah) pemerintah kolonial Hindia Belanda di Bandung. Sebab pledoi itulah, di hari kemudian gedung pengadilan tersebut diberi nama Gedung Indonesia Menggugat (GIM).  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat Soekarno menjadi presiden dan kekuasaannya menguat, ada anak negeri ini menjadi pelahap buku yang gila dan kemudian dipenjarakan. Ia adalah Sutan Ibrahim atau lazim disebut Tan Malaka. Tan Malaka dipenjarakan  karena kekukuhan mengritik kekuasan Soekarno. Dari balik pengurungan dirinya di penjara, Tan Malaka membuat buku Dari Penjara ke Penjara. Buku itu terdiri dari tiga jilid yang menjadi buku penting menjelaskan kehidupan Tan Malaka. Buku autobiografinya itu merupakan buku terakhir yang ditulis Tan Malaka sebelum ditembak oleh tentara pada 21 Februari 1949. Kendati demikian, banyak orang menjuluki Tan Malaka sebagai Bapak Republik yang terlupakan.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tengah asumsi masyarakat jamak, penjara sebagai tempat sangat keji, hina, dan kejam. Namun, dalam potret kelam penjara itu banyak tokoh-tokoh bangsa ini menurunkan karya-karya hebatnya di penjara. Penjara lambat laun oleh para pesakitan yang kreatif dimaknai sebagai jalan sunyi seorang penulis. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pramoedya Ananta Toer misalnya. Pram mengamalkan perilaku prolifik saat dirinya menghabiskan separuh hidupnya di penjara. Ia kerapkali keluar-masuk penjara. Bahkan Pram sendiri pernah  mengaku bahwa sejarah hidupnya adalah sejarah perampasan. Tak sedikit dari karya literer Pram dirampas sipir bahkan tentara. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski kebebasan dan kreatifitas Pram terenggut, ia pun telaten menyampaikan cerita-cerita kepada sesama tahanan. Pram sering bercerita saat sore hari setelah letih bekerja seharian di ladang sekitar penjara. Cerita-cerita Pram sangat inspiratif dan mampu menyalakan semangat hidup kawan-kawan sebarak.    &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wilson Nadaek pernah bertutur, “Ketika seseorang telah beradaptasi dengan kondisi penjara, ia akan terbiasa hidup dalam keadaan yang tak menyenangkan. Perlahan ia mulai mengerti cara membunuh sepi dan penatnya ruang penjara, baik dengan main kartu, berbincang-bincang sesama tahanan, atau menulis.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alhasil, sejak di penjara di Pulau Buru, Maluku, Pram mengembrio karya agungnya, Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, dan Rumah Kaca. Keempat novel sang maestro Pram itu acap disebut tetralogi Buru.  Kesunyian penjara mampu membuat Pram meledakkan kreatifitas yang mencengangkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak salah bila Michel Foucault di bagian akhir buku Discipline and Punish mengurai genealogi penjara. Foucault berfatwa, “Dengan memasukkan narapidana ke dalam mekanismenya, penjara melatih kembali narapidana, membuatnya patuh, dan menjadikan mereka individu yang berguna.”    &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tengah cengkraman rezim pembredelan buku kembali mengemuka, selayaknya penulis-penulis kritis mencicipi kesunyian penjara sebelum bukunya dilarang dan dipenjarakan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1009294533582344733-2799241462359539654?l=indonimut.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://indonimut.blogspot.com/feeds/2799241462359539654/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1009294533582344733&amp;postID=2799241462359539654' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1009294533582344733/posts/default/2799241462359539654'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1009294533582344733/posts/default/2799241462359539654'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://indonimut.blogspot.com/2010/05/buku-di-balik-penjara.html' title='Buku Di Balik Penjara'/><author><name>[A Qorib Hidayatullah]</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15367290909727515085</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_QWqh36EuAxs/SMw1P_rh7-I/AAAAAAAAAJo/W26QVuYW-Y4/S220/New+Image.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_QWqh36EuAxs/S9xPnKEs2JI/AAAAAAAAASc/sUB0hrMfkn0/s72-c/dari+penjara+ke+penjara2.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1009294533582344733.post-2400079463543318194</id><published>2010-05-01T22:45:00.003+07:00</published><updated>2010-05-01T22:51:58.810+07:00</updated><title type='text'>Diskusi RBC untuk Indonesia</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_QWqh36EuAxs/S9xOApL3VvI/AAAAAAAAASU/b_sM7aUVVXU/s1600/Menanam+Benih+Indonesia+Jernih.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 128px; height: 200px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_QWqh36EuAxs/S9xOApL3VvI/AAAAAAAAASU/b_sM7aUVVXU/s200/Menanam+Benih+Indonesia+Jernih.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5466329820683523826" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DATA BUKU&lt;br /&gt;Judul Buku  : Menanam Benih Menuju Indonesia Jernih&lt;br /&gt;Penulis : Nazaruddin Malik, dkk.&lt;br /&gt;Penerbit : UMM Press&lt;br /&gt;Cetakan : Pertama, Desember 2009&lt;br /&gt;Tebal : xii + 131 Halaman&lt;br /&gt;Peresensi : A Qorib Hidayatullah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku ini diikhtiarkan sebagai kado buat Bapak Malik Fadjar di usia 70 tahun. Mantan Menteri Pendidikan Nasional (Mendiknas) era Megawati Soekarnoputri itu adalah penggagas dan pendiri Forum Rumah Baca Cerdas yang lazim disebut RBC, bertempat di areal Perumahan Permata Jingga. RBC merupakan tempat diskusi dan perpustakaan yang bebas diakses masyarakat luas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai tempat diskusi para pakar dan aktivis, RBC lambat laun mampu membikin notulenisasi dari hasil diskusi tahun 2009 yang acap digelar saban hari Rabu dan Jumat. Tujuan dari pembukuan hasil diskusi ini ialah merawat budaya literasi dan menggawangi pilar intelektualisme. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Malang tak jauh beda dengan tradisi intelektualisme di Yogyakarta. Daya intelektualisme di kota Malang kini ditengarai menggeliat gesit. Banyak komunitas seperti RBC bertebaran di mana-mana. Alangkah baik bila komunitas yang serupa dengan RBC juga turut tertular semangat membukukan hasil-hasil diskusinya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku Menanam Benih Menuju Indonesia Jernih memuat tumpukan tulisan beragam tema aktual sepanjang tahun 2009. Tema kebangsaan, politik, ekonomi, sosial, budaya, dan pendidikan menghiasi sekujur tubuh buku rampai ini. Tentu, tema-tema yang tampak general tersebut dikemas oleh para penulis relevan dengan fenomena-fenomena keseharian publik saat itu. Dan, para kontributor tulisan yang menulis untuk buku ini berdasar disiplin ilmu masing-masing. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Misalnya, Nazaruddin Malik yang berlatar belakang bidang ekonomi menulis Menelusuri Jalan Terjal Ekonomi dan Pendidikan dalam Kesungguhan Cita Bangsa (hlm. 77). Nazaruddin yang tiap harinya bergelut dalam pengkajian ekonomi menyoal masalah pelik Indonesia tentang kemiskinan dan pendidikan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika problem pendidikan dibiarkan carut marut, tentu akan mendongkrak angka pengangguran masyarakat (kemiskinan). Beda lagi masalah pendidikan yang kini sengaja didesain komodifikasi, di mana pendidikan menjadi obyek transaksi. Mengenai hal ini, Pradana Boy ZTF, intelektual muda Muhammadiyah mengarsiteki tulisan Mencemaskan Industrialisasi Pendidikan (hlm. 103). &lt;br /&gt;Pradana Boy ZTF menyoroti persoalan aksesibilitas masyarakat terhadap pendidikan yang tampak mengindustrialisasi. Pendidikan saat ini menjelma barang mahal yang sulit dijangkau dan dibeli masyarakat. Sehingga, sekadar mencicipi pendidikan wajib sembilan tahun, masyarakat harus membayar ongkos yang mahal.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persoalan seputar ekonomi dan pendidikan di Indonesia membutuhkan pemerintah yang mampu memantulkan aspirasi rakyat di tiap-tiap kebijakannya. Tatkala masyarakat di dua bidang ini —pendidikan dan ekonomi—tampak sengsara bagaimana dengan bidang-bidang yang lain. Alih-alih menyangsikan nasib kemakmuran rakyat, Luthfi J. Kurniawan menulis Benarkah Indonesia Negara Kesejahteraan? (hlm. 41 ).    &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai aktivis di Yayasan Malang Corruption Watch (MCW), Luthfi J. Kurniawan lihai membeberkan data ihwal pelayanan publik yang tak optimal. Sejatinya, lembaga-lembaga pelayanan publik mampu mengimplentasikan negara kesejahteraan. Sehingga, di negara ini dituntut adanya reformasi pelayanan publik untuk mengubah pandangan dan mental aparat birokrasi yang masih melihat pelayanan publik sebagai “pekerjaan yang dilayani” bukan “pekerjaan untuk melayani.” (hlm. 47).    &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan kata lain, aparat birokrasi di negeri ini gemar dimanja, bukan malah memanjakan rakyatnya. Saat hanya menjadi kandidat —pilbub, pilwali, pilgub, maupun pilpres—mereka senantiasa mengumbar janji pada rakyat. Tak kalah hebatnya, wujud bahwa birokrat suka dimanja ialah saat bursa pemilihan di mana mereka berebut memasang foto-foto dirinya di sepanjang trotoar dan jalan raya. Mereka menempel foto dirinya di banner agar disanjung dan dimanja. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fenomena politik citra tersebut dilirik kritis oleh Wahyudi Winarjo, Dekan Fisip UMM, yang menulis Menggugat Fungsionalitas Iklan Politik Caleg (hlm. 23).  Wahyudi Winarjo menyitir teori simulakra Jean Baudrillard di buku The Mirror of Production (1975).  Lewat teori simulakra kritis Baudrillard, para kandidat yang tampak tebar pesona dengan foto diri dan visi serta misinya saat terpilih ialah hanya simulasi-simulasi palsu yang berpotensi mengelabui kesadaran asli masyarakat. Pemilih (masyarakat) hanya disuguhi janji palsu dengan politik citra. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di panggung politik tak melulu ada politik citra. Husnun N. Djuraid, Redaktur Malang Post menulis Pelajaran dari Okezone: Cacatan Hubungan Pers dan Pemilu 2009 (hlm. 35). Husnun N. Djuraid mengurai keruwetan Pemilihan Legislatif (Pileg) dan Pemilihan Umum (Pemilu), mulai ketakberesan soal DPT (Daftar Pemilih Tetap) hingga masalah penghitungan kertas suara. Lebih dari itu, Cak Nun (panggilan akrab Husnun N. Djuraid) mengaitkan peran pers (media) dalam hajatan politik: Pileg ataupun Pemilu. Yang menarik, Cak Nun juga membahas kasus Okezone yang mencabut pelansiran berita mengenai money politics yang dilakukan Eddy Baskoro Yudhoyono, putra Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Kasus Okezone tersebut sempat menghentak jagat pers. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tulisan-tulisan yang terhimpun di buku ini memiliki ketajaman analisis masing-masing. Pembaca sedikit terganggu dengan prosesi penyuntingan yang tak total. Banyak di tiap-tiap tulisan dijumpai salah ketik dan penggunaan bahasa yang tak baku. Kendati pun, buku ini memperkaya khasanah intelektualisme di Malang, hingga buku ini layak dibaca.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1009294533582344733-2400079463543318194?l=indonimut.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://indonimut.blogspot.com/feeds/2400079463543318194/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1009294533582344733&amp;postID=2400079463543318194' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1009294533582344733/posts/default/2400079463543318194'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1009294533582344733/posts/default/2400079463543318194'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://indonimut.blogspot.com/2010/05/diskusi-rbc-untuk-indonesia.html' title='Diskusi RBC untuk Indonesia'/><author><name>[A Qorib Hidayatullah]</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15367290909727515085</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_QWqh36EuAxs/SMw1P_rh7-I/AAAAAAAAAJo/W26QVuYW-Y4/S220/New+Image.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_QWqh36EuAxs/S9xOApL3VvI/AAAAAAAAASU/b_sM7aUVVXU/s72-c/Menanam+Benih+Indonesia+Jernih.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1009294533582344733.post-4237980876257224418</id><published>2010-01-08T22:55:00.002+07:00</published><updated>2010-01-08T23:00:40.754+07:00</updated><title type='text'>Menyoal Idealisme Mahasiswa di Jatim</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_QWqh36EuAxs/S0dWe1DDiuI/AAAAAAAAASE/EuRnEOZTB_Q/s1600-h/resist-2.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 198px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_QWqh36EuAxs/S0dWe1DDiuI/AAAAAAAAASE/EuRnEOZTB_Q/s320/resist-2.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5424399363827010274" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Oleh A Qorib Hidayatullah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ruh perjuangan mahasiswa adalah kejujuran dan keberanian, bukan ABS (Asal Bapak Senang), miminjam istilah Mochtar Lubis dalam Manusia Indonesia (2001).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peta perubahan yang diinisiasi mahasiswa di Jatim saat ini sangatlah miris. Aksi-aksi demonstrasi yang dibidani mahasiswa saat ini hanya menunggu lemparan isu dari media. Tak ada pembacaan independen dari mahasiswa mengawal melakukan kontrol publik atas pemerintah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan yang kerap kali muncul, ke mana gerakan mahasiswa pasca reformasi? Saat ini, mahasiswa ditengarai tumpul kekritisannya. Sangat sulit bagi mahasiswa memantik critical consciousness (kesadaran kritis). Tak ayal, idealisme mahasiswa acap disuap untuk sikap bungkam tatkala dibenturkan kebobrokan penguasa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Arief Budiman dalam Mahasiswa Menggugat, mendefinisikan mahasiswa sebagai agent of social change (agen perubahan sosial), dan director of change (pengarah perubahan) yang berpihak pada kebenaran dan keadilan sosial serta menjunjung tinggi nilai-nilai moral. Ketika dibenturkan dengan fenomena mahasiswa saat ini, tesis Arief Budiman itu seolah tidak relevan lagi. Mungkin, pandangan Arief Budiman itu lebih pas bila merepresentasikan kehidupan mahasiswa era 1998 yang mengamalkan aktivisme konkret memakzulkan rezim lalim Orde Baru, hingga terbukalah kran reformasi dan demokrasi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak banyak yang bisa diharapkan dari mahasiswa era sekarang. Sejatinya,  mahasiswa menekuni lahan-lahan riset akademis dan mengadvokasi rakyat lemah, malah mahasiswa saat ini lebih memilih merayakan geliat hedonisme dan konsumerisme. Hal ini ditengarai dengan intensitas mahasiswa yang lebih banyak mengunjungi mal dibanding perpustakaan dan toko buku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nurani Soyomukti di buku Dari Demonstrasi hingga Seks Bebas: Mahasiswa di Era Kapitalisme dan Hedonisme (Garasi: 2008), menggambarkan secara bernas praktik peran ganda mahasiswa. Mahasiswa dalam temuan Soyomukti itu tak hanya tercitra sebagai agen perubahan dan intelektualisme, tapi pula tergurus arus seks bebas. Mahasiswa telah terjerumus pada lubang hitam hedonisme, melayani hasrat libidinal.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pergeseran tradisi mahasiswa yang seperti itu sudah sangat menyehari. Bila dulu mahasiswa gemar diskusi, kini mahasiswa keranjingan ngerumpi. Tentu, ini wujud implikasi dari tradisi mahasiswa yang selalu istikamah berlama-lama menahan diri di depan televisi. Rupa-rupanya, media (televisi) sangat aji mumpung membikin simulasi-simulasi sosial baru bagi kehidupan mahasiswa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fenomena yang tragis lainnya ialah mahasiswa ditengarai absen berorganisasi. Pengalaman penulis dalam prosesi rekrutmen di organisasi sangat kesukaran mencari kader. Padahal, dengan berorganisasi mampu mengasah soft skill tentang kepemimpinan, teknik manajerial, hingga manajemen konflik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dibenturkan lagi dengan beban akademik, yang membikin persepsi baru mahasiswa, di mana kuliah hanya diorientasikan pada bagaimana cara lekas mendapat kerja atau karier an-sich. Sehingga, tesis Arief Budiman di atas seakan tak mengena untuk mendefinisikan secara utuh mahasiswa saat ini, di mana mahasiswa dicitakan sebagai agen pelopor. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beda lagi, di kampus, mahasiswa kerapkali dibanyang-banyangi ketelatan dalam semester. Kampus memberlakukan pola punishment bagi mahasiswa yang tak menyegerakan dirinya untuk lulus, yaitu DO (drop out). Sungguh mengerikan! Hal itulah yang berdaya-nyala menyumbat kekritisan, dan tumpulnya kekuatan idealisme mahasiswa saat ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ahmad Wahib merupakan ikon mahasiswa yang konsisten menggawangi idealisme. Sejak menapaki kuliah di FIPA (Fakultas Ilmu Pasti dan Alam) UGM Yogyakarta, Wahib membikin limited group (kelompok diskusi) bersama M. Dawam Rahardjo, dan Djohan Efendi yang bertempat di rumah Mukti Ali. Diskusi digelar tiap Jumat sore dengan beragam tema yang diusung, mulai Keislaman, Politik Keindonesiaan, Sosial Kebudayaan hingga Pergerakan Mahasiswa.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam menjalani hidup menjadi mahasiswa, Wahib bergelut di dunia literasi (baca-tulis). Lewat catatan hariannya yang dibukukan menjadi Pergolakan Pemikiran Islam Ahmad Wahib: Cacatan Harian Ahmad Wahib (LP3ES: Cet I 1981), Wahib menulis beragam tema. Mulai Ikhtiar Menjawab Masalah Keagamaan; Meneropong Politik dan Budaya Tanah Air; Dari Dunia Kemahasiswaan dan Keilmuwan; hingga Pribadi yang Selalu Gelisah. &lt;br /&gt;Kendati  Wahib tutup umur di usia muda, ia banyak dibaca orang, semisal Greg Barton membesut Gagasan Islam Liberal di Indonesia: Pemikiran Neo-Modernisme Nurcholish Madjid, Djohan Efendi, Ahmad Wahib, dan Abdurrahman Wahid (Pustaka Antara: 1999), dan A.H. John membikin tulisan di jurnal Ulumul Qur’an Vol. III No. 2, Sistem atau Nilai-nilai Islam? Dari Balik Cacatan Harian Ahmad Wahib (1990). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam cacatan harian itu, Wahib menulis khusus masalah kemahasiswaan dan keilmuwan. Misalnya Wahib menulis perbedaan antara social scientist, applied natural scientist, dan pure natural scientist. Social scientist mempelajari masyarakat dan selalu mencari metode-metode baru untuk menyelesaikan masalah-masalah masyarakat. Mereka melakukan dan menemukan sesuatu yang belum ada sebelumnya (inovasi).  Applied natural scientist berusaha mengubah apa yang diciptakan Tuhan menjadi bentuk-bentuk yang bisa lebih berguna bagi manusia. Mereka mengubah yang alami menjadi sesuatu yang belum dibuat manusia. Dan pure natural scientist berusaha mencari dan menemukan apa yang telah diciptakan Tuhan terutama hukum-hukumnya yang berlaku abadi. Mereka mempelajari yang ada, mengerti dan menemukan sesuatu asas atau hukum di dalamnya (hlm. 278-279).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Misi idealisme mahasiswa itu niscaya. Mahasiswa diharap mampu membikin rekayasa sosial baru, sebagai agen intelektual (keilmuwan) yang bertanggung jawab atas proses perubahan sosial di masyarakat.  Memegang teguh pijakan-pijakan kepentingan kemanusiaan dibanding kepentingan politis.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sehingga, Goethe menulis simponi kelima Beethoven, “Seandainya semua pemusik di dunia memainkan gubahan ini secara serempak, maka planet bumi ini akan lepas dari porosnya.” Aksi dan  perjuangan memang harus diprakarsai dengan berjemaah, bersama-sama, demi meneguhkan semangat luhur idealisme mahasiswa.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1009294533582344733-4237980876257224418?l=indonimut.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://indonimut.blogspot.com/feeds/4237980876257224418/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1009294533582344733&amp;postID=4237980876257224418' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1009294533582344733/posts/default/4237980876257224418'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1009294533582344733/posts/default/4237980876257224418'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://indonimut.blogspot.com/2010/01/menyoal-idealisme-mahasiswa-di-jatim.html' title='Menyoal Idealisme Mahasiswa di Jatim'/><author><name>[A Qorib Hidayatullah]</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15367290909727515085</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_QWqh36EuAxs/SMw1P_rh7-I/AAAAAAAAAJo/W26QVuYW-Y4/S220/New+Image.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_QWqh36EuAxs/S0dWe1DDiuI/AAAAAAAAASE/EuRnEOZTB_Q/s72-c/resist-2.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1009294533582344733.post-4579824116900414252</id><published>2009-12-04T02:40:00.002+07:00</published><updated>2009-12-04T02:46:37.540+07:00</updated><title type='text'>Kurban Buku ala John Wood</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_QWqh36EuAxs/SxgVjmjtxVI/AAAAAAAAAR8/C-jwi8mjjFw/s1600-h/ROOM+TO+READ.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 162px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_QWqh36EuAxs/SxgVjmjtxVI/AAAAAAAAAR8/C-jwi8mjjFw/s320/ROOM+TO+READ.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5411098653675603282" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;oleh A Qorib Hidayatullah&lt;br /&gt;[Digunting dr Jawa Pos, 29 November 2009] &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BERKAT Microsoft, John Wood bergelimang harta dan materi. Namun, dia kemudian memilih banting setir, menjadi seorang filantropi untuk masyarakat negara-negara miskin. Dia sedang membangun 7.000 per­p­us­takaan di pelosok dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada benarnya petuah buku-buku how to (bu­­ku serial motivasi) bahwa hidup mapan tak menjamin kebahagiaan seseorang. Se­per­ti yang dijalani John Wood, mantan bos Mi­crosoft. Profesi, gaji, dan saham menjadi per­taruhan John Wood yang kemudian memi­lih tenggelam dalam arus kemanusiaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak kecil, John Wood memang gemar mem­baca. Menurut pengakuannya, saat ma­sih SMP, dia kerap menambah stok pinjaman bu­kunya di perpustakaan sekolah. Dia sering me­rayu pihak manajemen perpustakaan seko­lah agar bisa meminjam buku lebih banyak. Dia pun akhirnya diperbolehkan meminjam buku lebih banyak daripada siswa-siswa lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keranjingan baca John Wood berjalan hing­ga dia dewasa. Dia lalu menggagas ber­di­rinya lembaga nirlaba Room to Read pa­da 1999. Lembaga itu bergerak di bidang pembangunan sekolah-sekolah serta penyediaan buku-buku untuk anak-anak di negara miskin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keteguhan cintanya pada dunia literasi (ba­ca-tulis) dibuktikan John Wood dengan se­penuh hati. Dia amat rajin mengisi jurnal ha­riannya. Misalnya, catatan perjalanan saat dia berekspedisi menaklukkan keangkuhan pun­cak Himalaya. Dalam perjalanannya itu, John Wood menyaksikan langsung kemela­ra­tan dunia ketiga (Nepal) yang kesulitan men­dapatkan akses pendidikan. Mayoritas ma­s­yarakatnya mengalami buta huruf. Ba­nyak sekolah yang dikelola apa adanya. Se­kolah-sekolah di wilayah Kathmandu, ibu kota Nepal, yang dikunjungi John Wood, tak memiliki banyak buku di perpus­takaannya. Pihak sekolah pun tidak tahu ke­pada siapa mereka harus miminta bantuan. Akhirnya, pengelola sekolah berinisia­tif mengetuk hati para pendaki pegunungan Hi­malaya, termasuk John Wood, agar mau mem­bantu mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Potret kelam itulah yang memantik sema­ngat John Wood menjadi filantropi untuk pro­gram pemberantasan buta huruf, mem­bangun gedung sekolah, dan mengasah gai­rah membaca warga dunia ketiga (Nepal, India, Vietnam, Kamboja, dan lain-lain). Sepulang dari pendakian di pegunu­ngan Himalaya, John Wood langsung me­la­yangkan surat elektronik (e-mail) kepada te­man, kerabat, dan para donasi di seluruh du­nia. Dia mengabarkan kesaksiannya di Ne­pal. Pengalaman menjadi direktur bidang pemasaran Microsoft di wilayah Asia Pa­sifik menjadikan John Wood tak kesulitan untuk menarik simpati dunia dalam aksi voluntirnya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Personifikasi John Wood memang sangat me­narik. Dia tak tergilas oleh mesin hitam-pu­tih bisnis kapitalisme Microsoft. Kenda­ti bekerja cukup lama di Microsoft, dia te­tap meluangkan waktu untuk kegemarannya membaca dan menulis buku. John Wood bercita-cita mewarisi semangat man­tan Presiden AS Jimmy Carter yang dia a­le­­gorikan sebagai ''Si Pengasih Manusia''. Dalam buku The Unfinished Presiden­cy (1998), dia menceritakan kisah perjalanan Jimmy Carter di luar Gedung Putih. Car­ter menahbiskan dirinya sebagai peker­ja sosial yang membangun tempat tinggal bersama Habitat for Humanity dan memantau pemilihan umum di seluruh dunia untuk mem­berikan aspirasinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada awal 1990, Carter memimpin gerakan sosial memberantas penyakit cacing guinea. Parasit mikroskopis itu telah menyengsarakan jutaan orang di Afrika dan Asia. Carter bersama William Foege, mantan kepala Centers for Disease Control (Pusat Pengendalian Penyakit di AS), perlu meyakinkan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) untuk memilih penyakit cacing guinea sebagai penyakit kedua yang harus diberantas dari muka bumi, setelah cacar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkat kegigihannya melayani kemaslahatan manusia, John Wood bersama Room to Read berhasil menyita simpati masyarakat internasional. Dia pun layak mendapatkan banyak penghargaan, di antaranya anugerah Time Asia's Heroes Award 2004.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam setiap aksi amalnya tersebut, John Wood tak pernah menampilkan sisi kelam ma­nusia, malapetaka, dan kesuraman. Se­ba­­liknya, dia selalu menunjukkan optimis­me penuh harapan di daerah garapannya. Dalam lembar-lembar proposal yang dikirim­kan ke para donatur, dia tak pernah me­lampirkan foto-foto anak yang dikerubu­ngi lalat atau potret keluarga kurang gizi yang berbaring dalam debu. Dia tak me­nga­mal­kan idiom ''Tangisan Panjang Sally Struthers''.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada lima prinsip yang dipegang John Wood untuk meyakinkan para donatur. Sa­lah satunya dengan mengatakan, ''Orang-orang sedang mencari lebih banyak makna da­lam hidup mereka. Mendanai pendidikan akan memberikan suatu perasaan yang he­bat bahwa Anda telah membantu mengubah dunia menuju lebih baik.''&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini, Room to Read berkembang pesat di ba­nyak negara. John Wood tak lagi sendiri. Dia didukung para pahlawan yang berlomba-lomba membantu mengembangkan Ro­om to Read.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Tumpang, Kabupaten Malang, ada Per­pustakaan Anak Bangsa ampuan Eko Cah­yono yang gerakannya mirip seperti di­lakukan John Wood dengan Room to Re­ad-nya. Namun, untuk mengembangkannya, dia butuh support dari berbagai kala­ngan, termasuk pemerintah. Hal itu dilakukan agar perpustakaan yang kini memiliki pu­luhan ribu koleksi buku dan beranggota lebih dari dua ribu orang itu mati setelah pengelolanya tak kuat lagi membayar uang sewa bangunan. (*)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1009294533582344733-4579824116900414252?l=indonimut.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://indonimut.blogspot.com/feeds/4579824116900414252/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1009294533582344733&amp;postID=4579824116900414252' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1009294533582344733/posts/default/4579824116900414252'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1009294533582344733/posts/default/4579824116900414252'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://indonimut.blogspot.com/2009/12/kurban-buku-ala-john-wood.html' title='Kurban Buku ala John Wood'/><author><name>[A Qorib Hidayatullah]</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15367290909727515085</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_QWqh36EuAxs/SMw1P_rh7-I/AAAAAAAAAJo/W26QVuYW-Y4/S220/New+Image.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_QWqh36EuAxs/SxgVjmjtxVI/AAAAAAAAAR8/C-jwi8mjjFw/s72-c/ROOM+TO+READ.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1009294533582344733.post-2026966554743747075</id><published>2009-11-08T07:39:00.005+07:00</published><updated>2009-11-08T07:53:04.037+07:00</updated><title type='text'>Melampaui Ikhtiar Ahmad Wahib</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_QWqh36EuAxs/SvYVYg6xjLI/AAAAAAAAAR0/6xWZDpUJJu0/s1600-h/ahmad-wahib+1.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 206px; height: 320px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_QWqh36EuAxs/SvYVYg6xjLI/AAAAAAAAAR0/6xWZDpUJJu0/s320/ahmad-wahib+1.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5401528313974983858" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Oleh A Qorib Hidayatullah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Aku ingin al-Quran itu membentuk pola berpikirku. Aku tak tahu apakah salama ini aku sudah Islam atau belum. Tapi bagaimana mengintegrasikan al-Quran itu dalam kepribadianku? Bagaimana?”&lt;/span&gt; (Pergolakan Pemikiran Islam: Catatan Harian Ahmad Wahib LP3ES: Cet I 1981). Ditulis pada tanggal 11 Maret 1969, hlm 320.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Prolog&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Hingga kini, titik keyakinan saya pada wacana keislaman kaitannya dengan HMI, buku Pergolakan Pemikiran Islam: Catatan Harian Ahmad Wahib (LP3ES: Cet I 1981), bisa dijadikan pemantik tunggal diskusi keseharian tentang Islam.  Jika tak berlebihan, buku itu selalu relavan dengan keadaan zaman. Sebab, Ahmad Wahib pada tahun 70-an mampu mengarsiteki tema-tema diskusi tentang teologi, pembaharuan pemahaman Islam, politik, dan kebudayaan, di mana masalah-masalah yang diusung dalam tiap-tiap tema diskusi tersebut tampak melampaui pemikiran arus utama, Wahib mampu melirik kritis permasalahan-permasalahan keislaman dan keindonesiaan masa depan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ahmad Wahib dilahirkan di Sampang, Madura, 9 November 1942. Menapaki pendidikan di perguruan tinggi, UGM (Universitas Gadjah Mada) Yogyakarta di Fakultas Ilmu Pasti dan Alam (FIPA). Kendati mahasiswa eksakta, Wahib gemar membaca buku-buku ilmu sosial modern. Wahib bukan tipikal mahasiswa yang mengamalkan prinsip 3 K (kampus, kantin, dan kos-kosan). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia sangat gemar membaca dan berdiskusi. Al-hasil, Wahib membikin limited group (kelompok diskusi) bersama M. Dawam Rahardjo serta Djohan Efendi yang bertempat di rumah Prof. Mukti Ali (dosen IAIN Sunan Kalijaga saat itu). &lt;br /&gt;Dalam kehidupan menjadi mahasiswa, Wahib melakoni aktivisme konkret. Ia berorganisasi HMI (Himpunan Mahasiswa Islam), hingga menjabat pengurus Badko (Badan Koordinator) HMI Jawa Tengah. Kaitannya dengan HMI, Wahib menjadi pengkritik (insider) bagaimana kader-kader HMI mampu memahami sebagai insan akademis, insan pencipta, dan insan pengabdi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayangnya, Wahib lekas tutup umur di usia muda (31 Maret 1973). Ia tertabrak motor saat keluar dari kantor majalah Tempo Jakarta. Meski mati muda, Wahib tak hidup sia-sia. Ada 2 (dua) outsider (peneliti dari luar), Greg Barton dan A. H. John, yang membicarakan Wahib secara bernas. Greg Barton membesut Gagasan Islam Liberal di Indonesia: Pemikiran Neo-Modernisme Nurcholish Madjid, Djogan Efendi, Ahmad Wahib, dan Abdurrahman Wahid (Pustaka Antara: 1999), dan A.H. John membikin tulisan di jurnal Ulumul Qur’an Vol. III No. 2, Sistem atau Nilai-nilai Islam? Dari Balik Cacatan Harian Ahmad Wahib (1990). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Wahib dan Islam yang belum usai&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Dari sekilas kehidupan Ahmad Wahib itu, saya hendak mengajak kawan-kawan mengamalkan geliat intelektualisme keislamannya Wahib. Minimal kawan-kawan membaca buku catatan harian Ahmad Wahib itu. Sehingga, dari situ kawan-kawan mampu mewarisi ide cemerlang dari Wahib. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wahib pemuda yang berani. Ia tanpa rasa takut sedikitpun mendiskusikan masalah-masalah tauhid (teologi). Keislaman yang hendak dicapai Wahib adalah keislaman yang selalu dan harus terus dicari (proses), yang belum usai. Bagi Wahib, orang yang menganggap bahwa Islam itu sudah final dan universal adalah sesat (sikap berpikir yang salah). Wahib tidak setuju bila Islam dianggap agama yang telah lengkap bekal untuk menjawab masalah-masalah kemanusiaan dan kehidupan. Hal ini, kata Wahib, hanya akan membawa pada kejumudan, kemandekan, statis, dan bekunya Islam. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih jauh, Wahib mengatakan bahwa kebekuan umat Islam disebabkan pada orientasi yang sangat kuat terhadap syariat (fiqh mainded). Orientasi keagamaan yang seperti itu akan memunculkan keberagamaan yang formalistik dan artifisial, lalu menggiring kepada eksklusivisme agama. Fiqh, menurut Wahib tak lain adalah hasil interpretasi ajaran Islam di suatu tempat dan waktu tertentu. Ia tak bisa dianggap dan disikapi secara sama seperti al-Quran maupun hadist. Jika al-Quran dan hadist adalah sumbernya, maka fiqh adalah penafsiran atas kedua sumber tersebut. Sebab, fiqh ialah hasil penafsiran kontekstual, sehingga fiqh tidak mutlak.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian, Wahib bukan penganut agama yang hitam putih (halal-haram). Ia dalam beragama sangat toleran, memperjuangkan nilai-nilai keragaman dalam agama. Di Yogyakarta, Wahib bermukim di asrama Katolik, asrama mahasiswa Realino. Sehingga, ia pun kenal dan kerapkali diskusi dengan pemuka Ordo Jesuit, seperti Bruder Van Zon, Romo Stolk, Romo Willenborg, dan Romo De Biliot. Hal ini wujud inklusivisme (keterbukaan) keberagamaan Wahib. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam memahami Islam, Wahib menjadikan akal sebagai alat. Ia tidak cukup memiliki bekal “studi agama” yang rumit untuk memahami Islam. Penggunaan akal bagi Wahib tidak terbatas pada fungsi akal sebagai salah satu sarana memahami realitas dan hakikat agama. Akal yang dimaksud Wahib adalah akal bebas dan akal sistematis sebagai seperangkat ilmu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan akal bebas, seseorang akan bisa memahami segala fenomena dari sudut pandang ia sebagai manusia, bukan dari sudut pandang Ilahiah (Tuhan). Sebab hakikatnya, pengetahuan terhadap yang Ilahi mempunyai konsekuensi bagi kehidupan dan kepentingan manusia sendiri, dan bukan kepentingan Tuhan. Serta, manusia itulah yang paling mengetahui keadaannya sendiri. Sedangkan akal sebagai seperangkat ilmu bisa diartikan sebagai metode (cara) untuk memahami realitas secara lebih sistematis (tersusun).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepercayaan Wahib yang begitu mengagungkan kemampuan akal menghantarkannya berada pada barisan kaum rasionalis, atau dalam istilah Greg Barton sebagai pemikir liberal. Implikasinya, pemahaman Islam yang dikembangkannya memiliki kekhasan tersendiri yang ditengarai berbeda dengan paham kebanyakan umat Islam lainnya. Islamnya Wahib adalah Islam yang rasional, inklusif, pluralis, dan toleran. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejarah Ahmad Wahib adalah sejarah pergulatan, doktrin, dan realitas sosial. Mari ramai-ramai mewarisi semangat Ahmad Wahib. Menahbis diri menjadi Wahibian, pengikut Ahmad Wahib. ***&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1009294533582344733-2026966554743747075?l=indonimut.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://indonimut.blogspot.com/feeds/2026966554743747075/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1009294533582344733&amp;postID=2026966554743747075' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1009294533582344733/posts/default/2026966554743747075'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1009294533582344733/posts/default/2026966554743747075'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://indonimut.blogspot.com/2009/11/melampaui-ikhtiar-ahmad-wahib.html' title='Melampaui Ikhtiar Ahmad Wahib'/><author><name>[A Qorib Hidayatullah]</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15367290909727515085</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_QWqh36EuAxs/SMw1P_rh7-I/AAAAAAAAAJo/W26QVuYW-Y4/S220/New+Image.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_QWqh36EuAxs/SvYVYg6xjLI/AAAAAAAAAR0/6xWZDpUJJu0/s72-c/ahmad-wahib+1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1009294533582344733.post-1996024811945426410</id><published>2009-10-25T20:48:00.003+07:00</published><updated>2009-10-25T21:10:29.832+07:00</updated><title type='text'>Kebajikan Khas Manusia Unggul (Ulul Albab)</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_QWqh36EuAxs/SuRa_Wym-kI/AAAAAAAAARs/ZMGm6cRBTxw/s1600-h/manusia+unggul+2.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 313px; height: 223px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_QWqh36EuAxs/SuRa_Wym-kI/AAAAAAAAARs/ZMGm6cRBTxw/s320/manusia+unggul+2.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5396538297992804930" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Oleh A Qorib Hidayatullah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syahdan, John Wood, dewan eksekutif Microsoft melakoni tradisi hidup unggul. Lewat proyek raksasa di bidang humaniora (Room to Read) yang mengarsiteki 7.000 perpustakaan di seluruh pelosok dunia,  John –sapaan akrab John Wood– rela menanggalkan karir cemerlang di Microsoft lalu dia tapaki hidup mendengar jerit lirih panggilan kemanusiaan, yaitu meminimalisir angka buta huruf warga dunia ketiga, Nepal. &lt;br /&gt;       &lt;br /&gt;Jika jamak dipahami bahwa ulul albab sebagai representasi dari orang-orang yang memiliki daya intelektual tinggi dan keteguhan hati, maka sangat membanggakan bila UIN Maulana Malik Ibrahim terus menggawangi mahasiswanya dengan laboratorium ulul albab. Sebuah laboratorium kebajikan hidup yang hendak menyutradarai manusia-manusia unggul dengan 4 (empat) kekuatan khas: Kedalaman Spiritual, Keagungan Akhlak, Keluasan Ilmu, dan Kematangan Profesional.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Pikiran picik membicarakan orang lain. Pikiran biasa membicarakan kejadian. Pikiran besar membicarakan ide-ide.” (Arvan Pradiansyah, The 7 Laws of Happiness: 2008). Manusia unggul diharap mampu membicarakan tentang ide-ide besar. Ia berada pada bayang-bayang kebesaran (shades of greatness). Buku Universitas Islam Unggul; Refleksi Pemikiran Pengembangan Kelembagaan dan Reformulasi Paradigma Keilmuan Islam (UIN Malang Press: 2009), Prof. Dr. Imam Suprayogo menjadikan mimpi (ide) sebagai signature strength berkembang dan besarnya kampus UIN yang beliau pimpin. Intelektualisme kampus ulul albab lahir dari tradisi keilmuwan yang mapan (sintesis agama dan sains).&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;Teori Manusia Unggul&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Jalaluddin Rakhmat –akrab disapa Kang Jalal–, pemikir modern Islam di Indonesia memberi alegori khusus bagi manusia unggul, yaitu manusia besar (Rekayasa Sosial: Reformasi, Revolusi, atau Manusia Besar: 1999). Kang Jalal merujuk teori-teori tentang great individuals (manusia-manusia besar yang mengubah sejarah). Thomas Carlyle, misalnya, adalah penulis buku Heroes and Hero Worshipers (Para Pahlawan dan Pemujaan). Menurut Carlyle, sejarah adalah biografi manusia besar “history of the world is the biography of the great man.” Pada salah satu bagian dalam bukunya, Carlyle menulis tentang Rasulullah, The Hero as The Prophet, Pahlawan sebagai Nabi.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih lanjut, Thomas Carlyle, filosof dan sejarawan Skotlandia itu, membesut aforisme seperti ini, “Pada seluruh babakan sejarah dunia, kita akan menemukan manusia besar (unggul) sebagai juru selamat yang niscaya di zamannya; sebagai sambaran kilat yang tanpa itu bahan bakar tidak akan terbakar. Sejarah dunia… hanyalah biografi manusia besar.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam teori Carlyle, seorang manusia unggul adalah intelektual universal. Ia berpijak pada nilai-nilai universal dan mengubah manusia sejagat. Perubahan yang dilakukan bukan semata-mata karena kemampuan intelektualnya, melainkan lebih banyak karena kemampuan bertindaknya. Manusia unggul adalah “man of actions”,  lebih dari “man of thoughts.” Ketika manusia unggul itu bertindak, ia ditanggapi, dibalas, dan disambut oleh masyarakat luas, atau massa yang besar dan setia. “Kita semua mencintai, menghormati dan merunduk pasrah pada manusia di hadapan manusia unggul. Masyarakat ditegakkan di atas pemujaan pahlawan, hero-worship. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbeda dengan Ali Syariati dalam memahami manusia unggul. Pemikir asal Iran itu mengidentikkan manusia unggul dengan manusia yang berkapasitas intelektual canggih. Namun, Ali Syariati lebih rinci lagi membagi 2 (dua) kategorisasi orang pintar: ilmuwan dan intelektual. Ilmuwan bersifat universal. Ia diterima di mana pun. Newton adalah ilmuwan di Inggris, Jerman, Jepang, hingga di Indonesia, dll. Sedangkan intelektual lebih bersifat lokal. Ia adalah orang yang berhasil menangkap dan memahami realitas bangsanya. Ia memengaruhi bangsanya dengan berpijak pada nilai-nilai yang dianut bangsanya. Sebab itu, Jean Paul Sartre, hanya bisa menjadi intelektual Perancis. Ia tidak cocok di negara lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak semua orang bisa ditahbis sebagai manusia unggul. Mungkinkah terjadi perubahan besar dalam sejarah umat manusia sekiranya Muhammad SAW tidak lahir? Hanya orang yang memungkinkan dirinya saja bakal menjadi pemimpin tangguh, yang lahir dari rahim manusia unggul (ulul albab). Sebab, mereka memberi bekas yang abadi di dalam jejak-jejak sejarah, lasting imprint in history. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keunggulan manusia ialah kesahajaan dan kemuliaan (isy kariman au mut syahidan). Mampu memperjuangkan hidup secara mulia, bukan malah takut hidup dan mengakhiri hidup dengan mimpi buruk mati bunuh diri (terorisme). Meraih derajat manusia unggul merupakan avonturisme pencarian hidup. Manusia unggul hanya mampu dicapai oleh orang-orang yang mau mengupayakan, dan orang yang gemar membicarakan hal-hal yang mungkin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam tradisi masyarakat Timur, sebagai homo simbolakum, manusia unggul bukan pada status sosialnya yang mentereng (self glory). Kajian teori kritis memaparkan, status sosial manusia modern (Barat) diditerminasi oleh pola konsumsinya. Dalam perspektif Baudrillard, konsumsi berkaitan dengan tanda. Dalam mengonsumsi, sesungguhnya pribadi manusia menentukan diri mereka sendiri. Woodward meyakinkan, manusia dinyatakan berbeda antara satu dengan yang lain menurut barang yang mereka beli.  Semakin tinggi tingkat konsumsi (akses modal) manusia modern Barat, maka status sosialnya makin terangkat dan menjadi manusia unggul.    &lt;br /&gt;   &lt;br /&gt;Manusia unggul (kader ulul albab) bukan sebuah identitas sosial yang berkaitan dengan labelik konsumtif-material (akses modal). Manusia unggul ulul albab ialah manusia yang memiliki kebajikan khas (seperti tokoh-tokoh yang penulis sitir di atas), progresif-transformatif, nyaman bergelut dengan pengetahuan dan berani bertarung di pentas akademis-ilmiah. Dengan kata lain, manusia unggul ulul albab berada pada titik genius keprigelan terbinanya insan akademis, pencipta, pengabdi, yang bernafaskan Islam dan bertanggung jawab atas terwujudnya masyarakat adil-makmur yang diridhai Allah SWT.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1009294533582344733-1996024811945426410?l=indonimut.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://indonimut.blogspot.com/feeds/1996024811945426410/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1009294533582344733&amp;postID=1996024811945426410' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1009294533582344733/posts/default/1996024811945426410'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1009294533582344733/posts/default/1996024811945426410'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://indonimut.blogspot.com/2009/10/kebajikan-khas-manusia-unggul-ulul.html' title='Kebajikan Khas Manusia Unggul (Ulul Albab)'/><author><name>[A Qorib Hidayatullah]</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15367290909727515085</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_QWqh36EuAxs/SMw1P_rh7-I/AAAAAAAAAJo/W26QVuYW-Y4/S220/New+Image.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_QWqh36EuAxs/SuRa_Wym-kI/AAAAAAAAARs/ZMGm6cRBTxw/s72-c/manusia+unggul+2.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1009294533582344733.post-3577145773424597224</id><published>2009-09-15T18:16:00.002+07:00</published><updated>2009-09-15T18:22:56.610+07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_QWqh36EuAxs/Sq94sUiZZxI/AAAAAAAAARk/dNxN6ttO8hs/s1600-h/ketupat.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 310px; height: 317px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_QWqh36EuAxs/Sq94sUiZZxI/AAAAAAAAARk/dNxN6ttO8hs/s320/ketupat.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5381652782553589522" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;MOHON MAAF LAHIR BATHIN. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SALAM TAKZIM,&lt;br /&gt;A Qorib Hidayatullah &amp; Tri Wahyuni&lt;br /&gt;Sekeluarga...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1009294533582344733-3577145773424597224?l=indonimut.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://indonimut.blogspot.com/feeds/3577145773424597224/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1009294533582344733&amp;postID=3577145773424597224' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1009294533582344733/posts/default/3577145773424597224'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1009294533582344733/posts/default/3577145773424597224'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://indonimut.blogspot.com/2009/09/mohon-maaf-lahir-bathin.html' title=''/><author><name>[A Qorib Hidayatullah]</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15367290909727515085</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_QWqh36EuAxs/SMw1P_rh7-I/AAAAAAAAAJo/W26QVuYW-Y4/S220/New+Image.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_QWqh36EuAxs/Sq94sUiZZxI/AAAAAAAAARk/dNxN6ttO8hs/s72-c/ketupat.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1009294533582344733.post-5067577407233786277</id><published>2009-08-29T04:26:00.002+07:00</published><updated>2009-08-29T04:38:11.985+07:00</updated><title type='text'>Kemerdekaan dan Ramadhan</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_QWqh36EuAxs/SphOCZuhg7I/AAAAAAAAARc/GzOG9ZRj3yc/s1600-h/merdeka+1.png"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 218px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_QWqh36EuAxs/SphOCZuhg7I/AAAAAAAAARc/GzOG9ZRj3yc/s320/merdeka+1.png" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5375131958439412658" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Oleh A Qorib Hidayatullah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua tema di atas tidak melulu menjadi tema wacana menara gading (absurd). Kemerdekaan dan ramadhan bebas dicicipi hingga masyarakat pereferal (pinggiran). Semarak perayaan kemerdekaan tanggal 17 Agustus pada hari-hari sebelumnya tampak gempita dengan riuh semangat segar masyarakat pedesaan. Panjat pinang, tarik tambang, hingga lomba makan krupuk menjadi soliditas keakraban antar masyarakat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dus, menarik dilirik kedekatan waktu acara kemerdekaan (Dirgahayu Republik Indonesia) dengan bulan suci ramadhan. Sekilas ditelisik dari luar dua momen tersebut mengusung elan vital yang sama yaitu semangat mengenang dan kebaruan serta pengabdian (ibadah). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di arus pewacanaan media, kemerdekaan dan ramadhan menjadi ulasan segar dan menarik. Pengamat dan analis berkompetensi serempak ramai mengulas dua tema tersebut. Di koran misalnya, menyediakan rubrik/edisi khusus tentang kemerdekaan dan ramadhan. Beragam tilikan yang sengaja dibidikkan terhadap dua momen agung itu. Ada yang menelisik berdasar semangat historisitas hingga kontekstualitas (meminjam istilah almarhum WS Rendra disebut manjing kahanan).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemerdekaan adalah memoria slip yang harus dihadirkan “master”nya di zaman/era kekinian. Perjuangan sukses para pahlawan menendang lemah dan mengusir kependudukan Belanda dan Jepang saat itu tidak hampa semangat. Sehingga, penghadiran semangat yang sama itu –di era reformasi— ini sangatlah niscaya. Jika semangat pejuang lampau melawan penjajah sonder pamrih maka sekarang terbalik. Pejuang dan pahlawan berlomba merangkak merebut elitisme yang gemar pamrih. Jika zaman dahulu pejuang gugur jasadnya disemanyamkan di makam pahlawan, beda dengan sekarang, penghargaan pada “pahlawan” abad 21 lebih meriah dan bertumpuk tanda jasanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak ayal, prakarsa mengenang kekentalan semangat pahlawan di zaman penjajahan perlu ditampilkan.  Hal ini, mengundang kepedulian pakar filmis Hollywood, Rob Allyn (produser film), seorang specialist effect di bidang film perang dan dibantu anaknya, Connor Allyn, membesut film Merah Putih. Film Merah Putih disutradarai Yadi Sugandi dan diarsiteki oleh kru orang Indonesia sendiri dan asing. Pembikinan film yang berlatar tahun 1946-1947 itu memagut biaya yang tergolong besar, 60 miliar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lewat film Merah Putih itu kesadaran kita dihentak, betapa mahalnya harga mengenang masa silam. Kendati kenangan tak melulu manis, pun pula ada kenangan pahit (kelam), namanya sejarah kudu diapresiasi secara apa adanya. Sejarah yang tak dibungkam dan tidak ditunggangi kepentingan apapun, demikian harapan dari film Merah Putih tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah iktikad mengenang sejarah masa silam lewat film. Berbeda dengan problematika kemerdekaan era kini. Jamak diketahui, meski kita de jure merdeka tapi secara de facto belum tentu. Misalnya, kita ditengarai telah dijajah secara soft (halus) dengan baju (kemasan) imperialisme budaya. Kita sejatinya tidak merdeka di aras budaya. Budaya yang kita lakoni saat ini adalah budaya yang mengabdi pada pihak luar (asing), tak ada independensi. Baik di sisi teknologi hingga perkara mengenakan busana (pakaian). Sehingga, permasalahan imperialisme budaya kita sejatinya dituntut kuat berada pada awareness ke-Indonesiaan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lain lagi dengan masalah kelonggaran kedaulatan teritorial Indonesia. Indonesia acap ditertawakan negara tetangga ihwal kelemahan kuasa teritorial yang sering kebobolan. Indonesia yang memiliki luas yang lebih di bidang teritorial (kelautan) dibanding daratan menjadi ancaman serius di bidang sekuritas kemaritiman. Al-hasil Harian Umum Kompas menurunkan laporan jurnalistik bernas terkait Nasionalisme di Tapal Batas. Wartawan investigatif Kompas menelusuri kawasan-kawasan teritorial yang kerap menyulut sengketa dengan negara tetangga. Laporan koran Kompas itu mengabarkan ontologi nasionalisme kemerdekaan adalah penghayatan penuh orang-orang (warga Indonesia) yang berada di perbatasan. Di mana nasib dan kesejahteraannya kerapkali terancam bahkan tergadaikan (yaitu memihak pada negara tetangga/asing). Benar-benar masygul nasib warga perbatasan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Merdeka! Let’s Come Ramadhan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Pasca kemerdekan RI usai diperingati, kita umat muslim diperhadapkan pada momen suci-transenden cegah dahar klawan guling (bulan ramadhan). Umat muslim dalam bulan ramadhan (puasa) diseru wajib menanggalkan kebutuhan manusiawi di saat siang hari selama sebulan penuh. Dan umat muslim pun dituntut menjauhi dan tak menuruti nafsu “daging”. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemerdekaan dan ramadhan berkait-kelindan. Dilirik perspektif teologis kedua momen itu sama-sama menyeru pesan hidup mulia (asketis) atau mati syahid, menghantarkan pada kesyuhadaan. Ditarik pada relasi ibadahnya, keduanya sama-sama menyiratkan pola hubungan ibadah vertikal dan horisontal dan berdaya nyala transendensi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Titik perjumpaan yang sama yaitu narasi perjuangan berlarat menahan diri dalam kemerdekaan dan ramadhanisasi adalah wahana karantina tubuh-jiwa. Ramadhan bisa dibilang “pemerdekaan” manusia lepas diperbudak nafsu “daging” di antara dua kaki. Sedangkan kemerdekaan ialah upaya pelepasan secara fisik maupun jiwa dari intervensi jajahan kolonial. Kemerdekaan dan ramadhan pula sama-sama memendarkan penderitaan. Penderitaan yang menggiring pada sakralitas tubuh dan jiwa. Alegori bijak dari Dono Baswardono patut ditampilkan, Kesedihan lebih baik ketimbang tertawa. Kesedihan memurnikan kita. Hadapi kesedihan dengan air mata, waktu, kejujuran, dan pengharapan.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdalih memerdekaan diri, manusia mampu secara lambat-laun meraih derajat jati dirinya, baik jati kebangsaan maupun jati diri hakiki, yaitu sebagai insan pengabdi kepada Allah SWT. Dan, diri yang sejati hanya bersemayam di lubuk hati tepian ilmu. Merdeka! Marhaban Ya Ramadhan…&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1009294533582344733-5067577407233786277?l=indonimut.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://indonimut.blogspot.com/feeds/5067577407233786277/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1009294533582344733&amp;postID=5067577407233786277' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1009294533582344733/posts/default/5067577407233786277'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1009294533582344733/posts/default/5067577407233786277'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://indonimut.blogspot.com/2009/08/kemerdekaan-dan-ramadhan.html' title='Kemerdekaan dan Ramadhan'/><author><name>[A Qorib Hidayatullah]</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15367290909727515085</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_QWqh36EuAxs/SMw1P_rh7-I/AAAAAAAAAJo/W26QVuYW-Y4/S220/New+Image.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_QWqh36EuAxs/SphOCZuhg7I/AAAAAAAAARc/GzOG9ZRj3yc/s72-c/merdeka+1.png' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1009294533582344733.post-6379064579142437847</id><published>2009-07-30T20:24:00.002+07:00</published><updated>2009-07-30T20:39:52.264+07:00</updated><title type='text'>Dongeng Perubahan dari PSIF</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_QWqh36EuAxs/SnGimJ-SdbI/AAAAAAAAARU/Pz39Uh_mWa0/s1600-h/anthromorphism.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 299px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_QWqh36EuAxs/SnGimJ-SdbI/AAAAAAAAARU/Pz39Uh_mWa0/s320/anthromorphism.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5364247407570875826" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Oleh A Qorib Hidayatullah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak banyak lembaga kebudayaan yang mengusung nilai keislaman dan humanisme. PSIF (Pusat Studi Islam dan Filsafat) Universitas Muhammadiyah Malang menggawangi ihwal gerakan budaya intelektualisme agar tak masygul. Islam dan kemanusiaan memang menjadi wacana eksotis di mana banyak kalangan membonceng kedua kajian itu sebagai arah dan inspirasi gerakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PSIF sebagai ikon gerakan humanisme beberapa pekan silam pernah menggelar seremonial kebudayaan yaitu Dongeng  Perubahan (di pengujung bulan Juni). Acara tersebut diampu oleh Garin Nugroho (Sineas), Franky Sihalatua (musisi), dan Sukardi Rinakit (politisi). Kemasan acaranya pun tampak tak monoton. Pesan-pesan (dongeng) perubahannya diiringi musik, hingga akhirnya mewujud menjadi karya konkret kemanusiaan. Ada musikalisasi puisi serta nyanyian perubahan yang menghentak nurani. Gabungan antara pakar dunia filmis dan komunikasi, Garin Nugroho, dengan Bung Franky membikin dongeng terbuhul hingga nyaman disimak. Dongeng yang lazimnya dihantar menidurkan anak manusia, namun dongeng perubahan malam itu justru malah tak membuat leyeh-leyeh pemirsa, malah mamaksa “bangun” dari tidur lama kebungkaman menuju kelahiran embrio kritisisme. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Safari budaya yang dihelat dalam Dongeng Perubahan tersebut bukan nir-kepentingan. Kedekatan waktu dengan pilpres (8 Juli 2009), dijadikan ajang “basah” para seniman dan musisi berparade demi dalih kesadaran bagi pemilih untuk memilih pemimpin secara objektif, yaitu memilih berdasar track-record masing-masing kandidat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bung Franky dan Garin saling sahut-menyahut menembang lagu romantik, kritik, dan pencerahan. Mereka saling bergantian menampilkan ekspresi masing-masing. Dan jeda parade penembangan itu, Sukardi Rinakit maju ke depan podium, lalu mengulas secara kritis terkait kepemimpinan muda. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain Dongeng Perubahan, PSIF beberapa hari silam menghadirkan sastrawan kawakan yang sekaligus redaktur majalah Horison: Jamal D. Rahman, Agus R. Sarjono, Joni Ariadinata, dan Iman Soleh. Mereka diundang ke PSIF guna mengulas kelindan sastra dengan humanisme. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat mengawali acara, mereka berempat saling memperkenalkan dirinya masing-masing. Setelah momen perkenalan selesai, kang Iman Soleh menampilkan teatrikalisasi puisi. Audiens dibikin tercengang berkat penyampaian puisi yang sangat menyentuh hati, dan dibumbui kekocakan-kekocakan khas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sastra dan humanisme memang sangatlah dekat, bererat kait. Majalah Horison yang mereka (Jamal D. Rahman, dkk) gawangi mengusung nilai-nilai humanisme. Kedekatannya dengan kalangan siswa merupakan bentuk konkret kemanusiaan. Horison menabalkan dirinya sebagai majalah yang telah lama eksis mengabdi demi keberlangsungan daras sastra bagi pelajar. Sehingga alhasil, Horison menjadi ajang apresiasi estetis-kesusastraan siswa. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Tentu, kehadiran para maestro literer tersebut di PSIF berdalih menyeharikan semangat sastra dan humanisme. Sesuai dengan misi PSIF kepada umat, yaitu meladeni perihal gerakan Islam, kebudayaan (sastra), dan kemanusiaan. Dua rangkaian acara yang benar-benar mencerahkan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1009294533582344733-6379064579142437847?l=indonimut.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://indonimut.blogspot.com/feeds/6379064579142437847/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1009294533582344733&amp;postID=6379064579142437847' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1009294533582344733/posts/default/6379064579142437847'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1009294533582344733/posts/default/6379064579142437847'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://indonimut.blogspot.com/2009/07/dongeng-perubahan-dari-psif.html' title='Dongeng Perubahan dari PSIF'/><author><name>[A Qorib Hidayatullah]</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15367290909727515085</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_QWqh36EuAxs/SMw1P_rh7-I/AAAAAAAAAJo/W26QVuYW-Y4/S220/New+Image.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_QWqh36EuAxs/SnGimJ-SdbI/AAAAAAAAARU/Pz39Uh_mWa0/s72-c/anthromorphism.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1009294533582344733.post-7022189725605454224</id><published>2009-06-09T00:23:00.001+07:00</published><updated>2009-06-09T00:25:19.160+07:00</updated><title type='text'>Mimpi Menjadi Presiden Hebat</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_QWqh36EuAxs/Si1JUgQP5CI/AAAAAAAAARM/ORKtEeJ2nF8/s1600-h/cover+buku+andai+presiden+sehebat+harry+potter.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 207px; height: 320px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_QWqh36EuAxs/Si1JUgQP5CI/AAAAAAAAARM/ORKtEeJ2nF8/s320/cover+buku+andai+presiden+sehebat+harry+potter.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5345008949362943010" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Judul Buku : Andai Presiden Sehebat Harry Potter&lt;br /&gt;Penulis : Agenda 18&lt;br /&gt;Penerbit : Kanisius&lt;br /&gt;Cetakan : Pertama, 2009&lt;br /&gt;Tebal : 188 hlm&lt;br /&gt;Peresensi : A Qorib Hidayatullah*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun 2003, Agenda 18 mewujud. Agenda 18 dihuni anak-anak muda (baca: penulis muda) yang berbasis Katolik dan berwawasan plural. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku setebal 188 halaman ini memuat 16 judul tulisan dari 14 penulis muda yang tergabung di Agenda 18. Buku yang mampu meringkas percikan mimpi para kuli tinta yang sadar menegur pemimpin bangsa lewat aksi literasi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tulisan yang terhimpun dalam buku rampai ini sengaja dikemas renyah-mengalir sesuai selera anak muda. Nuansa keremajaan ditemukan tatkala membuka lembaran buku di mana tiap-tiap judul tulisan dibuat “tak ilmiah.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal itu tampak saat mata memelototi judul buku ini: Andai Presiden Sehebat Harry Potter. Sekilas memantik kesan bahwa pemimpin negeri ini didamba laiknya tukang sulap (sihir). Pemimpin diharap mampu menyulap rakyat melarat menjadi makmur-sejahtera.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku rampai ini menyajikan tulisan yang amat beragam terkait persoalan pelik pemimpin bangsa. Roy Thaniago, Selamat Pagi, Mas Presiden (hlm.15), mengabarkan pesan pentingnya pemimpin muda. Roy, di awal tulisannya menyitir petuah Pramoedya Ananta Toer: “Ya, yang bisa mengubah hanyalah generasi angkatan muda…”. Lalu siapa generasi muda itu? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Roy, generasi muda adalah mereka yang berusia belia (muda). Usianya kisaran 35-50 tahun. Tapi usia bukanlah syarat mutlak seseorang terkategori generasi muda. Ia bisa saja berusia di atas 50, tapi memiliki pikiran yang baru (muda), kultur yang baru (belum pernah terlibat dalam kerja parpol atau pemerintahan yang korup), semangat yang baru, dan juga mimpi yang baru (hlm. 20).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti Ninoy, panggilan akrab Benigno Aquino Jr., suami Corazon Aquino, mantan presiden Filipina. Ninoy pemuda aktif berpolitik. Ia menjadi walikota pada usia yang sangat muda, 22 tahun, lalu berlanjut diganjar jadi gubernur di usia 28 tahun. Dalam usia 34, ia pun masuk sebagai senator termuda Filipina saat itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di belahan dunia lain, sederet nama tokoh muda tampil gagah, seperti Evo Morales, memimpin Bolivia pada usia 47 tahun. Bashar Al Assad dari Suriah menjadi presiden di usia yang belum genap 45 tahun. Hugo Chaves ditahbis menjadi presiden Venezuela pada usia 44 tahun. Pun deretan nama pemimpin muda di Amerika, dari J.F. Kennedy (berusia 43 tahun menjabat presiden), Bill Clinton (47), hingga yang populer dibicarakan saat ini, Barack Obama (47). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kekuatan dari pemimpin muda itu ialah piawai memelihara mimpi. Seturut Arvan Pradiansyah, The 7 Laws of Happiness (2008): “Pikiran picik membicarakan orang lain. Pikiran biasa membicarakan kejadian. Pikiran besar membicarakan ide-ide atau mimpi-mimpi.” Dan, mungkin kita pun masih ingat kata-kata Benedict Anderson dalam bukunya yang telah menjadi klasik: Imagined Communities (1983) atau, dalam terjemahan Indonesia, Komunitas-Komunitas Imajiner (Insist, 2001). “Bangsa sesungguhnya adalah sebuah komunitas yang diangankan, sebuah komunitas yang dianggit, sebuah komunitas yang diimpikan.”   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Betapa penting dan mahalnya menggubah mimpi. Hingga Christa Sabathaly menulis di buku rampai ini, Kalau Presiden Punya Facebook (hlm. 28). Christa mengimpikan presiden turut memiliki jejaring pertemanan (sosial) yang kini lagi mentereng itu. Ia rela mendadani tampilan Facebook-nya dengan profil presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Dan foto yang ditampilkan di Facebook adalah foto Bapak SBY dan Ibu Ani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harapan Christa, tatkala Bapak SBY punya account Facebook, bakal banyak rakyat yang akan mengecek profil presiden. Tak hanya untuk memberi penilaian, tapi juga ingin mengenal Bapak presiden lebih dekat dan mendalam (hlm. 30). Sehingga, aspirasi rakyat pun gampang didengar, sebab Facebook menyiadakan wall (dinding) buat komentar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak kalah menarik, Sri Maryanti menulis Dicari: Presiden dan Wapres yang Sensitif Perempuan (hlm. 59). Di tengah makin dekatnya pemilu dan pilpres, Sri gelisah atas nasib perempuan sebagai kaum pemilih yang lebih banyak dibanding laki-laki. Sementara ini, perempuan melulu ditunggangi kepentingan politis, lalu dieksploitasi. Nasib perempuan tak terlalu diperhitungkan. Tak sedikit dari kebijakan elite pemerintah ini ditengarai tidak sensitif berpihak pada perempuan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa waktu silam presiden SBY memberikan aspresiasi menarik kepada perempuan Indonesia. Perempuan, ia persepsikan memiliki kelebihan-kelebihan khusus, seperti teliti, hemat, dan lebih sukar diajak korupsi. Persepsinya yang demikian itu diperkuat pengalamannya saat berdiskusi dengan tokoh peraih Nobel, Muhammad Yunus. Yunus berhasil mendorong usaha kecil kelompok miskin dengan melibatkan perempuan dalam program tersebut di negaranya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kendati demikian, pilpres kini sudah di ambang pintu. Beragam cara bagaimana berharap agar pemimpin terpilih kelak lebih baik dari sebelumnya. Berseberangan dari itu, Agnes Rita menulis Apa Iya, Kita Butuh Presiden…?  (hlm.114). Rita berspekulasi dan membeberkan fakta kota Medan yang tidak mempunyai kepala daerah, setelah Walikota Abdillah dan Wakil Walikota Ramli Lubis ditahan awal bulan Januari 2008. Apakah kota Medan kemudian mandek? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata tidak. Aktivitas kehidupan masyarakat tetap berlangsung seperti biasa. Pemerintahan daerah masih berlanjut. Media massa pun tak pernah melansir terjadi kekacauan pasca-ketiadaan Walikota dan Wakil Walikota di Medan. Memang, iklim demokrasi saat ini menuntut keleluasaan masyarakat menentukan pilihan sesuai hatinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menikmati sekujur detail tulisan yang disaji dalam buku rampai ini, tampak sekali anak muda memiliki kekhasan tersendiri memotret pemimpin Indonesia ke depan. Komentar Fadjroel Rachman untuk buku ini, “Buku ini mirip sihir, hadir dari anak-anak muda yang tak mau kehilangan mimpi. Kalau terbit di zaman Orde Baru, buku ini pasti dilarang beredar.”&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1009294533582344733-7022189725605454224?l=indonimut.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://indonimut.blogspot.com/feeds/7022189725605454224/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1009294533582344733&amp;postID=7022189725605454224' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1009294533582344733/posts/default/7022189725605454224'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1009294533582344733/posts/default/7022189725605454224'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://indonimut.blogspot.com/2009/06/mimpi-menjadi-presiden-hebat.html' title='Mimpi Menjadi Presiden Hebat'/><author><name>[A Qorib Hidayatullah]</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15367290909727515085</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_QWqh36EuAxs/SMw1P_rh7-I/AAAAAAAAAJo/W26QVuYW-Y4/S220/New+Image.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_QWqh36EuAxs/Si1JUgQP5CI/AAAAAAAAARM/ORKtEeJ2nF8/s72-c/cover+buku+andai+presiden+sehebat+harry+potter.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1009294533582344733.post-5177703833163037189</id><published>2009-06-09T00:16:00.003+07:00</published><updated>2009-06-09T00:22:28.262+07:00</updated><title type='text'>Rute Buntu Peta Pemikiran Islam</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_QWqh36EuAxs/Si1IWnN0qmI/AAAAAAAAARE/8PM3QO0KbBs/s1600-h/scholars1.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 272px; height: 320px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_QWqh36EuAxs/Si1IWnN0qmI/AAAAAAAAARE/8PM3QO0KbBs/s320/scholars1.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5345007886079928930" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Oleh: A Qorib Hidayatullah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mula-mula dari diskusi bertemakan Peta Pemikiran Islam, yang diampu kakanda Fauzi Hasyim di aula HMI Cabang Malang, memantik pertanyaan yang amat mendasar, “Apa betul Islam memiliki peta pemikiran?.” Kendati pertanyaan ini terkesan sederhana, namun bila disikapi ugal-ugalan akan membikin kemasygulan dalam  pentas pemikiran Islam. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rupa-rupanya gampang dicurigai bahwa daya tafsir keagamaan tidak berangkat dari kesadaran ilmiah, melainkan kesadaran ideologis. Segala kerja tafsir keagamaan ditengarai dibonceng dan dihadiri kepentingan ideologi. Tak ayal, kemaslahatan yang  ditawarkan agama semata representasi dari “kuasa selera” mufassir/pemikir/ulama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini dapat ditandai dari ikhtiar Dr. Fatima Mernissi yang intim meriset hadis-hadis misoginis (hadis yang berdaya-nyala/berideologi superioritas). Tengok misalnya, di buku garitan Fatima Mernissi, Wanita dalam Islam (Cet. Pertama 1994, edisi Bahasa Inggrisnya terbit pada 1991). Di bukunya itu, Mernissi bersyak-wasangka bahwa muhaddis —meski sekaliber al-Bukhari pun dalam kitab Shahihnya— memiliki ideologi tertentu (baca: kepentingan) dalam menyampaikan hadis rasul, Muhammad SAW. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diperkuat lagi lewat upaya kawan-kawan di Forum Kajian Kitab Kuning (FK3), yang digawangi Sinta Nuriyah Abdurrahman Wahid, yang intens menyibak muatan ideologi dalam kitab Uqud al-Lujjayn fi Bayan Huquq az-Zawjayn karya Syeikh Nawawi al-Bantani (Lihat Kembang Setaman Perkawinan, 2005). Bertolak dari kerja riset pejuang perempuan asal Maroko itu dan kawan-kawan dari FK3, makin menggenapi asumsi bahwa tiap pola kerja tafsir agama tak luput dari kepentingan ideologi.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Dengan begitu, hemat saya, tampak sukar bila pengkaji agama melulu  disibukkan membikin dan mencari peta pemikiran agama (Islam). Sebab, keemasan agama Islam dilirik beres pada masa silam. Pun pemikiran Islam tak luput dari muatan terselubung ideologi tertentu, sangat sulit mendaras peta pemikiran intelektual/mufassir Islam. Selain juga, seakan tak ada dinamisasi pemikiran Islam sehingga menggiring kepada kebuntuan epistemologi pemikiran Islam. Sementara, umat Islam kontemporer berasyik-masyuk (euforia) atas masa kejayaan pemikiran Islam masa silam. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbeda dengan umat Barat dalam tradisi pemikirannya yang mapan epistemologi dari tiap undakan preseden paradigma pemikirannnya. Barat memiliki epistemologi pemikiran yang siap saling sahut-menyahut dengan preseden/sejarah bahkan kebutuhan zamannya. Misalnya, dinamisasi epistemologi rasionalisme, empirisme, positivisme, kritisisme, idealisme Jerman/anti-esensialisme, mazhab frankfurt, hingga posmodernisme. Dus, peta pemikiran Islam hanyalah anggitan/anganan semu, mistifikasi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Generik Studi Agama &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Kendati demikian, peluang eye catching pemikiran Islam ialah ketika ditilik dari sudut metodologi studi agamanya. Ada buku bunga rampai besutan Amin Abdullah, Studi Agama: Normativitas atau Historisitas? (1996). Dalam bukunya ini, Amin Abdullah hendak menghijrahkan studi agama yang bercorak normatif-doktriner menuju pendekatan studi agama sosio-historis. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalih keberanjakan studi agama ini ialah absennya telaah yang bersifat sosio-historis seperti yang direlikui tradisi studi agama di masa silam akan berkonsekuensi dalam kecenderungan absolutis dan menjadikan teks-teks keagamaan seolah-olah ahistoris tanpa dipengaruhi oleh kondisi ruang dan waktu.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejatinya, teks-teks keagamaan yang primer (Qur’an dan Sunnah) maupun yang sekunder (teks-teks tafsir, kalam, dan fikih, misalnya)—dalam pandangan para pendukung studi agama dengan pendekatan historis-empiris—tidak pernah lahir tanpa dipengaruhi konteks sosio-historis (asbab al-nuzul dan asbab al-wurud). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika tak berlebihan, Amin Abdullah di buku itu mengajak kita untuk memosisikan aspek historisitas dan normativitas ajaran agama sebagai dua kesatuan integral yang tak harus dipisahkan satu dari yang lainnya. Ibarat dua sisi mata uang dari sekeping koin, demikian Amin Abdullah membuat tamsil, aspek normatif dan historis ajaran agama—begitu juga dua pendekatan studi agama: normatif dan historis—merupakan dua sisi dari satu koin (baca: agama) yang memang harus bisa dibedakan tapi tidak mungkin bisa, dan memang tidak boleh, diabaikan salah satunya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Studi Agama sebagai Alternatif&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Kemajemukan agama dan keanekaragaman pemahaman keagamaan merupakan kenyataan sosio-historis yang tak bisa ditampik oleh siapa pun. Pluralitas agama dan pemahaman keagamaan ini pada akhirnya menjadikan pendekatan studi agama yang melulu mengedepankan pendekatan normatif-teologis-doktriner akan menghadapi beragam kesulitan. Pendekatan historis-kritis, karena itu, harus juga menjadi bagian integral dalam melakukan kajian keagamaan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perkembangan gesit sains dan teknologi yang dicapai umat manusia dan perkembangan pesat ilmu-ilmu sosial-kemanusiaan—yang pada akhirnya tentu saja berkonsekuensi juga dalam pergeseran kesadaran manusia dalam memandang fenomena keagamaan--merupakan salah satu penyebab keniscayaan munculnya pendekatan studi agama berwajah ganda tersebut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak akhir abad ke-19 dan paruh kedua abad ke-20, mulai terjadi pergeseran paradigma pemahaman tentang agama yang semula terbatas sekadar pada aspek-aspek entitas “idealitas”, “doktrin”, dan “esensi”-nya, merambah aspek-aspek lain berupa entitas “historisitas”, “sosiologis”, dan “eksistensi” agama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Turut mengamini dinamika sejarah kemanusiaan tersebut, adalah absah jika dalam perkembangan selanjutnya fenomena agama pun tidak dilihat semata-mata dalam koridor doktrin teologis-normatifnya (sebagai hard core keberagamaan manusia). Tapi juga meluaskannya pada fenomena agama sebagai sebuah tradisi hasil konstruksi manusia (human construction), sebuah living history, dalam suatu rentang sejarah panjang perjalanan umat manusia dalam memahami dan mengamalkan agama. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apalagi, meski ungkapan keagamaan manusia semula merupakan ekspresi yang bersifat batiniah-esoteris, dalam perkembangan selanjutnya secara eksternal potensial juga berubah “melembaga” dan dipengaruhi oleh pranata-pratana sosial-kemasyarakatan. Karena itu, ekspresi keagamaan yang melembaga tersebut tidak bisa tidak juga mengalami proses evolusi yang berjalin-kelindan dengan faktor-faktor ekonomi, sosio-budaya, bahasa, dan seterusnya, yang tak kalah rumit dan kompleksnya dibandingkan dengan hard core keberagamaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan tetap tak mengabaikan kenyataan bahwa setiap jenis pendekatan agama pada hakikatnya tidak ada yang bersifat exhaustive (mampu menyelesaikan dan memecahkan pelbagai persoalan keagamaan dengan tuntas dan sempurna); maka memadukan kedua pendekatan normatif-doktriner dan historis-kritis tampaknya menunjukkan relevansinya yang penting. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebab, tatkala  agama melulu didekati secara doktriner-normatif, misalnya, maka ekslusivisme keagamaan merupakan wajah dominan yang akan tampil dari fenomena agama. Apalagi, struktur fundamental bangunan pemikiran teologi memang secara umum bersifat: pertama, mengutamakan loyalitas kepada kelompok sendiri; kedua, subjektif dan menunjukkan keterlibatan pribadi (self involvement) yang kuat; serta ketiga, cenderung menggunakan bahasa aktor (actor), bukan pengamat (spectator) yang mampu “mengambil jarak”. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sisi lain, jika fenomena keagamaan hanya dilirik dengan kacamata historis-empiris, maka tidak menutup kemungkinan agama akan terus-menerus dilihat dan diposisikan sekadar sebagai fenomena sosial yang telah kehilangan nuansa kesakralan, normativitas, dan kesuciannya.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alhasil, bukankah lebih penting memikirkan nasib studi agama dibanding ikhtiar melacak rute/peta pemikiran Islam? Jangan-jangan pemikiran Islam tak memiliki peta alias buntu. Sehingga, jasa studi agamalah yang mampu menangkis serangan kebuntuan peta pemikiran Islam. Wallahu A’lam bi al-Shawab.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1009294533582344733-5177703833163037189?l=indonimut.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://indonimut.blogspot.com/feeds/5177703833163037189/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1009294533582344733&amp;postID=5177703833163037189' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1009294533582344733/posts/default/5177703833163037189'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1009294533582344733/posts/default/5177703833163037189'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://indonimut.blogspot.com/2009/06/rute-buntu-peta-pemikiran-islam.html' title='Rute Buntu Peta Pemikiran Islam'/><author><name>[A Qorib Hidayatullah]</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15367290909727515085</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_QWqh36EuAxs/SMw1P_rh7-I/AAAAAAAAAJo/W26QVuYW-Y4/S220/New+Image.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_QWqh36EuAxs/Si1IWnN0qmI/AAAAAAAAARE/8PM3QO0KbBs/s72-c/scholars1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1009294533582344733.post-1061435959996667080</id><published>2009-05-14T16:29:00.002+07:00</published><updated>2009-05-14T16:52:26.513+07:00</updated><title type='text'>Aktivis Kamar yang Kreatif</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_QWqh36EuAxs/SgvpwevdCUI/AAAAAAAAAQ8/y9Zo2p2PEoM/s1600-h/image+2.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 238px; height: 320px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_QWqh36EuAxs/SgvpwevdCUI/AAAAAAAAAQ8/y9Zo2p2PEoM/s320/image+2.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5335615202645576002" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Oleh A Qorib Hidayatullah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sangatlah sulit mencari manusia kreatif. Tak segampang sekadar pengakuan diri: sayalah yang kreatif. Kreatifitas adalah praktik atau amal yang sangat menyehari.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjadi manusia kreatif niscaya dibutuhkan dalam hal penyelesaian masalah. Tiap sesuatu bila selesai secara kreatif akan tampak beda dibanding dengan penyelesaian masalah sebelumnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mula-mula membaca rubrik Humaniora-Dedaktika, Susah Menjadi Guru Kreatif (Kompas, 20/04), saya tersadar sehabis membacanya. Kreatifitas tak melulu berguna bagi insan pers, artistik, iklan, entertain, dll, yang semua ini tergolong pekerja kreatif. Tapi kreatifitas pula menyelusup di tiap-tiap aras edukasi. Misalnya, agar siswa kreatif, maka itu tak luput dari sejauh mana kreatifitas gurunya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mencapai derajat kreatif, guru dituntut menanggalkan otoritas linearnya di kelas dalam mendidik siswa. Guru tak lagi bersikap laiknya instruktur kepada murid hingga ia leluasa dan memiliki kuasa memerintah. Jika guru memaksa melakukan tindakan itu, maka jelas akan menumpulkan daya kreatifitas murid/siswa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika zaman dulu guru ditempatkan sebagai penceramah tunggal di kelas, kini sudah berbeda. Di kelas guru tak hanya tunggal dalam proses belajar-mengajar. Demi dalih kreatifitas, guru turut mengapresiasi siswa yang aktif-kreatif dalam proses belajar-mengajar. Sehingga, ada masa di mana sumber inspirasi pengetahuan tak selalu hadir dari guru, tapi juga bersumber dari siswanya.  &lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Nyala kreatifitas haruslah dianggit atau diimajinasikan. Imajinasi dan kreatifitas bak uang yang memiliki dua mata sisi. Mata air kreatifitas bisa mengalir bila didekati dengan imajinasi. Kekuatan dasar kreatif tergantung seberapa kuat berimajinasi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di jagad penelitian pun, imajinasi memiliki andil penting. Menurut pengakuan peneliti Biologi-Molekuler Eijkman, Herawati Sudoyo, agar penelitian itu dinamis maka peneliti niscaya berimajinasi. Hal itu, Hera buktikan dalam karya penelitiannya yang berjudul Keanekaragaman Genetik Manusia Nusantara. Pra-riset asal-usul nenek moyang Nusantara berbasis penelusuran DNA itu, Hera mengimajinasikan bagaimana mereka bermigrasi. “Saya membayangkan mereka berjalan dari Afrika, lalu ke Eropa, terus ke Asia Timur, India, dan masuk ke Sumatera, Kalimantan, dan Jawa yang ketika masih bersatu. Setelah itu meraka menyeberang ke Papua dan Australia. Sebagian ke Nusa Tenggara.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dirasa penting berimajinasi demi tampilnya daya kreatifitas.  Sehingga, pekerjaan apapun yang dikerjakan itu seakan butuh sentuhan tangan-tangan kreatif. Tak hanya seorang guru dan peneliti melulu. Tak hanya pengecer jasa iklan, artististik, dan audio-visual saja. Tapi bagi seluruh lini-lini pekerjaan butuh kreatifitas. Di mana, pemantik kreatifitas tersebut bermula muncul dari kamar kerja yang imajinatif.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Imajinasi dan Kamar&lt;/span&gt;  &lt;br /&gt;Kencangnya arus informasi di dunia ketiga membuat siapa saja gampang mengakses apapun. Sekali klik berjibun-jibun data mudah teraup. Hal ini tak dapat ditampik, sebab kelaziman perubahan zaman (perubahan tekhnologi mengubah perubahan sosial)  menghantarkan kemajuan manusia. Mc Luhan menuturkan runtuhnya sekat-sekat negara yang disebabkan gencarnya arus informasi. Semuanya mengklimaks menjadi warga global. Lebih rinci Mc Luhan menyebut zaman ini dengan global village. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Temuan Mc Luhan itu memicu asumsi bahwa apapun kini bisa dikerjakan dalam kamar. Jika saat Sekolah Dasar (SD), saya sering dipetuahi guru bahwa membaca membuka jendela dunia. Dengan membaca maka kita bakal tahu pengetahuan dunia. Ini mirip amal tesis Mc Luhan. Dunia dapat dipandang dengan sekadar melongok dari jendela dalam kamar. Kita bakal serba tahu seluruh informasi dunia dengan hanya berada dalam kamar. Tentunya, kamar yang dimaksud ialah kamar imajinatif. Sebuah kamar yang dianggit sebagai peranti dasar mewujudkan nyala kreatif. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kamar imajinatif tak lepas dari pelaku atau penghuni kamar yang imajinatif pula. Dan, penghuni kamar tersebut juga harus memangku perilaku prolifik, yaitu gemar menyimpan dirinya dalam kamar. Ia mau berlarat sepi, tekun di suasana hening, tak getir dirajam kesenyapan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Naguib Mahfouz, pesastra adib Mesir ditengarai gemar mengamalkan lelaku prolifik. Ia kerap menangkis serangan keramaian kerumunan masyarakat sekitarnya. Saat berangkat bekerja ia mesti mampir di sebuah kafe langganannya sekadar menghisap rokok dan menyeruput kopi. Lalu ia tak menyengaja dirinya ngobrol atau ngerumpi  dengan orang lain, tapi ia memilih membaca koran. Aktivitas seperti itu telah menyehari dilakukannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kendati Mahfouz prolifik ia tak bakal jenuh dengan aktivitasnya yang tampak linear itu. Sebab, ia mampu menafsir kreatifitas dalam kamar kerjanya. Ia menempatkan secara mapan kamar kerja imajinatifnya. Kamar kerja kreatif-imajinatif, lebih tepat Mahfouz menganggap tempat itu laiknya ladang tunggal yang bisa berganti-ganti ditanami tumbuh-tumbuhan. Dan di ruang itulah, pesastra tersohor Mesir itu membesut karya agung literer demi pencerahan masyarakat Mesir. Dengan sastra, Mahfouz hendak mengungkap ketabuan yang meliliti pemafhuman masyarakat Mesir. Hingga pada masanya, karya Mahfouz dilarang beredar.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kendati demikian, manusia kreatif yang lahir dari embrio kamar kerja kreatif tak mudah dilumpuhkan dan dibungkam suaranya. Sebab, ia terbiasa dalam kamar yang didera kesepian berlarat. Kamar sejatinya ruang ibadah mengabdi pada hidup dengan berkarya. Tentunya, kamar yang dimaksud ialah kamar yang disesaki serakan buku-buku, jurnal, majalah, dan kliping koran.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mari jadi aktivis kamar, memulai gerak-gerilya dalam kamar. Mengusung dan melakukan perubahan besar dari kamar. Menyusun strategi pergerakan dalam kamar. Memimpikan idealisme mahasiswa dalam kamar. Al-hasil, kamar pun rupa-rapanya menjadi rekayasa sosial baru. Semoga!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1009294533582344733-1061435959996667080?l=indonimut.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://indonimut.blogspot.com/feeds/1061435959996667080/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1009294533582344733&amp;postID=1061435959996667080' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1009294533582344733/posts/default/1061435959996667080'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1009294533582344733/posts/default/1061435959996667080'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://indonimut.blogspot.com/2009/05/aktivis-kamar-yang-kreatif.html' title='Aktivis Kamar yang Kreatif'/><author><name>[A Qorib Hidayatullah]</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15367290909727515085</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_QWqh36EuAxs/SMw1P_rh7-I/AAAAAAAAAJo/W26QVuYW-Y4/S220/New+Image.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_QWqh36EuAxs/SgvpwevdCUI/AAAAAAAAAQ8/y9Zo2p2PEoM/s72-c/image+2.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1009294533582344733.post-5860547662686994586</id><published>2009-05-14T16:20:00.001+07:00</published><updated>2009-05-14T16:25:51.116+07:00</updated><title type='text'>Buku dan Pergerakan</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_QWqh36EuAxs/SgvjdiAFI6I/AAAAAAAAAQ0/lBuhuf9OYRI/s1600-h/image+1.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 240px; height: 320px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_QWqh36EuAxs/SgvjdiAFI6I/AAAAAAAAAQ0/lBuhuf9OYRI/s320/image+1.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5335608280033338274" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;A Qorib Hidayatullah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di pelbagai pagelaran seminar, pembicara andal sederhananya bisa dilirik dari kekayaan referensi dalam penyampaiannya. Tampak argumentasi kukuh yang dipancarkan tiap-tiap pembicara, tak luput seberapa lihai ia menyitir referensi. Dan, keampuhan pembicara meramu apa yang disampaikan hingga ia elegan menjawab pertanyaan penanya, pun tak lepas semesta referensi yang ia baca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdaya referensial di pentas ilmiah seakan niscaya. Pertarungan pakar pengetahuan/akademisi demi memenangkan di arena keilmiahan tentu dipersenjatai referensi yang tak sedikit. Referensi dalam hal ini rupa-rupanya ditempatkan laiknya amunisi guna mengukuhkan teori. Dan, teorilah yang nantinya mewujud sebagai dasar pijakan menjalankan hidup di jagad lelaku keilmiahan. Misalnya, melakoni riset, dll. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, amal referensial tak melulu digunakan saat kerja ilmiah. Aktivitas yang sangat menyehari sekalipun,  bisa menunggangi referensi. Misalnya, menyitir referensi saat obrolan ringan bersama teman ataupun kawan sembari menyeruput kopi di café, dll. Sehingga, obrolan yang tadinya hanya terkesan biasa-biasa saja dengan referensi bisa memiliki kekuatan. Tentu, perilaku sang pengobrol tak serampangan menyitir referensi. Dengan kata lain, ia pas memilah referensi dalam mempertajam obrolannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Referensi dan Pergerakan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Tak sedikit yang alergi dari kawan-teman kita, bila dalam obrolan bersamanya dipijakkan pada referensi. Sebagai mahasiswa –untuk tidak menyebut aktivis mahasiswa— lazim membicarakan centang-perenang bangsa Indonesia pasca reformasi. Dalam presedennya, mahasiswa terbilang idealis saat ditandai dengan kemenangan memakzulkan rezim lalim Soeharto pada 1998. Sehingga, ada istilah khusus untuk menyebutkan hal ini: Gerakan Masif Aktivis 98. Gerakan aktivis 98 jika tidak berlebihan bisa dibilang asketisme idealis yang pernah dimiliki dalam sejarah pergerakan mahasiswa. Sebab, gerakan tersebut mengusung perubahan agung, reformasi. Mereka –seluruh elemen mahasiswa se-Indonesia— serempak, bersama-sama menyingsingkan lengan baju menangkis dan mengakhiri serangan represifitas Orde Baru. Mereka bergeliat dan bergerak maju membonceng demokratisasi, egalitarianisme, dan humanisme.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1009294533582344733-5860547662686994586?l=indonimut.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://indonimut.blogspot.com/feeds/5860547662686994586/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1009294533582344733&amp;postID=5860547662686994586' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1009294533582344733/posts/default/5860547662686994586'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1009294533582344733/posts/default/5860547662686994586'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://indonimut.blogspot.com/2009/05/buku-dan-pergerakan.html' title='Buku dan Pergerakan'/><author><name>[A Qorib Hidayatullah]</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15367290909727515085</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_QWqh36EuAxs/SMw1P_rh7-I/AAAAAAAAAJo/W26QVuYW-Y4/S220/New+Image.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_QWqh36EuAxs/SgvjdiAFI6I/AAAAAAAAAQ0/lBuhuf9OYRI/s72-c/image+1.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1009294533582344733.post-1247193734760854627</id><published>2009-04-13T23:45:00.004+07:00</published><updated>2009-04-13T23:49:25.347+07:00</updated><title type='text'>Kitab Sastra Selebritas</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_QWqh36EuAxs/SeNsWHJg_YI/AAAAAAAAAQs/hLeYPkdYHic/s1600-h/headerjpyo7.gif"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 238px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_QWqh36EuAxs/SeNsWHJg_YI/AAAAAAAAAQs/hLeYPkdYHic/s320/headerjpyo7.gif" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5324218311613939074" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Oleh: A Qorib Hidayatullah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tatkala kampanye terbuka digelar, sebagian artis-selebritas Indonesia lagi sibuk berkampanye demi mendulang suara pada pemilu legislatif nanti. Kini ditengarai, keranjingan mutakhir artis tanah air pada berduyun-duyun terjun di ranah politik. Untuk menandai hal ini, PAN tak lagi dijuluki Partai Amanat Nasional, tapi Partai Artis Nasional. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka seakan tak puas atas ketenaran dirinya selama ini, yang kerapkali tampil di tv maupun di koran-koran. Mereka malah membikin baliho yang berisikan foto dirinya, partai yang ditungganginya, serta misi dan visi politiknya ketika dia kelak terpilih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kita adalah bangsa yang tidak pernah selesai," tutur Zack Sorga, sutradara pertunjukan teater bertajuk ‘Blangwir Nyelonong ke Priuk’, di akhir pementasannya, di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, hari Rabu (2 Desember 1998). Pernyataan Zack Sorga tersebut cocok mengalegorikan ketakselesaian proses pencarian manusia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Geliat selebritas memang gampang ditebak: selalu mengejar kepuasan. Bagai menenggak air laut, dahaga tak pernah bisa dipuaskan. Manusia senantiasa memburu kenikmatan. Sehingga, ada masa di mana artis-selebritas menggemari kawin-cerai. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di awal tulisan ini dibeberkan, bahwa selebritas, kini, pada ngetren bercebur di bursa caleg, namun ada pula selebritas yang lain menekuni titah panggilan literer dengan membesut karya-karya: puisi maupun prosa. Mereka ini adalah selebritas yang juga menulis dan mengarang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sela-sela kesibukan permanennya, model artis-selebritas yang terakhir itu meluangkan waktunya menulis buku, terlibat mengorganisir problematika sosial, serta mengikuti acara-acara kemanusiaan. Seperti Rieke Dyah Pitaloka, Ayu Utami, Dewi Lestari Simangunsong, Djenar Maesa Ayu, Angelina Sondakh, Wanda Hamidah, Trie Utami, Fira Basuki, dan Neno Warisman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rieke Dyah Pitaloka misalnya, ia adalah penulis produktif. Ia menulis 2 (dua) antologi puisi: Renungan Kloset (2001) dan Ups!. Renungan Kloset hingga tahun 2005 terjual mendekati 10 ribu eksemplar. Tersebab buku ini, menghantarkan Rieke terpilih mengikuti Festival Puisi Internasional Winternachten di Den Haag, Belanda, Januari 2003. Pada tahun yang sama terbit Renungan Kloset, dari Cengkeh sampai Utrecht (April, 2003). Dan juga,  tesis master filsafatnya yang berjudul Banalitas Kejahatan: Aku yang Tak Mengenal Diriku, Tela’ah Hannah Arendt Perihal Kekerasan Negara, oleh Rieke dibesut menjadi sebuah buku dengan judul Kekerasan Negara Menular ke Masyarakat (2004).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu juga dengan Neno Warisman. Ia membikin buku Izinkan Aku Bertutur (2004). Buku ini berisi kumpulan karangan mirip puisi, yang ditulisnya dalam kurun waktu 2000-2004. Selain itu, Trie Utami, penyanyi kawakan, turut menggubah buku yang bernuansa Budhis, Karmapala, The Silent Love: Nyanyian Hati Trie Utami (2006). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Trie Utami terbilang kreatif. Bukunya tersebut bukanlah novel biasa, tapi ditulis berbentuk prosa lirik. Terbagi dalam 10 serat (bab) yang terdiri dari: Enigma (dharma karana), Shakuntala (dharma apurva), Dewa Kupinta (dharma shmara), Tarian Rembulan (dharma buddhaya), Kasmaraniku (dharma sembah), Batas Sekat (dharma rindu), The Silent Love (dharma bisu), Lao Gong (dharma kanthi), Klangenan (dharma vidhya), dan Gong Xi Fa Cai (dharma lakcana). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tamara Garaldine, seorang artis-selebritas papan atas juga turut meramaikan  panggung literasi. Pada September 2005, ia meluncurkan antologi cerpen Kamu Sadar, Saya Punya Alasan untuk Selingkung Kan Sayang? (2005). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seturut sajak Ziarah Batu --kepada para orator oleh Dorothea Rosa Herliany: “Kupilih bahasa batu buat memecah keangkuhan nuranimu.” Mirip dunia politik, dunia literasi, kini, ditengarai sangat menyehari dalam kehidupan artis-selebritas. Bahkan, ada selebritas yang meminta bantuan penulis profesional untuk menuliskan biografinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semisal Krisdayanti, Lenny Marlina, Titiek Puspa, dan Heidi Yunus. Buku yang berjudul Seribu Satu KD milik Krisdayanti ditulis oleh redaktur senior Femina, Alberthiena Endah. Buku Si Lenny dari Ciateul tentang Lenny Marlina, ditulis oleh novelis Titie Said. Dan, buku Titiek Puspa, Sebuah Biografi, yang memuat biografi Titiek Puspa,  ditulis oleh redaktur senior Kompas, Ninok Leksono. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, ada juga artis-selebritas yang telah lama bergumul dengan literasi. Mereka di samping menekuni dunia selebritas, pun pula tidak sonder di jagad literasi. Mereka ini penulis tangguh. Sebut saja misalnya, Dewi Lestari –-yang akrab disapa Dee--, Fira Basuki, Ayu Utami, dan Djenar Maesa Ayu. Dee, yang mantan penyanyi Trio RSD (Rita Sita Dewi), didapuk kesuksesan dashyat menulis novel Supernova, Ksatria, Puteri,  dan Bintang Jatuh. Novel ini menjadi best seller dengan angka penjualan lebih dari 100 ribu eksemplar dalam waktu kurang dari setahun. Dan, sebagai karya teranyar Dee, Rectoverso (2008).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada masanya, Supernova banyak meraup pujian. Supernova sempat diganjar nominasi Katulistiwa Literary Award sejajar dengan karya maestro literer, seperti Danarto (Setangkai Melati di Sayap Jibril), Dorothea Rosa Herliany (Kill The Radio), Sutardji Calzoum Bachri (Hujan Menulis Ayam), dan Hamsad Rangkuti (Sampah Bulan Desember).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu juga dengan Fira Basuki. Selebritas asal Surabaya ini, jebolan jurusan Komunikasi dan Jurnalisme dari Pattsburg State University, Kansas, Amerika Serikat, menggubah novel Jendela dan Atap. Lalu, Ayu Utami membesut novel fenomenal, Saman, yang memenangi sayembara novel DKJ, dilanjutkan Larung (2001), yang juga best seller dan banyak dibicarakan orang, dan terakhir Bilangan Fu (2008). Tak ketinggalan juga karya Djenar Maesa Ayu, Mereka Bilang Aku Monyet ­­--yang kemudian cerpen ini dibesut menjadi film dengan judul serupa--, Menyusu Ayah di Jurnal Perempuan dan Melukis Jendela di Majalah Horison. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka, artis-selebritas yang gemar menggeluti baca-tulis (karya literer) bukan semata-mata mencari hiburan, seperti sajian entertainment yang lazim ditampilkan ke penonton tanah air. Seperti kata Pramoedya Ananta Toer, dalam Anak Semua Bangsa: “Tahu kau mengapa aku sayangi kau lebih dari siapa pun? Karena kau menulis. Suaramu takkan ditelan angin, akan abadi, sampai jauh, jauh di kemudian hari.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak melulu selebritas politik saja yang mampu mengusung perubahan. Hakikat dari kitab sastra karya selebritas itu, juga bergelimang daya-nyala perubahan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1009294533582344733-1247193734760854627?l=indonimut.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://indonimut.blogspot.com/feeds/1247193734760854627/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1009294533582344733&amp;postID=1247193734760854627' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1009294533582344733/posts/default/1247193734760854627'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1009294533582344733/posts/default/1247193734760854627'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://indonimut.blogspot.com/2009/04/kitab-sastra-selebritas.html' title='Kitab Sastra Selebritas'/><author><name>[A Qorib Hidayatullah]</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15367290909727515085</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_QWqh36EuAxs/SMw1P_rh7-I/AAAAAAAAAJo/W26QVuYW-Y4/S220/New+Image.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_QWqh36EuAxs/SeNsWHJg_YI/AAAAAAAAAQs/hLeYPkdYHic/s72-c/headerjpyo7.gif' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1009294533582344733.post-6324468585686743455</id><published>2009-04-13T23:22:00.003+07:00</published><updated>2009-04-13T23:36:24.645+07:00</updated><title type='text'>Mencegah Anak Ikut Kampanye</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_QWqh36EuAxs/SeNpY7J7iLI/AAAAAAAAAQk/uPUoO0g1IWI/s1600-h/tata.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_QWqh36EuAxs/SeNpY7J7iLI/AAAAAAAAAQk/uPUoO0g1IWI/s320/tata.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5324215061399177394" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Oleh: A Qorib Hidayatullah*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kampanye terbuka belum lama ini digelar. Masa kampanye menjadi peluang emas bagi partai politik (parpol) guna meraup suara pada pemilu legislatif nanti. Namun, tampak masygul bila kebiasaan kampanye parpol melulu melibatkan anak-anak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ditengerai parpol yang melibatkan anak-anak dalam kampanye antara lain Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Partai Pemuda Indonesia (PPI), Partai Bulan Bintang (PBB), dan Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra). Para pengurus parpol tersebut mengaku telah berupaya dan mengimbau agar peserta kampanye tidak membawa anak-anak (Kompas, 22/03/09).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kehadiran anak-anak di arena kampanye telah jamak diketahui. Tak ayal, orangtua pun merasa kelimpungan mencegah anak agar tidak ikut kampanye. Para orangtua iba hendak ke mana anak mau dititipkan, sementara dirinya menjadi simpatisan parpol, dan dituntut meramaikan kampanye. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kendati pun, para orangtua diharap untuk tidak mengikutsertakan putra-putri mereka dalam kegiatan kampanye. Anak harus dijamin perlindungannya meski orangtuanya adalah seorang aktivis yang sangat berpengaruh di partai. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kampanye, tak ada yang menjamin tidak terjadi kerusuhan atau kecelakaan lalu lintas saat konvoi digelar. Belum lagi dampak fisik bagi anak seperti terik matahari, asap rokok, atau asap kendaraan yang biasanya mendominasi lingkungan kampanye, yang semua itu berpotensi mengganggu kesehatan anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Eksploitasi Anak&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beragam kisah eksploitasi anak terpendar. Seperti yang dinarasikan dalam A Long Way Gone: Memoar Seorang Tentara Anak-anak (Bentang, 2008). Novel ini menyajikan cerita sedih nan nyata penulisnya, Ishmael Beah, semasa menjadi tentara anak-anak di negaranya, Sierra Leone.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh menyayat hati, saat tersiar kabar dalam kampanye pemilu lima tahun lalu, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mencatat ada lima orang anak meninggal saat mengikuti kampanye. Salah satu korban terjatuh ketika menaiki kendaraan yang digunakan untuk kampanye. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hingga saat ini, kerapkali kampanye digelar selalu dijumpai anak-anak mempergunakan atribut partai politik tertentu. Padahal, pelanggaran kampanye yang melibatkan anak antara lain berbentuk pemakaian atribut partai pada anak, seperti baju atau kaus berlogo partai, ikat kepala partai, hingga permainan yang identik dengan salah satu partai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beragam cara parpol menggelar hiburan untuk menyemarakkan suasana kampanye, sehingga mengundang keinginan anak-anak untuk datang. Bahkan ada sebagian anak-anak sekolah yang masih menggunakan seragam utuh datang ke lokasi kampanye.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tampak miris, di Madiun Jawa Timur, saat giliran partai Golkar berkampanye yang menampilkan artis lokal berdaya nyala erotis untuk menghibur massa. Padahal, peserta kampanye tersebut tak sedikit dari anak-anak juga turut hadir. Pun pula tak jarang didapati orangtua membawa balita mereka ke lapangan kampanye.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keterlibatan anak dalam kampanye tidak hanya wujud eksploitasi anak, tetapi juga menyalahgunakan kebebasan anak untuk kepentingan politik. Banyak pelanggaran terhadap anak ketika kampanye, mulai dari hak hidup, hak tumbuh dan berkembang, serta hak perlindungan anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Wujud Sanksi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengikutsertakan anak dalam kampanye bukanlah pendidikan politik. Kegiatan tersebut bukan proses pendidikan yang sesuai dengan perkembangan kejiwaan anak-anak. Pendidikan politik tidak harus melalui kampanye. Pendidikan politik bisa diberikan melalui lingkungan keluarga berupa kesempatan berpendapat, pemilihan ketua kelas, atau melibatkan anak untuk berpendapat dalam sebagian konflik ringan dalam keluarga. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malah sebaliknya, penyalahgunaan anak dalam aktivitas politik bisa dijerat sanksi berupa kurungan penjara dan denda sejumlah uang. Melibatkan atau menjadikan anak sebagai bintang tamu iklan kampanye parpol ialah bentuk ekploitasi terhadap anak. Dengan begitu, KPAI membuka posko pengaduan dan pemantauan pelanggaran selama kampanye terbuka berlangsung mulai 16 Maret lalu. Posko pengaduan dan pemantauan dilakukan sebagai upaya melindungi anak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gerakan KPAI tersebut merupakan wujud advokasi terhadap anak. Hal itu dipayungi Pasal 78 UU No 10/2008, bahwa dalam pemilu anggota DPR, DPD dan DPRD, kegiatan kampanye dilarang mengikutsertakan anak-anak usia di bawah 17 tahun. Hal ini juga diatur dalam UU No 23/2002 Pasal 15 tentang Perlindungan Anak. Di situ disebutkan, setiap anak berhak untuk memperoleh perlindungan dari penyalahgunaan kegiatan politik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam UU No 10/2008 Pasal 84 ayat (2) huruf k menyebutkan larangan mengikutsertakan warga negara Indonesia yang tidak memiliki hak memilih. Yang menarik dalam ketentuan ayat (6) ditetapkan bahwa pelanggaran terhadap hal itu merupakan tindak pidana pemilu. Para pelanggarnya akan diganjar pidana penjara paling singkat 3 bulan, serta paling lama 12 bulan. Bahkan mereka bisa dikenakan denda paling sedikit Rp 30 juta.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demi mencegah anak ikut kampanye dan semata menjalankan amanah UU di atas diharap adanya kerjasama yang baik antara Komnas Perlindungan Anak, Bawaslu (Badan Pengawas Pemilu), dan KPU (Komisi Pemilihan Umum), dengan menindak tegas pelanggar kampanye. Misalnya, dengan meminta bantuan Kapolri, untuk menegakkan hukum yang berlaku selama masa kampanye. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, pentingnya pengertian orangtua niscaya dibutuhkan. Dengan pengertian, ayah dan ibu dapat berganti peran untuk mencegah anak-anaknya turut serta dalam kampanye parpol.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seturut keterangan Ninik Rahayu, --Wakil Ketua Komisi Nasional Perempuan--, tugas menjaga anak tidak melulu dari pihak ibu. Oleh karena itu, orangtua (ayah dan ibu)  harus menyadari bahwa membawa anak-anak dalam lapangan kampanye berarti menimbulkan ancaman bagi kenyamanan dan keamanan putra-putri mereka sendiri.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1009294533582344733-6324468585686743455?l=indonimut.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://indonimut.blogspot.com/feeds/6324468585686743455/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1009294533582344733&amp;postID=6324468585686743455' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1009294533582344733/posts/default/6324468585686743455'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1009294533582344733/posts/default/6324468585686743455'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://indonimut.blogspot.com/2009/04/mencegah-anak-ikut-kampanye.html' title='Mencegah Anak Ikut Kampanye'/><author><name>[A Qorib Hidayatullah]</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15367290909727515085</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_QWqh36EuAxs/SMw1P_rh7-I/AAAAAAAAAJo/W26QVuYW-Y4/S220/New+Image.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_QWqh36EuAxs/SeNpY7J7iLI/AAAAAAAAAQk/uPUoO0g1IWI/s72-c/tata.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1009294533582344733.post-7087459004126298850</id><published>2009-03-04T23:29:00.001+07:00</published><updated>2009-03-04T23:31:18.264+07:00</updated><title type='text'>Solilokui Hidup Serampangan</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_QWqh36EuAxs/Sa6siovL1iI/AAAAAAAAAQc/G0kSN7Dv3X0/s1600-h/self_by_NADJIA.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 320px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_QWqh36EuAxs/Sa6siovL1iI/AAAAAAAAAQc/G0kSN7Dv3X0/s320/self_by_NADJIA.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5309370721767249442" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Oleh A Qorib Hidayatullah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan sebuah kebetulan bila Ponari —dukun cilik asal Jombang— berkat batu ajaib yang ia temukan, konon, mampu mengobati beragam penyakit. Dan konon pula Ponari adalah bocah yang gemar bermain di musim hujan, hingga petir menyambarnya sekaligus mengganjar Ponari dengan batu ajaib. Kini, masyarakat pun dibikin geger berduyun-duyun menyambangi rumah Ponari. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ponari mendadak menjadi sang fenomenal. Media cetak maupun elektronik berebut melansir ketenaran sang dukun cilik itu. Yang menarik dari fenomena Ponarisme adalah ekspektasi masyarakat jamak ditengarai terancam solilokui (amal kesepian hidup yang berlarat) hingga berebut berobat kepada Ponari dengan biaya murah demi kesembuhan penyakitnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ini masyarakat kita bisa dikata bergaya hidup serampangan. Rasionalitas telah menjadi mitos. Rasio masyarakat terjebak mempercayai bahwa batu ajaib Ponari bila dicelupkan ke air bisa bikin sembuh segala penyakit. Rasio medis lambat laun terkubur dalam-dalam, dan dianggap sudah tak ampuh lagi. Batu ajaib Ponari itulah yang malah oleh masyarakat dianggap ampuh bikin sembuh. Batu ajaib yang benar-benar ajaib. Tanpa diagnosa terhadap pasien, batu ajaib tersebut bisa menyembuhkan beragam penyakit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kegelisahan masyarakat yang demikian itu bukanlah tanpa muasal. Kendati masyarakat dalam hal penyakit melabuhkan kesembuhannya perantaraan Ponari, itu semata-mata tersebab kualitas pelayanan kesehatan pemerintah yang ditengarai lemah. Sehingga masyarakat pun lebih gesit memilih cara sembuh dengan berobat alternatif. Obat alternatif itulah yang dipilih masyarakat guna menjawab kecarut-marutan pemerintah di bidang kesehatan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apalagi, tahun-tahun ini Indonesia mengalami goncangan dua bencana dahsyat: pemanasan global dan krisis finansial, selain musim penghujan yang banyak mengirim penyakit/musibah baru bagi masyarakat. Tak ayal, masyarakat merasa komplit didera solilokui yang terus-menerus. Ditambah dengan daerah-daerah-daerah di Indonesia yang memang telah jadi langganan dikirimi banjir. Dari sini, apa benar tesis Sindhunata yang mengatakan, “Apokalipsme Hidup Harian?.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam Apokalipsme Hidup Harian, Romo Sindhu menarasikan keniscayaan kemelaratan dan kesedihan dalam hidup, hingga al-hasil kita hanya menjadi penunggu dari suatu kehancuran. Sehingga manusia kudu belajar kesahajaan dan kesederhanaan hidup untuk menangkis serangan apokalipsme atau solilokui. Dus, di tengah gempuran kuat dan amukan hebat zaman itu, hanyalah puing-puing kebersemangatan yang tak bisa hancur luluh lantak diterpa badai apokalipsme. Ya, hanya semangat yang tak bisa tergantikan.  &lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Bagaimana pun, Ponari adalah fenomena jeda hidup yang patut disyukuri sekaligus ditertawai. Tatkala air telah dicelupkan batu ajaib Ponari, lalu diteliti di salah satu laboratorium Universitas Airlangga Surabaya, terbukti air tersebut mengandung kristal, berbeda dengan sample air biasa. Bukankah ini kemukjizatan?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1009294533582344733-7087459004126298850?l=indonimut.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://indonimut.blogspot.com/feeds/7087459004126298850/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1009294533582344733&amp;postID=7087459004126298850' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1009294533582344733/posts/default/7087459004126298850'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1009294533582344733/posts/default/7087459004126298850'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://indonimut.blogspot.com/2009/03/solilokui-hidup-serampangan.html' title='Solilokui Hidup Serampangan'/><author><name>[A Qorib Hidayatullah]</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15367290909727515085</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_QWqh36EuAxs/SMw1P_rh7-I/AAAAAAAAAJo/W26QVuYW-Y4/S220/New+Image.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_QWqh36EuAxs/Sa6siovL1iI/AAAAAAAAAQc/G0kSN7Dv3X0/s72-c/self_by_NADJIA.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1009294533582344733.post-7769979096140234703</id><published>2009-03-04T22:59:00.005+07:00</published><updated>2009-03-04T23:28:11.874+07:00</updated><title type='text'>Baudrillard dan Iklan Politik</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_QWqh36EuAxs/Sa6pmY4iu2I/AAAAAAAAAQU/ZUY3Zr0klSc/s1600-h/iklanpolitik.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 251px; height: 227px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_QWqh36EuAxs/Sa6pmY4iu2I/AAAAAAAAAQU/ZUY3Zr0klSc/s320/iklanpolitik.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5309367487696124770" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Oleh A Qorib Hidayatullah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengamat politik dan komunikasi yang lagi giat-giatnya beradu analisis di ambang pelaksanaan pemilihan legislatif maupun pilpres 2009 ini, patut tak melupakan kekuatan yang bermuasal dari iklan politik media. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kendati tampak baru, iklan politik menjadi peranti melambungkan pengaruh popularitas yang tergolong praktis. Di tengah-tengah ditengarainya masyarakat melek media, di mana Mc Luhan menesiskan global village (desa global,--sebuah hamparan ruang masyarakat yang gampang dimasuki segala informasi) sebagai penggambaran keadaan itu. Sehingga, “desa” kami kini sudah tak ada sekat lagi. Yang ada hanya berhamburannya teks-teks kepentingan yang ditunggangi penguasa. Bahkan, bisa-bisa teks tersebut senantiasa represif hingga menekan kami. Ya, kami hanya bisa bergumam saja, bukan?.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kendati media di sisi lain telah berjasa besar bagi kemajuan suatu bangsa, media pun tak luput dari dosa yang niscaya diembannya. Misalnya, dalam buku Menembus Fakta (2009) besutan Panda Nababan telah gamblang membeberkan serentetan dosa-dosa media, termasuk dosa para elite redaksi. Media, pada titik itu tak lagi tunggal menjadi penyampai informasi melulu, tapi pula intervensi kebijakan urgen penguasa yang mempertaruhkan nasib rakyat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Media dan Iklan Politik&lt;br /&gt;Sebagai langgam baru di jagad perpolitikan, iklan yang kemudian mewujud “iklan politik” kali ini telah gesit merangkak sebagai industri. Kalau boleh disebut hal ini bisa jadi varian baru dari industri media. Kronik yang melansir iklan politik media sangat gampang sekali kita temukan. Bahkan di tiap jeda beberapa detik saja, sajian iklan politik sudah menjejali mata kita lagi. Sungguh tak salah bila iklan politik ditabalkan sebagai industri media. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah permainan manusia modern dalam merayakan proyek modernisme absurd. Sehingga filsuf Jean Baudrillard menganggitkan adanya Galaksi Simulakra (2001). Realitas patut dicurigai. Kebenaran layak ditertawakan. Karena semuanya, lagi-lagi kata Jean Baudrillard, ialah simulasi palsu. Sehingga hamburan realitas palsu itu patut dicurigai dan ditertawakan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kaitannya dengan iklan politik yang diecer oleh para kandidat yang asyik-masyuk bertanding dipemilihan legislatif maupun presiden 2009 ialah kepatutan selektif rakyat mengenyam iklan janji-janji yang digulirkan. Beragam iklan janji politik yang ditampilkan, mulai dari harga sembako murah hingga biaya pendidikan gratis. Sangat menggirkan bukan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sehingga, kontestasi politik kali ini adalah mempertaruhkan seberapa kreatif-cerdik para kandidat —yang menggunakan jasa iklan politik sebagai alat pengaruh— guna mempermainkan opini publik. Dan rakyat pun sebagai komunitas pemilih dituntut cerdas memilih para kandidat yang akan mengusung suara kerakyatan dipentas legislatif dan eksekuti nantinya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejatinya, iklan politik tak lepas dari peran ganda media sebagai penyalur informasi dan independensi. Media diharap mampu menetralisir permainan iklan politik yang bisa berpotensi membodohkan rakyat. Rakyat di sini sudah saatnya tak mudah memilih pemimpin (legislative maupun eksekutif) secara serampangan. Rakyat kudu tak gampang terbuai janji-janji kosong pera kandidat yang menunggagi iklan politik. Sehingga, petuah Jean Baudrillad adalah bagaimana rakyat bisa keluar dari kesadaran palsunya yang tersimulasi oleh iklan politik.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1009294533582344733-7769979096140234703?l=indonimut.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://indonimut.blogspot.com/feeds/7769979096140234703/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1009294533582344733&amp;postID=7769979096140234703' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1009294533582344733/posts/default/7769979096140234703'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1009294533582344733/posts/default/7769979096140234703'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://indonimut.blogspot.com/2009/03/baudrillard-dan-iklan-politik.html' title='Baudrillard dan Iklan Politik'/><author><name>[A Qorib Hidayatullah]</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15367290909727515085</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_QWqh36EuAxs/SMw1P_rh7-I/AAAAAAAAAJo/W26QVuYW-Y4/S220/New+Image.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_QWqh36EuAxs/Sa6pmY4iu2I/AAAAAAAAAQU/ZUY3Zr0klSc/s72-c/iklanpolitik.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1009294533582344733.post-6206948452919268498</id><published>2009-02-25T00:07:00.003+07:00</published><updated>2009-02-25T00:42:19.095+07:00</updated><title type='text'>Kesunyian Seabad Pers</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_QWqh36EuAxs/SaQvyIISc7I/AAAAAAAAAQM/-zfl2zD3qLo/s1600-h/buku-pers-bebas-dilibas.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 214px; height: 320px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_QWqh36EuAxs/SaQvyIISc7I/AAAAAAAAAQM/-zfl2zD3qLo/s320/buku-pers-bebas-dilibas.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5306418799171498930" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Oleh A Qorib Hidayatullah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Awas! Kaoem Journalist!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi Journalist zaman sekarang, &lt;br /&gt;Berani dihukum dan di buang.&lt;br /&gt;Karena dia yang mesti mendang, &lt;br /&gt;Semua barang yang malangmalang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Journalist harus berani mati,&lt;br /&gt;Bekerja berat membanting diri.&lt;br /&gt;Sebab dia hendak melindungi,&lt;br /&gt;Guna mencari anak sendiri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Journalist harus bisa berdiri,&lt;br /&gt;Sendiri juga yang keras hati.&lt;br /&gt;Dan tidak boleh main komedi &lt;br /&gt;Guna mencari enak sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Koran itu tooneel umpamanya,&lt;br /&gt;Tuan membaca yang menontonnya, &lt;br /&gt;Journalisnya jadi pemainnya,&lt;br /&gt;Hoofdredacteur jadi kepalanya.     &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Marco Kartodikromo, Sinar Hindia, 14 Agustus 1918]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melongok tangga sejarah pers nasional, yang sejatinya jatuh pada tanggal 9 Februari masih menyisakan silang sengkarut ihwal kapan sebenarnya hari pers nasional itu diperingati. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lambat laun tapi pasti, jamak para periset Seabab Pers Kebangsaan (1907-2007), yang dikomandani Muhidin M. Dahlan, lihai menyeruak hingga ke akar genealogi rekam jejak perjalanan pers dalam rentang seratus tahun yang panjang itu. Mereka —para periset pers— beriktikad gigih menemukan kembali sejarah kritis jagad pers di tengah-tengah industri pers yang ditengarai kerap ditunggangi penguasa. Ikhtiar penelitian itu mengingatkan kita pada karya agung Gabriel Marquis, One Hundred of Solitude (Seratus Tahun Kesunyian). Ya, jika tak berlebihan bisa diplesetkan Kesunyian Seabad Pers, bukan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Narasi kesunyian seabad pers itu oleh para jema’ah periset ditulis dalam majalah BASIS edisi Januari-Februari 2009. Sang komandan, Muhidin M. Dahlan, menulis artikel yang sangat provokatif terkait keabsahan sejarah memperingati kapan sejatinya hari pers diperingati. Lewat judul tulisan Revolusi Yang Lahir dari Cetak, sekaligus menjadi tulisan pengantar, Gus Muh —panggilan akrab Muhidin M. Dahlan— berlelaku skeptis atas siapa tokoh pers yang all out berjuang di jagad pers. Hingga pada akhirnya, Gus Muh menabalkan Tirto Adhi Soerjo sebagai sosok yang telah memberikan semua hidupnya guna meneguhkan fungsi pers sebagai pengawal pendapat umum yang membikin suara masyarakat tuna-daya menjadi berarti di hadapan kekuasaan. Dan Gus Muh memberi kesaksian bahwa sosok Tirto Adhi Soerjo mangkat dengan tragis nan sunyi pasca papas habis-habisan oleh kolonial lewat operasi arsivaris yang sistemik pada 7 Desember 1918. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-hasil, Gus Muh pun memanggil memorinya agar mengenang dan memberi hormat atas amal sosok Tirto Adhi. “Tak berlebihan bila kita mempertimbangkan untuk menjadikan hari mangkatnya Tirto Adhi, 7 Desember, sebagai Hari Pers Indonesia” ujar Gus Muh. Tapi ya menurut saya, terserah pemirsa juga, bukan?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1009294533582344733-6206948452919268498?l=indonimut.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://indonimut.blogspot.com/feeds/6206948452919268498/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1009294533582344733&amp;postID=6206948452919268498' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1009294533582344733/posts/default/6206948452919268498'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1009294533582344733/posts/default/6206948452919268498'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://indonimut.blogspot.com/2009/02/kesunyian-seabad-pers.html' title='Kesunyian Seabad Pers'/><author><name>[A Qorib Hidayatullah]</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15367290909727515085</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_QWqh36EuAxs/SMw1P_rh7-I/AAAAAAAAAJo/W26QVuYW-Y4/S220/New+Image.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_QWqh36EuAxs/SaQvyIISc7I/AAAAAAAAAQM/-zfl2zD3qLo/s72-c/buku-pers-bebas-dilibas.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1009294533582344733.post-6068421938380204957</id><published>2009-02-01T14:41:00.003+07:00</published><updated>2009-02-01T14:50:43.919+07:00</updated><title type='text'>Rute Pejalan Jauh (Bagian II)</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_QWqh36EuAxs/SYVT-KGFg4I/AAAAAAAAAP8/ROaX5vIXNMI/s1600-h/images+5.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 111px; height: 123px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_QWqh36EuAxs/SYVT-KGFg4I/AAAAAAAAAP8/ROaX5vIXNMI/s320/images+5.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5297732863998133122" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Tafsir  Jalan Daendles &amp; Jalan Hidup  &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Oleh A Qorib Hidayatullah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seakan menjadi ketakutan memoria passionis manusia dalam mengimajinasikan terma ‘jalan’. ‘Jalan’ pada era kolonialisme menjadi hantu yang amat mengerikan. Mengapa tidak? Era itu adalah masa kekejaman Daendles, era kolonial sistem kerja paksa (cultuur stelsel)  pihak penjajah terhadap masyarakat Jawa (baca buku Jalan Raya Pos, Jalan Daendles, 2005 ). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam masa pembangunan fisik (berupa jalan Daendles atau lebih keren disebut jalan dengan rute Anyer hingga Penarukan) di wilayah Jawa tersebut, Tuan Daendles memasang rute ampuh, wilayah mana saja yang akan dijadikan rute pembangunan jalan itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masa pembangunan jalan yang amat panjang itu telah memakan korban sekitar 12.000 orang. Sehingga, masyarakat pada masa itu (5 Januari 1808) benar-benar takut mengingat terma ‘jalan’. ‘Jalan’ telah menjelma hantu yang mengerikan. Tak ada satu pun masyarakat yang mau menjadi korban pembuatan rute jalan.  Bukankah dalam preseden tersebut telah menjadikan manusia anti akan rute jalan? Manusia pada masa Daendles dituntut untuk berspekulasi agar terselamatkan dari korban kekejian Tuan Daendles. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbicara tentang ‘jalan’ hakikatnya tergantung pada pemafhuman manusia. ‘Jalan’ itu bak takdir. Di mana manusia tidak secara utuh mengetahui akan takdir itu. Jadi selain takdir, rahasia Tuhan yang ke nomor sekian adalah ‘jalan’. ‘Jalan’ pun kini mewujud menjadi rahasia Tuhan. ‘Jalan’ manusia bisa saja mapan bahkan bisa jadi ambruk sekali pun. Tergantung pada spekulasi manusia menapaki jalan hidupnya. ‘Jalan’ itu butuh perjuangan. Laiknya pembikinan jalan Daendles membutuhkan daya juang tinggi masyarakat Jawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika jalan sudah butuh akan perjuangan, maka rute jalan ternafikan dengan sendirinya. Sebab rute jalan hanya pantulan dari rute jalan hidup orang lain, dan belum tentu rute jalan hidup orang itu benar. Kalau pun kita memaksa diri untuk membonceng semangat menggunakan rute jalan maka hakikatnya kita telah dipermainkan oleh mekanisme kuasa penentu rute jalan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rute jalan hidup sangat beda dengan rute jalan Daendles. Rute jalan hidup itu menuntut keberanian berspekulasi, sedang rute jalan Daendles kudu sesuai dengan mekanika kuasa Tuan Daendles. Dan ironisnya, bila tidak seritme dengan permainan kuasa Tuan Daendles, maka taruhannya adalah nyawa. Sementara jalan hidup yang memiliki semangat spekulatif nan progresif itu hanya membutuhkan kendaraan keberanian. Bermodal berani tapaki jalan hidup spekulatif, sedikit berdaya nyala serampangan, maka pejalan jauh itu tetap berada di arus kreatifitas jalan hidup tanpa ada sekat-sekat rute, melainkan kebebasan dan kebenaran yang bernas. Jangan bingung ihwal kesesatan, wahai pejalan jauh. &lt;br /&gt;Bukan begitu Tuan Daendles? He he he&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1009294533582344733-6068421938380204957?l=indonimut.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://indonimut.blogspot.com/feeds/6068421938380204957/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1009294533582344733&amp;postID=6068421938380204957' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1009294533582344733/posts/default/6068421938380204957'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1009294533582344733/posts/default/6068421938380204957'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://indonimut.blogspot.com/2009/02/rute-pejalan-jauh-bagian-2.html' title='Rute Pejalan Jauh (Bagian II)'/><author><name>[A Qorib Hidayatullah]</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15367290909727515085</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_QWqh36EuAxs/SMw1P_rh7-I/AAAAAAAAAJo/W26QVuYW-Y4/S220/New+Image.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_QWqh36EuAxs/SYVT-KGFg4I/AAAAAAAAAP8/ROaX5vIXNMI/s72-c/images+5.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1009294533582344733.post-8597158714920378350</id><published>2009-02-01T14:21:00.000+07:00</published><updated>2009-02-01T14:33:17.576+07:00</updated><title type='text'>Rute Pejalan Jauh (Bagian I)</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_QWqh36EuAxs/SYVQGQvA9fI/AAAAAAAAAP0/gPCcIw7LH6c/s1600-h/isnainiblogtemplate4301ac9.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 186px; height: 200px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_QWqh36EuAxs/SYVQGQvA9fI/AAAAAAAAAP0/gPCcIw7LH6c/s200/isnainiblogtemplate4301ac9.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5297728605172856306" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Tafsir Jalan Daendles &amp; Jalan Hidup  &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Oleh A Qorib Hidayatullah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin ada benarnya apa yang dikatakan orang, tiap kali memberanjakkan diri dari hamparan menuju ke hamparan yang lain, membutuhkan acuan rute jalan supaya tak sesat. Lazimnya manusia kebingungan, berbekal acuan rute jalan mampu memandu agar manusia itu tetap berada di jalur linear sesuai hendak ke mana ia pergi. Tanpa rute jalan, manusia acap dibikin kelimpungan, sebab kesesatan sudah tampak di pelupuk mata. Rute jalan pada titik ini seolah Tuhan kecil yang senantiasa dijadikan rujukan manusia untuk berlabuh. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, terkesan miris tatkala manusia melulu menggantungkan dirinya pada jasa rute jalan. Ke mana pun ia mau pergi, sementara rute jalannya tidak ada, maka orang itu akan pasti mengurungkan kepergiannya. Menurut saya, rute jalan semacam tafsir mikro yang sangat praktis. Rute jalan tak ubahnya dalam kunjungan seorang ekspatriat yang terdesak membutuhkan seorang tour guide untuk dijadikan teman pendamping selama dia berkunjung pada sebuah tempat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan pada tafsir makro dari ketergantungan pada rute jalan ialah tersebab manusia tak tahu arah hendak ke mana ia mau pergi. Namun, kehidupan yang serba tak linear ini, manusia oleh Tuhan dibekali agar meniscayakan ijtihad kreatif dalam menentukan arah pijak melabuhkan kehidupan. Kedua dari tafsir mikro dan makro atas rute jalan tersebut, semua itu memusat pada satu landasan yang mendesak agar manusia selalu berspekulasi dalam hidupnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuntutan manusia spekulatif dikarenakan hidup ini amat kelam. Kekelaman hidup menggiring pada aras ketakjelasan kompas hidup. Robert Holden dalam Timeless Wisdom for Manic Society mempetuahi kehidupan dengan alegori demikian, “Ada masa jeda manusia secara terus-menurus dirundung kebuntuan. Bergerak ke depan tampak buntu, mundur ke balakang buntu, menengok ke arah kanan dan kiri dari kehidupan pun buntu semuanya. Tapi lanjut Holden, manusia dalam suasana yand demikian itu tak ada ruang mengeluh dengan berkata: Aku Menyerah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bertolak dari tausiah Robert Holden di atas kita diharap mampu menjadi hamba manusia yang selalu spekulatif. Berspekulasi dalam hidup manjadikan manusia berinsan progresif. Insan progresif adalah manusia dalam tiap sejengkal hidupnya dimaknai dengan jihad dalam pangkuan kebebasan serta kebenaran. Tersebab spekulasi adalah niscaya menghadapi kebuntuan hidup, maka rute jalan malah sebaliknya, ia tak mampu menjadi acuan menelusuri lorong kehidupan yang justru kerap buntu.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1009294533582344733-8597158714920378350?l=indonimut.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://indonimut.blogspot.com/feeds/8597158714920378350/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1009294533582344733&amp;postID=8597158714920378350' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1009294533582344733/posts/default/8597158714920378350'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1009294533582344733/posts/default/8597158714920378350'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://indonimut.blogspot.com/2009/01/rute-pejalan-jauh-bagian-1.html' title='Rute Pejalan Jauh (Bagian I)'/><author><name>[A Qorib Hidayatullah]</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15367290909727515085</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_QWqh36EuAxs/SMw1P_rh7-I/AAAAAAAAAJo/W26QVuYW-Y4/S220/New+Image.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_QWqh36EuAxs/SYVQGQvA9fI/AAAAAAAAAP0/gPCcIw7LH6c/s72-c/isnainiblogtemplate4301ac9.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1009294533582344733.post-8518581562819587014</id><published>2009-01-23T19:59:00.000+07:00</published><updated>2009-01-23T20:13:52.775+07:00</updated><title type='text'>Melawan Lupa dengan Sastra</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_QWqh36EuAxs/SXnCdGrRI5I/AAAAAAAAAPc/mJPPqUDGimE/s1600-h/untitled.bmp"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 200px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_QWqh36EuAxs/SXnCdGrRI5I/AAAAAAAAAPc/mJPPqUDGimE/s320/untitled.bmp" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5294476642214814610" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh DAMANHURI, penulis tamu asal Lampung, kawan lama di Malang &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Di pangkuan sastrawan yang bertekad menjadi perawat ingatan, merayakan memoria passionis, sastra selalu didayagunakan mengundang manusia agar selalu tergerak segenap jiwa-raganya dalam menyangkal proses pelupaan, merawat ingatan, dan akhirnya: Merayakan pemaafan.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Perjuangan manusia melawan kekuasaan adalah perjuangan manusia melawan lupa." Itu kata Milan Kundera dalam novel Kitab Lupa dan Gelak-Tawa (Bentang, 2000: 4).&lt;br /&gt;Sebuah karya unik yang dengan ringan tapi penuh pukau mampu mengetalasekan penjelajahan fantasi tokoh-tokohnya, lelucon kelam satire politik sebuah negeri yang masai oleh sengketa ideologi politik, juga jalinan cerita erotis tokoh-tokoh hedonis rekaannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Langkah pertama untuk memusnahkan sebuah bangsa adalah menghapuskan memorinya," begitu kata salah seorang tokoh novel pengarang Cheska itu. "Hancurkan buku-bukunya, kebudayaannya, dan sejarahnya." Setelah itu, "suruh seseorang menulis buku-buku baru, membuat kebudayaan baru, dan menemukan sejarah baru." (2000: 262--263)&lt;br /&gt;Dengan mengamini apa yang "dikhotbahkan" Kundera itu, buku--juga buku-buku sastra, tentunya--barangkali memang layak diandaikan sebagai pisau bermata dua. Di tangan para durjana pemuja kuasa, ia merupakan sarana merampas ingatan, "memperpendek"-nya, dan memaksa manusia mengidap amnesia: Lupa akan masa lalu-masa kini-masa depan sejarah hidupnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi bagi para pencinta kemanusiaan, buku justru tidak ubahnya wadah tempat kemuliaan dan keindahan hidup yang dicita-citakan memperoleh suakanya. Sebuah dunia di mana penderitaan masa lalu dan masa kini dipahatkan. Bukan untuk titik tolak bagi rangkaian agenda balas dendam, tentu. Tapi agar segala kekejian yang menginjak-injak harkat kemanusiaan tidak terulang di masa depan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah. Lewat karya sastra, sejarah penderitaan serta segala tragedi kemanusiaan, misalnya, bisa saja dibelokkan atau sebaliknya: Diabadikan. Karena melalui karya sastra yang bersimpuh di bawah telapak kaki kekuasaan, "politik ingatan" (politics of memory) selalu diarahkan pada usaha merampatpapankan ingatan kolektif agar bergandengan tangan dengan, dan memuaskan "selera", kekuasaan. Sedangkan melalui karya sastra yang berangkat dari ikhtiar untuk merawat ingatan, "politik ingatan" senantiasa diarahkan untuk melawan proses penyeragaman dan pelupaan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan kata lain, di pangkuan sastrawan yang bertekad menjadi perawat ingatan, merayakan memoria passionis atau ingatan akan penderitaan, sastra selalu didayagunakan untuk mengundang manusia agar selalu tergerak segenap jiwa-raganya dalam menyangkal proses pelupaan, merawat ingatan, dan akhirnya: Merayakan pemaafan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Luka, Lupa, Sastra&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Gaung dari beberapa pasase novel karya pengarang Cheska yang pernah disebut Carlos Fuentes sebagai salah seorang penerus Gogol dan Kafka di zaman modern itu saya kira juga akan segera menyergap kesadaran para pembaca saat menyusuri helai demi helai halaman novel Khaled Hosseini: The Kite Runner (KR, Qanita, 2005) dan A Thousand Splendid Suns (TSS, Qanita, 2007). Sebab, kendati banyak berselisih haluan dalam strategi literer maupun cakupan tema, toh apa yang ditorehkan Hosseini pun bermuara pada ikhtiar merawat ingatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baik dalam KR, yang terjual lebih dari delapan juta kopi, maupun TSS, yang juga jadi best seller dan menyita perbincangkan para kritikus sastra mancanegara; rumbai kisah yang dirajut Hosseini memang sama-sama berkelindan dalam pusaran tema luka dan trauma yang mendera manusia di tengah karutnya kondisi sosio-politik bangsa Afghanistan akibat buasnya perang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, luka, lupa, dan sastra, tampaknya merupakan tiga kata yang tak bisa diceraikan dari kehidupan Khaled Hosseini. Di tangan novelis cum dokter kelahiran Afghanistan yang didapuk dalam deretan seratus tokoh pilihan majalah Time edisi Mei lalu itu, karya sastra memang dengan sengaja disulap jadi jendela bagi dunia untuk melihat luka yang diderita bangsanya sekaligus siasat yang ditempuhnya guna melawan lupa.&lt;br /&gt;Dengan sejarah pertikaian dan konflik politik yang merentang panjang dari masa kolonial Inggris, monarki Zahir Shah, kudeta Mohammad Daud, bercokolnya rezim komunis, pendudukan Soviet yang berhasil dipaksa hengkang tahun 1989, perang sipil, hingga bercokolnya rezim Taliban, Afganistan memang "tanah subur" bagi puspa ragam penderitaan. Novel KR dan TSS karya Hosseini bisa dianggap sebagai testimoninya atas kondisi itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan latar sebuah negeri di mana orang seakan butuh visa saat bertandang ke perumahan tetangga, dalam KR, Khosseini membidikkan fokus novelnya pada kisah hubungan seorang ayah dengan anaknya, di samping kisah persahabatan sang anak (Amir) dengan karibnya (Hassan).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persahabatan yang suatu ketika harus retak oleh pengkhianatan Amir atas Hassan yang membiarkannya dirudapaksa preman Kabul. Pengkhianatan yang selanjutnya tumbuh akut jadi rasa bersalah yang mencapai klimaks saat Amir akhirnya tahu bahwa sang sahabat ternyata saudara kandungnya buah perselingkuhan sang ayah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak begitu beda dengan KR, titik kisar rajutan kisah TSS pun masih belum beranjak dari paras kusam orang-orang Afghanistan yang seolah tidak putus diserimpung nasib malang. Masih berkutat pada impak buruk yang lahir dari rahim peperangan, untaian kisah TSS hanya beralih fokus ihwal hubungan seorang ibu (Nana) dengan anak perempuannya (Mariam), di samping kisah permusuhan yang berujung jadi persahabatan antara Mariam dan Laila yang tak lain adalah madunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malapetaka yang menimpa Mariam sebenarnya hal lazim di negeri dengan tingkat buta huruf mencapai 80 persen itu. Namun, pentungan kemalangan yang selalu gagal dielakkannya itu memang begitu kompleks: Terlahir sebagai harami ("anak haram"), ditinggal sang ibu yang mati gantung diri, berparas jauh dari kata rupawan, dikelilingi sejumlah ibu tiri yang menampik kehadirannya, dan puncaknya dipaksa kawin dengan lelaki telengas yang pantas jadi kakeknya, tapi memandang poligami sebagai puncak kemuliaan hidup tiap lelaki sejati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan, ujung segala kemalangan itu dipungkasinya di tiang gantungan rezim Taliban yang acap gagal membedakan kezaliman dari kebajikan. Syahdan, karena tidak kuasa lagi menanggung siksa membabi buta dari sang suami yang kerap gelap mata, lewat persekongkolan apik dengan madunya (Laila), Mariam akhirnya memaksa sang suami sontoloyo yang menatap perempuan tanpa burkak seolah pengidap kusta itu meregang nyawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengarungi hidup sepeninggal ibunya, hari-hari Mariam memang seolah tudak pernah lengang dari kepungan cerita kepedihan. Suasana perang yang bertali-temali dengan kultur patriarkat pada akhirnya tidak menyisakan apa pun baginya selain kian pekatnya wajah murung kehidupan yang harus dijalani.&lt;br /&gt;"Seperti jarum kompas yang selalu menunjuk ke utara," begitu mendiang ibunya kerap berkata, "Telunjuk laki-laki juga selalu teracung untuk menunjuk perempuan. Selalu. Ingatlah ini, Mariam." Pada saat yang lain, perempuan yang diusir sang majikan yang memberinya "benih" Mariam itu juga menujumkan: "Hati pria sangatlah terkutuk, Mariam. Berbeda dengan rahim ibu. Rahim tak akan berdarah atau melar karena harus menampungmu." (2007: 20, 44)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Stereotipe?&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Pada suatu ketika, membaca novel barangkali tidak lebih dari suatu klangenan biasa layaknya aktivitas "ongkang-ongkang kaki" kaum amtenar atau bahkan serupa "sport mewah" orang-orang borjuis. Terkesan agak berlebihan jika berharap bersua hikmah (atau apa pun namanya) dalam pagina-pagina karya yang dibaca--khususnya saat bertemu dengan karya para pengarang yang konon tidak mengusung pretensi apa pun selain sekadar mewujudkan etos "kepengrajian" (craftsmanship) belaka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, cara pandang seperti itu mungkin tak akan banyak menggemakan makna saat membaca kedua novel Khaled Hosseini. Sebab, keterbukaan pembaca pada kemungkinan sastra menjelma jadi karya yang merayakan memoria passionis justru jadi sebuah imperatif yang tak bisa ditampik. Sastra yang membentangkan misi mulianya untuk menyangkal amnesia, luka, dan memulihkan trauma.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan begitu, di tengah banjirnya karya sastra terjemahan, KR dan TSS akan menunjukkan posisinya yang cukup istimewa. Meskipun, sebagaimana kebanyakan karya sastra (tentang, dari) dunia ketiga yang juga tengah menyesaki pasar perbukuan kita, kedua novel Hosseini pun gagal meloloskan diri dari kerumunan stereotipe. Setidaknya jika menoleh pada begitu pekatnya ajektif negatif yang melekat dalam pelbagai karakternya. Atau kesan seakan tidak ada hal lain bagi beragam latar yang membingkainya selain warna buram: Lanskap negeri yang terus-menerus disulut kecamuk perang, kemiskinan, kebodohan, despotisme, patriarkat, dan seterusnya.&lt;br /&gt;Alhasil, para pembaca pun boleh jadi bertanya-tanya: Apakah cuma keterbelakangan yang dibalut segala wasangka itu yang layak diangkat karya sastra negara-negara ketiga? Apakah hanya karya sastra yang mendedahkan "eksotisme" seperti itu yang diandaikan mampu memuaskan kuriositas literer pembaca Barat sekaligus bisa "memahamkan" mereka akan liyan-nya?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1009294533582344733-8518581562819587014?l=indonimut.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://indonimut.blogspot.com/feeds/8518581562819587014/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1009294533582344733&amp;postID=8518581562819587014' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1009294533582344733/posts/default/8518581562819587014'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1009294533582344733/posts/default/8518581562819587014'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://indonimut.blogspot.com/2009/01/melawan-lupa-dengan-sastra_23.html' title='Melawan Lupa dengan Sastra'/><author><name>[A Qorib Hidayatullah]</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15367290909727515085</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_QWqh36EuAxs/SMw1P_rh7-I/AAAAAAAAAJo/W26QVuYW-Y4/S220/New+Image.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_QWqh36EuAxs/SXnCdGrRI5I/AAAAAAAAAPc/mJPPqUDGimE/s72-c/untitled.bmp' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1009294533582344733.post-2393217040630246641</id><published>2009-01-05T21:29:00.000+07:00</published><updated>2009-01-05T21:44:46.363+07:00</updated><title type='text'>Ijtihad Gender dalam Keluarga Muslim</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_QWqh36EuAxs/SWIZvauZ_jI/AAAAAAAAAPE/JMHLGZTQeuk/s1600-h/cover+psikologi+keluarga.JPG"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 218px; height: 320px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_QWqh36EuAxs/SWIZvauZ_jI/AAAAAAAAAPE/JMHLGZTQeuk/s320/cover+psikologi+keluarga.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5287817214904892978" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Oleh A Qorib Hidayatullah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak banyak buku-buku yang menela’ah berkelindannya gender dalam tatanan kehidupan keluarga Muslim. Di tengah tempaan prahara keluarga, misalnya maraknya perceraian, poligami/poligini, KDRT (Kekerasan Dalam Rumah Tangga), kasus trafficking dll, kajian gender kini lambat laun memiliki ruang keterlibatan guna mendesain terciptanya keluarga sakinah. Sehingga, konseling keluarga berwawasan gender bagi keluarga Muslim menjadi kebutuhan yang niscaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kasus poligami misalnya, yang memiliki sejarah sangat panjang dalam kehidupan manusia. Praktik ini sudah ada jauh sebelum Islam datang. Bahkan pada masa sebelum Islam datang, yang lazim disebut masa jahiliyah, bukan hanya laki-laki boleh mengawini perempuan tanpa batas, melainkan juga menjadi simbol status sosial. Semakin banyak istri, maka status sosialnya makin tinggi dan tambah terhormat pula. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun saat ini, poligami justru menjadi lambang kerakusan, pengkhianatan, tidak bertanggung jawab, dan sebagainya. Perasaan ketidakadilan ini penting untuk direspons Islam, karena keadilan Islam adalah untuk manusia, bukan untuk Islam itu sendiri. Islam datang bukan menghapus secara radikal praktik poligami, tapi membatasi maksimal empat orang. Semangat yang diusung Islam ialah spirit keadilan terhadap perempuan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku ini menawarkan empat pilar guna tercipta perkawinan yang berkesetaraan dan berkeadilan gender. Pertama, suami istri dicanangkan sama-sama memiliki akses dalam kehidupan rumah tangga. Kedua, memperoleh peran-peran yang seimbang dalam rumah tangga. Ketiga, menerima wewenang dan tanggung jawab yang sama termasuk dalam pengambilan keputusan. Dan yang keempat, sama-sama mendapatkan manfaat dalam kehidupan keluarga (hlm 238).   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menyikapi perihal praktik poligami, penulis buku ini cenderung menolak. Dalam terang pemikirannya, perkawinan poligami terasa sulit mewujudkan kesetaraan gender karena kondisi awal membangun rumah tangga posisi suami istri tidak sama. Sehingga berekses pada pembagian peran dan tanggung jawab khususnya dalam pengambilan keputusan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Kesakinahan Keluarga &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Disadari maupun tidak, berjuta-juta keluarga mengalami frustasi, kesepian, dan konflik. Di zaman yang serba maju ini, tak dapat ditampik telah banyak memberi pengaruh pada tatanan kehidupan manusia, baik yang bersifat positif maupun negatif. Sehingga dalam kehidupan keluarga banyak mengalami perubahan dan berada jauh dari nilai-nilai keluarga yang sesungguhnya. Untuk itu diperlukan adanya perhatian dan solusi yang tepat dalam menghindari disharmoni keluarga. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Pembagian peran gender pada dasarnya tidak bermasalah selama tidak menimbulkan ketidakadilan. Kentalnya budaya patriarkhi dan matriarkhi dalam sebuah keluarga (masyarakat) menjadi pandangan bias gender yang menyebabkan ketidakadilan baik bagi perempuan maupun laki-laki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Budaya partiarkal (budaya yang mengutamakan laki-laki lebih dibanding perempuan) dan matriakal (budaya yang mengunggulkan perempuan dari pada laki-laki), kini telah tidak relevan lagi di tengah semangat zaman yang asyik membonceng egaliterianisme dan demokrasi. Dalam kehidupan masyarakat urban, tidak lagi tertanam ajaran bahwa perempuan melulu bekerja di ranah domestik, sedangkan laki-laki bebas berkarir di ranah publik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesakinahan keluarga kini menjadi impian bersama di setiap tatanan keluarga Muslim. Merujuk pada UU RI No. 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan, Pasal 1, Perkawinan didefinisikan sebagai ikatan lahir batin antara laki-laki dan perempuan sebagai pasangan suami istri dengan tujuan membentuk keluarga bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mewujudkan mimpi keluarga sakinah tak segampang membalikkan telapak tangan. Seakan menjadi batu sandungan bila hak-hak dasar pasangan suami istri dalam posisi tidak setara. Sebab, keadilan gender menghendaki sebuah relasi keluarga yang egaliter, demokratis, dan terbuka. Hal ini ditandai dengan rasa hormat dari yang muda kepada yang lebih tua, rasa kasih sayang dari yang lebih tua kepada yang lebih muda, sehingga mewujud komunitas yang harmonis antara laki-laki maupun perempuan sebagai anggota keluarga. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alquran surat al-Rum: 21, memberi tiga kunci kebahagiaan hidup, yaitu mawaddah, rahmah, dan sakinah. Tiga kata kunci tersebut menjadi keniscayaan pegangan dalam mengarungi bahtera kehidupan berkeluarga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mawaddah ialah rasa cinta yang disertai penuh keikhlasan dalam menerima keburukan dan kekurangan orang yang dicintai. Dengan mawaddah seseorang akan menerima kelebihan dan kekurangan pasangannya sebagai bagian dari dirinya dan kehidupannya. Selanjutnya rahmah, yang merupakan perasaan saling simpati, menghormati, menghargai antara satu dengan yang lainnya, saling mengagumi, memiliki kebanggaan pada pasangannya. Terakhir sakinah, yaitu puncak kebutuhan pasangan suami istri untuk mendapatkan kedamaian, keharmonisan, dan ketenangan hidup yang dilandasi rasa keadilan, keterbukaan, kejujuran, kekompakan, dan keserasian, serta berserah diri kepada Allah (hlm 49-50).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian, amal kesakinahan keluarga nan berwawasan gender merupakan puncak idaman bagi tiap-tiap keluarga. Bertolak dari itu, tujuan perkawinan dapat diraih sesuai harapan bersama dalam membangun rumah tangga bahagia. Keluarga yang memegang erat budaya patriarkhis yang bias gender cenderung melahirkan diskriminasi gender. Sehingga perlu kiranya melakukan adaptasi dan perubahan keluarga yang bias gender dengan berupaya mewujudkan tujuan perkawinan yaitu membangun keluarga bahagia, sakinah, mawaddah wa rahmah. Yang terpenting dipraktikkan ialah kesetaraan dan keadilan gender dalam kehidupan keluarga. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Psikologi Keluarga Islam Berwawasan Gender karya Mufidah Ch ini, mengarsiteki laku gender dalam keluarga Muslim. Sebagai aktivis perempuan, Mufidah Ch ditengarai sangat getol mengusung tema-tema gender di setiap karyanya. Di karyanya yang lain, Paradigma Gender (2004), memperkuat bahwa penulis buku ini betul-betul all out berijtihad di jagad kajian gender dan keperempuanan. Buku ini sangat layak dibaca guna menghantarkan keluarga Muslim dalam meraih kebahagiaan hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Judul Buku  : Psikologi Keluarga Islam Berwawasan Gender&lt;br /&gt;Penulis : Dra. Hj. Mufidah Ch, M. Ag &lt;br /&gt;Penerbit : UIN Malang Press&lt;br /&gt;Cetakan : I, Oktober 2008&lt;br /&gt;Tebal : xii + 401 Halaman&lt;br /&gt;Peresensi : A Qorib Hidayatullah*&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1009294533582344733-2393217040630246641?l=indonimut.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://indonimut.blogspot.com/feeds/2393217040630246641/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1009294533582344733&amp;postID=2393217040630246641' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1009294533582344733/posts/default/2393217040630246641'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1009294533582344733/posts/default/2393217040630246641'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://indonimut.blogspot.com/2009/01/ijtihad-gender-dalam-keluarga-muslim.html' title='Ijtihad Gender dalam Keluarga Muslim'/><author><name>[A Qorib Hidayatullah]</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15367290909727515085</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_QWqh36EuAxs/SMw1P_rh7-I/AAAAAAAAAJo/W26QVuYW-Y4/S220/New+Image.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_QWqh36EuAxs/SWIZvauZ_jI/AAAAAAAAAPE/JMHLGZTQeuk/s72-c/cover+psikologi+keluarga.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1009294533582344733.post-2868399020144844776</id><published>2008-12-12T22:51:00.000+07:00</published><updated>2008-12-12T22:58:05.280+07:00</updated><title type='text'>De Winst, Kesaksian Novel Poskolonial</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_QWqh36EuAxs/SUKJGcVWWJI/AAAAAAAAAO8/C3T3fQ3MxcM/s1600-h/seksi+1.JPG"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 199px; height: 286px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_QWqh36EuAxs/SUKJGcVWWJI/AAAAAAAAAO8/C3T3fQ3MxcM/s320/seksi+1.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5278932457009600658" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Oleh A Qorib Hidayatullah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;[pekerja kreatif, gemar ngopi]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai salah satu novel sejarah, De Winst merupakan salah satu karya sastra yang laik diziarahi. Novel setebal 336 halaman ini, menenun kisahnya ihwal jama’ah pelajar Indonesia di negeri Belanda, Indonesische Vereniging (IV), atau di Hindia lebih familiar dengan sebutan Perhimpunan Indonesia (PI). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Afifah Afra, novelis muda jebolan jurusan biologi kampus negeri di Solo, yang juga merupakan anggota dari forum komunitas penulis FLP yang memiliki cabang hampir di seluruh Indonesia tersebut, senang bergelut dengan cerita berlatar sejarah. Di tengah gemerlap hajatan sastra Islami yang digeluti komunitasnya, ia kadang setia bertahan dengan sajian cerita-cerita sejarahnya yang kental, menggugah inspirasi. Terlebih, dengan bubuhan gambar di setiap lekuk badan novel ini, membuat pembaca makin termanjakan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedikit beda dengan karya jamak penulis FLP lainnya. Karya ini mengingatkan kita pada sebuah jejak-rekam kesengsaraan inlander oleh sistem tanam paksa yang dinarasikan oleh H. Moekti dalam roman klasik, “Hikajat Siti Mariah”. Roman ini juga menyibak tuntas ihwal kesengsaraan inlander; praktik penindasan masyarakat gula di Jawa Tengah oleh rezim kapitalis Belanda. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam Prelude to Revolution, George D. Larson pernah mengungkap, perkembangan politik bumi putra pada era kolonial di daerah seperti Surakarta (Solo), banyak didominasi kaum pedagang dari pada golongan priyayi. Kemajuan ekonomi itu bertumpu pada sektor perdagangan seperti batik, tekstil dan sejenisnya. Perkumpulan kaum pedagang ini menurut Larson, mula-mula punya andil menandingi hegemoni perdagangan kawasan Hindia oleh etnis China dan golongan Eropa, termasuk Belanda. Namun perkumpulan ini lambat laun tidak sebatas mengurusi soal perdagangan, melainkan (dengan perlahan juga) menjadi ajang bagi tumbuh kembangnya rasa kebangsaan &amp; semangat pergerakan. Perkumpulan semacam ini semisal Sarikat Dagang Islam (SDI) yang dipimpin oleh H. Samanhudi dari daerah laweyan. Fenomena inilah (kalau boleh saya tebak) yang mengilhami Afifah Afra untuk mengangkatnya dalam sebuah novel, yang diyakini penulis, mampu membangunkan jiwa idealisme kita yang saat ini lagi kendur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konflik novel ini bermula dari krisis ekonomi yang menyerang dunia awal abad 20, menghantam dunia Timur dan merambat ke wilayah Hindia Belanda. Kita mafhum, bahwa negeri kita yang beratus-ratus tahun menjadi tempat bercokolnya kolonial Belanda, adalah ladang surga bagi suplai tumbuh-kembangnya perekonomian negeri tersebut. Namun semakmur-makmurnya Hindia, tak ketinggalan ikut terkena imbas krisis dunia saat itu. Novel ini menggambarkan kekelaman penduduk pribumi atas arogansi penduduk golongan kelas satu penumpuk modal (Belanda), yang gemar mengeruk kekayaan negeri Hindia yang melimpah. Namun ironis, di tengah kemewahan negeri pecahan surga nan elok, bumi putra sebatas menjadi jongos di negeri sendiri. Mereka menjadi penduduk kelas tiga yang selalu ditindas dan diperbudak oleh syahwat kapitalisme.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akibat dari krisis tersebut, berpuluh-puluh industri komoditas utama negeri ini banyak yang gulung tikar. Salah satunya adalah industri gula. Industri yang bahan bakunya disuplai dari perkebunan tebu ini, terancam bangkrut. Harga gula di pasaran terus melorot. Imbasnya, harga sewa tanah dan gaji pekerja buruh, yang mayoritas ditekuni inlander turun pada level yang mencekik. Tragedi ini menjadi pemantik semakin menguatnya gairah revolusi kaum pribumi menuju tata perekonomian yang lebih kondusif. Seperti yang dikoar-koarkan oleh kaum pergerakan, perihal rencana &amp; cita-cita agung memerdekakan negerinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah seorang priyayi mantan asisten administratur De Winst (nama sebuah perusahaan gula swasta milik Belanda), bangsawan aristokrat keturunan raja mataram, lulusan Leiden University, Rangga Paruhita, ingin melepaskan bangsanya dari belenggu &amp; penindasan antek-antek kolonial. Ia membidani lahirnya sebuah gerakan. Gerakan ini berusaha memonopoli perusahaan-perusahaan swasta yang nota bene dikelola kaum penjajah. Gerakan dalam sektor ekonomi tersebut ia namai gerakan ekonomi kerakyatan. Usaha ini bertumpu pada pengembangan sektor industri tekstil, di mana kapas menjadi komoditas utamanya. Namun tak beberapa lama, sebuah tragedi mencuat. Geger dan eksodus besar-besaran buruh De Winst ke pabrik tekstil yang dikelolanya, menyeret R.M Rangga Paruhita ke muka pengadilan dengan tuduhan memberontak pada pemerintah. Tak ayal, serangkaian fitnah dan konspirasi keji yang dilimpahkan pengadilan, menyeretnya dalam internering ke Endeh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;De Winst begitu memesona. Tak berbeda jauh dari novelnya terdahulu, “Bulan Mati di Javasche Orange”, Afifah Afra menyelipkan kisah asmara tragis tapi menarik. Cerita percintaan ini terajut dari pertemuan Rangga yang studi ekonomi di Leiden sepulangnya dari negeri Belanda dengan Everdine Kareen Spinoza yang sarjana hukum Universitas Rotterdam di geladak kapal menuju Hindia. Kelebihan novel ini adalah ketangkasan penulisnya mempertemukan tradisi lokal keraton Jawa yang kental aroma feodalismenya dengan gaya hidup Eropa yang aristokratik dalam nampan cerita yang memikat. Ia menyembulkan cerita yang mengetengahkan geger kebudayaan antara harus melanggengkan sistem feodalisme Jawa atau mentradisikan sistem demokrasi ala cendekiawan Bumi Putera. Seperti yang telah dijalankan Soekarno, Shahrir, Hatta maupun Cipto Mangunkusomo. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Novel ini ingin menegaskan kembali, bahwa dengan terbenamnya sejarah oleh waktu, apa yang diusung kolonialis, yaitu misi penjajahan itu sendiri, belumlah benar-benar hengkang. Praktik kapitalis dengan wujud imperialisme yang mendera bangsa kita sekitar 3,5 abad itu walau sekarat, tetapi belum benar-benar mati. Zaman sekarang pemilik modallah (baca: investasi asing) yang berkuasa &amp; menguasai sektor-sektor penting di negeri ini. Bahkan, pemerintah dibuat seakan tak berkutik. Praktik kapitalisme itu, kendati pengaruhnya secara umum seringkali laten, namun tetaplah harus diwaspadai. Novel ini menjadi senjata ampuh untuk menyentil kesadaran kita akan bahaya praktik kapitalisme yang kini dengan amat terselubung dan ditunggangi berbagai kepentingan aktif menyemburkan praktik-praktik kapitalisme gaya baru.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Data Buku:&lt;br /&gt;Judul buku  : De Winst: Sebuah Novel Pembangkit Idealisme &lt;br /&gt;Penulis : Afifah Afra&lt;br /&gt;Penerbit : Afra Publishing, Surakarta&lt;br /&gt;Cetakan : I, 2008&lt;br /&gt;Tebal  : 336 halaman&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1009294533582344733-2868399020144844776?l=indonimut.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://indonimut.blogspot.com/feeds/2868399020144844776/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1009294533582344733&amp;postID=2868399020144844776' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1009294533582344733/posts/default/2868399020144844776'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1009294533582344733/posts/default/2868399020144844776'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://indonimut.blogspot.com/2008/12/de-winst-kesaksian-novel-poskolonial.html' title='De Winst, Kesaksian Novel Poskolonial'/><author><name>[A Qorib Hidayatullah]</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15367290909727515085</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_QWqh36EuAxs/SMw1P_rh7-I/AAAAAAAAAJo/W26QVuYW-Y4/S220/New+Image.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_QWqh36EuAxs/SUKJGcVWWJI/AAAAAAAAAO8/C3T3fQ3MxcM/s72-c/seksi+1.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1009294533582344733.post-7775420307666357361</id><published>2008-12-12T22:31:00.000+07:00</published><updated>2008-12-12T23:05:28.894+07:00</updated><title type='text'>Mahasiswa, Demonstran Seksi</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_QWqh36EuAxs/SUKHH7xBjYI/AAAAAAAAAO0/PbneI_gc3k8/s1600-h/seksi.JPG"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 222px; height: 320px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_QWqh36EuAxs/SUKHH7xBjYI/AAAAAAAAAO0/PbneI_gc3k8/s320/seksi.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5278930283603791234" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Oleh Misbahus Surur&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;[penulis tamu, kawan nongkrong di kedai kopi]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Catatan:&lt;br /&gt;--Mas Surur, thanks tulisannya. Gemarlah ngajak ngopi bareng bila honor tulisan cair. Luv U.--&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Tonggak sejarah berdirinya republik ini tak bisa dilepaskan begitu saja dari peran mahasiswa di dalamnya. Perlawanan terhadap kolonialisme setelah tahun 1900-an banyak dipelopori oleh gerakan kaum muda (baca: mahasiswa). Lahirnya Boedi Oetomo (1908), sebagai pelopor perjuangan bangsa ini dalam melawan kolonialisme juga di dominasi oleh kaum muda. Boedi Oetomo menjadi tempat persemaian bibit-bibit pergerakan nasional. Dengan watak perjuangan yang terorganisir kaum muda ingin meninggalkan model perjuangan lama, yakni sebelum tahun 1900 yang masih bersifat kedaerahan. Semenjak diterapkannya sistem Tanam Paksa (Cultuur Stelsel) yang menyebabkan penindasan dan eksploitasi kekayaan negeri ini, gelagat perjuangan kaum muda mulai berkobar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Indonesia, gerakan mahasiswa lahir atas kondisi historis untuk menjawab kondisi penindasan bangsa tersebut. Akar gerakan kaum muda mempunyai orientasi yang cukup panjang. Dimulai sejak depresi ekonomi tahun 1878 yang menyebabkan munculnya kebijakan Cultuur Stelsel hingga lahirnya penentangan terhadap kebijakan tersebut dari Social Democratische Arbeider Partij (SDAP) yang kemudian melahirkan kebijakan baru, ”Politik Etis” tahun 1895 (hlm. 76-77).  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam menentang kebijakan penguasa yang tak memihak rakyat, mahasiswa punya sejumlah nostalgia sejarah yang kisahnya tak bisa dilupakan begitu saja. Perjuangan tersebut bisa direkam lewat beberapa insiden antara lain; peristiwa Malapetaka 15 Januari (Malari) tahun 1974, sebuah protes dan penentangan mahasiswa atas kebijakan pemerintah terhadap pemodal/ investor asing (Jepang &amp; Amerika) yang dinilai merugikan bangsa. Kemudian tragedi Trisakti 1998 hingga Semanggi I &amp; Semanggi II. Seluruh tragedi tersebut merupakan akumulasi dari kekecewaan mahasiswa atas kebijakan pemerintah yang cenderung tidak memihak rakyat. Walau harus mengorbankan nyawa, nyatanya mahasiswa selalu menjadi yang terdepan dalam menentang kebijakan &amp; represi negara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun apa yang terjadi sungguh menjadi suatu ironi. Gaya hidup mahasiswa sekarang banyak terperosok ke arah prinsip hidup hedonisme yang kalau boleh dibilang, justru menjerumuskan diri mereka pada jurang kapitalisme. Dalam budaya kapitalisme, tubuh direduksi sebagi komoditas yang terus dieksploitasi. Semua itu dengan tujuan bagaimana bisa menarik dan menciptakan massa supaya hanya bisa beli dan beli. Akhirnya semuanya digiring pada obsesi yang sulit untuk dipenuhi. Karena pada dasarnya libido manusia memang tidak akan pernah mengalami rasa puas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sifat acuh terhadap realitas sosial, pergaulan yang serba permisif dan gaya hidup glamour yang mengikuti trend masa kini membuat mahasiswa menjadi apatis, menggadaikan idealisme demi kesenangan &amp; hasrat untuk melampiaskannya. Maka lakon yang dibawakan hanya sebatas berburu lawan jenis, pacaran dan seterusnya. Begitu pula sistem pendidikan di sekolah maupun di kampus dinilai tidaklah mendidik, tetapi malah menjauhkan pelajar &amp; mahasiswa dari permasalahan sosial dan membuat mereka menjadi produk-produk statis dan tidak punya integritas sosial. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mahasiswa dengan kungkungan sistem pendidikan kapitalis seperti sekarang, aktivitas mereka cenderung ke arah mencari kesenangan &amp; foya-foya dari pada menekuni teori yang mengantarkan pada penemuan yang berdampak besar bagi kehidupan masyarakat, bangsa dan negara, atau menggagas perubahan menuju tatanan sosial yang lebih adil &amp; memihak rakyat. Di era kapitalisme yang menyelimuti mereka, mahasiswa seharusnya bangun dari mimpi buruk ini dan menengok sejarah guna mengambil sebuah pelajaran berharga. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam konteks kekinian gerakan mahasiswa semestinya diarahkan pada proses pengembangan dan pemberdayaan masyarakat. Karena di samping sebagai insan akademik, mahasiswa juga menjadi motor utama dalam mengawal setiap perubahan yang terjadi di negeri ini. Dengan memikul tugas besar sebagai pengontrol kebijakan pemerintah yang tidak memihak rakyat. Baik melalui kritik sosial semisal aksi demonstrasi maupun dalam ranah pemikiran. Dalam pemikiran mereka bisa meningkatkan kapasitas dirinya dengan kegiatan intelektual yang kreatif dan produktif. Apalagi saat ini, di tengah keadaan negeri yang dipenuhi oleh beragam bencana tanah longsor dan banjir yang tak berputus-putus, sangat diharapkan sekali peran mahasiswa. Tugas besar inilah yang mengilhami Nurani Soyomukti menulis buku ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika gerakan &amp; tuntutan rakyat ditumpulkan oleh penguasa, dan wakil rakyat yang seharusnya membela hak rakyat ternyata hanya bisa duduk dikursi empuk dan enak-enakan tidur ketika sedang diajak membicarakan masalah rakyat (tidak dapat berbuat banyak untuk rakyat), maka mahasiswalah yang selalu tampil sebagai penyambung lidah rakyat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku ini ditulis bukan karena hajatan untuk merayakan pornografi layaknya ”Jakarta Undercover” dan sejenisnya, juga bukan dengan niat menghakimi mahasiswa sebagai pelaku secara hitam putih, justru sebaliknya adanya buku ini mengajak mereka sadar dan kritis terhadap kuasa kapitalisme yang terus menghimpit kehidupan mereka sehari-hari. Buku ini meletakkan mahasiswa sebagai obyek (korban) kapitalisme dan hedonisme. Dalam industri budaya kapitalisme kontemporer memang secara besar-besaran mahasiswa menjadi korban empuknya. Dan ironis, mahasiswa tidak cepat-cepat menyadarinya.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk itu, sebagai seorang anak muda yang punya keprihatinan tinggi terhadap penyimpangan-penyimpangan yang terjadi, penulis buku ini bermaksud mengingatkan kembali peran penting mahasiswa di tengah masyarakatnya. Mahasiswa perlu menyadari akan jati diri mereka, bukan terlalu muluk adalah sebagai pelaku sejarah sekaligus sebagai subjek perubahan (agent of change). Mahasiswa harus kembali ke hakikatnya sebagai manusia normal. Mahasiswa bukan benda yang statis dan tidak pula mengutamakan pemuasan hasrat libido seksual layaknya binatang. Jika kita memandang sekitar kita dan segalanya sesuatu terjadi secara alami dan mengalir seperti biasa, maka sejatinya daya kritis mahasiswa telah mati.     &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadirnya buku ini juga sekaligus akan melengkapi sederet buku-buku yang memfokuskan pada hal yang sama. Diantaranya, ”Bangsa Yang Belum selesai: Indonesia Sebelum dan Setelah Orde Baru” karya jurnalis peneliti Australia, Max Lane dan ”Penakluk Rezim Orde Baru; Gerakan Mahasiswa ’98” yang diedit oleh Muridan S. Widjojo. Sekilas pertama melihat buku ini, saya mengira adalah sebuah novel remaja, karena tampilan cover yang menurut saya tidak terlalu cocok untuk buku yang mengetengahkan serial mahasiswa. Terlepas dari itu, di tengah zaman yang serba pragmatis ini, jika berfikir kritis, bertindak produktif dan bijaksana jarang mereka lakukan, maka hakikat mahasiswa akan terus menjadi paradoks. Atau mahasiswa memang perlu, meminjam istilah Nurani, ”menerapi diri sendiri” untuk mengembalikan kenormalan ini. Jawabannya akan kita temukan di sekujur buku ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Data Buku:&lt;br /&gt;Judul Buku: Dari Demonstrasi Hingga Seks Bebas; Mahasiswa di Era Kapitalisme dan   Hedonisme&lt;br /&gt;Penulis: Nurani Soyomukti&lt;br /&gt;Penerbit: Garasi, Jogjakarta&lt;br /&gt;Cetakan : I, Januari 2008&lt;br /&gt;Tebal : 182 Halaman&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1009294533582344733-7775420307666357361?l=indonimut.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://indonimut.blogspot.com/feeds/7775420307666357361/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1009294533582344733&amp;postID=7775420307666357361' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1009294533582344733/posts/default/7775420307666357361'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1009294533582344733/posts/default/7775420307666357361'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://indonimut.blogspot.com/2008/12/mahasiswa-demonstran-seksi.html' title='Mahasiswa, Demonstran Seksi'/><author><name>[A Qorib Hidayatullah]</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15367290909727515085</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_QWqh36EuAxs/SMw1P_rh7-I/AAAAAAAAAJo/W26QVuYW-Y4/S220/New+Image.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_QWqh36EuAxs/SUKHH7xBjYI/AAAAAAAAAO0/PbneI_gc3k8/s72-c/seksi.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1009294533582344733.post-4497929256444698001</id><published>2008-11-10T23:44:00.000+07:00</published><updated>2008-11-11T00:04:28.101+07:00</updated><title type='text'>Genealogi Kecantikan Bidadari Dungu</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_QWqh36EuAxs/SRhndBYWdcI/AAAAAAAAAK4/Y0u1DWmo2_k/s1600-h/12047933800.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 277px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_QWqh36EuAxs/SRhndBYWdcI/AAAAAAAAAK4/Y0u1DWmo2_k/s320/12047933800.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5267073512494233026" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Esai A Qorib Hidayatullah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(catatan buat &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Perempuan Suamiku&lt;/span&gt;)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Permisi, Bidadariku… aih, aih&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syahdan, saya mendaras cerpen Sirikit Syah, penulis cewek yang memiliki talenta di jagad literer, di koran Kompas, Perempuan Suamiku. Dalam  cerpennya tersebut, Sirikit Syah lihai membesut cerita ihwal pasangan laki-laki dan perempuan ideal. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konon kecantikan adalah anugerah terindah bagi wanita. Kecantikan memiliki kemampuan magnetik luar biasa yang mampu meruntuhkan dunia laki-laki. Dalam berbagai sejarah kemanusiaan dan mitologi kuno dilukiskan betapa dahsyatnya pengaruh kecantikan seorang perempuan terhadap jiwa laki-laki sehingga ia mau berkorban dan melakukan apa saja demi sang perempuan. Keagungan dan kekuasaan laki-laki dapat jatuh dan bertekuk lutut di bawah kakinya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa ilustrasi misalnya, kisah Adam dan Hawa, Julius Cesar dan Cleopatra, Rama dan Shinta, dsb. Perebutan wanita cantik antara Qabil dan Habil, perselisihan antara Epimetheus dan Prometheus demi memperebutkan Pandora yang cantik, juga turut mewarnai sejarah tragedi kemanusiaan atas nama kecantikan perempuan.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Sirikit Syah, selain aktivis media, pun ia rajin menggarit tulisan soal seni sastra. Di setiap tulisan-tulisannya, Sirikit selalu menampakkan “kejagoannya” mengemas kerak ide dan menjadikan tulisannnya menarik disimak. Misalnya, dalam Perempuan Suamiku, Sirikit menanyakan kembali soal pasangan ideal bagi kita kelak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai kaum perempuan Dunia Ketiga (istilah yang akrab dicitrakan bagi negara-negara berkembang, semisal Indonesia), Sirikit sangatlah lazim mengamalkan laku cemburu (cewek posesif) terhadap suaminya (sebagai pasangan hidupnya). Sirikit tampak tidak ikhlas bila mendapati suaminya berpoligami dan kepincut pada bidadari yang dungu. Hal itu Sirikit tampilkan pada tiap bangunan cerita dalam Perempuan Sumiku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sirikit seakan-akan berkhotbah kepada kita semua bahwa dalam hal mencari pasangan janganlah gampang melecutkan rasa kasih-sayang terhadap pasangan kita masing-masing. Sirikit tampak murka atas salah satu pasangan yang hanya mengutamakan hasrat libidinal, memilih pasangan yang melulu melihat tubuh seksis dari pasangan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi Sirikit pun tak menampik akan pentingnya pasangan yang pintar mengosmetika diri agar selalu cantik-menarik. Tapi jangan salah, Sirikit pula memiliki pandangan atas pasangan yang cantik, pintar merawat diri, namun ia lemah intelektual, akhirnya Sirikit tak ragu-ragu menyebutnya dengan ‘Bidadari Dungu’. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bidadari Dungu menurut terang imajinasi Sirikit ialah perempuan cantik yang  menyengaja menenggelamkan dirinya di arus deras modernitas. Ia hanya merayakan kesadaran palsunya dan menukarkan integritas diri dengan gaya-gaya hidup urban.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tengah kesumpekan hidup, berjubel bidadari yang kerapkali menangkringkan dirinya di mal-mal, atau pun di tempat-tempat lainnya pendompleng ikon modernisme. Bidadari model ini, sangatlah jelas bukan bidadari kiriman dari langit. Sebab, laku bidadari langit (tentu bidadari yang tak dungu) itu selalu mendandani dirinya tampak sahaja, dan memiliki kekhasan tersendiri dalam menertawakan proyek modernisme. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menapaki geladak  garitan cerpen Sirikit tersebut, pembaca digiring berada di atas angin dalam hal mencari pasangan. Kendati sebuah cerpen adalah kisah fiktif, tak jauh panggang dari api, cerpen Perempuan Suamiku pun bisa dijadikan cantelan dalam menelusuri labirin pencarian pasangan hidup di dunia nyata. Cerpen, kini, sudah tak hanya memotret alam angan. Bertolak dari itu, cerpen sudah amat menyehari berebut menangkap geliat kegiatan manusia yang kadang-kadang bikin ruwet. Bukankah mencari pasangan itu juga hal ruwet? He he he…             &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Permisi, Bidadariku… aih, aih&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1009294533582344733-4497929256444698001?l=indonimut.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://indonimut.blogspot.com/feeds/4497929256444698001/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1009294533582344733&amp;postID=4497929256444698001' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1009294533582344733/posts/default/4497929256444698001'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1009294533582344733/posts/default/4497929256444698001'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://indonimut.blogspot.com/2008/11/genealogi-kecantikan-bidadari-dungu.html' title='Genealogi Kecantikan Bidadari Dungu'/><author><name>[A Qorib Hidayatullah]</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15367290909727515085</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_QWqh36EuAxs/SMw1P_rh7-I/AAAAAAAAAJo/W26QVuYW-Y4/S220/New+Image.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_QWqh36EuAxs/SRhndBYWdcI/AAAAAAAAAK4/Y0u1DWmo2_k/s72-c/12047933800.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1009294533582344733.post-848062926030089754</id><published>2008-11-10T23:32:00.000+07:00</published><updated>2008-11-10T23:42:05.477+07:00</updated><title type='text'>Saatnya Data Memimpin Wacana!</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_QWqh36EuAxs/SRhjhlCXiUI/AAAAAAAAAKo/kQGbhEbMZTc/s1600-h/Cover+Buku+Saatnya+Muslim+Bicara.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 133px; height: 200px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_QWqh36EuAxs/SRhjhlCXiUI/AAAAAAAAAKo/kQGbhEbMZTc/s200/Cover+Buku+Saatnya+Muslim+Bicara.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5267069192738670914" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Judul Buku : Saatnya Muslim Bicara!&lt;br /&gt;Judul Asli : Who Speaks for Islam&lt;br /&gt;Penulis : John L. Esposito &amp; Dalia Mogahed&lt;br /&gt;Penerjamah : Eva Y. Nukman  &lt;br /&gt;Penerbit : Mizan&lt;br /&gt;Cetakan : I, Agustus 2008&lt;br /&gt;Tebal : 252 Hlm&lt;br /&gt;Peresensi  : A Qorib Hidayatullah*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Riset Gallup World Poll yang dijelmakan dalam buku ini, tentang citra Barat dan Timur (Islam), menjadi tesis tandingan atas tesis Samuel Huntington tentang tubrukan antar-peradaban. Huntington pada 1993, sempat bikin geger masyarakat Barat maupun Islam lewat artikelnya, “Clash of Civilizations?” yang tayang perdana di jurnal Foreign Affairs. Huntington meramal peradaban Islam tidak dapat berjalan beriringan dengan peradaban Barat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih jauh, Guru Besar Universitas Harvard tersebut menilai Islam tidak apresiatif terhadap nilai-nilai Barat. Pada saat yang sama, Islam dipandang tidak menghargai ide-ide tentang hak asasi manusia, persamaan derajat wanita, serta demokrasi. Untuk itu, gerakan dan tindak-tanduk umat Islam perlu dicermati dan dicurigai. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam terang pemikiran Huntington, peradaban muncul dengan ciri-ciri yang beragam. Ia dapat mengemuka dalam bentuk satuan geografis, agama atau etnik. Sifat peradaban yang menyeluruh itu dapat memicu konflik yang jauh lebih rumit. Huntington mengalegorikan, seorang Muslim tidak mungkin menjadi Kristen atau Hindu pada saat yang sama. Mereka dapat hidup berdampingan, tapi tidak dapat meleburkan diri masing-masing dalam satuan yang sama.      &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara umum, tesis Huntington didasarkan pada peristiwa penting yang terjadi pada akhir abad ke-20: kemenangan kapitalisme. Setelah sekian abad lamanya mendapat tantangan dari bermacam-macam ideologi, kapitalisme terbukti dapat menunjukkan diri sebagai ideologi yang paling berkuasa. Menurut Huntington, fenomena ini menunjukkan bahwa peradaban Barat sedang di atas angin.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai karya akademis, tesis Huntington sebenarnya terbilang biasa-biasa saja. Ramalan bahwa akan terjadi benturan peradaban juga bukan sesuatu yang sensasional. Kecenderungan Huntington memprediksi apa yang akan terjadi adalah fenomena lazim yang kerapkali ditemui dalam tulisan ilmiah lainnya. &lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Berbeda dari tesis Huntington, temuan Gallup World Poll lewat jajak pendapat selama beberapa tahun di dalam buku ini yang melibatkan 1,3 miliar umat muslim di seluruh dunia, berusaha meneroka opini sesungguhnya dari mayoritas umat Muslim dunia tentang Islam, Barat, Kekerasan, HAM, dan isu-isu mutakhir  lainnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Data Gallup World Poll memperlihatkan, hal yang memperkuat perbedaan pendirian antara negara-negara Barat dan Muslim adalah persepsi bersama, atau lebih tepatnya, salah persepsi. Masing-masing pihak banyak yang percaya bahwa pihak lain tidak peduli. Akan tetapi, hanya kelompok minoritas pada kedua belah pihak yang tidak peduli akan hubungan yang lebih baik antara Barat dan masyarakat Muslim, sehingga menyingkapkan benturan ketidaktahuan, bukan  benturan peradaban (hlm 198). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keyakinan yang jamak tersebar di Barat adalah bahwa “mereka (Muslim) membenci kita karena demokrasi, kebebasan, budaya, nilai, dan kesuksesan/kemajuan kita.” Tapi saat Gallup World Poll mewawancarai beberapa responden, hasilnya malah bertolak belakang dari anggapan tersebut (hlm 179). Misalkan, pengakuan responden asal Turki, “Saya mengagumi kebebasan mereka (Barat). Mereka peduli dengan hak asasi manusia. Ada demokrasi dan keseteraan. Mereka maju dalam teknologi.” Atau pernyataan yang lain dari responden asal Pakistan, “Cara mereka (Barat) bekerja keras. Hal itu membantu mereka dalam membangun negara mereka.”  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu, mengapa sebagian Muslim membenci Barat? Data survei Gallup World Poll menunjukkan, penyebab utama anti Amerikanisme dan kemarahan internasional dikarenakan dampak dari kebijakan luar negeri Amerika di Dunia Islam. Namun, data itu memilai-milah “Barat dan “Dunia Islam” menjadi negara-negara tersendiri. Misalkan, ketidaksukaan umat Muslim terhadap Inggris dan Amerika Serikat sangat berlawanan dengan pandangan yang lebih positif terhadap Prancis dan Jerman (hlm 197). Di semua negara bermayoritas penduduk Muslim yang dijajak pendapatnya, rata-rata 75% responden mengaitkan “zalim” dengan Amerika Serikat (jauh beda dengan hanya 13% untuk Prancis dan 13% untuk Jerman). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kendati demikian, mayoritas orang Amerika mengatakan bahwa hubungan dengan Dunia Islam menjadi perhatian besar bagi mereka. Mereka juga percaya bahwa diperlukan interaksi yang banyak. Tampaknya, mereka berpikir bahwa apa pun perpecahan yang ada antara Barat dan negara-negara Muslim, hal itu disebabkan oleh kesalahpahaman kultural di kedua pihak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kaum Muslim pun menyatakan bahwa apa pun perpecahan yang ada antara Barat dan Dunia Islam sebagai akibat kurangnya sikap saling memahami dan menghargai. Kaum Muslim tidak menganjurkan atau menuntut perubahan budaya serta norma sosial Barat sebagai jalan menuju hubungan yang lebih baik. Meski kemunduran moral sosial merupakan suatu aspek yang paling mereka benci dari Barat, memperbaiki hal ini tidak disebut-sebut sebagai cara untuk memperbaiki hubungan.     &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konflik meletihkan antara Barat dan Dunia Islam bukanlah tak dapat dielakkan. Konflik ini disebabkan kebijakan politik yang tidak tepat, bukan pertikaian prinsip. Jajak pendapat Gallup World Poll mengurai bernas bahwa orang-orang Lebanon sangat menghargai Kristen dan Muslim (lebih dari 90% berpandangan positif terhadap lainnya), meski satu dekade perang sipil di Lebanon terjadi di antara kelompok-kelompok keagamaan. &lt;br /&gt;   &lt;br /&gt;Berkat jasa profesor Islamic Studies di Georgetown University, John L. Esposito dan Dalia Mogahed, analis senior serta direktur eksekutif Gallup Center for Muslim Studies, data survei itu bisa terkemas rapi dalam buku ini. Buku yang menggiring pembaca mafhum atas pertanyaan-pertanyaan semisal: Apakah mayoritas muslim menyetujui aksi terorisme atas nama Islam?; Apakah mayoritas muslim membenci Barat?; Manakah yang dipilih muslim: demokrasi atau teokrasi?; Benarkah mayoritas muslimah merasa tertindas? Dan benarkah mereka menginginkan kebebasan seperti wanita Barat?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dikarenakan buku ini berdasar riset, pertanyaan-pertanyaan di atas memiliki pertimbangan jawaban yang objektif. Sebagaimana dikatakan Albert Einstein, “Hal yang penting adalah tidak berhenti bertanya.” Dan Einstein juga mengatakan, “Kita harus tahu apa yang sebetulnya terjadi, dan bukan mencari apa yang menurut kita sebaiknya terjadi.” Saatnyalah data memimpin wacana!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1009294533582344733-848062926030089754?l=indonimut.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://indonimut.blogspot.com/feeds/848062926030089754/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1009294533582344733&amp;postID=848062926030089754' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1009294533582344733/posts/default/848062926030089754'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1009294533582344733/posts/default/848062926030089754'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://indonimut.blogspot.com/2008/11/saatnya-data-memimpin-wacana.html' title='Saatnya Data Memimpin Wacana!'/><author><name>[A Qorib Hidayatullah]</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15367290909727515085</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_QWqh36EuAxs/SMw1P_rh7-I/AAAAAAAAAJo/W26QVuYW-Y4/S220/New+Image.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_QWqh36EuAxs/SRhjhlCXiUI/AAAAAAAAAKo/kQGbhEbMZTc/s72-c/Cover+Buku+Saatnya+Muslim+Bicara.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1009294533582344733.post-2069006239895217569</id><published>2008-10-20T18:14:00.001+07:00</published><updated>2008-10-20T18:17:42.989+07:00</updated><title type='text'>Buruh Kecil yang Mencintai Peti Mati</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_QWqh36EuAxs/SPxoWqzhIAI/AAAAAAAAAKI/_sV87rzSNc8/s1600-h/gambar+buruh.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://2.bp.blogspot.com/_QWqh36EuAxs/SPxoWqzhIAI/AAAAAAAAAKI/_sV87rzSNc8/s320/gambar+buruh.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5259193203518676994" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Esai A Qorib Hidayatullah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Intimitas cinta kehidupan adalah melawan. Perlawanan memberi bentangan sejarah dengan menjadikan kaum pelawan terkenal. Orang yang hanya melacurkan hidupnya akan kemapanan tak ubahnya kaum yang menyengaja diri tersungkur di telapak etalase kekuasaan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejarah menakdirkan, kekuasaan dan perlawanan tak dapat bersanding mesra. Frase kekuasaan dan melawan dicipta berseberangan, ber-oposisi biner. Bak langit dan bumi yang tak bakal ketemu. Seamsal laki-laki dan wanita tak bisa menyulap kelaminnya menjadi sama. Perlawanan, semacam esensi hidup yang niscaya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak sedikit dari serakan kehidupan sekitar kita yang membutuhkan lecutan cambuk perlawanan. Persis seperti garitan surat Yusuf Ishak untuk Pramoedya Ananta Toer, “Verba amini proferre et vitam impendero vero (Dia mengutarakan pikirannya dengan bebas dan mempertaruhkan nyawanya demi kebenaran).” Surat itu memberi kesaksian pentingnya semangat perlawanan hingga nyawa jadi taruhannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hidup melawan, —jika kita menangkap pesan surat Yusuf Ishak tersebut­— ialah jembatan untuk mencari kebenaran. Dikarenakan kebenaran manusia yang relatif itulah, di mana benar bagi diri kita belum tentu benar buat orang lain, maka perlawanan perlahan menjadi penting.     &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Musuh raksasa bagi kaum pelawan adalah represifitas. Tindakan represif pernah menjadi amunisi ampuh orde baru guna membungkam kaum pelawan kritis. Mereka (kaum pelawan) tak hanya dihadapkan pada teror lahir, tapi secara batin pun mereka diancam. Tengok misalkan, peristiwa Mei 1998 yang menjadi sejarah soliluqui (sejarah yang mencekam dan berlarat) hingga memberi efek trauma berkepanjangan demi reformasi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hakikatnya, —seperti yang telah disinggung sebelumnya— bahwa perlawanan itu niscaya sebab melawan adalah kontrol sosial. Keseimbangan hidup bernegara, bersosial lewat pelawanan akan tercipta. Sejarah meletihkan perjuangan bangsa ini pun juga digaransi berkat daya resistensi melawan kolonialisme. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebab perlawanan menjadi peralatan yang tidak memiliki harga, artinya siapa pun berpeluang melawan, hal ini yang kemudian membikin perlawanan menjadi laris di era kini. Setelah kran reformasi dibuka lebar-lebar, perlawanan mewujud barang dagangan yang gemar orang melakukannnya. Dalam setiap ketimpangan terjadi, dan ketimpangan tersebut teraudit oleh kemafhuman rakyat, maka rakyat pun tak segan-segan meluncurkan sebuah resistensi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wacana terorisme global yang telah enam tahun lamanya terdengung, tak lain merupakan bentuk perlawanan komunitas masyarakat tertentu. Terlepas bahwa terorisme terstereotifikasi atas dunia Timur (Islam), bahwa mereka antek teroris global yang harus digilas dengan melakukan invasi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aneka kemasan perlawanan yang dimiliki rakyat. Misalkan, long march unjuk rasa yang digelar di depan gedung legislatif, dll guna memprotes kebijakan publik pemerintah yang tak seselera dengan rakyat. Senjata perlawanan tak hanya dimiliki oleh dunia pertama, tapi dunia ketiga pun juga memiliki peluang serupa guna melawan dunia pertama. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ekstase kenikmatan perlawanan berakhir dititik keagungan. Hidup melawan, sejatinya, hanya dipunyai kaum lemah tertindas. Tapi yang lebih penting dipahami, melawan tak segampang membalikkan telapak tangan. Hidup melawan menuntut adanya jaminan sonder kenyamanan hidup. Seperti kisah berlarat kaum buruh yang mencintai peti mati (rela berkorban nyawa) demi tegaknya kebenaran dan keadilan dengan cara melawan. Melawanlah, dan cintailah peti mati, kawan!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1009294533582344733-2069006239895217569?l=indonimut.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://indonimut.blogspot.com/feeds/2069006239895217569/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1009294533582344733&amp;postID=2069006239895217569' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1009294533582344733/posts/default/2069006239895217569'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1009294533582344733/posts/default/2069006239895217569'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://indonimut.blogspot.com/2008/10/buruh-kecil-yang-mencintai-peti-mati.html' title='Buruh Kecil yang Mencintai Peti Mati'/><author><name>[A Qorib Hidayatullah]</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15367290909727515085</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_QWqh36EuAxs/SMw1P_rh7-I/AAAAAAAAAJo/W26QVuYW-Y4/S220/New+Image.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_QWqh36EuAxs/SPxoWqzhIAI/AAAAAAAAAKI/_sV87rzSNc8/s72-c/gambar+buruh.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1009294533582344733.post-8772610163451576652</id><published>2008-10-20T18:09:00.000+07:00</published><updated>2008-10-20T18:12:56.498+07:00</updated><title type='text'>Dosa pada Masyarakat Literer</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_QWqh36EuAxs/SPxnU-Dk6cI/AAAAAAAAAKA/kn5I39N_M0I/s1600-h/gokil-sastra-framed.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://2.bp.blogspot.com/_QWqh36EuAxs/SPxnU-Dk6cI/AAAAAAAAAKA/kn5I39N_M0I/s320/gokil-sastra-framed.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5259192074814941634" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Esai A Qorib Hidayatullah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rubrik Bentara Kompas awal bulan Juni 2008 silam menayangkan tulisan polemik seputar plagiarisme. Muasal tulisan itu diturunkan pada Bentara Kompas lantaran ulah dosen UI menulis di media nasional tentang sejarah fotografi secara plagiat. Dengan begitu, prilaku dosen UI yang tak kerkeadaban di lapangan dunia tulis-menulis itu ditanggapi oleh oknum yang mengaku penggubah naskah asli sejarah fotografi tersebut. Al-hasil, aksi tuntut-menuntut pun terjadi. Dilayangkanlah tulisan ke surat pembaca Kompas oleh si penggugat guna menggugat aksi plagiat kepada plagiator yang sekaligus dosen UI. Disinilah titik runyam jagat kepengarangan kita diuji. Mirisnya, di Indonesia belum ada sebentuk lembaga peradilan yang menangani khusus kasus plagiat. Padahal di Barat tindak plagiarisme disikapi secara serius.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam helat panggung tulis-menulis, si empu (penulis) dituntut memiliki jiwa integrasi. Tulisan oplosan dari orang lain sama sekali tak diperkenankan dipublikasi dengan memakai nama plagiat, tidak menerakan penulis asli sang pembikin naskah. Problemnya saat ini, masyarakat kini kian tapaki kecanggihan teknologi di mana informasi gampang dan cepat diraih hanya berbekal kepiawaian menguasai dunia maya lewat fasilitas internet. Sehingga, aksi jiplak dan plagiat berpotensi dilakukan oleh siapa pun. Tak diharap pun, wacana dosa pada masyarakat literer menarik didiskusikan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di lingkungan saya sendiri, laku epigon ditingkat penulisan makalah kuliah marak dilakukan oleh mahasiswa. Mahasiswa dengan mudahnya comot sana-sini dari tulisan yang dirujukan tanpa menuliskan referensi/sumbernya dari mana. Dan dosen pun tak memiliki kemampuan atau ilmu memonitoring kebiasaan mahasiswa plagiat dalam penulisan makalah. Nah, di sinilah kata salah satu penulis di rubrik Bentara Kompas dengan menyebutnya, “Aksi Pembajak yang Bertoga.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau dilacak bermulanya aksi mulus plagiat, hemat saya, berawal kebiasaaan mahasiswa di kampus saat kuliah yang menulis makalah dengan plagiat, namun dosen/pengajar membiarkan dan tak adanya kepakeman aturan dari kampus yang menindak serius aksi mahasiswa tersebut. Tak ayal, tradisi busuk itu pun terus dilanjutkan mahasiswa tak hanya saat kuliah, ironis, ia pun mewarisinya hingga akhir hayatnya.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kawan saya menjabarkan ihwal dosa literer ini yang tak memiliki sedikit pun ruang ampun. Dosa literer dapat terhapus bila plagiator mengemis ma’af dan berjanji tak akan mengulangi kembali tindak kejinya itu kepada masyarakat literer, dan lebih khusus pada pemilik tulisan yang dioplosnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karya tulis merupakan karya agung yang jauh dari manipulatif. Karya tulis bersemangatkan demi tumbuh-kembangnya pengetahuan lewat asahan ide, riset mutakhir, dan eksperimen. Dengan begitu keotentikan karya dan temuan menjadi penting sebagai wujud tanggung jawab uji pengetahuan. Masyarakat literer Indonesia, saya pikir, patut mengutuk riset palsu Djoko Suprapto yang merekayasa blue energy di UMY (Universitas Muhammadiya Yogyakarta) demi sebuah kucuran dana besar, namun usahanya terprediksi gagal. Disinilah pentingnya integrasi moral dan tanggung jawab bagi periset dan penulis (sastrawan, penyair, prosaik, dll). Semoga bermanfaat bagi diriku.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1009294533582344733-8772610163451576652?l=indonimut.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://indonimut.blogspot.com/feeds/8772610163451576652/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1009294533582344733&amp;postID=8772610163451576652' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1009294533582344733/posts/default/8772610163451576652'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1009294533582344733/posts/default/8772610163451576652'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://indonimut.blogspot.com/2008/10/dosa-pada-masyarakat-literer.html' title='Dosa pada Masyarakat Literer'/><author><name>[A Qorib Hidayatullah]</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15367290909727515085</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_QWqh36EuAxs/SMw1P_rh7-I/AAAAAAAAAJo/W26QVuYW-Y4/S220/New+Image.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_QWqh36EuAxs/SPxnU-Dk6cI/AAAAAAAAAKA/kn5I39N_M0I/s72-c/gokil-sastra-framed.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1009294533582344733.post-5558967610884406456</id><published>2008-09-14T04:25:00.000+07:00</published><updated>2008-10-20T18:26:10.729+07:00</updated><title type='text'>Menuju Bangsa Nestapa, Indonesia Bisa</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_QWqh36EuAxs/SPxqkQAp-YI/AAAAAAAAAKQ/Iyd-qYaensY/s1600-h/New+Image.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://1.bp.blogspot.com/_QWqh36EuAxs/SPxqkQAp-YI/AAAAAAAAAKQ/Iyd-qYaensY/s320/New+Image.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5259195635867449730" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Oleh: A Qorib Hidayatullah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seruan tiap-tiap manusia tampak sama. Yaitu berharap terjadi/terkabulkan apa yang bergelantungan di angan. Hal itu ihwal lazim. Hidup tidak berpengharapan seperti menanam benih tapi tidak tumbuh. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat aku masih kanak-kanak, guruku merisalahkan  kepada setiap siswa agar memiliki ekspektasi/cita-cita. Beliau gemar menginterogasi para siswanya dengan pertanyaan: “Apa cita-cita kamu?” Guruku seakan memiliki kekhawatiran apabila siswanya tidak memiliki harapan dan cita-cita. Lebih lanjut guruku menjelaskan pentingnya hidup bercita-cita akan membikin hidup tetap bertahan penuh semangat, tidak mandul orientasi.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ekspektasi adalah tolok ukur capaian apa nanti yang akan diraih. Beragam harapan muncul dari setiap manusia di bumi ini. Semuanya berseru serupa ingin lebih baik dari apa yang sudah terjadi. Hidup tanpa ekspektasi seakan memubazirkan karunia Tuhan. Cita-cita merupakan karunia terbesar dari Tuhan. Tuhan memperkenankan diri-Nya selalu mendengar nafas terlemah seruan hamba-Nya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rakyat Indonesia memiliki beragam ekspektasi kepada elite birokrasi pemerintahan. Bahkan penuhnya berpengharapan, rakyat hingga lesu berharap kepada petinggi bangsa ini. Hanya genggaman tangan kosong yang dibawa pulang rakyat setelah selesai dikibuli saat suaranya dieksploitasi dalam momen pesta demokrasi.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semasa kampanye berlangsung digelar, rakyat diiming-imingi sejuta janji. Program yang diusung masing-masing kandidat semuanya berpihak kepada rakyat (pro rakyat). Rakyat waktu kampanye berlangsung serasa sangat diistiwewakan. Semua kandidat apabila terpilih nantinya akan menjuntrungkan arah kebijakan publiknya pro membela rakyat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tribune kampanye kini menjadi wahana munafik. Hanya tebar janji, namun tak ditepati. Kampanye para kandidat hanya permainan akal bulus. Program yang pro rakyat hanya selesai di atas mimbar kampanye. Tersiar kabar, kalau rakyat saat ini terkesan membendung pendengarannya dari janji-janji manis kandidat saat kampanye. Rakyat mengalami krisis keperyaan terhadap janji kandidat. Rakyat memilih jalan simplistis, yaitu siapa pun kandidat yang banyak modal, itulah yang memberi magnet kepada rakyat. “Memilih siapa nanti di TPS, itu soal nurani”, ujar salah satu rakyat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini, peta politik pemilihan birokrasi kita tidak memakai politik “What is” tapi lebih pada “Who is”. Rakyat tidak hirau lagi program apa yang diusung kandidat, tapi rakyat lebih acuh siapa kandidat itu. Untuk masyarakat Jatim, rakyat lebih suka memilih kandidat dari basis kaum biru, kyai, maupun ulama’. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tampaknya, Indonesia saat ini telah mengalami di mana Ronggowarsita menamainya dengan zaman Kalatidha, yaitu zaman yang sedemikian gila, dengan berharap butuh manusia-manusia sahaja.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1009294533582344733-5558967610884406456?l=indonimut.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://indonimut.blogspot.com/feeds/5558967610884406456/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1009294533582344733&amp;postID=5558967610884406456' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1009294533582344733/posts/default/5558967610884406456'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1009294533582344733/posts/default/5558967610884406456'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://indonimut.blogspot.com/2008/09/menuju-bangsa-nestapa-indonesia-bisa.html' title='Menuju Bangsa Nestapa, Indonesia Bisa'/><author><name>[A Qorib Hidayatullah]</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15367290909727515085</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_QWqh36EuAxs/SMw1P_rh7-I/AAAAAAAAAJo/W26QVuYW-Y4/S220/New+Image.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_QWqh36EuAxs/SPxqkQAp-YI/AAAAAAAAAKQ/Iyd-qYaensY/s72-c/New+Image.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1009294533582344733.post-5796286509193287833</id><published>2008-09-14T04:22:00.000+07:00</published><updated>2008-10-20T18:43:05.506+07:00</updated><title type='text'>Kesahajaan Manusia dan Riwayat Kelam Sisifus</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_QWqh36EuAxs/SPxurqp9RoI/AAAAAAAAAKg/wjvWt5rS_FQ/s1600-h/intan-puma-di-telapak-tanganku-5-mei-2008-2.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://2.bp.blogspot.com/_QWqh36EuAxs/SPxurqp9RoI/AAAAAAAAAKg/wjvWt5rS_FQ/s320/intan-puma-di-telapak-tanganku-5-mei-2008-2.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5259200161325598338" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Esai A Qorib Hidayatullah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manusia yang tampak enggan bila dikemukakan sifat bejatnya, kemunafikannya, atau sesuatu yang tak baik dari dirinya, itulah manusia laiknya Sisifus. Sisifus adalah hewan kutukan Dewa. Dewa mengutuk Sisifus dengan menyuruhnya mengangkat barang dipundaknya menuju bukit, sedikit naik ke bukit, Dewa mendorongnya ke bawah lagi, terus seperti itu. Itulah wujud kutukan Dewa terhadap makhluk Sisifus. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terlepas dari Sisifus, yang asyik-masyuk dibincang di sini adalah ihwal “kutukan”. Kutukan! Tak ada orang yang berani berhadapan dengannya. “Kutukan” merupakan kata yang tak digemari orang banyak sebab akan mengirim kesengsaraan, nestapa, dan nelangsa hidup. Dalam sinetron-sinetron dongeng –-biasanya baru-baru ini sinetron itu kerap dijumpai, diputar di stasiun Trans TV dengan tajuk program “LEGENDA”— di sana disiratkan betapa kejamnya sebuah kutukan. “Akan aku kutuk kau menjadi batu”, ujar nenek sihir pada adegan di sinetron tersebut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukannya tanpa alasan sebuah daya kutukan tertuju pada manusia, pasti ada kesalahan-kesalahan sehingga kutukan itu keluar mengiringi beban dosa yang dibikin anak manusia itu. Seperti sedikit yang tergambar pada diri Sisifus, mesti Sisifus memiliki salah terhadap Dewa, sehingga Dewa mengutuknya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu pertanyaannya, mungkinkan manusia di bumi ini menerima kutukannya masing-masing? Bukankah manusia di bumi sudah bergelimang kesalahan-kesalahan, tak hanya kesalahan kecil yang dibikinnya, kesalahan fatal pun sudah manusia lakukan. Terkikisnya lapisan ozon yang menyebabkan global warming (pemanasan global), bukankah ini wujud kesalahan fatal anak manusia yang menyebabkan sengsara seluruh penduduk bumi? Apa nantinya kutukan yang mengiringi kesalahan manusia tersebut?. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap ada kesalahan mesti temukan kutukannya. Pertanyaan yang telontar semisal: “kutukan apa yang akan diterima manusia sebab kesalahannya?.” Itu memang pertanyaan yang betul-betul tak salah. Namun, setiap kutukan tak harus langsung terjadi, tidak. Kutukan, mengiringi kesalahan manusia seberapa besar (kesalahan) yang ia perbuat. Kutukan, yang erat kaitannya dengan kesalahan manusia, gampangannya, kutukan itu akan mewujud menjadi peristiwa, musibah dahsyat –-Tsunami, banjir, pemanasan global, gunung meletus, lindu, gempa, dll— yang kerap menyatroni hamba manusia. Itulah sebuah kutukan bagi manusia yang telah melakukan kesalahannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kutukan bagi manusia yang salah tak harus terlafal seperti kutukan-kutukan di sinetron: “Akan aku kutuk kau menjadi batu, ular, anjing, babi, dll. Kutukan dapat bermakna luas, bak hukum kausalitas. Ada sebab mesti ada akibat. Akibat Kutukan mengiringi sebab manusia merusak lingkungannya, mengeksploitasi keindahan alamnya, membalak hutan lindungnya, membangun rumah kaca, dan macam-macam kesalahan anak manusia lainnya. Yang jelas, kutukan membikin sengsara hidup. Kutukan mesti akan membikin hati pedih, menyayat hati. Semoga kutukan yang selama ini telah terjadi langsung membidik anak manusia yang melakukan kesalahan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adilkah Tuhan menghukum para penjahat koorporasi birokratik petinggi Lapindo yang menyebabkan lumpur panas Lapindo malah berakibat pada warga Porong yang tak melakukan kesalahan? Sungguh hati-kah Kau Tuhan melihat anak manusia tak bersalah yang nasibnya bak beras ditampi dan diayak itu, hamba-Mu itu (korban) memohon akan kebesaran-Mu.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1009294533582344733-5796286509193287833?l=indonimut.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://indonimut.blogspot.com/feeds/5796286509193287833/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1009294533582344733&amp;postID=5796286509193287833' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1009294533582344733/posts/default/5796286509193287833'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1009294533582344733/posts/default/5796286509193287833'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://indonimut.blogspot.com/2008/09/kesahajaan-manusia-dan-riwayat-kelam.html' title='Kesahajaan Manusia dan Riwayat Kelam Sisifus'/><author><name>[A Qorib Hidayatullah]</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15367290909727515085</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_QWqh36EuAxs/SMw1P_rh7-I/AAAAAAAAAJo/W26QVuYW-Y4/S220/New+Image.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_QWqh36EuAxs/SPxurqp9RoI/AAAAAAAAAKg/wjvWt5rS_FQ/s72-c/intan-puma-di-telapak-tanganku-5-mei-2008-2.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1009294533582344733.post-8477556182291649488</id><published>2008-08-13T22:15:00.000+07:00</published><updated>2008-08-13T22:21:49.779+07:00</updated><title type='text'>Berenergi Sedih</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_QWqh36EuAxs/SKL7RCK_rNI/AAAAAAAAAJc/Gybbr22DQZg/s1600-h/TRI+BERAS+BANTUAN.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://4.bp.blogspot.com/_QWqh36EuAxs/SKL7RCK_rNI/AAAAAAAAAJc/Gybbr22DQZg/s320/TRI+BERAS+BANTUAN.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5234021987017272530" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Esai A Qorib Hidayatullah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sehabis membaca cerpen (cerita pendek) Mein Dina Oktaviani di Jawa Pos, 29 Juni 2008 membuatku kembali berenergi positif dalam hidup. Hari-hari terakhir ini, aku sangat malas dan dihantui kesuntukan pesimis menjalani hidup. Hidup seakan sangat menjenuhkan sekali dan hanya menambah-nambah masalah saja. Dalam keadaan seperti itu, di mana kondisi psikis sangat tak bisa diajak kompromi, aku sonder seluruh rutinitas kegiatan, semisal membaca dan menulis. Jujur, hal lain yang membuat aku tertarik pada cerpen itu adalah ilustrasi apik (gambar gadis beraut sedih seakan berharap sesuatu) yang akrab dengan warna jiwaku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kerinduan selalu ingin hidup stabil, aku berpikir dan merenung, meminjam istilah Pak Guru J. Sumardianta, mengaudit kesibukan-kesibukan guna antisipasi kesadaran palsu. Lazimnya orang sedih, kesedihanku tak jauh beda. Jika orang tatkala sedih beraura murung, aku pun menjalani kesedihan secara sama. Yang membedakannya (pengalaman kesedihan) hanyalah suasana transenden tiap-tiap orang. Aku misalnya, lebih menghadapi kesedihan dengan meninjau masa silam, pertanyaan dalam benak yang senantiasa keluar adalah “Apa yang telah aku lakukan, kok kesedihan sangat mendominasi pada diriku.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak disangka, lambat laun tampil pertanyaan yang dikemukakan telah lama oleh J. Sumardianta, “Kesedihan macam apa yang Qorib rasakan? Anak muda saat ini senantiasa merelikui semangat Bung Karno, mendengus-dengus di kamar kos.” Kesedihan yang merundungku belum ada apa-apanya dibanding kesedihan yang dialami orang lain termasuk J. Sumardianta. Pak Guru, selain memikirkan dirinya, dituntut sibuk memberi nafkah lahir-batin kepada keluarga. Tiap aku tanyakan, kenapa Pak Guru ndak pensiun-pensiun dalam nulis di media. Jawabnya, selain memagari semangat literasi, Pak Guru juga mengais dari honor yang diberikan koran untuk menghidupi keluarga, dan buat biaya anak-anaknya yang sekolah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali pada permembincangan cerpen Dina Oktaviana, Mein. Mein, tokoh rekaan Oktaviana representatif menggambarkan kesedihan yang dialami olehku. Mein cukup lihai agar kesedihan yang merundungnya tak lekas tampil diwajahnya. Seperti kalimat yang tertera di cerpen tersebut, Mein telah terlatih menghadapi energi kesedihan agar tak langsung diapresiasi oleh raut wajahnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah risalah energi kesedihan. Kesedihan hanyalah milik kaum yang spiritualitasnya tinggi. Merayakan hidup sedih dengan rendah hati, tidak sombong kendati berpotensi melakukannya karena memiliki segudang hal, namun tak dilakukannya. Sedih tak harus tampak pada fisik yang nestapa, aku lebih memaknai sedih dengan cukup dialami batin dan jiwa yang paling dalam untuk senantiasa patuh-tunduk pada kekuatan di luar kita.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1009294533582344733-8477556182291649488?l=indonimut.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://indonimut.blogspot.com/feeds/8477556182291649488/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1009294533582344733&amp;postID=8477556182291649488' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1009294533582344733/posts/default/8477556182291649488'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1009294533582344733/posts/default/8477556182291649488'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://indonimut.blogspot.com/2008/08/berenergi-sedih.html' title='Berenergi Sedih'/><author><name>[A Qorib Hidayatullah]</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15367290909727515085</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_QWqh36EuAxs/SMw1P_rh7-I/AAAAAAAAAJo/W26QVuYW-Y4/S220/New+Image.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_QWqh36EuAxs/SKL7RCK_rNI/AAAAAAAAAJc/Gybbr22DQZg/s72-c/TRI+BERAS+BANTUAN.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1009294533582344733.post-2495027303734747192</id><published>2008-08-13T22:07:00.000+07:00</published><updated>2008-10-20T18:39:46.564+07:00</updated><title type='text'>Parafrase Kesedihan</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_QWqh36EuAxs/SPxt1iYwoXI/AAAAAAAAAKY/3tQwwmvBJIQ/s1600-h/img_4244-copy.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://1.bp.blogspot.com/_QWqh36EuAxs/SPxt1iYwoXI/AAAAAAAAAKY/3tQwwmvBJIQ/s320/img_4244-copy.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5259199231393046898" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Esai A Qorib Hidayatullah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beragam dongeng atau pun cerita kesedihan yang dipendarkan dalam gerak avonturus hidup ini. Kisah kesedihan dalam hidup layak ditali-temalikan agar proses hidup tidak sombong. Manusia butuh hidup bijak di tengah arus dangkal pemaknaan hidup hedonis. Semisal trah Bohemian di negeri Paman Sam, karena telah teken konsistensi berhidupkan sedih, mereka memarkir dirinya tinggal  di pedalaman di negara adidaya (sub-urban) itu. Mereka enggan hidup nyaman dengan kesibukan permanennya yang melulu menghamba pada rotasi mesin berdaya konsumerisme. Mereka membaktikan hidup di desa-desa kumuh dengan tetap menggawangi idealisme berkatologisasi pengetahuan, yaitu memilih hidup keranjingan membaca. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbeda dari itu, kisah tokoh Lintang dalam novel Laskar Pelangi di mana Andrea Hirata sebagai arsiteknya, malah mempraktikkan kesengsaran akut demi sebuah arung pendidikan. Lintang bersama sembilan kawannya yang menamakan dirinya dengan sebutan Laskar Pelangi itu pergi ke sekolah berbekal jalan kaki yang jauhnya 80 Km pulang-pergi. Selain itu, Laskar Pelangi harus melintasi sungai yang ada buayanya saat pergi dan pulang dari sekolahnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kisah Lintang serta Laskar Pelangi adalah wujud kesungguhan dalam hidup kendati sedih dijadikan jaminannya. Laskar Pelangi memahami betul pentingnya mengenyam pendidikan meski kesengsaran sedari awal ditelan, semata-mata untuk meledakkan kesuksesannya. Al-hasil, novel bikinan Andrea itu sukses di pasaran disebabkan telah apik menenun kisah berdaya romantik, mampu memantik kucuran air mata pembaca. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tumpukan-tumpukan kisah menyedihkan dari novel Laskar Pelangi berhasil memprovokasi pembaca agar memiliki ruang reflektif dalam hidup. Hidup sedih maupun sengsara hampir mendekati dan membawa hidup pada amuk/ancaman pesimisme. Kerapkali orang saat dirundung pesimisme, yang semula mengamalkan parafrase hidup sedih, akan alami keputusasaan. Putus asa adalah proses hidup alamiah yang lazim semua orang mengalaminya. Putus asa, “Keberhasilan yang tertunda” tutur pepatah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dominique Lappierre, penggubah novel spektakuler publik dunia, The City of Joy, lewat kisah hidup kaum paria mampu menyita keprihatinan pembaca. Kaum paria yang berdomisili di Anand Nagar, tak hanya kisah imajinatif yang hanya berhasil di helat fiksi. Namun, kaum paria telah menyentak hati pembaca tergerak untuk membantu orang-orang yang dirundung kesedihan di bumi Anand Nagar. Dominique Lappierre pernah menerima emas beberapa gram dari pasutri yang berekonomikan mapan, “Silahkan emas ini berikan pada para penghuni di Anand Nagar,” begitu bunyi pesan penyerahan oleh pasutri itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah makna pilihan jalan hidup dari kaum Bohemian, Lintang, dan kaum Paria yang telah menceburkan hidupnya dalam kesedihan. Riwayat hidup sedih oleh mereka sengaja dilakukan untuk merajut hidup bijak-bijaksana. Mereka seakan merasa sumpek hidup di tengah-tengah masyarakat yang melulu merayakan pesta absurd dalam hidup; hedonis, glamour, dan berpahamkan konsumeris.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1009294533582344733-2495027303734747192?l=indonimut.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://indonimut.blogspot.com/feeds/2495027303734747192/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1009294533582344733&amp;postID=2495027303734747192' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1009294533582344733/posts/default/2495027303734747192'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1009294533582344733/posts/default/2495027303734747192'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://indonimut.blogspot.com/2008/08/parafrase-kesedihan.html' title='Parafrase Kesedihan'/><author><name>[A Qorib Hidayatullah]</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15367290909727515085</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_QWqh36EuAxs/SMw1P_rh7-I/AAAAAAAAAJo/W26QVuYW-Y4/S220/New+Image.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_QWqh36EuAxs/SPxt1iYwoXI/AAAAAAAAAKY/3tQwwmvBJIQ/s72-c/img_4244-copy.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1009294533582344733.post-7824418836939696771</id><published>2008-07-08T22:31:00.000+07:00</published><updated>2008-07-11T17:05:09.921+07:00</updated><title type='text'>Demokrasi ala Kota Sejuta Bunga</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp3.blogger.com/_QWqh36EuAxs/SHcwL4WfyUI/AAAAAAAAAJU/ScpbeoIRGLo/s1600-h/cover+buku+demokrasi+di+bumi+arema.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 155px; height: 236px;" src="http://bp3.blogger.com/_QWqh36EuAxs/SHcwL4WfyUI/AAAAAAAAAJU/ScpbeoIRGLo/s320/cover+buku+demokrasi+di+bumi+arema.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5221695273622817090" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS,Arial,sans-serif;"&gt;Judul Buku : Demokrasi di Bumi Arema&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS,Arial,sans-serif;"&gt;Penulis : Drs. Peni Suparto, MAP&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS,Arial,sans-serif;"&gt;Kata Pengantar : Megawati Soekarnoputri&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS,Arial,sans-serif;"&gt;Penerbit : Perpustakaan Umum Kota Malang &amp;amp; Indo Press&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS,Arial,sans-serif;"&gt;Cetakan : I, Mei 2008&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS,Arial,sans-serif;"&gt;Tebal : xi + 132 Hlm&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS,Arial,sans-serif;"&gt;Peresensi  : A Qorib Hidayatullah*&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS,Arial,sans-serif;"&gt;Tak ayal, saat peluncuran buku ini (14/06/2008) di gedung Sasana Budaya Universitas Malang, penulis buku ini mengalegorikan demokrasi di bumi Arema layaknya bunga dengan beragam warna, mulai dari yang berwarna hijau, ungu, putih, kuning, biru hingga warna merah. Warna-warni bunga itulah menjadi tanda kehidupan harmonis bagi masyarakat satu sama lain yang merupakan harapan demokrasi di bumi Arema ini. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS,Arial,sans-serif;"&gt;Kehadiran buku &lt;i&gt;Demokrasi di Bumi Arema&lt;/i&gt; ini, diniatkan guna merekam perjalanan demokrasi lokal Malang. Kendati demokrasi sejatinya dilahirkan rahim Barat, namun bumi Arema memiliki periode-periode sejarah yang begitu egaliter. Diakui dalam buku ini bahwa di kota Malang turut memiliki riwayat kebijaksanaan masa lalu yang pada zamannya mempratikkan nilai-nilai demokratis (hlm. 34-35).  &lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS,Arial,sans-serif;"&gt;&lt;b&gt;Demokrasi Zaman Dulu      &lt;/b&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS,Arial,sans-serif;"&gt;Di dalam prasasti Dinoyo misalnya, selain menceritakan keberadaan kerajaan Kanjuruhan yang dipimpin Prabu Gajayana, pun juga pada zaman kuna itu, seorang raja masih menghargai eksistensi Brahmana yang merupakan representasi nurani rakyat pada zamannya. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS,Arial,sans-serif;"&gt;Prasasti tahun 760 itu, menjabarkan secara singkat Sang Gajayana telah memberi agunan ketentraman bagi pemuka adat untuk hidup layak sebagai pribadi maupun tokoh masyarakat. Syahdan, peradaban manusia yang ribuan tahun lamanya itu, tindakan semacam ini terbilang demokratis di sejarah zamannya.   &lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS,Arial,sans-serif;"&gt;Begitu pula ketika melirik kudeta berdarah yang dilakukan Ranggah Rajasa Sang Amurwahbhumi (Ken Arok) di tahun 1220 M terhadap Tunggul Ametung yang berwatak jahat pada rakyat Tumapel. Daya revolusi ini dilakukan bersama rakyat, dipimpin Ken Arok, serta didukung para Brahmana dengan motif melawan penindasan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS,Arial,sans-serif;"&gt;Di zaman ini, potret gerakan semacam itu dapat dikatakan pemakzulan rezim otoriter, gerakan pembebasan atas sistem yang tidak demokratis serta upaya meruntuhkan kekuasaan despotis raja yang tidak pro-rakyat. Di mana sebenarnya, Tunggul Ametung menjadi raja tidak diharap rakyat, sehingga ia pun merampok harta rakyat guna disetor ke kerajaan Daha yang justru tidak memiliki kontribusi sedikit pun demi kemajuan Malang zaman itu. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS,Arial,sans-serif;"&gt;Merujuk ke sejarahnya —seperti yang telah dikemukakan di atas— Malang telah memiliki “prasasti” demokrasi kendati bobotnya kecil. Tapi setidaknya, hal itu akan menjadikan bumi Arema sebagai miniatur demokrasi di Indonesia kelak. Masyarakat kota Malang yang heterogen sangat memerlukan prinsip demokrasi guna dinamisasi masyarakatnya. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS,Arial,sans-serif;"&gt;Untuk memenuhi hal itu, penulis buku ini menggagas bagaimana menguatkan cengkraman demokrasi lokal. Yang coba ditawarkannya ialah terciptanya masyarakat dengan asas hidup saling gotong-royong, kebersamaan, mengasah empati antar masyarakat, membentuk komunitas masyarakat dialogis, serta sistem komunikasi antar masyarakat sehingga pihak kelurahan membuka ruang dialog seluas-luasnya dengan masyarakat &lt;i&gt;grass-root&lt;/i&gt;. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS,Arial,sans-serif;"&gt;Hal penting lain selain di atas yaitu, upaya mengait-kelindankan demokrasi dalam pilkada langsung. Pilkada merupakan kesempatan emas memperkuat demokrasi dengan membumikan pendidikan politik bagi masyarakat. Sehingga budaya demokrasi (&lt;i&gt;democratic culture&lt;/i&gt;) selalu kukuh-kuat terbangun di tengah-tengah masyarakat.      &lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS,Arial,sans-serif;"&gt;Namun, meraih nilai-nilai demokratis itu tak semudah membalikkan telapak tangan. Di buku ini pun dipaparkan ‘duri-duri’ yang akan mencederai prinsip-prinsip demokrasi. Seperti penghalalan tindak kekerasan sebagai jalan sah menggapai tujuan dan fanatisme akan ras. Kedua ‘musuh’ demokrasi itu menjadi tanggung jawab kita bersama untuk memberangusnya demi kesadaran pentingnya tegaknya demokrasi.     &lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;   &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS,Arial,sans-serif;"&gt;Selain itu, buku setebal 132 halaman ini, juga memotret kota Malang dan konsep pembangunannya (hlm 19). Bagian ini sengaja oleh penulis buku ini selipkan untuk menjadikan kota Malang yang damai, sejahtera dan &lt;i&gt;ijo royo-royo&lt;/i&gt;. Misalnya, lewat pengetrapan konsep Tri Bina Cita yang memiliki esensi pembangunan Malang sebagai kota wisata; Malang, sebagai kota industri; dan Malang sebagai kota pendidikan. Walau pun banyak orang menentang konsep ini, Tri Bina Cita masih relevan dan berpotensi mengembangkan kota Malang di masa depan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS,Arial,sans-serif;"&gt;Sejatinya, dalam konteks pembangunan demokrasi, setiap orang memiliki tanggung jawab untuk ikut serta menyumbangkan pemikiran-pemikirannya. Dalam kajian demokrasi, buku Samuel P Huntington, &lt;i&gt;The Third Wave of Democratization &lt;/i&gt;(1991), paling sering dikutip. Menurut Huntington, semangat utama adalah meruntuhkan rezim yang tidak demokratis dengan rezim yang demokratis. Demokratisasi pada intinya adalah revitalisasi sistem politik otoritarian menjadi sistem yang terbuka dan bertanggung jawab. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS,Arial,sans-serif;"&gt;Sebagaimana ditulis oleh para teoritisi demokrasi, transisi hanya bisa diselamatkan jika setiap pemangku jabatan publik memiliki tanggung jawab dan komitmen yang kuat. Hal terpenting dari sebuah nilai demokrasi, sebagaimana ditulis William M Sullivan (1997), adalah kepercayaan, iktikad baik, dan idealisme. Pemerintah dan warga negara harus memilikinya sebagai dasar penyelesaian konflik, krisis ekonomi, dan krisis politik.      &lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS,Arial,sans-serif;"&gt;Al-hasil, kehadiran buku ini memiliki momen yang pas, di mana Jawa Timur khususnya, dan di Indonesia pada umumnya tengah menjelang pesta demokrasi. Dan sayangnya, buku yang dieditori Liga Alam M ini masih memiliki kekurangan di sana-sini, seperti desain &lt;i&gt;cover &lt;/i&gt;yang tidak &lt;i&gt;matching&lt;/i&gt; dengan muatan di dalamnya serta daftar isi yang tanpa mencantumkan halaman. Kendati demikian, cacat kecil itu tidak mengurangi substansi gagasan yang hendak disampaikan penulisnya dalam buku ini. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1009294533582344733-7824418836939696771?l=indonimut.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://indonimut.blogspot.com/feeds/7824418836939696771/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1009294533582344733&amp;postID=7824418836939696771' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1009294533582344733/posts/default/7824418836939696771'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1009294533582344733/posts/default/7824418836939696771'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://indonimut.blogspot.com/2008/07/demokrasi-ala-kota-sejuta-bunga.html' title='Demokrasi ala Kota Sejuta Bunga'/><author><name>[A Qorib Hidayatullah]</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15367290909727515085</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_QWqh36EuAxs/SMw1P_rh7-I/AAAAAAAAAJo/W26QVuYW-Y4/S220/New+Image.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp3.blogger.com/_QWqh36EuAxs/SHcwL4WfyUI/AAAAAAAAAJU/ScpbeoIRGLo/s72-c/cover+buku+demokrasi+di+bumi+arema.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1009294533582344733.post-152035843299585151</id><published>2008-07-08T22:20:00.000+07:00</published><updated>2008-07-08T22:30:51.275+07:00</updated><title type='text'>Mahasiswa dan Proyek Perubahan Pemimpin</title><content type='html'>&lt;p style="margin-top: 0.07in; margin-bottom: 0.07in;"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS, Arial, sans-serif;"&gt;Oleh: A Qorib Hidayatullah&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-top: 0.07in; margin-bottom: 0.07in;"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS, Arial, sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-top: 0.07in; margin-bottom: 0.07in;"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS, Arial, sans-serif;"&gt;Seperti sabda Nabi, "Setiap kamu pemimpin, dan setiap pemimpin pasti akan diminta pertanggungjawaban atas kepemimpinannya." &lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-top: 0.07in; margin-bottom: 0.07in;"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS, Arial, sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-top: 0.07in; margin-bottom: 0.07in;"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS, Arial, sans-serif;"&gt;Pada tahap itu, setiap individu harus memasuki fase kekosongan. Suatu momen transenden untuk menisbikan status diri, ikatan primordial dan egosentrisme; membiarkan diri telanjang demi mencerap bahasa awam untuk merasakan denyut terlemah dari kehidupan masyarakat agar mampu membuka diri penuh cinta untuk yang lain.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-top: 0.07in; margin-bottom: 0.07in;"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS, Arial, sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-top: 0.07in; margin-bottom: 0.07in;"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS, Arial, sans-serif;"&gt;Menjelang helat akbar pesta demokrasi di Jawa Timur, 23 Juli 2008, mahasiswa sebagai representasi kaum kritis pemerintahan tak bisa tinggal diam. Kendati tak sedikit dari mahasiswa yang terlibat suksesi Pilgub Jatim, namun itu bukan wujud ketumpulan suara kritis mahasiswa. Malainkan, itu sebuah gerakan mahasiswa guna menentukan &lt;i&gt;platform&lt;/i&gt; dan keberanian melakukan tindakan dengan menggalang kekuatan di kancah politik praktis.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-top: 0.07in; margin-bottom: 0.07in;"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS, Arial, sans-serif;"&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-top: 0.07in; margin-bottom: 0.07in;"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS, Arial, sans-serif;"&gt;&lt;b&gt;Intelektualisme Mahasiswa &lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-top: 0.07in; margin-bottom: 0.07in;"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS, Arial, sans-serif;"&gt;Hakikat keberadaan kaum intelektual (mahasiswa) adalah kritisisme atau sikap kritis terhadap jagat realitas sekitar di mana ia berada. Kesadaran intelektual ini harus dapat mewujudkan gerakan yang kritis, independen, dan sosialis —dalam pengertian mau membela dan memihak kaum lemah tertindas. Sebab, kata Ali Syariati, misi suci kaum intelektual atau cendekiawan adalah membangkitkan dan membangun masyarakat bukan memegang kepemimpinan politik negara, dan melanjutkan kewajiban dalam membangun dan menerangi masyarakat hingga mampu memproduksi pribadi tangguh, kritis, independen, dan punya kepedulian sosial tinggi (1996).&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-top: 0.07in; margin-bottom: 0.07in;"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS, Arial, sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-top: 0.07in; margin-bottom: 0.07in;"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS, Arial, sans-serif;"&gt;Dalam bahasa Gramscian, kelompok itu disebut dengan intelektual organik, atau Moeslim Abdurrahman menyebutnya sebagai &lt;i&gt;subaltern intellectuals&lt;/i&gt;, intelektual akar rumput. Lapisan kritis &lt;i&gt;civil society&lt;/i&gt; yang bertindak sebagai artikulator anti-kemapanan dan ketidakadilan (2003). Kaum intelektual yang peka akan realitas sosial, problem ketidakadilan dan ketertindasan. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 0.2in;"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS, Arial, sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 0.2in;"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS, Arial, sans-serif;"&gt;Jika kaum intelektual diibaratkan roh dan kekuasaan adalah badan, sang roh selalu mengontrol tindakan si badan yang menyimpang dan merusak bebrayan agung alias kehidupan. Posisi kaum intelektual yang oposisional ini, bagi kekuasaan tidak hanya mengganggu, tetapi juga berpotensi menggagalkan cita-cita korupnya. Karena itu, kekuasaan berupaya menaklukkannya. Penaklukan bisa dengan cara kasar (membunuh hak-hak sipil/asasi atau membunuh secara fisik), bisa dengan halus merekrut intelektual dalam kekuasaan menjadi legitimator kekuasaan. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 0.2in;"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS, Arial, sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 0.2in;"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS, Arial, sans-serif;"&gt;Kendati demikian, sebagai elite intelektual, mahasiswa yang berasal dari dunia kampus kerap mengusung ide pembaharuan yang berdiri di atas pijakan idealisme dan moralitas. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 0.2in;"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS, Arial, sans-serif;"&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 0.2in;"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS, Arial, sans-serif;"&gt;&lt;b&gt;Mahasiswa Agen Perubahan&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 0.2in;"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS, Arial, sans-serif;"&gt;Secara faktual, mahasiswalah yang menjadi ujung tombak sekaligus &lt;i&gt;mainstream&lt;/i&gt; dari gerakan perubahan yang berlangsung di mana pun. Dengan nalar intelektualitasnya, mahasiswa mampu menemukan argumentasi rasional mengenai kondisi yang bobrok dan tidak sesuai dengan semangat konstitusi   atau nilai kemanusiaan. Hanya mahasiswa yang mampu menjadi pionir perubahan, sekaligus menjadi kekuatan yang paling ditakuti rezim penguasa despotik yang korup di belahan mana pun. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 0.2in;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 0.2in;"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS, Arial, sans-serif;"&gt;Tidak mengherankan, bagi Indonesia, gerakan mahasiswa menuntut perubahan, berlangsung pasang surut sejak 1966. Pemerintah Soekarno yang mengabaikan demokrasi, makzul oleh gerakan mahasiswa dan pemuda, pada 1966. Soeharto yang baru berkuasa secara &lt;i&gt;de-jure&lt;/i&gt;  empat tahun, harus menghadapi gelombang protes gerakan mahasiswa 1974. Sejak saat itu, Soeharto mengerangkeng mahasiswa yang telah memberikan kedudukan padanya. Gerakan mahasiswa, bangkit kembali 1977-1978 hingga mencapai puncaknya Mei 1998. Tuntutan reformasi nasional yang dikumandangkan mahasiswa, memicu kesadaran masyarakat untuk mendukung gerakan reformasi yang dimotori mahasiswa. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 0.2in;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 0.2in;"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS, Arial, sans-serif;"&gt;Pada saat itu, hanya mahasiswalah yang berani bersuara di bawah ancaman laras senjata dan berani melangkahkan kaki di bawah desingan peluru dan gas air mata. Lebih dari tiga puluh tahun di bawah rezim Soeharto, tidak ada perubahan yang berarti dalam demokrasi.  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-top: 0.07in; margin-bottom: 0.07in;"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS, Arial, sans-serif;"&gt;Konsekuensi sebuah proses yang demokratis adalah terbangunnya kehidupan masyarakat yang demokratis. Demokrasi menuntut berfungsinya kontrol sosial, partisipasi masyarakat, jaminan penegakan  hukum, terbukanya akses kegiatan ekonomi yang luas, perlindungan negara terhadap hak-hak individu, serta menempatkan militer sebagai alat negara yang tidak terlibat dalam urusan politik.   &lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-top: 0.07in; margin-bottom: 0.07in;"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS, Arial, sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-top: 0.07in; margin-bottom: 0.07in;"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS, Arial, sans-serif;"&gt;Mahasiswa sebagai &lt;i&gt;agent of&lt;/i&gt; &lt;i&gt;change&lt;/i&gt; (agen perubahan), selayaknya memendarkan kekuatan perubahan di tengah-tengah masyarakat. Dalam konteks ini, mahasiswa dituntut ikut andil mengubah prilaku pemimpin. Hampir sepuluh tahun lebih melewati masa transisi demokrasi (1998-2008), jarang kita menemukan hadirnya para politisi seperti Barack Obama yang berpolitik dengan ide/gagasan. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-top: 0.07in; margin-bottom: 0.07in;"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS, Arial, sans-serif;"&gt;Setelah Senator Barack Obama mengeluarkan buku &lt;i&gt;The Audacity of Hope&lt;/i&gt; (2006), masyarakat Amerika terhenyak ketika mereka baru sadar bahwa pekerjaan seorang senator tidak saja berdebat di ruang-ruang sidang, berorasi di hadapan para konstituen, melainkan juga bisa ikut memperkaya khasanah pengetahuan masyarakat lewat goresan kata-kata yang inspiratif. Buku berikutnya &lt;i&gt;From Promise to Power&lt;/i&gt; (2007) yang tulis David Mendell makin memberi keyakinan bahwa berpolitik tanpa ide dan gagasan sama artinya dengan memangku jabatan tanpa tanggungjawab. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-top: 0.07in; margin-bottom: 0.07in;"&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS, Arial, sans-serif;"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-top: 0.07in; margin-bottom: 0.07in;"&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS, Arial, sans-serif;"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;Adalah tanggungjawab sejarah generasi muda, khususnya mahasiswa, untuk senantiasa berjuang memperbaiki nasib bangsanya. Sebagian besar rakyat kita adalah masyarakat yang belum bebas dari kebodohan dan kemiskinan, dipundak mahasiswalah mereka menaruh harapan akan masa depan anak-anaknya agar hidup lebih baik di masa mendatang. Melalui kemampuan intelektualitas, seyogianya mahasiswa mampu menangkap perasaan rakyat akan pentingnya kesejahteraan dan demokrasi, yang adil dan merata, sebagai konsekuensi logis dari negara yang merdeka serta berdaulat.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-top: 0.07in; margin-bottom: 0.07in;"&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS, Arial, sans-serif;"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1009294533582344733-152035843299585151?l=indonimut.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://indonimut.blogspot.com/feeds/152035843299585151/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1009294533582344733&amp;postID=152035843299585151' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1009294533582344733/posts/default/152035843299585151'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1009294533582344733/posts/default/152035843299585151'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://indonimut.blogspot.com/2008/07/mahasiswa-dan-proyek-perubahan-pemimpin.html' title='Mahasiswa dan Proyek Perubahan Pemimpin'/><author><name>[A Qorib Hidayatullah]</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15367290909727515085</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_QWqh36EuAxs/SMw1P_rh7-I/AAAAAAAAAJo/W26QVuYW-Y4/S220/New+Image.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1009294533582344733.post-2713373523584780923</id><published>2008-06-11T15:32:00.000+07:00</published><updated>2008-06-11T15:35:44.891+07:00</updated><title type='text'>LESBUMI, Ikon Modernitas NU</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp0.blogger.com/_QWqh36EuAxs/SE-OQXX-pdI/AAAAAAAAAJM/khsxMrwZClk/s1600-h/cover+buku+Lesbumi.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 188px; height: 264px;" src="http://bp0.blogger.com/_QWqh36EuAxs/SE-OQXX-pdI/AAAAAAAAAJM/khsxMrwZClk/s320/cover+buku+Lesbumi.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5210539705694594514" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS, Arial, sans-serif;"&gt;Judul Buku  : LESBUMI: Strategi Politik Kebudayaan &lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS, Arial, sans-serif;"&gt;Penulis : Choirotun Chisaan  &lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS, Arial, sans-serif;"&gt;Penerbit : LKiS Jogja&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS, Arial, sans-serif;"&gt;Cetakan : I, Maret 2008&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS, Arial, sans-serif;"&gt;Tebal : xvi + 247 Halaman&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS, Arial, sans-serif;"&gt;Peresensi : A Qorib Hidayatullah*&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS, Arial, sans-serif;"&gt;Beragam judul buku bermunculan guna merekam gerak avonturus NU menjelang satu abad. Nur Khalik Ridwan misalnya, beberapa bulan silam ia membikin buku &lt;i&gt;NU dan Neoliberalisme: Tantangan dan Harapan Menjelang Satu Abad&lt;/i&gt; (2008). Nur Khalik merupakan penulis prolifik intelektual muda NU yang berijtihad literasi kreatif sebab prihatin akan tempaan nasib yang dialami organisasinya ke depan. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS, Arial, sans-serif;"&gt;Dalam bukunya, Nur Khalik membaca gejala amuk neoliberalisme yang ditengarai gampang meremuk-redamkan masa depan warga NU. Pendeknya, Nur Khalik melacak tantangan NU di masa mendatang. Berbeda dengan Nur Khalik, penulis buku ini, Choirotun Chisaan, malah bernostalgia hendak meraih ikon berharga NU yang kini lambat laun ditengarai terancam lenyap. Ikon itu adalah Lesbumi (Lembaga Seniman Budayawan Muslimin Indonesia) yang konon dielu-elukan sebagai penanda kemodernan di tubuh NU. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS, Arial, sans-serif;"&gt;Sejak menarik diri dari partai Masyumi tahun 1952, partai NU berupaya memodernisasi dirinya. Hal ini dibuktikan bahwa di tubuh partai NU pun memiliki perhatian&lt;i&gt; &lt;/i&gt;pada bidang pendidikan, dakwah, sosial, ekonomi, pertanian, perempuan, pemuda, dan buruh. Sehingga pada gilirannya, partai NU mulai merangsek ke bidang lainnya, yaitu Lesbumi. Lesbumi dibentuk pada tahun 1962. Berbagai macam artis, pelukis, bintang film, pemain pentas, dan sastrawan terhimpun di Lesbumi. Tak ayal, lembaga ini pun beranggotakan ulama yang memiliki dasar seni yang cukup baik.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS, Arial, sans-serif;"&gt;Kehadiran Lesbumi tak semulus yang diharapkan. Lembaga ini mengundang polemik dengan munculnya anggapan bahwa Lesbumi sebagai penggerogot martabat NU (hal 117). Ekses gerak kesenian Lesbumi berimplikasi memicu keresahan di kalangan ulama. Ulama berbeda perspektif (&lt;i&gt;ikhtilaf&lt;/i&gt;) menyikapi ihwal kesenian modern yang diusung Lesbumi. Misalnya, sikap ulama Pasuruan yang mengharamkan drama, sementara ulama Yogyakarta membolehkannya.   &lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS, Arial, sans-serif;"&gt;Kendati demikian, kesan kuat tampilnya Lesbumi di tubuh NU menjadikan penanda kemodernan penting, di mana seni budaya merupakan bidang fokus perhatian baru bagi NU. Bahkan, Pengurus Ranting NU Telogosari, Pasuruan, Jatim, lewat sebuah surat yang dilayangkan ke PBNU (PP Lesbumi) tertanggal 1 Maret 1963, menghendaki agar PP Lesbumi memberi tuntunan untuk melaksanakan kesenian dalam Islam selain kesenian &lt;i&gt;diba’&lt;/i&gt;, &lt;i&gt;hadrah&lt;/i&gt;, &lt;i&gt;jam’iyatul qurra’&lt;/i&gt;, dan pencak (hal 119). Mereka menginginkan agar bentuk kesenian modern, seperti gambus, drama, teater, dll, diberikan tuntunannya karena mereka tidak ingin ketinggalan zaman.        &lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS, Arial, sans-serif;"&gt;Di samping itu, Lesbumi sebagai ikon modernitas NU tentu tak luput dari siapa yang berperan dan terlibat aktif mengurusi lembaga ini. Pengurus-pengurus Lesbumi memiliki latar belakang berbeda dibanding warga NU kebanyakan. Bila berkomitmen merujuk Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga NU menyangkut keanggotaan,—baik sebelum NU menjadi partai politik (1926) maupun sesudahnya (1952)—, bisa dimafhumi bahwa seniman dan budayawan pun bebas leluasa bergabung dengan partai NU. Dengan begitu, seniman-budayawan dapat dikategorikan sebagai anggota “bukan guru agama” (ulama).      &lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS, Arial, sans-serif;"&gt;Citra Lesbumi memodernkan NU tak lepas dari personifikasi dari ketiga tokoh pendirinya: Djamaluddin Malik (1917-1970), Usmar Ismail (1921-1971), dan Asrul Sani (1927-2004). Lewat Lesbumilah NU mengekplorasi wujud relasi antara agama, seni, dan politik. Sebagai organisasi kebudayaan di bawah naungan NU, Lesbumi telah melakukan kompromi politik dan agama dalam konteks “kemusliman” melalui upaya pendefinisian seni-budaya “Islam.” &lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS, Arial, sans-serif;"&gt;Seperti hasil Musyawarah Besar yang diselenggarakan empat bulan pasca Lesbumi dibentuk, ialah merumuskan tiga hal pokok yang menjadi pedoman bagi kaum seni Lesbumi. Ketiga hal pokok itu meliputi penafsiran tentang kebudayaan Islam, seni Islam, dan seniman dan budayawan Islam. Tiga komponen asasi itu mencerminkan prinsip yang dianut kaum Lesbumi dengan menjadikan seni untuk mengabdi kepada Tuhan. Inilah titik penting yang membedakan Lesbumi dengan Lekra (Lembaga Kebudayaan Rakyat) PKI.                       &lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS, Arial, sans-serif;"&gt;Pendapat ekstrim mengemukakan bahwa muasal Lesbumi muncul terkait dengan faktor ekstern kedekatan hubungan antara Lekra dengan PKI. Dus, kelahiran Lesbumi merupakan bagian dari pola umum reaksi Lekra-PKI. Tujuannya ialah pendefinisian “agama”—tentu saja agama Islam—sebagai unsur mutlak dalam &lt;i&gt;nation-building&lt;/i&gt; yang sedang dijalankan oleh pemerintah Indonesia, khususnya di bidang kebudayaan. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS, Arial, sans-serif;"&gt;Kemunculan Lesbumi pun juga tak bisa dilepaskan dari momen politik dan momen budaya sekaligus. Lesbumi berkait-kelindan dengan momen politik ialah dikeluarkannya Manifesto Politik pada tahun 1959 oleh presiden Soekarno (hal 133). Di mana waktu itu, lagi gencar-gencarnya pengarusutamaan Nasakom dalam tata kehidupan sosio-budaya dan politik Indonesia, serta perkembangan Lekra yang makin menampakkan kedekatannya dengan PKI. Pada saat yang bersamaan, Lesbumi juga tak dapat dilepaskan dari momen budaya. Lesbumi dijadikan payung pemenuhan kebutuhan akan pendampingan pada kelompok-kelompok seni budaya di lingkungan &lt;i&gt;nahdhiyyin&lt;/i&gt; dan modernisasi seni-budaya. Hingga pada akhirnya, dengan latar belakang momen politik dan momen budaya itulah Lesbumi lahir dan berkembang.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS, Arial, sans-serif;"&gt;Pada sejarah zamannya, seni-budaya pesantren merupakan basis kultural Lesbumi, sehingga pesantren menemukan ruang sosio-kulturalnya dalam pentas budaya nasional. Kalau tidak berlebihan, kehadiran Lesbumi bisa dikatakan menjadi pendobrak fenomena seni-budaya pesantren yang lazim dipandang tradisional, kolot, kearab-araban, dan tak sejalan dengan modernitas.  &lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS, Arial, sans-serif;"&gt;Choirotun Chisaan lewat bukunya ini —di mana sebelumnya merupakan penelitian tesis S2-nya di Program Magister Religi dan Budaya, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta—, meneroka mengapa Lesbumi lenyap dari perbincangan sejarah seni-budaya dan politik di Indonesia. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS, Arial, sans-serif;"&gt;Buku ini memiliki data yang cukup matang. Seperti pengakuan penulis di dalam bukunya ini, riset pustaka tentang Lesbumi dilakukan hingga perpustakaan ARI dan NUS Singapura. Buku semacam ini tergolong langka hingga layak diapresiasi dengan membacanya. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1009294533582344733-2713373523584780923?l=indonimut.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://indonimut.blogspot.com/feeds/2713373523584780923/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1009294533582344733&amp;postID=2713373523584780923' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1009294533582344733/posts/default/2713373523584780923'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1009294533582344733/posts/default/2713373523584780923'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://indonimut.blogspot.com/2008/06/lesbumi-ikon-modernitas-nu.html' title='LESBUMI, Ikon Modernitas NU'/><author><name>[A Qorib Hidayatullah]</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15367290909727515085</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_QWqh36EuAxs/SMw1P_rh7-I/AAAAAAAAAJo/W26QVuYW-Y4/S220/New+Image.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp0.blogger.com/_QWqh36EuAxs/SE-OQXX-pdI/AAAAAAAAAJM/khsxMrwZClk/s72-c/cover+buku+Lesbumi.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1009294533582344733.post-1052358504147116386</id><published>2008-06-11T15:27:00.000+07:00</published><updated>2008-06-11T15:30:53.041+07:00</updated><title type='text'>Pesona Sang Kandidat Kulit Hitam</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp1.blogger.com/_QWqh36EuAxs/SE-NBi7yQtI/AAAAAAAAAJE/HpONY5DBiMQ/s1600-h/Cover+buku+Obama.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 186px; height: 239px;" src="http://bp1.blogger.com/_QWqh36EuAxs/SE-NBi7yQtI/AAAAAAAAAJE/HpONY5DBiMQ/s320/Cover+buku+Obama.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5210538351587902162" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS, Arial, sans-serif;"&gt;Judul Buku : OBAMA: Tentang Israel, Islam, dan Amerika&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS, Arial, sans-serif;"&gt;Penyusun : Taufik Rahman, dkk.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS, Arial, sans-serif;"&gt;Penerbit : Hikmah&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS, Arial, sans-serif;"&gt;Cetakan : I, April 2008&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS, Arial, sans-serif;"&gt;Tebal : xx + 281 Hal&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS, Arial, sans-serif;"&gt;Peresensi : A Qorib Hidayatullah*&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS, Arial, sans-serif;"&gt;Barack Obama, akhir-akhir ini popular dibincang publik Indonesia. Kandidat berkulit hitam yang bertanding dalam Pemilu AS 2008 itu disebut-sebut pernah tinggal dan sekolah di Jakarta pada 1967-1971. Hal inilah yang menyuntikkan daya kuat ikatan emosional publik Indonesia dengan Barack Obama. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS, Arial, sans-serif;"&gt;Di Indonesia, Obama tercatat pernah menuntut ilmu di Sekolah Dasar Negeri (SDN) Menteng 01 yang terletak di jalan Besuki nomor 4 Jakarta Pusat. Sekolah ini, didirikan oleh Belanda pada 1934 dan diserahterimakan kepada pemerintah Republik Indonesia pada 1961. Sehingga bila orang Indonesia diperkenankan memilih, maka Barack Obama yang akan menjadi presiden negara adidaya itu. Paling tidak itulah yang terjadi dalam simulasi pemilihan presiden AS di Kedutaan Besar Amerika pada Februari lalu. Simulasi itu melibatkan mahasiswa, pengamat politik dan hubungan internasional, serta aktivis organisasi nonpemerintah Indonesia.  &lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS, Arial, sans-serif;"&gt;Obama adalah sosok pemimpin penuh daya pikat. Kepribadiannya yang menarik serta lihai beradaptasi dengan siapa pun menjadikan dirinya mudah diterima publik AS hingga menghantarkannya sebagai senator Illinois. Georgey Clooney menyebut Obama, yang lahir di Honolulu, Hawaii, pada 4 Agustus 1961, punya kualitas yang orang tak bisa mengajarkannya dan mempelajarinya. “Dia masuk ke satu ruangan dan kau ingin mengikutinya ke suatu tempat, di mana pun,” kata Clooney.   &lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS, Arial, sans-serif;"&gt;Sebagian dari bukti daya tarik itu tampak, misalnya, dari terus berderetnya barisan orang-orang ternama, para selebritas, yang tampil menjadi pendukung: Oprah Winfrey (&lt;i&gt;host&lt;/i&gt; acara televisi), Edward Norton, Will Smith, George Clooney, Rob Reiner, Matt Damon, dan Ben Afflek (aktor; sutradara), Warren Buffet (investor; orang terkaya di dunia), Steven D. Levitt (penulis buku laris &lt;i&gt;Freakonomics&lt;/i&gt;), dan lain-lain.             &lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS, Arial, sans-serif;"&gt;Komitmen gigih mengabdi kepada negara dan menciptakan perdamaian di AS serta menjunjung tinggi demokrasi, menyebabkan Obama mendulang banyak kepercayaan dari warga AS. Dari apa yang berlangsung dalam rangkaian pemilihan tahap awal, pemilihan untuk menentukan kandidat tunggal di lingkungan Partai Demokrat sendiri, bisa disaksikan betapa Obama bagaikan magnet yang berkekuatan luar biasa besar. Dia membuat saingan terkuatnya, Hillary Clinton, istri mantan presiden Bill Clinton dan senator dari Negara Bagian New York itu, kelimpungan. Pencalonan Obama diyakini mengandung potensi transformatif.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS, Arial, sans-serif;"&gt;Melirik substansi dan spektrum ide-ide yang ditawarkannya, Rizal Mallarangeng —pengamat politik di Indonesia jebolan &lt;i&gt;Ohio State University&lt;/i&gt; AS—menempatkan Obama sebagai politikus moderat dalam tradisi liberal Amerika. Ia merelikui tradisi politik yang dirintis Bill Clinton dan Tony Blair. Hal itu membedakan Obama dengan para politisi kulit hitam yang cenderung memilih garis ekstrim, baik di kiri (Jesse Jackson) maupun di kanan (Alan Keyes). &lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS, Arial, sans-serif;"&gt;Obama hendak memberi kesan bahwa dirinya cenderung mempraktikkan politik jalan tengah. Misalnya, di bidang pembangunan ekonomi Amerika, Obama mengakui pentingnya mekanisme pasar, namun tetap ingin mengembangkan peran negara yang sehat dan efektif. Dalam bidang kehidupan keagamaan, ia bersimpati terhadap kaum konservatif, namun ia memahami betul bahwa tradisi sekulerisme Amerika adalah tradisi sakral yang harus terus diperkuat. Atau dalam menjembatani perbedaan kaum Demokrat dan kaum Republikan, ia ingin membangun sebuah konsensus bersama yang mempertemukan secara kreatif pandangan-pandangan yang berbenturan (hlm. 22-23).           &lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS, Arial, sans-serif;"&gt;Meski Obama secara kasat mata memiliki masa depan karier politik yang cerah, namun rival-rival politiknya tak kalah hebat untuk menjatuhkannya. Lawan politik Obama sering mempersamakan nama lengkapnya —Barack Hussein Obama, dengan dua tokoh yang sangat dimusuhi pemerintahan Amerika, Osama bin Laden dan Saddam Hussein. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS, Arial, sans-serif;"&gt;Selain itu, enigma  keislaman Obama menjadi lahan sasaran empuk musuh politiknya. Seperti yang dilakukan Judy Rose, koordinator relawan kampanye Hillary Clinton, yang mengirim &lt;i&gt;email&lt;/i&gt; berantai dengan menyebut Barack Obama adalah seorang Muslim yang ingin menghancurkan Amerika Serikat (AS). Dengan begitu, Obama langsung dan secara tegas menyatakan bahwa dirinya adalah seorang Kristen dan tidak pernah menjadi Muslim. Dia disumpah di bawah Injil ketika menjadi senator untuk mewakili daerah pemilihan Illinois. Dan sejak awal dia adalah anggota &lt;i&gt;United Church of Christ&lt;/i&gt;, sebuah gereja Protestan yang dikenal sangat liberal.  &lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS, Arial, sans-serif;"&gt;Yang jelas, Obama kini menjadi tumpuan harapan banyak orang, baik warga AS sendiri maupun warga negara lain. Seperti yang ditulis Abdillah Toha —anggota komisi I Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI—, dalam kata pengantar untuk buku ini, bahwa Obama dan Hillary Rodham Clinton diharap menjadi alternatif positif karena telah rajin melancarkan kritik kepada kebijakan luar negeri Bush.   &lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS, Arial, sans-serif;"&gt;Hingga kini masih jadi teka-teki siapa yang nantinya akan menggantikan posisi George W. Bush.  Namun, pemilih calon presiden AS mungkin bisa menggunakan penemuan yang dirilis grafolog sebagai bahan pertimbangan. Grafolog adalah ilmu membaca sifat seseorang berdasar tulisan tangan. Beberapa grafolog telah merilis hasil analisis tentang kepribadian Barack Obama, Hillary Clinton, John McCain berdasar tulisan tangan mereka. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS, Arial, sans-serif;"&gt;Hasilnya, disimpulkan bahwa Hillary adalah orangnya cerdas dan tegas, McCain sombong dan mudah berubah pendirian, sedangkan Obama mampu menyesuaikan diri dengan berbagai orang dan situasi. Cukup dengan tanda tangan dari tiga kandidat itu saja, kepribadian mereka dapat disimpulkan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS, Arial, sans-serif;"&gt;Meski grafolog bukan merupakan hal yang dianggap serius di AS maupun Eropa, bukan berarti tidak ada yang berminat dengan analisis mereka. Setiap ada pemilihan presiden AS, para grafolog selalu merilis analisis tulisan tangan kandidat calon presiden untuk memuaskan rasa ingin tahu pemilih.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS, Arial, sans-serif;"&gt;Buku ini, selain memaparkan kisah masa kecil Obama di Jakarta, juga menampilkan sosok Obama dewasa. Penulisnya tak ingin pembaca hanya disuguhi perjalanan hidup Obama, tapi bagaimana Obama agar dikenal luar dalam.    &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1009294533582344733-1052358504147116386?l=indonimut.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://indonimut.blogspot.com/feeds/1052358504147116386/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1009294533582344733&amp;postID=1052358504147116386' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1009294533582344733/posts/default/1052358504147116386'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1009294533582344733/posts/default/1052358504147116386'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://indonimut.blogspot.com/2008/06/pesona-sang-kandidat-kulit-hitam.html' title='Pesona Sang Kandidat Kulit Hitam'/><author><name>[A Qorib Hidayatullah]</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15367290909727515085</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_QWqh36EuAxs/SMw1P_rh7-I/AAAAAAAAAJo/W26QVuYW-Y4/S220/New+Image.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp1.blogger.com/_QWqh36EuAxs/SE-NBi7yQtI/AAAAAAAAAJE/HpONY5DBiMQ/s72-c/Cover+buku+Obama.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1009294533582344733.post-1515614592453962488</id><published>2008-05-01T18:15:00.004+07:00</published><updated>2008-05-01T18:18:53.375+07:00</updated><title type='text'>Kedahsyatan Talk Show Kick Andy</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp3.blogger.com/_QWqh36EuAxs/SBmmo3PFKOI/AAAAAAAAAI8/yfdZULcnbHE/s1600-h/cover+buku+kick+andy.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 179px; height: 262px;" src="http://bp3.blogger.com/_QWqh36EuAxs/SBmmo3PFKOI/AAAAAAAAAI8/yfdZULcnbHE/s320/cover+buku+kick+andy.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5195366866100758754" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS,Arial,sans-serif;"&gt;Judul Buku : KICK ANDY: Kumpulan Kisah Inspiratif&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS,Arial,sans-serif;"&gt;Penulis : Gantyo Koespradono&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS,Arial,sans-serif;"&gt;Penerbit : Bentang &lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS,Arial,sans-serif;"&gt;Cetakan : I, Maret 2008&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS,Arial,sans-serif;"&gt;Tebal : x + 274 hlm&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS,Arial,sans-serif;"&gt;Peresensi : A Qorib Hidayatullah*&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS,Arial,sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS,Arial,sans-serif;"&gt;Di tengah semarak tontonan layar kaca dinilai hanya tayangan murahan, tak mendidik dan mengajarkan hidup konsumtif serta primitif, Kick Andy menampilkan tayangan berbeda. Berdasar &lt;i&gt;The Power of Kick Andy&lt;/i&gt;, acara ini hendak memelopori stasiun televisi agar menyajikan program yang bermutu. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS,Arial,sans-serif;"&gt;Tak dimungkiri, banyak stasiun televisi menyiarkan tayangan-tayangan yang hanya menuhankan &lt;i&gt;rating&lt;/i&gt;, sehingga pernah ada masa di mana acara misteri menjadi program unggulan. Mengomentari acara-acara televisi yang seperti itu, seorang anggota masyarakat dalam sebuah &lt;i&gt;blog&lt;/i&gt; menulis seperti ini: “Saya saat berkeluarga nanti dan jika siaran televisi kita belum juga berubah atau lebih buruk, lebih baik saya membawa keluarga dan anak-anak saya pulang kampung dan tinggal di pedalaman di mana tidak tercemar dengan siaran-siaran ‘sampah’ yang ada di televisi Indonesia. Benar, saya sudah sangat muak.”   &lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS,Arial,sans-serif;"&gt;Belakangan ini, selain sinetron, tak sedikit stasiun televisi kita yang menayangkan acara-acara kuis berbau judi yang memotivasi orang untuk mendapatkan kekayaan dengan jalan pintas. Apalagi acara &lt;i&gt;infotainment&lt;/i&gt;, jangan ditanya lagi. Program gosip-menggosip para artis ini mengambil porsi waktu paling besar dari jam tayang stasiun televisi kita. Bayangkan, ada sebuah stasiun televisi yang menayangkan seri acara seperti itu pada pagi buta, siang, sore, dan malam. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS,Arial,sans-serif;"&gt;Sebagai &lt;i&gt;talk show&lt;/i&gt; yang masuk peringkat 20 besar top program Metro TV, topik-topik Kick Andy sering menyentak pemirsa karena kerap menampilkan peristiwa masa lalu yang sudah dilupakan banyak orang. Kick Andy awalnya hanya sebuah kerinduan yang diwacanakan oleh bos Metro TV, Surya Paloh, yang ingin mendayagunakan kemampuan Andy F Noya (akrab dipanggil Andy) untuk tampil apa adanya di layar kaca. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS,Arial,sans-serif;"&gt;Di mata Surya Paloh, Andy yang suaranya biasa-biasa saja, bahkan cenderung cempreng, punya kemampuan luar biasa, terutama dalam menggali informasi yang “disembunyikan” narasumber. Dalam pengalamannya memandu acara &lt;i&gt;talk show&lt;/i&gt; Today’s Dialogue di Metro TV, para narasumber —umumnya para politikus dan pejabat— kerap dibuat tak berdaya saat harus menjawab pertanyaan-pertanyaan Andy yang selalu menukik pada sasaran yang jawabannya ditunggu-tunggu pemirsa.  &lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS,Arial,sans-serif;"&gt;Lewat suntikan semangat gigih dari para tim kreatif Kick Andy yang berjumlah 13 orang, akhirnya menghantarkan acara ini mendapat tempat sambutan luar biasa di hati penontonnya. Meski tayangan Kick Andy juga menjunjung semangat idealisme, acara ini pun ternyata laku dijual. Tak ayal, setiap Kamis pukul 22.05-23.00 WIB penonton setianya bersigegas memindah &lt;i&gt;channel&lt;/i&gt; TV ke Metro TV guna menonton &lt;i&gt;live&lt;/i&gt; acara Kick Andy. Tayangan-tayangan Kick Andy yang sarat inspirasi serta motivasi, memagnet penontonnya agar tak melulu menonton dengan mata dan pikiran saja tapi juga dengan hati. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS,Arial,sans-serif;"&gt;Berkat kenyentrikannya saat jadi &lt;i&gt;host&lt;/i&gt; di Today’s Dialogue, Andy pun ditahbis pemimpin Metro TV untuk memandu langsung Kick Andy. Andy memiliki nama lengkap Andy Flores Noya, pria berambut khas kribo kelahiran Surabaya. Andy mengaku merasa jatuh cinta pada dunia tulis-menulis mulai sejak kecil. “Kemampuan menggambar kartun dan karikatur semakin membuat saya memilih dunia tulis-menulis sebagai jalan hidup saya,” kata Andy (hlm 40). &lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS,Arial,sans-serif;"&gt;Di bidang jurnalisk, beragam media cetak (koran) dan media elektronik (televisi) ia gawangi. Berbekal pengetahuan jurnalistik yang ia timba di Sekolah Tinggi Publisistik (sekarang Institut Ilmu Sosial dan Politik Jakarta) menjadikan karir jurnalistiknya melesat cepat. Dan ketangkasan Andy di bidang jurnalistik itu membuat acara Kick Andy semakin hidup. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS,Arial,sans-serif;"&gt;Persis seperti komentar-komentar para tokoh yang menjadi narasumber Kick Andy. Misalnya, pendapat Gus Dur, yang mengatakan keistimewaan Kick Andy terletak pada gaya Andy mewawancarai dengan pertanyaan yang menantang. Sedangkan Aa Gym mengomentari Kick Andy merupakan &lt;i&gt;talk show &lt;/i&gt;yang amat manusiawi dan menyentuh hati karena dalam bahasa dan caranya menggunakan hati. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;   &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS,Arial,sans-serif;"&gt;Sesuai dengan karakter dan gaya Andy saat memandu Today’s Dialogue, Kick Andy memang harus nakal, nyentil, nyindir, tajam namun tidak menyakitkan narasumber. Berbeda dengan Today’s Dialogue yang banyak memasuki wilayah politik, Kick Andy menyajikan topik-topik sosial, kesehatan, pendidikan, budaya, dan masalah kemasyarakatan lainnya. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS,Arial,sans-serif;"&gt;Seperti kisah-kisah yang telah ditayangkan dan terhimpun rapi di buku ini dari episode ke episode, &lt;i&gt;“Cantik dengan Plastik”&lt;/i&gt;, “&lt;i&gt;Jangan Bugil di Depan Kamera!”, “Tragedi Itu Tetap Misteri”, “Pengakuan Mayor Alfredo”, “Republik Benar-benar Mabok”, “Xanana Gusmao”, “Pergolakan Batin Sang Model”, “Tragedi Anak Bangsa”, “Sepenggal Asa di Balik Terali”,&lt;/i&gt; dll.   &lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS,Arial,sans-serif;"&gt;Kick Andy dirancang untuk memberikan inspirasi bagi penonton. Misalnya mereka yang cacat tidak merasa terbatas dengan cacatnya, tidak merasa hidupnya hancur. Sebaliknya malah justru berprestasi, sehingga memotivasi penonton untuk juga memiliki semangat hidup dan daya juang tinggi.          &lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS,Arial,sans-serif;"&gt;Bahkan, Andy pun sebagai &lt;i&gt;host&lt;/i&gt; sempat turut larut saat acara yang dipandunya mengangkat topik kekerasan pada anak-anak dan remaja di sekolah (&lt;i&gt;bullying&lt;/i&gt;). Andy menangis mendengar penuturan Joko Kirsan. Joko adalah ayah Vivi Kusrini, seorang pelajar putri, siswi SMP 10 Bantar Gebang, Bekasi, yang diejek teman-teman sekolahnya lantaran ayahnya penjual bubur. Andy menangis karena teringat ayahnya yang juga “hanya” tukang servis mesin tik (hlm 38).&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;   &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS,Arial,sans-serif;"&gt;Buku ini, &lt;i&gt;Kick Andy: Kumpulan Kisah Inspiratif&lt;/i&gt; diniati telah lama oleh Gantyo Koespradono agar cepat kelar dalam penulisannya. Kehadiran buku ini sangat cocok untuk mahasiswa komunikasi, praktisi jurnalistik, pengamat komunikasi, dan siapa saja yang ingin menonton dengan hati. Kisah-kisah yang disajikan dalam buku ini mudah membikin pembaca mengucurkan air mata. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1009294533582344733-1515614592453962488?l=indonimut.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://indonimut.blogspot.com/feeds/1515614592453962488/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1009294533582344733&amp;postID=1515614592453962488' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1009294533582344733/posts/default/1515614592453962488'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1009294533582344733/posts/default/1515614592453962488'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://indonimut.blogspot.com/2008/05/kedahsyatan-talk-show-kick-andy.html' title='Kedahsyatan Talk Show Kick Andy'/><author><name>[A Qorib Hidayatullah]</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15367290909727515085</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_QWqh36EuAxs/SMw1P_rh7-I/AAAAAAAAAJo/W26QVuYW-Y4/S220/New+Image.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp3.blogger.com/_QWqh36EuAxs/SBmmo3PFKOI/AAAAAAAAAI8/yfdZULcnbHE/s72-c/cover+buku+kick+andy.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1009294533582344733.post-9146614887295221698</id><published>2008-05-01T18:01:00.000+07:00</published><updated>2008-05-01T18:14:31.990+07:00</updated><title type='text'>Potret Kegagalan Pemimpin Indonesia</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp0.blogger.com/_QWqh36EuAxs/SBml8HPFKNI/AAAAAAAAAI0/SmY4LJKRHYk/s1600-h/cover+buku+catatan+hitam+lima+presiden.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 159px; height: 244px;" src="http://bp0.blogger.com/_QWqh36EuAxs/SBml8HPFKNI/AAAAAAAAAI0/SmY4LJKRHYk/s320/cover+buku+catatan+hitam+lima+presiden.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5195366097301612754" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;p style="margin-left: 1.5in; text-indent: -1.5in; margin-bottom: 0in;"&gt; &lt;span style="font-family:Trebuchet MS, Arial, sans-serif;"&gt;Judul Buku : Catatan Hitam Lima Presiden Indonesia:&lt;i&gt; Sebuah Investigasi 1997-2007, Mafia ekonomi, dan Jalan Baru Membangun Indonesia&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS, Arial, sans-serif;"&gt;Penulis : Ishak Rafick&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS, Arial, sans-serif;"&gt;Penerbit : Ufuk Press&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS, Arial, sans-serif;"&gt;Cetakan : I, Februari 2008&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS, Arial, sans-serif;"&gt;Tebal : xx + 422 Halaman &lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS, Arial, sans-serif;"&gt;Peresensi  : A Qorib Hidayatullah*&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS, Arial, sans-serif;"&gt;Bung Karno pernah mengungkap, &lt;i&gt;“jangan sekali-kali meninggalkan sejarah”&lt;/i&gt;.  Kalimat itu perlu dihadirkan terus-menerus dalam helat kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia ini. Negara ini bisa bangkit maju, keluar dari belitan masalah, tentu tak luput dari pembacaan sejarah kegagalan dari lima pemimpin Indonesia. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS, Arial, sans-serif;"&gt;Bermula pada bulan Juli 1997, ditengarai awal munculnya krisis moneter (krismon) yang menyebabkan nilai tukar rupiah mengempis terhadap US$. Keadaan itu membikin khawatir banyak orang. Pelaku bisnis yang sebelumnya mengandalkan utang luar negeri, berubah makhluk yang paling cemas. Sebab setelah kekuatan intervensi ditambah, nilai rupiah langsung masuk ke jurang yang semakin lebar. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS, Arial, sans-serif;"&gt;Keadaan itu, mendesak para pengamat ekonomi untuk memetakan dan melakukan analisis, mengapa Indonesia gagal tinggal landas setelah 32 tahun Orde Baru. Dan, bagaimana konsepsi peranan dan ketangguhan negara serta koorporasi dalam menghadapi gejolak krisis baik pada tahap awal maupun pasca krisis. Buku ini, &lt;i&gt;Catatan Hitam Lima Presiden Indonesia: Sebuah Investigasi 1997-2007, Mafia ekonomi, dan Jalan Baru Membangun Indonesia&lt;/i&gt;, karya Ishak Rafick, mengupas kegagalan-kegagalan yang dilakukan pemimpin-pemimpin Indonesia.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS, Arial, sans-serif;"&gt;Krismon, teramal sejak awal oleh pakar-pakar ekonomi semacam Managing Director Econit, waktu itu Dr. Rizal Ramli, pengamat ekonomi kritis Kwik Kian Gie, dan Fu’ad Bawazier —mantan Dirjen Pajak yang kemudian diangkat Soeharto menjadi Menteri Keuangan pada Kabinet Pembangunan VII. Namun, suara-suara pakar itu tersaingi oleh suara-suara lain yang lebih lantang —baik di dalam kabinet maupun di luar. Suara-suara yang lantang itulah akhirnya malah memberi semangat pemerintah untuk ikut saran IMF. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS, Arial, sans-serif;"&gt;Padahal, kebijakan ekonomi nasional yang melulu berkiblat pada IMF, tampak memperjelas bahwa negara Indonesia hampa ideologi, digilas habis dominasi pragmatisme. Pemimpin-pemimpin Indonesia ditengarai hanya mempertontonkan keadaan negaranya yang lemah visi, sehingga tak ada pilihan lain selain memperkukuh dominasi IMF dan Bank Dunia. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS, Arial, sans-serif;"&gt;Selain itu, semakin patuh pada pola pikir IMF, membuktikan bahwa elit pengambil kebijakan ekonomi bangsa ini tak kreatif dan memiliki ketergantungan mental dan intelektual sangat kuat terhadap hutang dan pola pikir IMF yang sangat monetaris. Di titik inilah, pemerintah diharap mampu mengembalikan kedaulatan ekonomi dan berupaya menghindari peranan yang sangat besar dari lembaga-lembaga internasional —IMF dan Bank Dunia— dalam  menentukan arah dan kebijakan ekonomi nasional.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS, Arial, sans-serif;"&gt;Dalam konteks itulah, pelajaran menarik saat kita menilik krisis ekonomi yang melanda Asia pada pertengahan 1997. Di mana, negara-negara Asia Timur dan Tenggara justru memanfaatkan krisis ekonomi sebagai momentum historis dengan melakukan berbagai langkah perbaikan struktural. Mahathir misalkan, dengan sadar menolak resep IMF karena pasti akan menimbulkan gejolak ekonomi dan politik di Malaysia.  Sementara di Singapura, malah melanjutkan tradisi berpikir Goh Keng Swee (arsitek ekonomi Singapura) yang kritis terhadap dampak negatif dari kapitalisme predatori. Mengambil langkah-langkah penguatan lembaga keuangan dalam negeri dan perbaikan &lt;i&gt;corporate governance&lt;/i&gt; guna meredam badai krisis moneter. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS, Arial, sans-serif;"&gt;&lt;b&gt;Matinya Ideologi Pemilu&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS, Arial, sans-serif;"&gt;Selain tajam menganalisis problem krisis moneter yang menimpa bangsa ini, Ishak Rafick —dalam bukunya ini— juga melakukan pembacaan kritis atas dinamika politik pemilu 1999 dan pemilu 2004. Berdasar argumentasi kuat, Ishak menarik kesimpulan yang tepat tentang kematian ideologi pemilu dalam percaturan politik di Indonesia. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS, Arial, sans-serif;"&gt;Ternyata pasca Soeharto makzul, ada ruang kosong demokratisasi yang dengan gesit diambil alih oligarki politik serta ekonomi yang tumbuh pada masa Orde Baru. Jangan aneh, bila transisi dari sistem otoriter ke sistem demokratis tidak membawa manfaat besar pada kemajuan negara maupun kesejahteraan rakyat. Jamak diketahui, proses pemilu atau pun pilkada sangat diwarnai dan didominasi oleh politik uang. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS, Arial, sans-serif;"&gt;Apabila kecenderungan itu terus berlanjut, maka akan timbul pertanyaan, apakah demokrasi bermanfaat untuk rakyat mayoritas. Seperti yang dikatakan Ishak, matinya ideologi dalam proses politik Indonesia merupakan salah satu penyebab utama komersialisasi dan dominasi politik uang dalam proses demokrasi di Indonesia.         &lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;  &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS, Arial, sans-serif;"&gt;&lt;b&gt;Jalan Baru&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS, Arial, sans-serif;"&gt;Tak dapat dimungkiri, masa depan negara dan bangsa ini sekarang berada di titik nadir. Tanpa perjuangan Kabinet Indonesia bersatu SBY-JK, dapat dipastikan nasib rakyat semakin memburuk. Gejalanya mulai tampak bernas, merebaknya pengangguran, busung lapar, kurang gizi, meningkatnya angka putus sekolah, bencana alam, serta berbagai penyakit ringan yang merenggut nyawa —cuma karena si sakit tak punya biaya untuk berobat. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS, Arial, sans-serif;"&gt;Bila negara-negara maju mampu memberikan asuransi kesehatan kepada segenap rakyatnya dan dunia pendidikan dibikin gratis, bahkan diguyur beasiswa sebagai investasi masa depan, tentu rakyat Indonesia juga berhak mendapat perlakuan serupa dari pemerintahnya. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS, Arial, sans-serif;"&gt;Buku ini sangat manantang pikiran sekaligus menggugah nurani. Lewat ketangkasan Ishak Rafick —sebagai wartawan senior— yang telah lama bergelut di dunia jurnalistik, mampu menyampaikan topik berat dalam buku ini secara ringan. Bagaimana pun, buku ini telah berkontribusi besar demi kecerdasan para pengambil kebijakan —utamanya di bidang ekonomi— dengan tidak lagi terjerumus dalam neoliberalisme kebijakan.   &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1009294533582344733-9146614887295221698?l=indonimut.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://indonimut.blogspot.com/feeds/9146614887295221698/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1009294533582344733&amp;postID=9146614887295221698' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1009294533582344733/posts/default/9146614887295221698'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1009294533582344733/posts/default/9146614887295221698'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://indonimut.blogspot.com/2008/05/potret-kegagalan-pemimpin-indonesia.html' title='Potret Kegagalan Pemimpin Indonesia'/><author><name>[A Qorib Hidayatullah]</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15367290909727515085</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_QWqh36EuAxs/SMw1P_rh7-I/AAAAAAAAAJo/W26QVuYW-Y4/S220/New+Image.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp0.blogger.com/_QWqh36EuAxs/SBml8HPFKNI/AAAAAAAAAI0/SmY4LJKRHYk/s72-c/cover+buku+catatan+hitam+lima+presiden.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1009294533582344733.post-3646618649840977716</id><published>2008-04-10T06:29:00.000+07:00</published><updated>2008-04-10T06:34:04.536+07:00</updated><title type='text'>Wajah Timur Tengah di Indonesia</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp3.blogger.com/_QWqh36EuAxs/R_1SFyRBrFI/AAAAAAAAAIs/QNoZClgF8qE/s1600-h/cover+buku+jejak+kafilah.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 165px; height: 226px;" src="http://bp3.blogger.com/_QWqh36EuAxs/R_1SFyRBrFI/AAAAAAAAAIs/QNoZClgF8qE/s320/cover+buku+jejak+kafilah.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5187392605146688594" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;     &lt;p style="margin-bottom: 0cm;"&gt; &lt;span style="font-family:Trebuchet MS, Arial, sans-serif;"&gt;Judul Buku : Jejak Kafilah: Pengaruh Radikalisme Timur Tengah di Indonesia&lt;br /&gt;Penulis : Greg Fealy dan Anthony Bubalo&lt;br /&gt;Penerbit : Mizan&lt;br /&gt;Cetakan : I, Desember 2007&lt;br /&gt;Tebal : 202 hal&lt;br /&gt;Peresensi : A Qorib Hidayatullah&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm;"&gt; &lt;/p&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS, Arial, sans-serif;"&gt;Islam yang sejatinya berwajah lembut serta penuh sentuhan kasih sayang berubah garang kerap menampilkan kekerasan. Islam kini ditengarai pelepas pelatuk terorisme. Beragam kampanye menyeru perlunya curiga pada aktivisme muslim. Benarkah Islam demikian?&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;"&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS, Arial, sans-serif;"&gt;Islam adalah agama berisalahkan perdamaian serta cinta kasih. Pun Islam —juga agama lainnya—, terlahir sebagai agama rahmat bagi semua telah teruji kesahihannya. Hanya keterlibatan faktor lain yang begitu kompleks menjadi penentu terjadinya itu semua. Di Indonesia misalnya, di mana segala biang radikalisasi tertuju pada Islam patut diklarifikasi secepat mungkin. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;"&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS, Arial, sans-serif;"&gt;Buku ini, &lt;i&gt;Jejak Kafilah: Pengaruh Radikalisme Timur Tengah di Indonesia&lt;/i&gt;, memberi kesaksian lewat argumentasi kuat atas tindak kekerasan yang belatar belakang aktivis muslim Indonesia. Dalam Islam, gerak gagasan ber-&lt;i&gt;amar&lt;/i&gt; &lt;i&gt;ma’ruf nahi munkar&lt;/i&gt; ialah Islamisme. Islamisme semacam paham diskursus yang berkembang tentang hubungan antara Islam, politik, dan masyarakat. Penting dipahami, bahwa Islamisme tak sekadar ihwal ide-ide yang berkembang dan berubah sepanjang masa, tapi juga momen-momen historis bilamana ide-ide itu bekerja.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;"&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS, Arial, sans-serif;"&gt;Menguak akar semangat Islamisme dilahirkan, yaitu bertujuan demi kebangkitan atau pembaruan Islam. Islamisme sebagai pemantik ide sentral yang mengilhami Dunia Islam saat tengah berada dalam kemunduran dan bagaimana harus dibenahi. Ruh paham itulah, oleh kelompok besar Islamis diserap langsung dari Ikhwanul Muslimin Mesir sebagai inspirasi dengan menjadikan warisan tradisi revivalis-reformis yang berniat menggerakkan perkembangan sejarah Islam.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;"&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS, Arial, sans-serif;"&gt;Tengok misalkan, dua gerakan revivalis yang khususnya menyediakan konteks bagi perkembangan Islamisme kontemporer di Timur Tengah (TT). Suatu gerakan yang berawal pada abad ke-18 dari Muhammad ibn Abd al-Wahab (1703-1787) di Arabia Tengah; dan gerakan pada abad ke-19 dan ke-20 yang dipimpin tiga jawara pemikir Islam: Jamal al-Din al-Afghani (1839-1897), Muhammad Abduh (1849-1905), serta Rasyid Ridha (1865-1935). &lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;"&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS, Arial, sans-serif;"&gt;Perubahan konkret yang diusung Ibn Abd Wahab, hendak menggerus tradisi pra-Islam dan praktik lokal suku-suku Badui di Arabia Tengah yang “menodai” kemurnian Islam (hal 30). Begitu pun perubahan al-Afghani, Abduh, dan Ridha, yang saat itu berhadapan dengan disparitas kekuatan tajam antara Eropa dan TT. Mereka dirundung kekhawatiran hebat, pesimis temukan solusi cemerlang bagaimana Dunia Islam yang mundur dapat terus melawan menyerap kemajuan Barat dalam hukum, industri, serta teknologi militer. Bagi al-Afghani, kuncinya tidak dengan mengadopsi ide-ide Barat secara membebek (epigon). &lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;"&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS, Arial, sans-serif;"&gt;Dalam benak para jurnalis dan pejabat pemerintah Barat yang bekerja di Indonesia, merebaknya terorisme adalah bukti “efek domino” Islam TT ke Nusantara. Keberadaan kelompok teroris (yang berbasis di Indonesia)  sudah terbukti. Pelopor yang memopulerkan terorisme di antara mereka adalah Jama’ah Islamiyah (JI). Tak diragukan lagi, secara idelogis, ada pengaruh TT terhadap JI. Dalam dokumen-dokumen resmi JI, figur-figur TT —baik figur kontemporer maupun figur lampau— memiliki tempat terhormat dalam organisasi ini. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;"&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS, Arial, sans-serif;"&gt;&lt;b&gt;Pengaruh Politik TT&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;"&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS, Arial, sans-serif;"&gt;Orang Indonesia kerap mencari pengetahuan dan inspirasi dari TT, lalu mereka mengetrapkan pengetahuan itu dalam cara “lokal” yang otomatis berbeda dengan “sumbernya”. Pengkaji memandang fenomena ini sebagai kecerdasan adaptif orang-orang Indonesia, terampil meracik yang lama dengan yang baru guna mencipta sintesis keagamaan supaya kaya.           &lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;"&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS, Arial, sans-serif;"&gt;Ada dua hal yang menjadi gamblang saat mempertimbangkan transmisi ide-ide Islamis dari TT ke Indonesia. &lt;i&gt;Pertama&lt;/i&gt;, transmisi ide-ide tersebut sebagian besar berlangsung satu arah: dari TT ke Indonesia. Orang Indonesia mencari audiens bagi karya mereka di TT, namun kenyataannya, sebagian besar orang Arab menganggap Asia Tenggara sebagai pinggiran intelektual Dunia Islam. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;"&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS, Arial, sans-serif;"&gt;&lt;i&gt;Kedua&lt;/i&gt;, transmisi Islamisme ke Indonesia memiliki beberapa faktor penarik maupun faktor pendorong. Banyak muslim Indonesia aktif menuntut ilmu ke TT, baik sebagai pelajar atau mahasiswa. Tercatat lebih dari 20.000 orang Indonesia tinggal di TT. Mayoritas mereka adalah pekerja, meskipun proporsi signifikannya adalah mahasiswa.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;"&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS, Arial, sans-serif;"&gt;Janji buku ini hendak membuktikan, seberapa pengaruh gerakan Islam Indonesia oleh TT. Penulis buku ini memberi satu bab khusus membincang soal itu, “Setiap Benih yang Kau (Timur Tengah) Tanam di Indonesia Pastilah Tumbuh” (hal 105). Bab ini mengeksplorasi mendalam soal ekspresi utama pemikiran Ikhwanul Muslimin yang dilandasi gerakan Tarbiyah. Gerakan Tarbiyah mencuat pada awal 1980-an saat praktik penindasan Orde Baru terhadap Islam dan politik mahasiswa sedang gencar-gencarnya (hal 108).&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;"&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS, Arial, sans-serif;"&gt;Orde Baru pada 1998 mengalami masa tumbang akibat badai krisis finansial di Asia. Di saat itulah aktivis Tarbiyah membentuk organisasi mahasiswa bernama KAMMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia). Melihat ada peluang bagus saat Soeharto makzul, pemimpin Tarbiyah berduyun-duyun mendirikan partai bernama Parta Keadilan (PK). Partai inilah yang pada pemilu 1999, mendulang 1,4 persen suara dengan tujuh kursi di parlemen pusat. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;"&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS, Arial, sans-serif;"&gt;Seiring merayakan pesta demokrasi, PK berekspansi mengubah namanya menjadi Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Perubahan nama itu dilakukan karena PK gagal memenuhi &lt;i&gt;threshold&lt;/i&gt; sebesar 2 persen yang dibutuhkan untuk bisa berkontestasi di panggung pemilu 2004. PKS adalah satu-satunya partai yang menjadi kontestan pemilu 1999 dan mengalami keberhasilan luar biasa pada pemilu 2004. Memberi kesan bahwa, pemilih partai ini pada pemilu 2004 lebih tertarik pesan politik menyangkut pemerintahan yang bersih dan keadilan sosial dibanding seruan Islamnya (hal 111).   &lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;"&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS, Arial, sans-serif;"&gt;Berkat bantuan Greg Fealy dan Anthony Bubalo menggubah buku ini, membuka pemahaman pentingnya melacak jejak yang melatari tiap-tiap gerakan Islam saat ini. Yudi Latif (penulis buku, &lt;i&gt;Inteligensia Muslim dan Kuasa&lt;/i&gt;), mengapresiasi kehadiran buku ini sebagai arus besar yang cenderung melukiskan Islamisme berwajah tunggal berdimensi transnasional. Sebuah buku yang hendak merobohkan pencitraan naif, dengan menunjukkan keragaman dan dimensi lokal dari presentasi Islamisme dalam ruang sejarah&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1009294533582344733-3646618649840977716?l=indonimut.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://indonimut.blogspot.com/feeds/3646618649840977716/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1009294533582344733&amp;postID=3646618649840977716' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1009294533582344733/posts/default/3646618649840977716'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1009294533582344733/posts/default/3646618649840977716'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://indonimut.blogspot.com/2008/04/wajah-timur-tengah-di-indonesia.html' title='Wajah Timur Tengah di Indonesia'/><author><name>[A Qorib Hidayatullah]</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15367290909727515085</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_QWqh36EuAxs/SMw1P_rh7-I/AAAAAAAAAJo/W26QVuYW-Y4/S220/New+Image.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp3.blogger.com/_QWqh36EuAxs/R_1SFyRBrFI/AAAAAAAAAIs/QNoZClgF8qE/s72-c/cover+buku+jejak+kafilah.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1009294533582344733.post-3557748784230388917</id><published>2008-04-10T06:16:00.000+07:00</published><updated>2008-04-10T06:27:41.583+07:00</updated><title type='text'>Buku Ajar Agar Menarik di Baca</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp3.blogger.com/_QWqh36EuAxs/R_1QsyRBrEI/AAAAAAAAAIk/FA9_o-c43Rw/s1600-h/cisco_books.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 275px; height: 206px;" src="http://bp3.blogger.com/_QWqh36EuAxs/R_1QsyRBrEI/AAAAAAAAAIk/FA9_o-c43Rw/s320/cisco_books.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5187391076138331202" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; font-family: trebuchet ms;" align="center"&gt;Oleh: A Qorib Hidayatullah&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0cm; font-family: trebuchet ms;"&gt;Tajamnya daya saing jagad perbukuan, menuntut penulis sekaligus penerbit cakap menyajikan buku agar menggiurkan serta menyolok mata. Buku yang menarik (&lt;i&gt;eye catching&lt;/i&gt;) langsung dikerubuti pembeli buku ditiap-tiap &lt;i&gt;book store&lt;/i&gt;.  &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; font-family: trebuchet ms;"&gt;Buku-buku yang tampak kaku, misalnya buku ajar, terancam ditinggalkan oleh pembeli. Buku ajar, kini perlu gesit berbenah strategi agar buku itu tak tampil “garang” lagi. Mengosmetika buku ajar secantik mungkin dan memiliki daya menyala.&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; font-family: trebuchet ms;"&gt;Buku ajar, kerap kita temui di sekolah-sekolah ataupun di perguruan tinggi. Buku tersebut sengaja ditulis khusus menjadi pedoman siswa dan mahasiswa. Buku ajar dihadirkan bertujuan mempermudah proses belajar-mengajar guru pada siswa, atau dosen terhadap mahasiswanya. Tak ayal, buku ajar yang awalnya diharap mampu membantu proses belajar-mengajar, malah dijauhi oleh pembaca. Tentu, hal ini tak luput dari karakter lazim buku ajar —meliputi pewajahan buku dan artistik buku serta isi buku— yang tak lentur.&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; font-family: trebuchet ms;"&gt;Seturut Joseph Brodsky, “Membakar buku sebuah kejahatan, tetapi ada yang lebih jahat dibanding membakar buku, yakni tidak membaca buku.” Untuk ihwal buku ajar, pendapat Brodsky belumlah tentu tepat. Tak semua orang malas membaca buku teridentifikasi jahat. Beragam alasan manusia memilih enggan membaca buku ajar, salah satunya dikarenakan buku tersebut tidak memiliki daya magnet ketertarikan sehingga sukar membangkitkan selera pembaca membacanya.&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; font-family: trebuchet ms;"&gt;Berdasar pengalaman pribadi, saya pun merasa malas berkunjung ke toko buku merogoh kocek sendiri membeli buku-buku ajar anjuran dosen. Tapi apa boleh buat, jika tak membeli buku itu dosen pun enggan memberi nilai A pada mahasiswanya. Padahal, perkara beli buku ajar atau tidak, bagi saya, itu tergantung pada menarik tidaknya kemasan buku itu. Buku ajar, sungguh membuat saya tutup mata membacanya. Melotot judul bukunya saja terbayang kalau buku ajar itu berat, tak mudah dicerna. Ditambah dengan gaya bahasa tulis yang linear tak dikemas populer yang kering sisipan cerita-cerita &lt;i&gt;inspiring&lt;/i&gt;.  &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; font-family: trebuchet ms;"&gt;Hakikatnya, membaca bukanlah amal mengerutkan kening. Demi mewujudkan buku ajar yang menyenangkan, mudah, serta asyik dibaca, Depag (Departemen Agama) RI mengadakan lomba membuat “Buku Pelajaran yang Mencerdaskan”. Buku yang mencerdaskan tersebut khusus diperlombakan yang ditujukan kepada siswa Madrasah Aliyah (MA). Sebuah langkah terobosan baru kategori buku ajar agar siswa betah berjam-jam saat membacanya.  &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; font-family: trebuchet ms;"&gt;Prof Yohanes Surya, Ph D —juri lomba penulisan buku ajar bidang fisika—, saat diwawancara di Tabloid Republika “Dialog Jum’at” (01/02/2008) mengenai lomba yang diselenggarakan Depag RI itu, ia pun merespon baik. “Buku pelajaran yang mencerdaskan ialah buku yang dapat membuat anak-anak belajar jadi asyik, mudah, dan menyenangkan. Sehingga belajar tidak lagi menjadi sangat sulit. Contoh saja fisika, ketika orang mengatakan fisika maka yang terbayang di kepala mereka adalah rumus. Hal ini yang seharusnya kita ubah.”  &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; font-family: trebuchet ms;"&gt;Sebagai ilmuwan pakar fisika, Prof Yahanes Surya pun paparkan cara penyusunan buku-buku fisika agar tak melulu memuat rumus. Ia menitik pentingkan ulasan ilmu fisika bukan tergantung pada rumus, melainkan konsep. Karena itu, peran rumus dapat diganti dengan logika. Ia mencontohkan: “misal ada suatu benda dengan kecepatan lima meter per detik. Berapa jaraknya dalam lima detik. Untuk menjawab ini, cukup dengan logika. Lima meter per detik berarti dalam satu detik benda tersebut bergerak sejauh lima meter. Kalau lima detik, tinggal dikali saja dengan lima. Tidak perlu rumus apapun.”&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; font-family: trebuchet ms;"&gt;Menulis buku tak segampang yang diterka oleh banyak orang, utamanya buku ajar. Orang sukses menulis buku hingga meraup keuntungan besar, mesti dibarengi dengan proses membaca yang sangat meletihkan. Namun, sepelik apapun persoalan bila ditangani serius segera temukan penyelesaian.  &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; font-family: trebuchet ms;"&gt;Tilik misalkan pada tahun 1962, sebuah buku yang berjudul &lt;i&gt;Silent Spring &lt;/i&gt;(Musim Semi yang Sunyi) berhasil mengguncang dunia. Dalam waktu singkat buku itu laku 500.000 eksemplar. Sedangkan penulisnya, Rachel Carson ditentang oleh para industri pestisida. Mengapa? Sebab buku itu melukiskan betapa sunyi bumi ini bila semua unggas dan serangga mati akibat disemprotkannya racun di lahan-lahan pertanian. Masyarakat tergugah. Tetapi pabrik-pabrik insektisida, pestisida, serta racun-racun lainnya marah. Beribu dolar dihabiskan guna melancarkan kampanye bahwa, Rachel Carson keliru. Penulis itu dianggap orang histeris yang dungu. Tapi hasilnya, ia malah mendapat berbagai macam hadiah. Kini kita mengenal Rachel Carson sebagai pahlawan yang menyulut maraknya gerakan pelestarian lingkungan.&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; font-family: trebuchet ms;"&gt;  &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; font-family: trebuchet ms;"&gt;Buku ajar tak hanya memberikan kebijaksanaan, tapi juga mendorong dilakukannya kebajikan. Dalam perbuatan baik inilah termuat keterampilan, kemampuan dan kemauan untuk melakukan tindakan nyata. Buku ajar tentang laut dan gunung, membuat pembacanya tergerak untuk menyatakan cintanya pada alam. Buku pelajaran ekonomi menolong pembacanya mempraktikkan sistem manajemen, kesadaran akan pentingnya pembiayaan dan pertumbuhan. Termasuk juga untuk buku budi-pekerti, pelajaran agama, petunjuk olahraga, memasak, dan ilmu komputer. Idealnya, buku ajar mampu meletakkan pembacanya ditengah konstelasi dan konfigurasi dunia yang terus menerus berubah.&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1009294533582344733-3557748784230388917?l=indonimut.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://indonimut.blogspot.com/feeds/3557748784230388917/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1009294533582344733&amp;postID=3557748784230388917' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1009294533582344733/posts/default/3557748784230388917'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1009294533582344733/posts/default/3557748784230388917'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://indonimut.blogspot.com/2008/04/buku-ajar-agar-menarik-di-baca.html' title='Buku Ajar Agar Menarik di Baca'/><author><name>[A Qorib Hidayatullah]</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15367290909727515085</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_QWqh36EuAxs/SMw1P_rh7-I/AAAAAAAAAJo/W26QVuYW-Y4/S220/New+Image.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp3.blogger.com/_QWqh36EuAxs/R_1QsyRBrEI/AAAAAAAAAIk/FA9_o-c43Rw/s72-c/cisco_books.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1009294533582344733.post-7493725257355821135</id><published>2008-03-19T12:12:00.000+07:00</published><updated>2008-03-19T12:15:44.283+07:00</updated><title type='text'>Ayat-ayat Cinta &amp; Tuhan sebagai Komoditas</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp3.blogger.com/_QWqh36EuAxs/R-ChRzxCiuI/AAAAAAAAAHs/UGoVNHcbCJ8/s1600-h/cover+film+AAc.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 318px; height: 227px;" src="http://bp3.blogger.com/_QWqh36EuAxs/R-ChRzxCiuI/AAAAAAAAAHs/UGoVNHcbCJ8/s320/cover+film+AAc.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5179316898801814242" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS, sans-serif;"&gt;Esei A. Qorib Hidayatullah*&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS, sans-serif;"&gt;*penikmat sastra, kerani Komunitas Sandal Jepit&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;"&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS, sans-serif;"&gt;Stok tema soal cinta tak bakal habis diulas. Tema yang satu ini memiliki daya aktual kuat yang didesain khusus mampu berkompromi dengan setiap limit  waktu dan ruang. Sifat kekekalan cinta memberi peninggalan ‘rasa’ yang bersemayam di lubuk hati terdalam. Tak dinafi’kan, rasa mencintai merupakan fitrah alamiah tiap-tiap orang. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;"&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS, sans-serif;"&gt;Kelenturan rasa cinta yang kerap menjadi ‘bunglon’ atas apapun, menyeretnya berubah ‘barang’ dagangan yang bebas dikonsumsi ramai-ramai oleh publik. Kiranya betul bila penyanyi tersohor tanah air ini mengalegori ‘cinta tak kenal logika’, menyebabkan tema cinta mudah menghipnotis para penghambanya. Tema cinta berhasil mengebiri kecanggihan rasio takluk akan buaian romantisme alpa. Tema cinta kini telah dikosmetika secantik mungkin menjadi budaya massa. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;"&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS, sans-serif;"&gt;Tak dapat ditampik bila para penghamba cinta sekaligus penjilat kapital, tak ambil pusing untuk menyiasati komoditasnya laku keras di pasar, cukup dibumbui dengan kekuatan rasa cinta. Misalnya Habiburrahman El-Shirazy, lewat novel Ayat-Ayat Cinta-nya sejak 2004 hingga akhir 2007 mencapai rating penjualan 400.000 eksemplar. Novel ini mengalahkan angka penjualan karya Asma Nadia (Catatan Hati Seorang Istri), Langit Kresna Hariadi (Gajah Mada), Muammar Emka (Jakarta Undercover), Andrea Hirata (Laskar Pelangi dan Edensor). Bayangkan, saban sebulan alumnus Universitas Al-Azhar Mesir itu menerima royalti sekitar Rp 100 juta. Gila! Tak puas dengan itu, tangan serakah kapital yang lain akhirnya menggubah novel tersebut menjadi film. Film Ayat-ayat Cinta (AAC), yang diledakkan pada pengujung Februari silam. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;"&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS, sans-serif;"&gt;Film garapan sutradara Hanung Bramantyo itu mencetak fenomena terbaru industri perfilman Indonesia. Dalam pekan pertama pemutarannya di bioskop, AAC mendapat sambutan luar biasa dari masyarakat. Disinyalir Harian Kompas (02/03/2008), Manoj Punjabi, produser AAC, memberi kepastian bahwa di gedung-gedung bioskop yang memutar film itu serentak sejak 28 Februari 2008. Pada saat itupun, gedung-gedung bioskop dijubeli penonton mengular hingga kapasitas tempat duduk terisi di atas 95 persen. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;"&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS, sans-serif;"&gt;Di samping film itu fenomenal, juga memberi pembuktian kesuksesannya yang ditakdirkan sama seperti capaian keberhasilan novel yang mengeruhinya. Ternyata, tenunan sebuah dongeng cinta nuansa religi —yang mengundang derai air mata sehabis menontonnya— mampu menyaingi film berkisah horor serta roman ABG. Selera masyarakat yang keranjingan akan cerita cinta religi gesit dibidik pemain kapital guna meraup keuntungan besar. Untuk tayangan perdana, MD Pictures yang dipimpin Manoj menggandakan pita film itu hingga 100 &lt;i&gt;copy&lt;/i&gt;, sebuah angka fantastis sekaliber film nasional. Rata-rata film Indonesia lazim hanya dicetak berkisar 10-20 &lt;i&gt;copy&lt;/i&gt;. Bahkan film-film utama Hollywood pun paling banyak dicetak 65-70 &lt;i&gt;copy&lt;/i&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;"&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS, sans-serif;"&gt;Kesuksesan besar AAC yang mendulang apresiasi hangat dari masyarakat, tak melunasi rasa misteri penasaran akan kisah cinta yang ditawarkan film tersebut. Dongeng kisah cinta klasik yang menjadi nyawa film itu kerapkali membikin diri hendak mual. Alur cinta yang sangat menyehari dan jauh panggang dari api terjadi pada diri seseorang, semakin memperjelas hal klise film garapan sutradara sekaliber Hanung Bramantyo. Hanung kentara betul menyengaja diri siap dicaci-maki perkara mempertaruhkan seorang lelaki yang dicintai empat wanita dan ia harus menentukan pilihannya. Di lanskap inilah kecerdikan Hanung dapat dibilang berhasil mengibuli penonton. Sebuah film yang mampu menyedot penasaran ibu-ibu anggota pengajian.    &lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;"&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS, sans-serif;"&gt;Lelaki itu adalah Fahri bin Abdillah (diperankan Fedi Nuril), seorang mahasiswa S-2 asal Indonesia yang kuliah di Universitas al-Azhar, Cairo, Mesir. Ia anak seorang penjual tapai yang polos, sederhana dan sangat taat beragama. Perihal jatuh cinta, sesuatu yang belum pernah terjadi dalam hidupnya dan pacaran adalah sesuatu yang dilarang menurut keyakinan agamanya. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;"&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS, sans-serif;"&gt;Proses pemanjaan pun terjadi, buru-buru empat wanita malah jatuh cinta kepada Fahri. Mereka adalah Nurul (Melanie Putria), mahasiswa dari Indonesia yang menjadi teman dekat Fahri di kampus. Kemudian ada Maria Girgis (Carrisa Puteri), gadis Mesir tetangga se-apartemen (Flat)  dan sekaligus sahabat dekat Fahri, beragama Kristen Koptik, tetapi mempelajari serta mengagumi al-Qur’an. Sosok ketiga adalah Noura (Zaskia Adya Mecca), seorang perempuan Mesir yang terpisah dari orangtuanya dan jatuh ke tangan seorang penjahat (Bahadur) dan suatu hari ditolong Fahri. Terakhir adalah Aisha (Rianti Cartwright), perempuan berdarah Jerman-Turki yang terkesan saat bertemu Fahri kali pertama di sebuah kereta api. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;"&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS, sans-serif;"&gt;Sementereng apapun film itu, selera pos-modernisme mengajarkan boleh mencicipinya secara bebas. Kalau hasil mencicipi dirasa tak enak, selera pos-modern absah mencemo’oh ataupun memaki habis film tersebut. Misalkan adegan saat Maria mendaras surat Maryam (al-Qur’an) di sebuah bus dengan aksentuasi nada subal. Ditambah saat Fahri mengaji yang dihaturkan kepada gurunya (Syekh Usman), kentara sekali suaranya yang tak asli. Cacat kecil seperti ini mengganggu kenikmatan penonton menonton film yang batal &lt;i&gt;shooting&lt;/i&gt; di Mesir karena terbentur biaya rumah produksi lokal yang mahal (mencapai Rp 15 miliar).&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;"&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS, sans-serif;"&gt;Yang paling menarik diamati di balik keberhasilan film bertemakan populer-religi, semisal AAC, menandakan bahwa masyarakat Indonesia kini pada suka —meminjam judul esai Danarto dalam &lt;i&gt;Horison Esai&lt;/i&gt; &lt;i&gt;Indonesia&lt;/i&gt;, Kitab 2—,      “Menjual Tuhan dengan Harga Murah”. Wujud linearitas selera filmis masyarakat Indonesia yang menjadikan Tuhan sebagai komoditas. Sifat mematung-bisunya Tuhan dijadikan lahan eksploitasi tangan serakah kapital guna meraup laba besar. Tuhan tak banyak berontak dalam hal ini… &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1009294533582344733-7493725257355821135?l=indonimut.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://indonimut.blogspot.com/feeds/7493725257355821135/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1009294533582344733&amp;postID=7493725257355821135' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1009294533582344733/posts/default/7493725257355821135'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1009294533582344733/posts/default/7493725257355821135'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://indonimut.blogspot.com/2008/03/ayat-ayat-cinta-tuhan-sebagai-komoditas.html' title='Ayat-ayat Cinta &amp; Tuhan sebagai Komoditas'/><author><name>[A Qorib Hidayatullah]</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15367290909727515085</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_QWqh36EuAxs/SMw1P_rh7-I/AAAAAAAAAJo/W26QVuYW-Y4/S220/New+Image.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp3.blogger.com/_QWqh36EuAxs/R-ChRzxCiuI/AAAAAAAAAHs/UGoVNHcbCJ8/s72-c/cover+film+AAc.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1009294533582344733.post-83787178126112712</id><published>2008-03-19T11:57:00.000+07:00</published><updated>2008-03-19T12:09:58.367+07:00</updated><title type='text'>Di Balik Kemegahan Kota Terlarang</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp2.blogger.com/_QWqh36EuAxs/R-CdxjxCitI/AAAAAAAAAHk/cH4C-gE39Do/s1600-h/cover+empress+orchid.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 153px; height: 234px;" src="http://bp2.blogger.com/_QWqh36EuAxs/R-CdxjxCitI/AAAAAAAAAHk/cH4C-gE39Do/s320/cover+empress+orchid.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5179313046216149714" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm;"&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS,Arial,sans-serif;"&gt;Judul Buku : Empress Orchid&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;"&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS,Arial,sans-serif;"&gt;Penulis : Anchee Min &lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;"&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS,Arial,sans-serif;"&gt;Penerbit : Hikmah Jakarta&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;"&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS,Arial,sans-serif;"&gt;Cetakan : I, Januari 2008&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;"&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS,Arial,sans-serif;"&gt;Tebal : xvii + 595 Hal&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;"&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS,Arial,sans-serif;"&gt;Peresensi  : A. Qorib Hidayatullah*&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;"&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS,Arial,sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm;"&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS,Arial,sans-serif;"&gt;Cerita fiksi (novel) tak melulu merekam kehidupan hampa. Selain menimbun nilai estetis, novel juga berseru lirih ihwal kekejaman hidup. &lt;span lang="en"&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 51);"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;Anchee Min lewat karyanya, &lt;i&gt;Empress Orchid&lt;/i&gt; ini cakap bertutur perkara ‘kekuasaan’ di era Dinasti Ch’ing.  &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0cm;"&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS,Arial,sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm;"&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS,Arial,sans-serif;"&gt;Syahdan, Dinasti Ch’ing sudah tak dapat diselamatkan lagi sejak Cina dikalahkan Inggris Raya dan sekutunya dalam perang Candu. Lahirlah seorang gadis desa di tahun Kambing dari klan Yehonala yang hidupnya ditakdirkan memiliki kekuatan meski ia lebih awal kudu taklukkan rintangan. Para peramal menujumkan gadis yang lahir di tahun Kambing akan tumbuh besar menjadi kambing yang keras kepala dan berakhir menyedihkan. Untuk menepis nasib sial gadis itu, peramal memberinya nama Anggrek. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;"&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS,Arial,sans-serif;"&gt;Anggrek adalah wanita menawan serta lentur. Berkat kemenawanannya, saat Kaisar Hsien Feng mengaudisi selir muda yang diikuti ribuan wanita cantik, Anggrek terpilih menjadi salah satu istri dari tujuh istri Kaisar Hsien Feng. Sejak menjadi selir muda, Anggrek meninggalkan keluarganya dan bermukim di Istana Anggrek yang berada di Kota Terlarang. Disamping itu Kaisar menyiapkan istana-istana khusus bagi istri-istrinya, misalnya, Istana Nuharoo, Istana Putri Soo, Istana Ibu Suri, Istana Putri Mei, Istana Putri Hui, Istana Putri Yun, serta Istana Putri Li. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;"&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS,Arial,sans-serif;"&gt;Di balik tekstur dan warna megah Kota Terlarang, Anggrek ditemani kasim An-te-hai. Kasim An-te-hai memberitahu seluk-beluk serta mengajari tindak-tanduk Anggrek di Kota Terlarang. Bukannya tanpa alasan kasim An-te-hai dipilih Anggrek untuk mendampinginya. Kasim An-te-hai yang lincah, cerdik, piawai, dan berpengalaman luas tentang keadaan Kota Terlarang menjadi pertimbangan Anggrek memilihnya. Berbekal kecerdikan, An-te-hai berjasa besar atas popularitas Anggrek di Kota Terlarang. Strategi mapan dan rapi dari An-te-hai, Anggrek mendapat perhatian lebih dari Kaisar Hsien Feng menyaingi ratu Nuharoo. Yang pada akhirnya, Maharani Anggrek menjadi kaisar perempuan yang paling lama berkuasa di Cina. Seorang gadis desa, Putri Yehonala yang cantik itu manapaki kekuasaan lewat rayuan, intrik politik, serta pembunuhan. Saat Cina terancam oleh musuh dari luar, tampaknya hanya Maharani Anggrek yang mampu menyatukan negeri tersebut. Seorang perempuan yang berhasil bertahan dan akhirnya mendominasi dunia laki-laki.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;"&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS,Arial,sans-serif;"&gt;Semakin keujung menikmati cerita novel ini, ternyata para lelaki di istana berusaha mengesankan satu sama lain atas kecerdesan mereka. Titah perintah Maharani Anggrek dalam istana mengalami pertarungan tiada henti dengan para penasihat yang ambisius, dan para menteri yang penuh tipu muslihat. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;"&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS,Arial,sans-serif;"&gt;Kisah Maharani Anggrek berkonotasi kisah kelam. Di Cina, anak-anak belajar bahwa runtuhnya setiap Dinasti selalu disebabkan kesalahan seorang selir. Hukuman mati yang dijatuhkan pada seorang selir menjadi justifikasi kesalahannya. Misalkan, kisah Madame Mao yang dihukum mati, sementara suaminya dianggap sebagai George Washingtonnya Cina. Kisah yang melekat hingga kini, sang Maharani harus bertanggung jawab atas kehancuran peradaban Kekaisaran Cina yang berumur dua ribu tahun.      &lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;"&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS,Arial,sans-serif;"&gt;Anchee Min lewat karyanya ini tampak presisif betul menampilkan detail kisah nyata. Beragam riset dilakukan, misalnya, Min meneliti tak melulu dokumen yang ada di Kota Terlarang, pun juga catatan medis, keuangan, dan data kepolisian, seperti halnya riset yang luas untuk bukunya, &lt;i&gt;Becoming Madame Mao&lt;/i&gt; yang &lt;i&gt;bestseller&lt;/i&gt; itu. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;"&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS,Arial,sans-serif;"&gt;Selain itu, sebelum menggubah novel ini, Min menekuni bacaan tentang kehidupan para kasim, pelayan, guru-guru istana, para sedadu Kekaisaran, dan buku panduan sang Maharani tentang makanan serta tetumbuhan obat. Min mengaku, dirinya bisa mengakses dokumen-dokumen asli yang dijaga ketat pejabat Beijing itu dibantu oleh segelintir orang lewat “jalan belakang”. Al-hasil, buku inipun akhirnya dinobatkan sebagai &lt;i&gt;A san Francisco chronicle best book of the year&lt;/i&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm;"&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS,Arial,sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;     &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1009294533582344733-83787178126112712?l=indonimut.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://indonimut.blogspot.com/feeds/83787178126112712/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1009294533582344733&amp;postID=83787178126112712' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1009294533582344733/posts/default/83787178126112712'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1009294533582344733/posts/default/83787178126112712'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://indonimut.blogspot.com/2008/03/di-balik-kemegahan-kota-terlarang.html' title='Di Balik Kemegahan Kota Terlarang'/><author><name>[A Qorib Hidayatullah]</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15367290909727515085</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_QWqh36EuAxs/SMw1P_rh7-I/AAAAAAAAAJo/W26QVuYW-Y4/S220/New+Image.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp2.blogger.com/_QWqh36EuAxs/R-CdxjxCitI/AAAAAAAAAHk/cH4C-gE39Do/s72-c/cover+empress+orchid.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1009294533582344733.post-5362117488092011479</id><published>2008-03-03T00:25:00.000+07:00</published><updated>2008-03-03T00:34:19.361+07:00</updated><title type='text'>Membela Kaum Miskin Tabah Bencana</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp0.blogger.com/_QWqh36EuAxs/R8rkUsrerLI/AAAAAAAAAHc/sEmoiRt_A1U/s1600-h/cover+buku.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 167px; height: 242px;" src="http://bp0.blogger.com/_QWqh36EuAxs/R8rkUsrerLI/AAAAAAAAAHc/sEmoiRt_A1U/s320/cover+buku.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5173198166230478002" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS,Arial,sans-serif;"&gt;Judul Buku  : Kagum Pada Orang Indonesia&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS,Arial,sans-serif;"&gt;Penulis : Emha Ainun Nadjib &lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS,Arial,sans-serif;"&gt;Penerbit : Progress&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS,Arial,sans-serif;"&gt;Cetakan : I, Januari 2008&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS,Arial,sans-serif;"&gt;Tebal : 56 Halaman&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS,Arial,sans-serif;"&gt;Peresensi  : A. Qorib Hidayatullah*&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS,Arial,sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt; &lt;/p&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS,Arial,sans-serif;"&gt;Meski banyak orang pesemis pada bangsa Indonesia, Emha Ainun Nadjib (akrab di panggil “Cak Nun”) malah merayakan optimisme bergelimang harap. Tahun 1998, penyair Taufik Ismail menggarit puisi &lt;i&gt;“Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia”&lt;/i&gt;, sedang Cak Nun pada 2008 menggubah buku &lt;i&gt;“Kagum Pada Orang Indonesia”&lt;/i&gt;. Wujud filantropi budayawan, Cak Nun, mengipasi bara ketegaran rakyat saat centang perenang dan banjir problem tiba. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify" lang="en-GB"&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS,Arial,sans-serif;"&gt;Cak Nun, --budayawan kelahiran Jombang Jatim itu--, terlihat sangat gigih meninggikan anten kepekaannya akan penderitaan masyarakat miskin tabah bencana. Ia menghayati betul tamsil yang diukir Elie Wiesel, novelis peraih Nobel Perdamaian dalam memoar &lt;i&gt;Night&lt;/i&gt; (1958): “Pada saat Adam dan Hawa mengkhianati-Mu, Tuhan, Kau usir mereka dari Taman Firdaus. Saat dikecewakan  generasi Nabi Nuh, Kau datangkan air bah. Saat kota Sodom dan Gomorah tak lagi menjadi kesayangan-Mu, Kau buat langit memuntahkan kutukan hujan api. Tapi lihatlah para korban yang nasibnya bagai beras sedang diayak dan ditampi ini. Mereka bersimpuh dihadapan-Mu. Mereka memuji kebesaran-Mu.” &lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify" lang="en-GB"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify" lang="en-GB"&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS,Arial,sans-serif;"&gt;Buku ini, &lt;i&gt;Kagum Pada Orang Indonesia&lt;/i&gt;, merupakan kumpulan sembilan esai panjang Cak Nun yang sebelumnya sempat &lt;i&gt;nangkring&lt;/i&gt; di beberapa koran. Lewat buku ini pulalah, Cak Nun, membesarkan hati rakyat Indonesia yang kini temukan rona kemurungannya. Betapa rakyat saat ini sukar memiliki zona untuk tentram, damai, serta makmur sejahtera. Rakyat kerap ketiban sial, kiriman bencana atau musibah tak henti-henti menghantam kehidupan rakyat Indonesia baru-baru ini. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify" lang="en-GB"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify" lang="en-GB"&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS,Arial,sans-serif;"&gt;&lt;b&gt;Renungan Bencana&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify" lang="en-GB"&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS,Arial,sans-serif;"&gt;Bangsa Indonesia memanglah bangsa yang hidup dinegeri kaya akan bencana alam. Aceh, Nias, dan Pengandaran digulung Tsunami. Yogyakarta dan Klaten diterjang gempa. Sidoarjo direndam bencana korporasi-birokratik lumpur panas Lapindo tak usai-usai. Halmahera diguncang gunung meletus. Kalimantan Timur dan Sulawesi Barat disapu banjir bandang justru dimusim kemarau sedang menggila diseantero wilayah Nusantara. Sumatera Barat, Bengkulu, Jambi, Mentawai, dan Blitung, tak lepas disatroni lindu. Hingga kawasan Tapal Kuda (pantai utara Jawa), Situbondo dan Bondowoso pun diterjang banjir bandang pekan silam.     &lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify" lang="en-GB"&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS,Arial,sans-serif;"&gt;Ditengah keporakporandaan puing-puing bangunan yang melibas, dan hamparan ketakpastian yang harus dijalani para masyarakat korban, tugas manusia antar sesama, bagaimana ia mampu menarasikan penderitaan yang ditempa oleh masyarakat korban. Memberi wujud narasi penyelesaian sehingga mengurangi kesedihan masyarakat korban. Setiap narasi mesti temukan alur akhir. Mengakhiri kesedihan rakyat korban bencana dengan ketegaran dan kebahagiaan.  &lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify" lang="en-GB"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify" lang="en-GB"&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS,Arial,sans-serif;"&gt;Alam sendiri bukanlah makhluk hidup yang bisa memperbaiki kerusakan sel-sel dalam tubuh. Tersirat dalam al-Qur’an bahwa, kerusakan alam juga tak lepas sebab ulah tangan jahil manusia. Dengan begitu, manusia yang hidup diatas permukaan bumi yang harus mencegah agar daya rusak ekologi tak semakin parah. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify" lang="en-GB"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify" lang="en-GB"&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS,Arial,sans-serif;"&gt;Disinilah pemantik kesadaran Cak Nun, dia langsung terjun mengadvokasi masyarakat korban di lapangan.  Lewat mengisi acara pengajian yang diadakan di wilayah-wilayah korban, iapun berseru kepada masyarakat agar tegar hadapi bencana. Cak Nun siap bersama rakyat melawan bila ada pihak-pihak yang mengail di air keruh berbisnis penderitaan manusia. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify" lang="en-GB"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify" lang="en-GB"&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS,Arial,sans-serif;"&gt;Wujud optimisme Cak Nun: “Kendati Indonesia terus-menerus dihantam bencana (kaya bencana), bangsa inipun memiliki berkah turah kekayaan alam melimpah ruah. Semuanya ada di bumi pertiwi ini. Tak ada bangsa di dunia yang kewajiban rasa syukurnya kepada Tuhan melebihi bangsa Indonesia.” Hal itu tentu tak lepas, sebab rahmat, kasih sayang, perhatian, dan berkah Tuhanlah yang menganugerahkan kepada bangsa Indonesia jauh melebihi bangsa-bangsa manapun di dunia. Tapi untuk saat ini, kekayaan Indonesia dihabisi oleh persekongkolan elite politik dan birokrasi bangsa untuk kepentingan pribadi.  &lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify" lang="en-GB"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify" lang="en-GB"&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS,Arial,sans-serif;"&gt;Ironi, bangsa (Indonesia) bergelimang kekayaan, namun rakyat masih didera kemiskinan kritis. Manusia Indonesia sudah miskin, ditambah lagi tak henti-henti digilas oleh bencana dahsyat. Sungguh kompleks derita rakyat Indonesia bila hingga kini masih belum mampu melepaskan kerangkeng tragika hidup miskin yang padat bencana. Ditengarai kesigapan pemerintah dalam penanganan bencana, bila status bencana dinaikkan menjadi bencana nasional. Bukankah meski satu korban pun, perlu kita bantu selekas mungkin?     &lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify" lang="en-GB"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify" lang="en-GB"&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS,Arial,sans-serif;"&gt;Peluang harap datang, saat kita dapat memaknai aforisma &lt;i&gt;‘Jasagen’&lt;/i&gt; Nietzsche   --filsuf yang membuka pintu gerbang posmodernisme itu--, “Meski hidup bisa menjadi sangat sulit, mengecewakan dan bikin gila, satu-satunya jalan adalah terus mengatakan “ya” kepada apa yang menggerakkan jiwa”. Nietzsche hendak menampik sejarah kegagalan yang membikin manusia bertekuk lutut menyerah pada nasib.             &lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify" lang="en-GB"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify" lang="en-GB"&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS,Arial,sans-serif;"&gt;Guna mendapat empati masyarakat luas atas kondisi masyarakat miskin tabah bencana, Cak Nun lewat bukunya ini berseru mirip Rabindranat Tagore: “Bukalah mata tuan dan lihatlah. Di mana petani meluku tanah yang keras. Di mana pembuat jalan memecah batu. Disitulah Tuhan. Tuhan bersama petani dan kuli berpanas dan berhujan. Turunlah ke tanah berdebu itu, seperti Dia. Beranjaklah dari samadi dan hentikan nyala setanggi. Meski pakaian tuan usang dan kotor. Cari dan tolonglah dia dalam bekerja, dengan keringat di kening tuan”.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify" lang="en-GB"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify" lang="en-GB"&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS,Arial,sans-serif;"&gt;Buku ini berbasis menggugah ruh filantropi (&lt;i&gt;filos&lt;/i&gt; ‘cinta’, &lt;i&gt;antropos&lt;/i&gt; ‘kemanusiaan’),  berwujud cinta kasih akan kemanusian. Membacanya, membikin nurani terketuk hendak lekas berbuat sesuatu terhadap kaum miskin tabah bencana. Tak cukup hanya meratap sedih bila mendapati kaum miskin tabah tuna daya digempur bencana.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify" lang="en-GB"&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS,Arial,sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1009294533582344733-5362117488092011479?l=indonimut.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://indonimut.blogspot.com/feeds/5362117488092011479/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1009294533582344733&amp;postID=5362117488092011479' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1009294533582344733/posts/default/5362117488092011479'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1009294533582344733/posts/default/5362117488092011479'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://indonimut.blogspot.com/2008/03/membela-kaum-miskin-tabah-bencana.html' title='Membela Kaum Miskin Tabah Bencana'/><author><name>[A Qorib Hidayatullah]</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15367290909727515085</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_QWqh36EuAxs/SMw1P_rh7-I/AAAAAAAAAJo/W26QVuYW-Y4/S220/New+Image.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp0.blogger.com/_QWqh36EuAxs/R8rkUsrerLI/AAAAAAAAAHc/sEmoiRt_A1U/s72-c/cover+buku.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1009294533582344733.post-11358250526682975</id><published>2008-03-03T00:10:00.000+07:00</published><updated>2008-04-10T06:41:36.012+07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="center"&gt;&lt;span style=";font-family:Trebuchet MS,Arial,sans-serif;font-size:130%;"  &gt;Sejarah Media dan Industri Kematian&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="center"&gt;&lt;span style=";font-family:Trebuchet MS,Arial,sans-serif;font-size:130%;"  &gt;&lt;span style="font-size:13;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="center"&gt; &lt;/p&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="center"&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS,Arial,sans-serif;"&gt;Oleh: A. Qorib Hidayatullah&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="center"&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS,Arial,sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0in; text-align: left;"&gt; &lt;/p&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0in; text-align: left;"&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS,Arial,sans-serif;"&gt;Tak banyak yang diharapkan dihari itu.  Seluruh sudut terkecil kota lengang, sepi, bercampur getir. Suasana itu konstruk media yang &lt;i&gt;over&lt;/i&gt; gembar-gembor kematian H.M. Soeharto, mantan Presiden ke-2 RI. Minggu, 27 Januari 2008, Bapak Pembangunan tersebut mangkat selamanya keharibaan Tuhan. Seluruh media, baik elektronik maupun cetak berebut informasi saling meng&lt;i&gt;up-date &lt;/i&gt;berita kematian Soeharto.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0in; text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0in; text-align: left;"&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS,Arial,sans-serif;"&gt;Dalam kolom-kolom media cetak tak kosong dari ulasan-ulasan obituari. Di TV beragam program reportase kematian Soeharto ditayangkan. Ada yang wawancara langsung kepada tokoh politik (Amin Rais), budayawan (Cak Nun), hingga aktivis mahasiswa 1998 (Fadjroel Rahman), dan banyak lainnya. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0in; text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0in; text-align: left;"&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS,Arial,sans-serif;"&gt;Selain itu, pampangan iklan disetiap media cetak maupun elektronik saling berdesakan untuk dimuat. Iklan tersebut terlansir bukan ihwal komersial produk atau promosi barang, melainkan iklan yang berisi garitan kalimat belasungkawa pada penguasa orde baru selama 32 tahun memimpin bangsa Indonesia. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0in; text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0in; text-align: left;"&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS,Arial,sans-serif;"&gt;Bahkan, salah satu media cetak terlengkap, Kompas 28 Januari 2008, yang memiliki slogan “Lintas Generasi” itu menyediakan edisi khusus laporan kematian Soeharto. Pembaca setia Kompas pada hari itu disuguhi hingga nyaris “muntah” akan berita kematian Soeharto.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0in; text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0in; text-align: left;"&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS,Arial,sans-serif;"&gt;Rubrik opini Kompas pun,  dikolom paling atas tergambar kartun Soeharto. Disana tertera kartun ilustratif yang apabila ditangkap pesannya: “Pak Harto mengangkat tangan laiknya hormat kepada SBY, seraya berbicara ‘selamat tinggal Indonesia, selamat tinggal sanak-saudara, selamat tinggal anak cucu’.” Kolom Tajuk Rencana pun ditiap-tiap media dihiasi peristiwa mangkatnya Soeharto. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0in; text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0in; text-align: left;"&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS,Arial,sans-serif;"&gt;Simak misalkan, opini Kompas (28/01/2008) mengulas kematian Seoharto. “Merenungi Kematian”, tulisan A Sudiarja (Dekan Fak. Teologi Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta) membikin saya terkesan. Tulisan opini itu menggambarkan betapa wajar bila seseorang mati ditaburi bunga Tulip, sebab “Bunga Tulip itu hidup”,  kata Hideo kepada Takichiro (dalam novel Yasunari Kawabata, &lt;i&gt;The Old Capital&lt;/i&gt; —1962—).  &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0in; text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS,Arial,sans-serif;"&gt;Meski media membombardir berita kematian Soeharto, saya tak terlalu banyak mengikutinya. Pikir saya, itu sudah keterlaluan. Media ditengarai mereduksi inti kematian yang lazimnya direnungi dan diratapi. Seakan peristiwa kematian menjadi lahan basah sebagai “industri kematian” bagi media dengan meraup keuntungan nan fantastis.  Iklan belasungkawa pada Soeharto yang &lt;i&gt;nangkring&lt;/i&gt; dimedia, kalau dibaca dari segi profit, jelas akan memberi untung besar pada media tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt; &lt;/p&gt;   &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1009294533582344733-11358250526682975?l=indonimut.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://indonimut.blogspot.com/feeds/11358250526682975/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1009294533582344733&amp;postID=11358250526682975' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1009294533582344733/posts/default/11358250526682975'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1009294533582344733/posts/default/11358250526682975'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://indonimut.blogspot.com/2008/03/sejarah-media-dan-industri-kematian.html' title=''/><author><name>[A Qorib Hidayatullah]</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15367290909727515085</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_QWqh36EuAxs/SMw1P_rh7-I/AAAAAAAAAJo/W26QVuYW-Y4/S220/New+Image.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1009294533582344733.post-2922875270699052638</id><published>2008-02-19T09:45:00.000+07:00</published><updated>2008-02-19T09:51:34.495+07:00</updated><title type='text'>Mengenang Soeharto dalam Cerpen Indonesia</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp1.blogger.com/_QWqh36EuAxs/R7pDy7qC0uI/AAAAAAAAAHQ/1Kev8diRQfY/s1600-h/25.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 212px; height: 165px;" src="http://bp1.blogger.com/_QWqh36EuAxs/R7pDy7qC0uI/AAAAAAAAAHQ/1Kev8diRQfY/s320/25.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5168518064647623394" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; font-family: trebuchet ms; text-align: center;"&gt;Oleh: A. Qorib Hidayatullah&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; font-family: trebuchet ms;"&gt;Haji Muhammad Soeharto telah berpulang selamanya, menghadap keharibaan Tuhan Yang Mana Esa. Minggu, 27 Januari 2008 jam 13.10 WIB adalah hembusan nafas terakhir mantan Presiden kedua RI itu meninggalkan seluruh rakyat bumiputra. Kala resonansi medis berhenti, tak bergetar lagi, pertanda nyawa hengkang dari jasad manusia. Tak satupun relikui kehidupan dibawanya menuju liang lahat, tempat persemayaman terakhir.&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; font-family: trebuchet ms;"&gt;Ada silogisme (hukum penalaran) yang meniscayakan kematian: &lt;i&gt;“Semua manusia mati. Socrates manusia, Socrates mati.”&lt;/i&gt; Kematian! Siapakah yang mampu menampiknya? Tak seorangpun –-juga sang patriarkh yang dielu-elukan oleh begitu banyak manusia itu. Hanya derap serempak ungkap ratap: “Selamat jalan Pak Harto.” &lt;i&gt;Rest in peace…&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0cm; font-family: trebuchet ms;"&gt;Pak Harto saking lamanya memimpin bangsa ini, 32 tahun, memagnet pesastra mendedah ihwal “kekuasaannya” dalam cerita pendek. Antologi cerpen yang berjudul &lt;i&gt;“Soeharto dalam Cerpen Indonesia”&lt;/i&gt; yang diterbitkan Bentang, 2001, dengan penyunting naskah M Shoim Anwar. Cerpen tersebut merupakan hasil gubahan kolektif dari sastrawan andal tanah air: YB Mangunwijaya, Seno Gumira Ajidarma,  Taufiq Ikram Jamil, F Rahardi, Joni Ariadinata,  Indra Tranggono, M Fudoli Zaini, Jujur Prananto, Agus Noor, Sunaryono Basuki KS, Bonari Nabonenar, Moes Loindong, dan Troyanto Triwikromo.&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0cm; font-family: trebuchet ms;"&gt;Di cover muka buku &lt;i&gt;Soeharto dalam Cerpen Indonesia &lt;/i&gt;itu, terilustrasi bahwa Soeharto adalah seorang raja Jawa, yang sarat dengan atribut kebesarannya, duduk diatas singgasana, berpose stereotip yang memancarkan kekuasaan.&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0cm; font-family: trebuchet ms;"&gt;Secara jujur, Soeharto tergolong tokoh yang sangat penting dalam preseden sejarah Indonesia. Ia mampu mempersatukan sekian ratus kelompok etnik dan kebudayaan menjadi suatu republik yang disegani, pastilah tak lepas dari strategi pengaturan kekuasaan yang hebat dari seorang Jendral Besar tersebut. Kekuasaan sosial, politik, ekonomi, dan budaya yang terbentuk selama pemerintahan Soeharto tidak hanya terasa dilapisan atas, tetapi sampai ke lapisan masyarakat yang paling bawah (&lt;i&gt;grass root&lt;/i&gt;).&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0cm; font-family: trebuchet ms;"&gt;Situasi yang diciptakannya itu pasti saja menimbulkan korban, sebab tidak pernah ada keadaan yang tidak memakan korban. Dalam zaman-zaman sebelumnya dinegeri kita ini juga banyak yang dikorbankan demi berlangsungnya kekuasaan. Jika yang menjadi korban itu mampu menyusun kekuatan, dan jumlahnya semakin besar, kecenderungan yang kemudian timbul adalah penumbangan kekuasaan.&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;     &lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0cm; font-family: trebuchet ms;"&gt;Sejarah, konon, akan terus berulang sehingga ada baiknya jika kita belajar dari sejarah. Sejarah, kata para sejarawan, ditulis oleh pihak yang menang. Dan sastrawan ternyata bukan sejarawan yang mengikuti keyakinan itu. Sastrawan “hanya” memberikan tanggapan terhadap apa yang terjadi disekitarnya, sekaligus memberikan penilaian pribadinya.&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0cm; font-family: trebuchet ms;"&gt;Soeharto, seorang Jawa yang menjadi “raja Jawa” di Indonesia, yang sekaligus juga memberi konotasi kekuasaan dan kesewenang-wenangan. Sikap kepemimpinannya yang terakhir itu (“sewenang-sewenang”), membikin semakin banyak yang tertindas dan semakin luas kekuatan yang menentangnya.&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0cm; font-family: trebuchet ms;"&gt;Dalam masyarakat dimanapun, sastra mempunyai fungsi yang tidak pernah tunggal. Jika pantun bisa menjadi sarana menghubungkan manusia dengan intelegensia abadi dalam hati, sastra boleh dipergunakan untuk menyebarluaskan agama, menggambarkan cinta kasih, mengungkapkan perasaan remaja, menggoda kita untuk tertawa, bahkan sekadar mengajak kita bermain-main. Dan tentu saja, sastra juga untuk menyampaikan kritik dan kemarahan terhadap segala sesuatu yang terjadi disekeliling kita.&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0cm; font-family: trebuchet ms;"&gt;Nada cerita &lt;i&gt;Soeharto dalam Cerpen Indonesia&lt;/i&gt;, memotret “kekuasaan” Soeharto dari satu sisi, yang pada taraf tertentu seragam. Antara lain tentu karena keyakinan bahwa sastra memiliki fungsi untuk membela kaum miskin tabah tuna daya (tertindas). Atau bisa juga dikatakan bahwa strategi Soeharto dalam mempertahankan kekuasaannya berhasil, antara lain dengan cara memaksakan cara berpikir seragam kepada rakyat.&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0cm; font-family: trebuchet ms;"&gt;Itulah menurut keyakinan sementara orang tentang hakikat kesusastraan. Kita tahu, dalam banyak karya sastra klasik para sastrawan bahkan menggubah fiksi mengenai asal-usul raja yang kemudian oleh rakyat banyak dianggap sebagai fakta. Mungkin sekali para penulis cerpen dibuku itu tidak secara langsung menciptakan fiksi tentang Soeharto. Apa yang diciptakan oleh para penulis cerpen tersebut tentu saja bisa ditujukan terhadap rezim jenis apa saja, disini maupun negeri lain.&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0cm; font-family: trebuchet ms;"&gt;Setidaknya dalam kumpulan cerpen itu muncul kesan bahwa segala sesuatu yang terjadi di Indonesia ini, meminjam kata pengantar editornya (M Shoim Anwar), “Soeharto-lah yang harus bertanggung jawab.” Kemudian muncul kecenderungan dikalangan para sastrawan untuk membela para korban kekuasaan. Selama kekuasaan itu masih belum tergoyahkan, para sastrawan mencari berbagai cara untuk menyiratkan atau “menyembunyikan” kemarahan dan kejengkelannya dalam berbagai bentuk, simbolik maupun metaforik. Sastra dijadikan mesiu perlawanan.&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0cm; font-family: trebuchet ms;"&gt;Dalam sejumlah cerpen yang umumnya sudah mencapai taraf komposisi yang menarik, kita menyaksikan proses pengabadian suatu rezim, dan karena hakikat sastra, Soeharto pun menjadi sosok kekal. Meski, di cerpen itu kita tidak mendapati nama mantan Presiden kedua RI itu. Yang ada hanya simbolisasi “kekuasaan” Soeharto yang memberi ruh besar dalam karya cerpen tersebut.&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0cm; font-family: trebuchet ms;"&gt;Kendati pun, kita (rakyat Indonesia) memiliki kesan beragam cara mengenang Bapak Pembangunan yang telah tiada itu. Bagi para aktivis gerakan demokrasi yang menjadi korban kebijakan represif di era Orde Baru, Soeharto dikenang sebagai tokoh diktator. Namun, bagi sejumlah pejabat di era kepemimpinannya, Soeharto adalah pejuang dengan jasa besar.&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; font-family: trebuchet ms;"&gt;    &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; font-family: trebuchet ms;"&gt;Alangkah baiknya kita menyimak garitan puisi gubahan Sapardi Djoko Damono, “Ziarah”, 1969: &lt;i&gt;dengan kaki telanjang; kita berziarah/ke kubur orang-orang yang/telah melahirkan kita//Jangan sampai mereka terjaga!/Kita tak membawa apa-apa//Kita tak membawa kemenyan atau pun bunga-bunga;/kecuali seberkas rencana-rencana kecil (yang senantiasa tertunda-tunda) untuk/kita sombongkan kepada mereka.&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/i&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0cm; font-family: trebuchet ms;"&gt;Pada akhirnya, tidak pernah ada malaikat diantara kita. Kini pemimpin itu telah pergi meninggalkan kita semua. Bagaimana bangsa ini mengubah persepsi menjadi visi. Mengatasi keduniawian dengan kesejatian. Menggeser hadirin dari kepala ke nurani mereka. Kekurangan yang dimiliki Pak Harto tak harus menghapuskan kelebihannya.&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1009294533582344733-2922875270699052638?l=indonimut.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://indonimut.blogspot.com/feeds/2922875270699052638/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1009294533582344733&amp;postID=2922875270699052638' title='10 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1009294533582344733/posts/default/2922875270699052638'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1009294533582344733/posts/default/2922875270699052638'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://indonimut.blogspot.com/2008/02/mengenang-soeharto-dalam-cerpen.html' title='Mengenang Soeharto dalam Cerpen Indonesia'/><author><name>[A Qorib Hidayatullah]</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15367290909727515085</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_QWqh36EuAxs/SMw1P_rh7-I/AAAAAAAAAJo/W26QVuYW-Y4/S220/New+Image.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp1.blogger.com/_QWqh36EuAxs/R7pDy7qC0uI/AAAAAAAAAHQ/1Kev8diRQfY/s72-c/25.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>10</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1009294533582344733.post-2577472129739040376</id><published>2008-02-02T12:00:00.000+07:00</published><updated>2008-02-02T12:15:26.286+07:00</updated><title type='text'>Mengakrabkan Sastra Kepada Tuhannya</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp3.blogger.com/_QWqh36EuAxs/R6P6YZNhTaI/AAAAAAAAAG4/JsIdbvlFP_g/s1600-h/HH.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 230px; height: 164px;" src="http://bp3.blogger.com/_QWqh36EuAxs/R6P6YZNhTaI/AAAAAAAAAG4/JsIdbvlFP_g/s320/HH.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5162244894888119714" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;   &lt;p style="margin-bottom: 0cm; font-family: trebuchet ms;"&gt;Judul Buku : Nabi Tanpa Wahyu&lt;br /&gt;                   (Esei-esei Sastra Perlawanan)&lt;br /&gt;Penulis       : Hudan Hidayat&lt;br /&gt;Penerbit     : Pustaka Pujangga Lamongan&lt;br /&gt;Cetakan     : I, Januari 2008&lt;br /&gt;Tebal         : xii + 218 hlm&lt;br /&gt;Peresensi  : A. Qorib Hidayatullah*&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; font-family: trebuchet ms;"&gt;Bertumpu pada kesadaran tertingginya, manusia akan mewujud melebur kedalam huruf, kata, hingga kalimat-kalimat. Manusia dapat bebas tentukan langgam tema karya sastra yang ia hasilkan. Menembus kanon sastra menjadikannya lentur. Memagnet pesastra pemula asyik-masyuk  bergelut dengan dunia sastra yang tak lagi garang penuh aturan.  Sehingga, terengkuh energi kreatifitas yang tak melulu membincang ihwal “langit” dari sumber tunggal (simbol agama). Serasa gawat, bila ada pemasungan kompleksitas dunia pada satu ruang agama formal.&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; font-family: trebuchet ms;"&gt;“Bila Tuhan menubuh pada dunia, dan ruh menubuh pada badan manusia, maka kesadaranlah menubuh pada kata-kata.” Begitulah garitan kalimat mukaddimah gubahan Hudan Hidayat (HH) “Kredo Seni di Atas Kredo Puisi” dalam buku ini. Kata-kata adalah ruang bagi kesadaran untuk berdiam mengeram. Karena itu kata-kata memang alat untuk menampung kesadaran.  &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;i&gt;Nabi Tanpa Wahyu&lt;/i&gt; HH memuat 26 esai sastra perlawanan. HH mengajak kita (utamanya penulis sastra pemula) agar bebas temukan kemandirian genre sastra yang mengeruhi karya sastra kita kelak. Garis bernas esai HH menyiratkan bahwa beragam rute jalan mengakrabkan sastra kepada Tuhannya. HH berani berpolemik panjang nan meletihkan, demi perjuangkan kemerdekaan ekspresi  tuangkan imaji.  &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; font-family: trebuchet ms;"&gt;Tamsil menggugah HH: “Dengan mengabarkan kesyahduan dan kegilaan, sisi kemanusiaan menjadi lengkap, orang bisa berkaca padanya untuk menggenapkan kehidupan. Orang bisa berkaca padanya untuk sampai pada kebajikan.” Disini HH berusaha tidak menutup sebelah mata dalam melihat realitas keduniawian. Hidup seseorang dipandang HH secara &lt;i&gt;fair&lt;/i&gt;, mesti mutlak mengandung nilai baik dan buruk. Sastra, diharap HH tak hanya menampilkan yang baik-baik saja dari manusia. Sastra tak hanya berkutat pada wilayah estetis &lt;i&gt;an-sich&lt;/i&gt;, berbalik jauh melampaui, sastra sebagai mesiu mengetuk hati nurani, mengakui kemunafikan.  &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; font-family: trebuchet ms;"&gt;Bermula dari Pidato Kebudayaan Taufiq Ismail didepan Akademi Jakarta (2006), yang menyuarakan moral agama dalam sastra. HH menganggap pidato tersebut bukan hanya menyerang sastra dan seni, tapi lebih memporak-porandakan hidup itu sendiri. Taufiq Ismail melancarkan serangan stigmatik sastra: sastra SMS --sastra mazhab selangkangan-- atau sastra FAK --Fiksi Alat Kelamin—(Jawa Pos, 17 Juni 2007).&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; font-family: trebuchet ms;"&gt;Itulah pemantik polemik HH dengan tuan Taufiq. Hingga esai ini digubah, tak lain adalah wujud dialog sehat tentang “nasib sastra”. HH hendak mendedah kredo sastra yang dikunci rapat-rapat oleh tuan Taufiq. “Terasa bagi saya serangan balik tuan Taufiq sangat mematikan. Dengan semangat anti-dialog dan anti-wacana, Taufiq seolah petinju yang memukul lawannya secara ‘kalang-kabut’. Dalam SMS-nya pada saya, Taufiq menyebut tentang ‘kebakaran budaya’, yang penyebabnya antara lain sastra SMS atau sastra FAK.”&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; font-family: trebuchet ms;"&gt;Basis tuduhan Taufiq Ismail membikin kategori sastra SMS atau sastra FAK, langsung membidik jantung karya sastra dari beberapa pesastra, sebut misalkan: Ayu Utami, Djenar Maesa Ayu, Fadjroel Rachman, Muhidin M. Dahlan, Hudan Hidayat, serta Mariana Amiruddin. Karya Ayu Utami &lt;i&gt;‘Saman’&lt;/i&gt;, cerpen Djenar Maesa Ayu &lt;i&gt;‘Menyusu Ayah’&lt;/i&gt; di Jurnal Perempuan atau &lt;i&gt;‘Melukis Jendela’&lt;/i&gt; di Majalah Horison, cerpen Mariana Amiruddin &lt;i&gt;‘Kota Kelamin’&lt;/i&gt; di Jawa Pos, dsb.&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; font-family: trebuchet ms;"&gt;Bak seamsal seorang hakim, Taufiq Ismail langsung memvonis karya-karya sastra tersebut sebagai ‘sastra cabul’ atau sastra yang membincang ‘daun surga’. Padahal kalau ditilik mendalam, menyibak makna dibalik pesan tersurat, karya sastra yang tertera diatas jauh dari klaim sepihak Taufiq Ismail.  &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; font-family: trebuchet ms;"&gt;“Membaca kedua cerpen Djenar itu memang menyebutkan alat kelamin, tapi alat kelamin itu sekadar pintu masuk untuk makna lain. Yakni, penderitaan sang anak yang menjadi korban kekerasan keluarga. Darinya menyembul simpati akan korban kekerasan. Bukan nafsu seks dalam konteks ‘sastra mazhab selangkangan’ yang dimaskud Taufiq,” ujar HH.  &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; font-family: trebuchet ms;"&gt;Begitu juga, bila membaca cerpen Mariana di Jawa Pos, &lt;i&gt;Kota Kelamin&lt;/i&gt;. Spirit yang dibangun Mariana malah bukan hasrat seks, melainkan simpati akan manusia modern yang lelah mengatasi hipokrisi, melulu menutup rapat seolah kelamin terbalut pada tubuh manusia. Sehingga ungkap HH: “daging luar gagrak sastra seperti inilah yang ‘memfitnah’ kami sebagai motor penggerak ‘Gerakan Syahwat Merdeka’. Padahal sastra yang ditulis itu bukanlah semata ‘syahwat merdeka’. Tetapi ‘syahwat’ sebagai sampiran untuk kemerdekaan manusia (hal 11).&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; font-family: trebuchet ms;"&gt;Dalam buku kumpulan esai ini, HH getol betul menggawangi kekebasan sastra dengan mutu argumentasi yang kokoh. Senjata ampuh HH yang dibidikkan kepada Taufiq Ismail ialah apakah ketelanjangan disana bukan sebuah ancang-ancang, untuk meraih makna kesepian atau ketuhanan? HH yakin bahwa Taufiq tidak bisa menghindar dari filsafat penciptaan dan ideologi penciptaan.&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; font-family: trebuchet ms;"&gt;Michel Foucault (1926-1984) telah mengingatkan bahwa persepsi tentang tubuh adalah efek dari jaringan struktural kekuasaan dan pengetahuan. Tubuh mengandung metafor tempat kekuasaan memancangkan nafsu kekuasaannya sehingga melalui tubuh dapat dibaca konsekuensi perubahan-perubahan sosial sepanjang sejarah yang panjang.    &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; font-family: trebuchet ms;"&gt;Dalam ayat dari surat-Nya (QS. 7:22). Tuhan Yang Maha Imajinatif menggambarkan Adam dan Hawa telanjang, setelah melanggar. Akankah kita mengatakan Kitab Suci sebagai teks yang porno? Ketelanjangan Adam dan Hawa, ditempatkan Sang Kreator dalam bingkai sesuatu yang mengatasinya; sebagai sampiran, untuk menerobos kenyataan yang lebih tinggi. “Ketelanjangan”, dalam upaya meraih makna lebih luas, Tuhan membikin lewat peristiwa dan kata-Nya.  &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; font-family: trebuchet ms;"&gt;Nah, dari situ sastrawan dituntut melakukan tafsir dunia dan menemukan makna untuk kekayaan batin manusia. Seperti seorang ilmuwan melakukan tafsir dunia dan menemukan benda untuk kemudahan manusia. Puisi Simone Honecker “Sich Entssheiden atau Mengambil Keputusan”: &lt;i&gt;Setuju tidak setuju/panas atau dingin/terserah, asal janganlah/setengah-setengah//Jika ya katakan ya, jika tidak katakan tidak.&lt;/i&gt;  &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; font-family: trebuchet ms;"&gt;Berkat kerisauan Taufiq Ismail dan kelompok Saut Situmorang akan neo-liberalisme yang mewujud dalam dugaan adanya “sastra seksual”, memaksa HH membuat argumen “teologis” dalam esai ini. Menjangkau Tuhan dengan lambang dan sampiran, sehingga sastra menjadi dunia metafora yang sedap untuk dibaca. Mencerahkan manusia. HH malah khawatir, bila sastra hendak menjauh dari Tuhannya. Oh, aih aih.&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1009294533582344733-2577472129739040376?l=indonimut.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://indonimut.blogspot.com/feeds/2577472129739040376/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1009294533582344733&amp;postID=2577472129739040376' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1009294533582344733/posts/default/2577472129739040376'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1009294533582344733/posts/default/2577472129739040376'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://indonimut.blogspot.com/2008/02/mengakrabkan-sastra-kepada-tuhannya.html' title='Mengakrabkan Sastra Kepada Tuhannya'/><author><name>[A Qorib Hidayatullah]</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15367290909727515085</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_QWqh36EuAxs/SMw1P_rh7-I/AAAAAAAAAJo/W26QVuYW-Y4/S220/New+Image.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp3.blogger.com/_QWqh36EuAxs/R6P6YZNhTaI/AAAAAAAAAG4/JsIdbvlFP_g/s72-c/HH.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1009294533582344733.post-3978954885777426322</id><published>2008-01-11T11:30:00.000+07:00</published><updated>2008-01-16T21:32:32.182+07:00</updated><title type='text'>Belajar Sejarah dari Timbunan Cerita</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp3.blogger.com/_QWqh36EuAxs/R4byikF9GqI/AAAAAAAAAGA/gGQqKxrRM6A/s1600-h/02.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 151px; height: 253px;" src="http://bp3.blogger.com/_QWqh36EuAxs/R4byikF9GqI/AAAAAAAAAGA/gGQqKxrRM6A/s320/02.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5154073499190237858" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Judul Buku    :    Rahasia Meede (Misteri Harta Karun VOC)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Penulis    :    E. S. Ito&lt;/span&gt; &lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;Penerbit    :    Hikmah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Cetakan    :     I, Oktober 2007&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Tebal    :    675 Hal&lt;/span&gt; &lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;Peresensi    :    A. Qorib Hidayatullah*&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam jagad fiksi belakangan ini -baik itu novel, cerpen, maupun puisi-, tak sedikit pengarang memanjakan imanijasi untuk selalu bertanya. Misalnya, Dan Brown yang piawai mengkait-kelindankan konstruksi ceritanya dengan alur hidup seniman besar, Leonardo Da Vinci, hingga novelis itu berhasil melahirkan karya adiluhung The Da Vinci Code yang menggemparkan itu. Begitu juga dengan Matthew Pearl yang membingkai kisahnya dengan kepeloporan penyair, Dante Alighieri (1265-1321), hingga sukses menggubah The Dante Club, novel yang telah melambungkan namanya dalam kancah sastra dunia. &lt;/span&gt;  &lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Novel karya Es ito ini, Rahasia Meede (Misteri Harta Karun VOC), juga tidak bertolak dari semangat membingkai kisah dengan gagasan besar sebagaimana dilakukan Dan Brown dan Matthew Pearl. Pengarang muda ini, mengemas rapi kisahnya lewat sejarah kartel dagang Belanda, VOC, sejak masa awal, masa kejayaan, hingga fase kebangkrutannya, tahun 1799. Jantung tutur kisah dalam novel ini, berkisar di seputar perburuan harta karun VOC yang bermula dari kedatangan laki-laki misterius ke penginapan delegasi Indonesia untuk Konferensi Meja Bundar (KMB) di Den Haag. &lt;/span&gt;  &lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syahdan, para juru runding Indonesia sedang dihadapkan pada pilihan sulit. Pihak Belanda menyodorkan klausul tentang pengalihan utang Hindia Belanda sebesar 4,3 miliar gulden kepada Indonesia. Bung Hatta sudah mencari jalan tengah, tapi para perunding tak berhasil mencapai mufakat. Orang asing itu memberikan selembar kertas lusuh pada seorang delegasi, Ontvangen maar die onderhandeling. Indonesie heeft niets te verliezen! (Terima itu perundingan! Indonesia tak akan rugi!), begitu ia berbisik. &lt;/span&gt;  &lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Tentu saja Indonesia tak bakal rugi, sebab yang diserahkan laki-laki itu adalah dokumen rahasia berisi petunjuk tentang lokasi penyimpanan emas batangan milik VOC. Celakanya, dokumen itu raib, tak ditemukan di dalam peti dokumen KMB yang dibawa delegasi Indonesia. &lt;/span&gt;  &lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Itulah basis problem setiap rangkaian cerita dalam novel setebal 675 halaman ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, pengarang tidak langsung menukik pada perburuan harta karun yang tertimbun selama lebih dari tiga abad itu. Es Ito malah membuka cerita dengan kasus pembunuhan berantai yang meninggalkan sejumlah tanda tanya besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam waktu kurang lebih lima bulan, ditemukan lima mayat yang semuanya terbilang orang penting. Mayat Saleh Sukira (ulama) ditemukan Bukittinggi, Santoso Wanadjaya (pengusaha) dibunuh di Brussels, Nursinta Tegarwati (anggota DPR) dibunuh di Bangka, JP Surono (birokrat) dibunuh di Boven Digoel dan Nono Didaktika (peneliti) dibunuh di Banda Besar. &lt;/span&gt;  &lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Satu selubung misteri belum terungkap, pengarang sudah merancang keterkejutan baru. Batu Noah Gultom (wartawan koran Indonesiaraya) dipusingkan oleh penculikan Cathleen Zwinckel, mahasiswi universitas Leiden yang sedang melakukan penelitian tentang sejarah ekonomi kolonial di Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum diculik, Cathleen dititipkan oleh Prof. Huygens (pembimbingnya) di lembaga penelitian partikelir, Central Strategic Affair (CSA). &lt;/span&gt;  &lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Redaktur senior Indonesiaraya, Parada Gultom, juga hilang entah ke mana. Batu hampir memastikan bahwa dalang semua peristiwa itu adalah gerakan bawah tanah yang menyebut dirinya ; Anarki Nusantara. Sebelumnya, kelompok pengacau yang dipimpin Attar Malaka itu juga dituduh sebagai otak penyerangan bersenjata dan perusakan gedung di sebelah utara Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;lewat karyanya ini, Es Ito dengan leluasa menggiring pembaca ke dalam suasana Batavia di masa gubernur jenderal Cornelis J Spellman (1682) dan sepak terjang Monsterverbond (persekutuan rahasia yang mengendalikan VOC), lalu dengan sangat tiba-tiba ia mengungkap penemuan terowongan bawah tanah (De Ondergrondse Stad) di Museum Sejarah Jakarta (Museum Fatahillah). Terowongan itu diduga berujung di tempat penyimpanan dokumen rahasia tentang harta karun VOC yang hilang sejak 1949. &lt;/span&gt;  &lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada saat yang sama, Es Ito memotret suasana Jakarta hari ini, ia menyebut ‘Bis Transjakarta’, Mikrolet S-11 jurusan Pasar Minggu-Lebak Bulus dan KRL Bojongggede Ekspress. Realitas yang sangat ‘menyehari’ bagi warga Jakarta hari ini. &lt;/span&gt;  &lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Terjebak pada suasana mencekam dalam cerita novel ini, ternyata Batu Noah Gultom bukanlah wartawan biasa, ia anggota intelijen militer yang menyusup di Indonesiaraya guna melacak persembunyian Attar Malaka (sebelum buron ia bekerja di sana).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat menyelamatkan Cathleen dari penculikan, Batu mengaku polisi bernama Roni, padahal ia adalah Batu August Mendrofa, intelijen militer dengan nama sandi ‘Lalat Merah’. &lt;/span&gt;  &lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Sebenarnya, Batu tahu pelaku penculikan Parada Gultom. Redaktur senior itu ‘diambil’ oleh orang-orang suruhan Darmoko, jenderal purnatugas, pemimpin ‘Operasi Omega’ untuk membasmi antek-antek Anarki Nusantara. Parada diinterogasi untuk mengorek informasi perihal keterlibatan Attar Malaka dalam penyerangan bersenjata, perusakan gedung, pembunuhan berantai dan penculikan Cathleen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;ES Ito, pengarang buku ini, membingkai kompleksitas cerita dengan detail sejarah Batavia Tempoe Doeloe. Ada dua pilihan bagi pembaca novel ini; cerita atau sejarah? Jangan-jangan kita memang lebih gampang membangun kesadaran sejarah bila diumpan dengan sederet cerita. Belajar sejarah lewat novel sejarah. Apa boleh buat…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1009294533582344733-3978954885777426322?l=indonimut.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://indonimut.blogspot.com/feeds/3978954885777426322/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1009294533582344733&amp;postID=3978954885777426322' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1009294533582344733/posts/default/3978954885777426322'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1009294533582344733/posts/default/3978954885777426322'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://indonimut.blogspot.com/2008/01/belajar-sejarah-dari-timbunan-cerita_10.html' title='Belajar Sejarah dari Timbunan Cerita'/><author><name>[A Qorib Hidayatullah]</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15367290909727515085</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_QWqh36EuAxs/SMw1P_rh7-I/AAAAAAAAAJo/W26QVuYW-Y4/S220/New+Image.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp3.blogger.com/_QWqh36EuAxs/R4byikF9GqI/AAAAAAAAAGA/gGQqKxrRM6A/s72-c/02.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1009294533582344733.post-8869262774009449785</id><published>2008-01-11T04:10:00.000+07:00</published><updated>2008-01-30T06:24:40.484+07:00</updated><title type='text'>Mengasah Genius Keprigelan Membaca Ekologis</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp0.blogger.com/_QWqh36EuAxs/R5-1XpNhTZI/AAAAAAAAAGw/wIxCut9Efj8/s1600-h/13.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 164px; height: 212px;" src="http://bp0.blogger.com/_QWqh36EuAxs/R5-1XpNhTZI/AAAAAAAAAGw/wIxCut9Efj8/s320/13.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5161043115794058642" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh: A. Qorib Hidayatullah* &lt;p style="margin-bottom: 0cm; font-family: trebuchet ms;" align="justify" lang="en-GB"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; font-family: trebuchet ms;" align="justify" lang="en-GB"&gt;Sejarah ibarat gelombang pasang yang siap menggulung siapa saja. Manusia bukanlah sepotong gabus yang setelah terombang-ambing dapat dengan mudah dihempaskan ke daratan dan menjadi sampah di pantai. Sejarah tentang unggulnya harapan di zaman bergelimang daya-dera yang menggilas. Sejarah yang gagal membikin manusia bertekuk lutut menyerah pada nasib.&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0cm; font-family: trebuchet ms;" align="justify" lang="en-GB"&gt;&lt;br /&gt;Membaca adalah aktivitas niscaya. Agar masyarakat tak melulu dihantam dan dirundung masalah tanpa jeda, kegiatan membaca merupakan investasi mental. Yaitu, mental genius keprigelan masyarakat menggubah bahasa sekaligus mendalami refleksi (&lt;i&gt;muhasabah&lt;/i&gt;) dengan bersikeras hendak mengubah tragika nasib hidup ini.&lt;i&gt; Reading and writing is a basic tool in living of a good life&lt;/i&gt; (Membaca dan menulis merupakan salah satu piranti dasar kehidupan yang berkualitas)&lt;i&gt;”&lt;/i&gt;,&lt;i&gt;  &lt;/i&gt;ujar Mortimer J. Adler.&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0cm; font-family: trebuchet ms;" align="justify" lang="en-GB"&gt;&lt;br /&gt;Ayat suci yang kali pertama lahir dari rahim kitab universal, al-Qur’an, adalah kata &lt;i&gt;Iqra’&lt;/i&gt; (anjuran membaca). “Anjuran” Ilahi tersebut mengandung prinsip transformasi dari setiap makhluk bumi. Transformasi yang menggugah pesona diri bersama semesta hikmah agar arif pijaki alam (baca: arif ekologis).  Kompleksitas sikap: kesadaran diri, spontanitas, terbimbing visi dan nilai, berjiwa holistik, kepedulian, menghormati keragaman, independen terhadap lingkungan, berpikir mendasar, pembingkaian ulang, mengambil manfaat dari kemalangan, kerendahan hati, dan keterpanggilan, adalah muatan sikap transformasi, ketika seseorang menjadi pendengar setia “anjuran” Ilahi itu.  &lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0cm; font-family: trebuchet ms;" align="justify" lang="en-GB"&gt;&lt;br /&gt;Lebih jauh lagi, adalah perihal penting bagi seseorang meninggikan antena kepekaan membaca kondisi alam-ekologis saat ini. Ada tamsil indah-menggugah yang diukir oleh Elie Wiesel, novelis peraih Nobel Perdamaian dalam memoar &lt;i&gt;Night&lt;/i&gt; (1958): “Pada saat Adam dan Hawa mengkhianati-Mu, Tuhan, Kau usir mereka dari Taman Firdaus. Saat dikecewakan  generasi Nabi Nuh, Kau datangkan air bah. Saat kota Sodom dan Gomorah tak lagi menjadi kesayangan-Mu, Kau buat langit memuntahkan kutukan hujan api. Tapi lihatlah para korban yang nasibnya bagai beras sedang diayak dan ditampi ini. Mereka bersimpuh dihadapan-Mu. Mereka memuji kebesaran-Mu.”&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0cm; font-family: trebuchet ms;" align="justify" lang="en-GB"&gt;&lt;br /&gt;Wujud kearifan dan sikap bijak dari masyarakat pembaca (&lt;i&gt;reading society&lt;/i&gt;) pada zaman ini, mengapresiasi secara kontekstual serta menangkap tanda-tanda zaman yang akan terjadi dan telah telanjur terjadi. Bangsa Indonesia memang bangsa yang hidup dinegeri yang  kaya akan bencana alam. Aceh, Nias, dan Pengandaran digulung Tsunami. Yogyakarta dan Klaten diterjang gempa. Sidoarjo direndam bencana korporasi-birokratik lumpur panas Lapindo. Halmahera diguncang gunung meletus. Kalimantan Timur dan Sulawesi Barat disapu banjir bandang justru dimusim kemarau sedang menggila diseantero wilayah Nusantara. Sumatera Barat, Bengkulu, Jambi, Mentawai, dan Blitung pun, tak lepas disatroni lindu, serta banyak rekaman-rekaman terbaru lainnya potret bencana kekinian yang tak tersebut disini.  &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; font-family: trebuchet ms;" lang="en-GB"&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; font-family: trebuchet ms;" align="justify" lang="en-GB"&gt;&lt;b&gt;Membaca dan Memaknai&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Alam bukanlah makhluk hidup yang bisa memperbaiki kerusakan sel-sel dalam tubuh. Manusia yang hidup diatas permukaan bumi yang harus mencegah agar daya rusak tidak semakin parah. Didalam kesedihan, ditengah keporakporandaan puing-puing bangunan yang melibas, dan hamparan ketidakpastian yang harus dijalani oleh para masyarakat korban. Proses penyelaman ke dalam diri jangan sampai membuat tenggelam dan terputus dengan dunia nyata.  &lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0cm; font-family: trebuchet ms;" align="justify" lang="en-GB"&gt;&lt;br /&gt;Yang perlu ditekankan dalam membaca untuk memaknai ialah garis tegas introspeksi perihal nilai dan makna interaksi dengan orang lain.&lt;b&gt; &lt;/b&gt;Membuat keputusan strategis saat kondisi mental sedang buruk, capek, dan tertekan, perlu dihindari sejak dini. Contoh baik yang dapat ditampilkan, “pada minggu pertama setelah gempa, sebelum dapur umum menyala dan persediaan bahan mentah masih langka, operasi nasi bungkus sangat membantu. Bila tidak, kelaparan bakal meluas dan anak-anak kekurangan gizi.” Kemafhuman membaca atas suatu kondisi tertentu masyarakat, sangat menjadi perihal prioritas. Sebab, salah satu manfaat membaca ialah mengaktifkan &lt;i&gt;learning connection&lt;/i&gt;, dan mengolahragakan pikiran.  &lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0cm; font-family: trebuchet ms;" align="justify" lang="en-GB"&gt;&lt;br /&gt;Bencana itu musibah sekaligus berkah. Kepedulian terhadap kemanusiaan bisa dilatarbelakangi kepentingan politik, bisnis bantuan, dan berbagai semangat filantropis berlumuran pamrih. Misalnya, kepedulian merancang perumahan di Aceh pascatsunami dan rumah tahan gempa yang menutup mata terhadap kearifan lokal. Kepedulian semacam ini tak ubahnya burung gagak hendak berpesta pora memangsa bangkai yang terkapar dizona bencana.  &lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0cm; font-family: trebuchet ms;" align="justify" lang="en-GB"&gt;&lt;br /&gt;Aparatus pemerintah, aktivis LSM, dan donatur internasional semua bergerak atas nama kemanusiaan. Mereka bisa berperan sebagai iblis, perusak bumi, dan pendewa materi. Membonceng ideologi kemanusiaan untuk melakukan kejahatan yang ujung-ujungnya mencederai kemanusiaan. Bisa juga berperan ganda, sebagai malaikat, pemelihara lingkungan, dan pengayom korban.        &lt;/p&gt;   &lt;p style="margin-bottom: 0cm; font-family: trebuchet ms;" align="justify" lang="en-GB"&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Membaca dan Keagungan&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Solidaritas adalah harta karun bangsa Indonesia yang terancam punah. Berkah bangsa ini bukan terletak pada kekayaan alam yang kemarin dibanggakan kini diratapi karena dikuras habis persekongkolan elite dan ekonomi lebih cepat dibandingkan eksploitasi penjajahan Belanda dan Jepang.   &lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0cm; font-family: trebuchet ms;" align="justify" lang="en-GB"&gt;&lt;br /&gt;Keunggulan komparatif bangsa yang bertengger di jalur gebalau alam dahsyat tak lain masih adanya manusia-manusia suka bekerja keras, tulus, ikhlas, jujur, hemat, dan pantang serakah mengail di air keruh berbisnis penderitaan manusia.&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0cm; font-family: trebuchet ms;" align="justify" lang="en-GB"&gt;&lt;br /&gt;Dengan menertawakan nasib tragis para penyintas bertahan dalam kesulitan dan tabah dalam penderitaan. Dostoyevsky pernah berujar, ”Jika Anda berharap untuk melihat sekilas ke dalam jiwa manusia dan ingin mengenal seorang manusia, pandanglah saat dia tertawa. Jika dia tertawa dengan lepas, dia orang bijak.”   &lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0cm; font-family: trebuchet ms;" align="justify" lang="en-GB"&gt;&lt;br /&gt;Manajemen yang perlu dipegang dan dilakukan oleh masyarakat pembaca ekologis yang telah menyaksikan langsung maupun tidak akan potret peristiwa-peristiwa getir seperti diatas, bagaimana ia mampu menarasikan alur kesedihan masyarakat korban. Setiap narasi mesti temukan alur akhir yang akan menutup cerita sedih menyayat hati, berbalik menjadi pemantik kesadaran tuna daya lewat keprigelan membaca baru dari masyarakat korban maupun masyarakat saksi. Sebab, ada juga tuduhan umum yang membidik jantung pertahanan bahwa peristiwa kejadian bencana maupun musibah, juga tak lepas dari ulah tangan manusia, tak melulu murni ujian dari Tuhan. Entah mana yang benar?&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; font-family: trebuchet ms;" align="justify" lang="en-GB"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1009294533582344733-8869262774009449785?l=indonimut.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://indonimut.blogspot.com/feeds/8869262774009449785/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1009294533582344733&amp;postID=8869262774009449785' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1009294533582344733/posts/default/8869262774009449785'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1009294533582344733/posts/default/8869262774009449785'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://indonimut.blogspot.com/2008/01/mengasah-genius-keprigelan-membaca.html' title='Mengasah Genius Keprigelan Membaca Ekologis'/><author><name>[A Qorib Hidayatullah]</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15367290909727515085</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_QWqh36EuAxs/SMw1P_rh7-I/AAAAAAAAAJo/W26QVuYW-Y4/S220/New+Image.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp0.blogger.com/_QWqh36EuAxs/R5-1XpNhTZI/AAAAAAAAAGw/wIxCut9Efj8/s72-c/13.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1009294533582344733.post-3361436600005858578</id><published>2008-01-11T03:56:00.001+07:00</published><updated>2008-01-11T04:07:26.929+07:00</updated><title type='text'>Geliat Jagad Potret Penerbitan Jogja</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp2.blogger.com/_QWqh36EuAxs/R4aIAUF9GkI/AAAAAAAAAFM/8m9OI3lTjmw/s1600-h/declare.bmp"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 220px; height: 187px;" src="http://bp2.blogger.com/_QWqh36EuAxs/R4aIAUF9GkI/AAAAAAAAAFM/8m9OI3lTjmw/s320/declare.bmp" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5153956362547173954" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; text-align: left;"&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS,sans-serif;"&gt;Judul Buku : Declare! Kamar Kerja Penerbit Jogja (1998-2007)&lt;br /&gt;Penulis : Adhe&lt;br /&gt;Penerbit : KPJ (Komunitas Penerbit Jogja)&lt;br /&gt;Cetakan : I, September 2007&lt;br /&gt;Tebal : xxxvi + 341 hlm&lt;br /&gt;Peresensi : A. Qorib Hidayatullah*&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; text-align: left;"&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS,sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; text-align: left;"&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS,sans-serif;"&gt;Bersitan awal saat hendak bertandang-kunjung ke kota Gudeg, Jogja, ialah belanja buku sebanyak mungkin dan menjelajah habis dunia perbukuan disana. Bukannya tanpa alasan, citra Jogja -utamanya bagi mahasiswa Jawa Timuran- kadung populer sebagai tempat jual-beli buku melatas harga (murah meriah, akrab selera mahasiswa).&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS,sans-serif;"&gt;Apa boleh lacur, membincang Jogja sama halnya bercengkerama didunia perbukuan. Jogja telanjur identik industri buku, pun tentunya tak lepas landas dari suburnya penerbit-penerbit buku yang turut andil hebat menopang keberlangsungannya. Penerbitan buku Jogja, seakan menjadi ruh jiwa dari maraknya buku ditempat tersebut. Alam penerbit dan dunia perbukuan bertali-temali meniup serentak jantung pertahanan pasar pembaca. Musykil bila ada buku, tanpa dunia penerbitan. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-top: 0.18cm; margin-bottom: 0.18cm; text-align: left;"&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS,sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-top: 0.18cm; margin-bottom: 0.18cm; text-align: left;"&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS,sans-serif;"&gt;Buku gubahan letih Adhe ini, &lt;i&gt;Declare!&lt;/i&gt;, merekam panjang kamar kerja penerbit Jogja mulai 1998-2007. Merupakan buku debut utuh, ‘menelanjangi’ kulit hingga biji terdalam sejarah dan perkembangan penerbitan Jogja. Adhe mengungkap penulisan buku ini sempat mogok dikarenakan tak sesuai &lt;i&gt;mood&lt;/i&gt;, melainkan provokasi kawan rekan kerjanya. Ditulis berbasis sudut pandang dari dalam (&lt;i&gt;from within&lt;/i&gt;) dengan cara melakukan studi literatur dan wawancara mendalam terhadap para pekerja buku yang menjalani kelewat rentang waktu di dunia penerbitan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-top: 0.18cm; margin-bottom: 0.18cm; text-align: left;"&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS,sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-top: 0.18cm; margin-bottom: 0.18cm; text-align: left;"&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS,sans-serif;"&gt;Yang menarik disampaikan dari karya Adhe ini, ialah kegelisahan sesama penerbit Jogja yang terancam gulung tikar, disebabkan tuntutan pilihan sadar, tegakkan garis batas idealisme atau terjebak pada talapak kaki pragmatisme pasar. Tarik ulur diantara keduanya itu, terlihat betul dalam wacana perbukuan di Jogja. Asal diketahui, gemuruh semangat para pendiri penerbit di Jogja –yang mana para pendirinya mayoritas berangkat dari kalangan aktivis mahasiswa- ingin menerbitkan buku-buku bertema ‘berat’ dengan menutup mata rapat-rapat terhadap pasar. Sementara, ada penerbit yang menggadaikan idealisme sucinya dengan menerbitkan buku-buku murahan tapi mendapat lahan pasar yang bagus. Kasus dilematik seperti inilah yang selalu menghantui penerbit Jogja saat ini. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-top: 0.18cm; margin-bottom: 0.18cm; text-align: left;"&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS,sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-top: 0.18cm; margin-bottom: 0.18cm; text-align: left;"&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS,sans-serif;"&gt;Lepas daripada itu, buku inipun menyampaikan analisis sosiologis kenapa penerbit Jogja berpotensi berkembang pesat dan banyak mendapat peneguhan disana-sini, sehingga menarik untuk dibahas. Ternyata alasan mendasar untuk menjawab hal itu, bukanlah terletak pada omzet atau pasarnya. Kalaupun berbicara tentang omzet, banyak penerbit dari kota lain yang lebih menarik dan menggiurkan. Namun, mengenai Jogja sebagai industri buku, seorang pebisnis buku mengaku: “Di Jogja apa saja ada.” Maksudnya, lingkaran industri buku dari pengadaan naskah hingga pemasaran dapat dilakukan di Jogja. Di Jogja, relasi timbal-balik antara industri buku dan industri budaya cukup jelas, masing-masing saling mengadakan, serta saling mengukuhkan.              &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-top: 0.18cm; margin-bottom: 0.18cm; text-align: left;"&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS,sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-top: 0.18cm; margin-bottom: 0.18cm; text-align: left;"&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS,sans-serif;"&gt;Pengalaman menarik yang bisa dipetik dari sejarah perbukuan Jogja adalah bahwa menjadi penerbit ternyata tidak harus memproduksi buku-buku teks seperti lazim dilakukan oleh penerbit-penerbit yang sudah ada pada waktu itu. Orang ternyata bisa menjual buku yang selama ini belum ada dipasar. Dengan kata lain, lahirnya penerbitan juga melahirkan pengalaman melihat pasar, pengalaman melihat wacana alternatif, dan tentu saja pengalaman berorganisasi. Pengalaman ini sebagian besar berada diluar jaringan penerbitan yang sudah mapan. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-top: 0.18cm; margin-bottom: 0.18cm; text-align: left;"&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS,sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-top: 0.18cm; margin-bottom: 0.18cm; text-align: left;"&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS,sans-serif;"&gt;Situasi ini ditunjukkan oleh kemunculan industri buku di Jogja tahun 1990-an. Industri buku di Jogja didukung pertama-tama oleh orang-orang yang ingin menjawab kebutuhan masyarakat akan munculnya wacana yang berbeda dari wacana yang sudah ada. Sebagian besar penerbit mapan kurang sensitif dengan apa yang berkembang dalam kantung-kantung intelektual di Jogja, entah itu dalam bentuk kelompok studi, LSM, dan sebagainya.    &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-top: 0.18cm; margin-bottom: 0.18cm; text-align: left;"&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS,sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-top: 0.18cm; margin-bottom: 0.18cm; text-align: left;"&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS,sans-serif;"&gt;Penerbit Jogja, acap pula disebut penerbit kecil, penerbit alternatif, penerbit rumahan, penerbit koboi, dan penerbit gelap; memiliki kontribusi nilai dan yang sangat berharga bagi industri literasi di Indonesia. Penerbit Jogja juga telanjur diberi stigma sebagai penerbit sompral. Gemar melanggar hak cipta terjemahan, cenderung sembrono menerbitkan buku terjemahan, abai terhadap pembayaran honor penerjemah dan penulis lokal, pemilik penerbitan mencitrakan diri sebagai pengusaha makmur sementara karyawannya miskin kecingkrangan, tidak jujur dalam oplah cetakan, dan membikin semrawut tata niaga buku dengan jor-joran rabat besar.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; text-align: left;"&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS,sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; text-align: left;"&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS,sans-serif;"&gt;Kendati sontoloyo dalam manajemen pengelolaan dan tuna daya dalam permodalan, penerbit Jogja yang dijuluki Lucky Luke (koboi jago tembak yang sering salah sasaran) yang serentak berkibar mulai 1998 itu boleh dibilang fenomenal. Lahir dari tangan para aktivis dan kaum idealis, penerbit Jogja identik dengan buku-buku wacana serius. Jogja melahirkan legenda buku sekaligus estetika sampul nyaris tak tergantikan: Buldanul Khuri dan Hari Ong Wahyu. Pula memasok para kampiun penulis muda berbakat seperti Moammar Emka, Herlinatin, Muhidin M. Dahlan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-top: 0.18cm; margin-bottom: 0.18cm; text-align: left;"&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS,sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-top: 0.18cm; margin-bottom: 0.18cm; text-align: left;"&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS,sans-serif;"&gt;Penerbit Jogja sesungguhnya hikayat kaum tabah yang memiliki distingsi (keunikan) dalam beberapa prinsip transformasi: spontanitas, pembingkaian ulang masalah, dan mengambil manfaat dari kemalangan. Kendati akhirnya rontok dan berguguran, Lucky Luke, si penunggang kuda lamban Jolly Jumper, terbukti mampu mengubah pola pikir dan perilaku pembaca menjadi lebih terbuka terhadap pengalaman baru (&lt;i&gt;openness to experience&lt;/i&gt;) dan penuh dedikasi (&lt;i&gt;conscientiousness&lt;/i&gt;).&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS,sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;Buku ini juga membahas fenomena maraknya penerbit sesudah 2004 yang sangat pragmatis, bervisi jangka pendek, dan pro pasar. Dijelaskan pula ekspansi pemodal besar yang kepincut dengan gagrak (langgam) penerbitan Jogja. Tak kalah menarik fenomena merajalelanya &lt;i&gt;event organizer&lt;/i&gt; yang getol menggeber pameran buku. Bagaimanapun, kelahiran para penerbit Jogja adalah fenomena luar biasa yang dilakukan dengan cara-cara sederhana. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;p style="margin-top: 0.18cm; margin-bottom: 0.18cm;" align="justify"&gt; &lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1009294533582344733-3361436600005858578?l=indonimut.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://indonimut.blogspot.com/feeds/3361436600005858578/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1009294533582344733&amp;postID=3361436600005858578' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1009294533582344733/posts/default/3361436600005858578'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1009294533582344733/posts/default/3361436600005858578'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://indonimut.blogspot.com/2008/01/geliat-jagad-potret-penerbitan-jogja.html' title='Geliat Jagad Potret Penerbitan Jogja'/><author><name>[A Qorib Hidayatullah]</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15367290909727515085</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_QWqh36EuAxs/SMw1P_rh7-I/AAAAAAAAAJo/W26QVuYW-Y4/S220/New+Image.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp2.blogger.com/_QWqh36EuAxs/R4aIAUF9GkI/AAAAAAAAAFM/8m9OI3lTjmw/s72-c/declare.bmp' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1009294533582344733.post-5217517189635832857</id><published>2007-12-26T01:32:00.000+07:00</published><updated>2007-12-26T01:38:04.964+07:00</updated><title type='text'>Menjadikan Ketakutan Sumber Kekuatan</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp0.blogger.com/_QWqh36EuAxs/R3FNEEF9GhI/AAAAAAAAAE0/rqFgZq3C2xM/s1600-h/01.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 186px; height: 250px;" src="http://bp0.blogger.com/_QWqh36EuAxs/R3FNEEF9GhI/AAAAAAAAAE0/rqFgZq3C2xM/s320/01.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5147980581274720786" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Judul Buku    :    Fear is Power&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Penulis    :    Anthony Gunn&lt;/span&gt; &lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;Penerbit    :    Hikmah&lt;/span&gt; &lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;Cetakan    :     I, Oktober 2007&lt;/span&gt; &lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;Tebal    :    x + 312 Hal&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Peresensi    :    A. Qorib Hidayatullah*&lt;/span&gt;  &lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syahdan, Joe Bugner, mantan juara tinju dunia kelas berat, bertanding dua kali melawan Muhammad Ali dan kalah dalam kedua kesempatan tersebut. Lalu, ia dinasehati oleh Muhammad Ali, “siapapun yang masuk ring tinju tanpa rasa takut adalah orang bodoh.” Rasa takut menghampiri kehidupan manusia suatu hal niscaya, kendati ditepis, ketakutan mesti dipastikan mampir juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Wujud dari rasa takut tiap-tiap orang, cukup beragam. Misalkan, ada rasa takut ditolak, bila ia mengajak pergi pacarnya untuk kencan. Ada rasa takut hendak mempresentasikan opininya secara bebas diforum berkumpulnya banyak orang. Ada pula rasa takut mengembalikan barang cacat ke toko asal ia membeli, yang dimungkinkan akan terjadi percekcokan antara penjual dengan pembeli, dsb.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Meski serasa sepele, rasa takut berpotensi mengabrukkan kehidupan seseorang. Ibarat gelombang pasang dilaut, rasa takut siap menggulung dan menggilas siapa saja. Manusia bukanlah sepotong gabus yang setelah terombang-ambing dapat dengan mudah dihempaskan ke daratan dan menjadi sampah di pantai. Seamsal sumber masalah terbesar dalam kehidupan manusia, bermuara pada rasa ketakutannya. Sehingga, perihal kegagalan dan kesuksesan seseorang, turut ditentukan bagaimana ia piawai menyikapi rasa takut yang dimiliki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Ironis, bila seseorang terjangkit rasa takut, tak ayal ia dianggap sebagai manusia lemah-rapuh tak berdaya. Sejarah tentang unggulnya harapan di zaman bergelimang daya-dera yang menggilas. Sejarah yang gagal membikin manusia bertekuk lutut menyerah pada nasib. Rasa takut diibaratkan tanggungan aib. Menyebabkan, orang pun bingung untuk temukan cara bagaimana menghilangkan dan menutupi rasa takutnya agar tak muncul-mengemuka. Bukan sebaliknya, rasa takut tak dipetik hikmah sebagai sumber kekuatan mahadahsyat.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Secara alamiah, rasa takut menjadi pelindung alami, akan memicu kelenjar adrenalin mengeluarkan hormon ke pembuluh darah, yang disebut adrenalin (atau epinefrin). Adrenalin membantu memproduksi serangkaian perubahan nyata dalam tubuh. Semua perubahan itu bertujuan mempersiapkan kewaspadaan akan bahaya (signal of warning). &lt;/span&gt;  &lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Antony gunn, penulis buku ini, menjelaskan bagaimana rasa takut memiliki potensi positif dan negatif dialegorikan seperti halnya air. Tanpa air, kita mati; terlalu banyak air, kita tenggelam. Namun, jika dimanfaatkan dengan baik, rasa takut, layaknya air, merupakan alat pemberi kehidupan. Ketika dituangkan ke dalam wadah, air membentuk sesuai wadahnya. Begitu juga dengan rasa takut, menyesuaikan dengan situasi diri seseorang. Menjadi piranti kebetulan yang bermakna. &lt;/span&gt;  &lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Temuan Gunn dalam karyanya ini, menawarkan sepuluh rahasia sederhana mengatasi, memaksimalkan dan memanfaatkan rasa takut. Gunn berhasil menyiasati rasa takut dengan mengubahnya menjadi inspirasi hidup hebat yang dapat memunculkan sikap berani hingga dijadikan alat capai dalam meraup banyak keuntungan. “Rasa takut adalah faktor motivasi yang sangat kuat. Takut gagal merupakan komponen pusat menuju sukses,” ujar Alan Jones, mediator kepribadian dan pembicara publik paling berbakat di Australia.   &lt;/span&gt;  &lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai psikolog spesialis rasa takut, Gunn, berikhtiar dan beriktikad gigih, bermodal kuriositas tinggi mencari tahu konsepsi orang-orang (ia sebut “pakar rasa takut”) yang menghadapi rasa takut dengan cara berbeda. Gunn mendapati mereka para pakar rasa takut mendekati situasi berisiko tinggi tak bedanya saat sedang berjalan dan melintas di taman yang indah. Pokok pertanyaan Gunn, “Bagaimana para pakar rasa takut bisa mengatasi rasa gugupnya? Bisakah semua orang melakukannya?” Inilah kunci sukses eksperimen Gunn, ketika awal kali ia meneliti dan mewawancarai beberapa pakar rasa takut.&lt;/span&gt;  &lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Optimisme Penuh Harap&lt;/span&gt; &lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;Menyitir falsafah semangka, meski kulit luar tampak hijau tak berdaya, tapi daging dalam merah menyala. Persoalan hidup yang kian rumit tak terelak, karut-marut bahkan getir, menuntut kelihaian hadapi risiko dan tantangan besar sekalipun, membutuhkan manajemen matang dalam melakukannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Kecenderungan diri yang hanya ingin terus-menerus berada di zona nyaman tanpa masalah, justru membawa kiriman asap tebal rasa takut yang dimilikinya. Sehingga, diri itupun akan terjebak dalam labirin penundaan tindak laku untuk melaksanakan tugas atau pekerjaan, sebab kadung diliputi rasa takut yang luar biasa. &lt;/span&gt;  &lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gunn ditiap bab dalam bukunya ini, tanpa lelah  mengajarkan secara berulang-ulang, bahwa perihal menunda melakukan sesuatu karena takut gagal, takut salah, takut hasilnya jelek, dsb, merupakan tipuan ilusif dari rasa takut itu sendiri. Gunn menginginkan lewat karyanya ini, tercipta orang yang penuh spekulasi dan tak goyah hadapi banjir problem. “Tak ada keputusan lebih baik daripada keputusan salah,” ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Lebih jauh, Gunn, mengimbau segeralah untuk ambil keputusan. Tidak memutuskan sama saja dengan terlalu lama berpikir dan tidak berbuat apa-apa. Cara tercepat untuk menjembataninya adalah dengan mengambil keputusan. &lt;/span&gt;  &lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Penundaan tidak menginginkan seseorang mengambil keputusan, agar tetap dapat terpenjara di zona nyamannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengambil keputusan dan bertindak dengan melangkah sedikit demi sedikit, merupakan dua alat untuk mengalahkan penundaan. Tekanan hidup bukanlah bencana melainkan rahmat. Suasana hati turut memproyeksikan pesimisme. Memutus mata rantai depresi dengan menumbuhkan optimisme penuh harap.&lt;/span&gt;  &lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Tapi yang perlu diingat, jangan membuat keputusan strategis saat kondisi mental sedang buruk, capek, dan tertekan. Proses penyelaman ke dalam diri jangan sampai membuat tenggelam dan terputus dengan dunia nyata. Tanggalkan kecenderungan berpikir usang (tend to think the way they are). Cari alternatif jalan keluar terbaik (tend to think the way they could be).&lt;/span&gt;  &lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terakhir, buku ini merupakan gubahan duologi gabungan genius keprigelan seorang maestro menciptakan motivasi sekaligus kedalaman refleksi seorang pemikir yang bersikeras hendak mengubah tragika nasib menjadi ironi. Sehingga, buku ini layak dibaca siapapun, agar terbimbing visi dan nilai, mengambil manfaat dari kemalangan, kerendahan hati, serta keterpanggilan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1009294533582344733-5217517189635832857?l=indonimut.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://indonimut.blogspot.com/feeds/5217517189635832857/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1009294533582344733&amp;postID=5217517189635832857' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1009294533582344733/posts/default/5217517189635832857'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1009294533582344733/posts/default/5217517189635832857'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://indonimut.blogspot.com/2007/12/menjadikan-ketakutan-sumber-kekuatan.html' title='Menjadikan Ketakutan Sumber Kekuatan'/><author><name>[A Qorib Hidayatullah]</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15367290909727515085</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_QWqh36EuAxs/SMw1P_rh7-I/AAAAAAAAAJo/W26QVuYW-Y4/S220/New+Image.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp0.blogger.com/_QWqh36EuAxs/R3FNEEF9GhI/AAAAAAAAAE0/rqFgZq3C2xM/s72-c/01.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1009294533582344733.post-3245508272606467249</id><published>2007-12-14T01:05:00.000+07:00</published><updated>2007-12-16T09:03:48.131+07:00</updated><title type='text'>Pemantik Kesadaran Revolusioner</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp2.blogger.com/_QWqh36EuAxs/R2F00s75BXI/AAAAAAAAAEc/MYaiADh2evA/s1600-h/cover+kesadaran.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 145px; height: 215px;" src="http://bp2.blogger.com/_QWqh36EuAxs/R2F00s75BXI/AAAAAAAAAEc/MYaiADh2evA/s320/cover+kesadaran.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5143520698198197618" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=";font-family:trebuchet ms;font-size:100%;"  &gt;Judul Buku    :    Trilogi Kesadaran (Kajian Budaya Semi, Anatomi                        Kesadaran, dan Ras Pemberontak)&lt;br /&gt;Penulis    :    Nurel Javissyarqi&lt;br /&gt;Penerbit    :    Pustaka Pujangga&lt;br /&gt;Cetakan    :    I, Oktober 2006&lt;br /&gt;Tebal    :    xxx + 490 hlm&lt;br /&gt;Peresensi    :    A. Qorib Hidayatullah*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beracu pada aforisma padat Rene Descartes, Cogito Ergo Sum (Aku Berpikir, Maka Aku Ada), ada kemiripan ketika membaca pemikiran Nurel dalam buku ini. Nurel bisa dikatakan sosok muda yang gila akan makna kesadaran. Ia berani menggugat tanpa tedeng aling-aling akan kemapanan dalam dirinya. Pemberontakan jiwanya telah mewarnai kanvas-kanvas kehidupan untuk dituangkan. Seturut Descartes, yaitu sosok filsuf ‘yang menyangsikan segalanya’, “cogito”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Trilogi kesadaran, merupakan buah refleksi anatomi kesadaran Nurel demi mengembang-terbangkan sayap-sayap pemikirannya. Ujung pemikirannya, dibidikkan pada ranah pembebasan orisinalitas jiwa insan dari ketertindasan atas masa perubahan (pancaroba). Jejak jajakan intelektualnya, diberangkatkan dari asal kesadaran akan eksistensi diri menuju kegelisahan besar atas sejarah zaman. Lahan kesangsiannya adalah kehidupan sehari-hari dalam menggali nilai-nilai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkiblat pada Goenawan Muhamad dipengantar bukunya, Eksotopi, berujar: “Sejak selama hampir separuh abad terakhir; seorang Indonesia adalah seorang yang peka oleh pengalamannya dengan kekuasaan. Pengalaman itu, sesuatu yang traumatis, bermula dari tubuhnya, dari ruang bersama tempat ia tinggal dan bergerak, dari saat pertemuannya dengan orang lain, dari penentuan identitas, dari kehidupannya berbahasa dan menafsirkan, dari kepercayaannya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adalah sosok Nurel, kelahiran tanah Lamongan, 08 Maret 1976, sebagian dari orang Indonesia yang dimaksud Goenawan telah mempertajam pengalaman, dan menisbatkan dirinya untuk jadi wakil suara-suara pedesaan. Lewat karya-karya lainnya, Ujaran-ujaran Hidup Sang Pujangga &amp;amp; Kulya Dalam Relung Filsafat, dan juga buku ini, menghantarkan kepada pemahaman, bahwa ada generasi muda yang memiliki kesadaran revolusioner saat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Budaya Semi&lt;br /&gt;Dikajian ini, Nurel memosisikan kesadaran asimetris dengan segala kebijakan-kebijakan Negara yang digulirkan. Ia tak mudah terima kenyataan bulat-bulat, terus digugat hingga temukan kesadaran versinya. Kalau saya maknai, ia seolah mendambakan bangsa mandiri, tanpa intervensi siapapun. “Kenapa kita selalu belajar pada bangsa sudah ompong (yang telah kenyang pengalaman hingga seenak udelnya berbuat onar dimuka bumi). Bukankah bangsa asing sudah cukup mengocok perut otak kita, sebagai bola bekel, adu domba antara ideologi dalam pada bangsa kita sendiri.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ditopang “kesadaran murni”, ia sangat berharap bangsa ini percaya diri, dan mampu ciptakan wejangan sendiri walaupun itu bobrok. Bangsa yang tak lagi didekte oleh bangsa asing, ruh pendidikan tak lagi dikonsumsi dari negeri seberang, yang nyata-nyata tak sesuai dengan kepribadian kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Renung kesadaran Nurel, sengaja diletupkan meraih kembalinya karakter asli bangsa. Berpayung cinta tanah airnya, “Ingat, kita memilikinya; danau indah, rawa-rawa menawan, lautan megawan, kepulauan, rentet sekalung putri raja. Tapi dengan apa kita suguhkan kepada dunia, jikalau masih selalu pulas tidur mendengkur, mabuk tak bisa berbuat atas kekuasaan anggur asing.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Budaya semi, dianggap Nurel sebagai penelitian pseudo ilmiah. Ia tuangkan kesadaran bebas ditengah pergulatan bangsa ini. Manusia yang benar-benar sempurna, bebas secara definitif, dan sempurna puas dengan diri yang sebenarnya. Jika penguasa malas adalah kebuntuan, maka perbudakan yang giat bekerja, sebaliknya merupakan sumber dari seluruh kemajuan manusiawi, sosial, dan historis. Sejarah adalah sejarah budak yang bekerja. (Alexander Koje’ve, dikutip Fukuyama).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anatomi Kesadaran&lt;br /&gt;Dijelaskan Nurel, anatomi kesadaran merupakan gabungan psikologi diri dalam meramu filsafat kalbu keimanan dengan memakai timbangan nalar (hlm 172). Anatomi kesadaran adalah pemaknaan diri didepan cermin. Merefleksi segala yang ada bertopangan kesadaran diri, menelisik, meneliti bahwa perubahan harus terus dirasakan berkesadaran puncak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana manfaat kesadaran, anatomi kesadaran merupakan esensi paling dalam. Yaitu, pengembangan fitrah insani untuk terus diperjuangkan meski pada ranah mengecewakan. Karakter suatu kesadaran takkan terbentuk jika tak mau merawat (kegelisahan atas keseimbangan integralitas diri sebagai diri bangsa). Garis inilah, yang selalu digebu agar terbentuk wacana baru, yaitu kesadaran diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dicontohkan Nurel: “misalnya kita terkadang terima sepucuk surat dari kawan lama, lalu tahu-tahu dapati kegembiraan, sebab kawan itu tak berhubungan lama, bagi tanda mengingat lewat datangnya surat. Ketiba-tibaan inilah macam rindu tersembuhkan atas gerak luar yang nanti membentuk kesadaran baru, kiranya sapaan kalimat lembut memanggil jiwa atau sebaliknya jika surat yang datang berberita tragedi, kita bisa memberi motivasi agar yang terselubung permasalahan cepat teratasi.”&lt;br /&gt;Anatomi kesadaran dapat mewujud atas kesungguhan cita, menancapkan kepercayaan yang dalam, agar gerak langkah menambah penciptaan atas kerja keras, demi mencapai tujuan yang diharapkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ras Pemberontak&lt;br /&gt;Jiwa pemberontak tak dapat dilepaskan dari kesadaran. Ruh kesadaranlah, menyebabkan seseorang memberontak, menggugat, dan mendekonstruksi. Apapun disekitarnya, perlu diselaraskan dengan pemahaman dan kesadaran. Karena, kesadaran mutlak pemberontak hanya bersemai didalam diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Refleksi Nurel: “Kesadaran itu kekuasaan terbangun, berlangsung bagi naluri, berkembang dari sekumpulan pertanyaan dan ruang kosong penentu pijakan. Perbendaharaan dari sembuhan nalar atas daya tarik kontrak sosial dan kontrol tampak dinamai kesadaran kekuasaan.” (hlm 315).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kekuasaan dan kesadaran adalah cara pandang mendasar, hadir atas penjajalan (percobaan) persepsi hingga menghasilkan premis penentu. Yaitu, dibangun melalui sarana mental evolusi nilai, terus dikembangkan di alam sekitar, dan hidup kita sehari-hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang terpenting, cara kerja membuang kebiasaan lama, bangun berkekuatan baru, berasal dari tiap diri kita masing-masing. Jiwa pemberontak, yang benar-benar berharap revolusi diri-dari revolusi nilai positif- yang selama ini kita abaikan.     &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku ini lewat refleksi-refleksi kristal sang pengarang, memberikan stimulus hebat menuju manusia berkesadaran. Membacanya, kesadaran mapan kita terkikis, digugat, hingga direstorasi. Menjadi referensi, bagi siapapun yang ingin bergerak sosial (social movement) menuju revolusi sosial.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1009294533582344733-3245508272606467249?l=indonimut.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://indonimut.blogspot.com/feeds/3245508272606467249/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1009294533582344733&amp;postID=3245508272606467249' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1009294533582344733/posts/default/3245508272606467249'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1009294533582344733/posts/default/3245508272606467249'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://indonimut.blogspot.com/2007/12/pemantik-kesadaran-revolusioner.html' title='Pemantik Kesadaran Revolusioner'/><author><name>[A Qorib Hidayatullah]</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15367290909727515085</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_QWqh36EuAxs/SMw1P_rh7-I/AAAAAAAAAJo/W26QVuYW-Y4/S220/New+Image.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp2.blogger.com/_QWqh36EuAxs/R2F00s75BXI/AAAAAAAAAEc/MYaiADh2evA/s72-c/cover+kesadaran.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1009294533582344733.post-4991738549155235962</id><published>2007-12-14T00:58:00.000+07:00</published><updated>2007-12-14T01:03:55.248+07:00</updated><title type='text'>Menembus Teks Kesahihan Bersetubuh</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp0.blogger.com/_QWqh36EuAxs/R2FzWM75BWI/AAAAAAAAAEU/f0kFWLb1COg/s1600-h/cover+Ritual+celana+dalam.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 128px; height: 191px;" src="http://bp0.blogger.com/_QWqh36EuAxs/R2FzWM75BWI/AAAAAAAAAEU/f0kFWLb1COg/s320/cover+Ritual+celana+dalam.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5143519074700559714" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=";font-family:trebuchet ms;font-size:100%;"  &gt;Judul Buku    :    Ritual Celana Dalam&lt;br /&gt;Penulis    :    Andy Stevenio&lt;br /&gt;Penerbit    :    Galang Press&lt;br /&gt;Cetakan    :    I, 2007&lt;br /&gt;Tebal    :    188 hal&lt;br /&gt;Peresensi    :    A. Qorib Hidayatullah*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melayani hasrat seksual bagi manusia adalah kebutuhan niscaya. Pencetus teori hierarki kebutuhan pokok manusia, Abraham Maslow, menempatkan di rangking wahid tentang kebutuhan dasar manusia yaitu kebutuhan seksual. Terasa ganjil dan menggelitik bila ada seseorang yang memenuhi hajat seksualnya secara unik, tak sama dari formula senggama keumuman orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Stevenio dikaryanya ini berhasil menguak potret beda cara pemenuhan hasrat seksual seseorang. Hal ini tak lepas, concern kajian dia sebagai pemerhati problem anak remaja masa kini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Erat-kaitannya dengan relasi seks ganjil, Stevenio mengemukakan contohnya. Seperti, bercumbu mesra atau kencan dengan mayat yang tergeletak kaku tanpa nyawa, menyaksikan pasangannya berhubungan dengan orang lain dirinya baru bisa terangsang, mempertontonkan alat kelamin didepan umum untuk mendapatkan sensasi seksual, berhubungan intim dengan boneka, menjadikan bulu ketek sebagai pembangkit libido dan lain-lain. Praktik seksual semacam itu tergolong aneh dan kerap banyak orang menganggap si pelaku terjangkit kelainan seksual.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beragam praktik keunikan seksual (kalau tak mau disebut kelainan seksual) acap kali terjadi seiring ketaklaziman si pelaku seks atau berbeda dengan hubungan seksual konvensional. Mereka tak anyal dikatakan sebagai orang yang abnormal, dikarenakan jauh dari praktik seksual pada umumnya. Peristiwa sadomashokis, misalnya. Dimana, hasrat si suami dapat tersalur mulus dengan nafsu gairah memuncak ketika si istri dipukuli lebih awal, dan dapat dipastikan kondisinya meronta kesakitan bahkan menangis, baru ia (suami) terangsang “menggarap” istrinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih jauh, Stevenio ingin mengungkap bahwa rute raih kepuasan seseorang perkara seksual cukup berbeda-beda. Seakan ditegaskan, tak berhak jika kita menghakimi ekstase seksual orang lain. Model-gaya seksual seseorang dapat dipastikan telah memiliki ruas jalan masing-masing dalam meraih kenikmatan seksualnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ritual celana dalam atau lebih tepatnya Ritual isi celana dalam, memiliki kecondongan pandangan unik dimana hubungan intim yang konvensional tak lagi mampu memuaskan keinginan hasrat seksual mereka. Sehingga, mereka mempunyai alternatif sendiri guna menyalurkan keinginannya. Satu puncak kepuasaan yang sesungguhnya dituntut oleh isi celana dalamnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seiring kecanggihan tekhnologi, HP misalnya, yang banyak membantu mempercepat relasi komunikasi sehari-hari, memiliki efek besar terhadap relasi seksual manusia. Tak diterka-sangka, berkat bantuan HP, muncullah istilah Sex-Phone, dijadikan tren acuan meraih kepuasaan seksual orang modern.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak sedikit orang menggunakan jasa sex-phone bila kebutuhan biologisnya mendesak. Caranya pun tak terlalu rumit, tinggal kita memilih betah di gagang telepon untuk ngobrol-ngobrol dengan seseorang, tentunya lewat ocehan-ocehan vulgar yang mampu membangkitkan gairah hingga pada tingkat yang paling tinggi atau klimaks.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski dipaparkan dimuka mengenai banyaknya praktik seksual unik, tidak kemudian menjadikan kita berhak penuh dengan mengatakan: “tindakan mereka itu salah dan jauh dari moral berkeadaban.” Mereka adalah orang gila, sebab perilaku seksualnya berbeda dengan lazimnya aktivitas seksual keumuman. Merunut pemikiran filsuf post-modern, Michel Foucault, telah mengadopsi prinsip-prinsip geneologis guna mengobrak abrik kategori-kategori yang oleh masyarakat dimutlakkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti penelitian historis Foucault tentang kegilaan. Lewat penelitian itu, Foucault ingin menyerang terhadap pemutlakan kegilaan sebagai penyakit mental. Kita cenderung menyebut orang yang tiba-tiba melucuti pakaiannya didepan umum sebagai orang “gila”. Seseorang yang harus segera mendapat bantuan profesional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kegilaan, bagi Foucault bukan suatu sudah pada kodratnya penyakit. Lebih jauh, penelitiannya membuktikan bahwa pada satu masa kegilaan bukan di konsepsikan sebagai penyakit, melainkan kesalahan moral yang mereduksi manusia ketingkat kebinatangan. Degradasi yang membuat manusia harus dikurung dan diisolasi, justru bukan disembuhkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Foucault, seorang filsuf yang gagah berani. Ia mampu melacak kegilaan dan pergeseran artikulasi yang bersifat normatif antara pengalaman yang valid dan tak valid, serta perilaku  yang dianggap normal dan tidak normal. Kaitannya dengan kehidupan, Foucault memproyeksikan hidup sebagai seni. Hidup adalah penciptaan diri lewat pelampauan yang terus-menerus. Karenanya, kotak-kotak kategorial yang membungkus rapi eksistensi manusia harus disobek-tembus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kategorisasi kegilaan bukan kesalahan yang kemudian dibenahi oleh psikologi modern. Kegilaan, baik secara cacat moral maupun penyakit mental, tak lebih dari sekadar konstruksi sosial. Nietzche, filsuf yang duduk di aliran anti-esensialis, pernah melakukan hal yang sama terhadap moralitas. Kategori moralitas Kristiani yang dianggap suci, bening, dan mutlak dibuktikan sebaliknya. Kategori tersebut muncul pada satu konteks historis tertentu. Konteks historis saat para budak yang terhina membalik nilai-nilai aristokrat yang dikaguminya menjadi “yang jahat dan terkutuk”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membincang seksual tak hanya sekadar relasi intim antara pria dan wanita, serta kepuasaan an-sich diantara keduanya. Lebih jauh, seks diharap mampu menjadi batu-bata peradaban kukuh kelak dengan menciptakan keturunan-keturunan tangguh. Lewat seksualitas produktif dituntut amanah memperkaya manusia dan menjaga kelangsungan spesies homo sapiens, manusia yang bijak dan berpikir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku Stevenio ini, memperkaya pengetahuan kita tentang keunikan- keunikan praktik seksual yang dilakukan si pelaku seks. Keberhasilannya memotret panggung teater keunikan seksual yang tergolong jarang diekspos oleh orang secara umum, saya pikir ia patut disemat sebagai pembela pelalu seks pinggiran. Banyak diantara kita menganggap, peristiwa seksual adalah hal tabu. Berbicara seks, kerap kita dianggap menebar aib ke orang lain. Bukankah sex education juga dibutuhkan? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1009294533582344733-4991738549155235962?l=indonimut.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://indonimut.blogspot.com/feeds/4991738549155235962/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1009294533582344733&amp;postID=4991738549155235962' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1009294533582344733/posts/default/4991738549155235962'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1009294533582344733/posts/default/4991738549155235962'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://indonimut.blogspot.com/2007/12/menembus-teks-kesahihan-bersetubuh.html' title='Menembus Teks Kesahihan Bersetubuh'/><author><name>[A Qorib Hidayatullah]</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15367290909727515085</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_QWqh36EuAxs/SMw1P_rh7-I/AAAAAAAAAJo/W26QVuYW-Y4/S220/New+Image.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp0.blogger.com/_QWqh36EuAxs/R2FzWM75BWI/AAAAAAAAAEU/f0kFWLb1COg/s72-c/cover+Ritual+celana+dalam.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1009294533582344733.post-6240869402278631720</id><published>2007-12-14T00:48:00.000+07:00</published><updated>2008-01-16T21:13:11.045+07:00</updated><title type='text'>Grafiti</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp3.blogger.com/_QWqh36EuAxs/R44P-kF9GuI/AAAAAAAAAGg/WnmPsP4T-gw/s1600-h/DEsain+Buku.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://bp3.blogger.com/_QWqh36EuAxs/R44P-kF9GuI/AAAAAAAAAGg/WnmPsP4T-gw/s320/DEsain+Buku.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5156076190900755170" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp0.blogger.com/_QWqh36EuAxs/R2FyaM75BVI/AAAAAAAAAEM/7RxDmF2yJlQ/s1600-h/bg183.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://bp0.blogger.com/_QWqh36EuAxs/R2FyaM75BVI/AAAAAAAAAEM/7RxDmF2yJlQ/s320/bg183.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5143518043908408658" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp1.blogger.com/_QWqh36EuAxs/R2Fx-c75BUI/AAAAAAAAAEE/8HulK-olBXY/s1600-h/bws_product.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://bp1.blogger.com/_QWqh36EuAxs/R2Fx-c75BUI/AAAAAAAAAEE/8HulK-olBXY/s320/bws_product.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5143517567167038786" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp1.blogger.com/_QWqh36EuAxs/R2Fxyc75BTI/AAAAAAAAAD8/kz8c7Kw1MSI/s1600-h/askew_15.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://bp1.blogger.com/_QWqh36EuAxs/R2Fxyc75BTI/AAAAAAAAAD8/kz8c7Kw1MSI/s320/askew_15.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5143517361008608562" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp1.blogger.com/_QWqh36EuAxs/R2FxBc75BSI/AAAAAAAAAD0/A6TCU4XbEtQ/s1600-h/askew_12.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://bp1.blogger.com/_QWqh36EuAxs/R2FxBc75BSI/AAAAAAAAAD0/A6TCU4XbEtQ/s320/askew_12.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5143516519195018530" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp3.blogger.com/_QWqh36EuAxs/R2Fww875BRI/AAAAAAAAADs/oyoUnqarfkE/s1600-h/askew_10.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://bp3.blogger.com/_QWqh36EuAxs/R2Fww875BRI/AAAAAAAAADs/oyoUnqarfkE/s320/askew_10.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5143516235727176978" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1009294533582344733-6240869402278631720?l=indonimut.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://indonimut.blogspot.com/feeds/6240869402278631720/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1009294533582344733&amp;postID=6240869402278631720' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1009294533582344733/posts/default/6240869402278631720'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1009294533582344733/posts/default/6240869402278631720'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://indonimut.blogspot.com/2007/12/graffity.html' title='Grafiti'/><author><name>[A Qorib Hidayatullah]</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15367290909727515085</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_QWqh36EuAxs/SMw1P_rh7-I/AAAAAAAAAJo/W26QVuYW-Y4/S220/New+Image.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp3.blogger.com/_QWqh36EuAxs/R44P-kF9GuI/AAAAAAAAAGg/WnmPsP4T-gw/s72-c/DEsain+Buku.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1009294533582344733.post-1370839733990403082</id><published>2007-12-12T01:22:00.000+07:00</published><updated>2007-12-26T01:30:12.868+07:00</updated><title type='text'>Risiko Jurnalis Meliput di Zona Merah</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp0.blogger.com/_QWqh36EuAxs/R17V8875BQI/AAAAAAAAADU/D6Hnvc_VHAY/s1600-h/03.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 151px; height: 203px;" src="http://bp0.blogger.com/_QWqh36EuAxs/R17V8875BQI/AAAAAAAAADU/D6Hnvc_VHAY/s320/03.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5142783067629880578" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify" lang="sv-SE"&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS,sans-serif;"&gt;Judul Buku    :    168 Jam dalam Sandera (Memoar Jurnalis Indonesia yang&lt;br /&gt;       Disandera di Irak)&lt;br /&gt;Penulis    :    Meutya Hafid&lt;br /&gt;Penerbit    :    Hikmah Bandung&lt;br /&gt;Cetakan    :     I, September 2007&lt;br /&gt;Tebal    :    xviii + 280 Hal&lt;br /&gt;Peresensi    :    A. Qorib Hidayatullah&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify" lang="sv-SE"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS,sans-serif;"&gt;       &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify" lang="sv-SE"&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS,sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify" lang="sv-SE"&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS,sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify" lang="sv-SE"&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS,sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;Amanah serius jurnalis adalah bagaimana ia mampu memburu berita se-eksklusif mungkin, menguji kelihaian teknik wawancara dengan orang-orang yang tepat, bertindak gesit, serta dinamis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tugas jurnalistik merupakan misi mulia, sebab  turut andil mengemban perihal keberlangsungan demokrasi di bangsa ini. Kendati berpredikat mulia, tugas jurnalistik tak luput dari ancaman dan tekanan, bahkan pertaruhan nyawa sekalipun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk mendapat berita bagus yang layak sampai ke khalayak, bagi jurnalis tak semudah membalikkan telapak tangan. Apalagi, tugas peliputannya terkategori zona merah (meliput di wilayah konflik atau bencana). Sudah barang tentu, tempaan kompleksitas sikap seorang jurnalis: berani, tangguh, tahan letih, anti kecewa, anti getir, tak lupa pula teknik lobi yang andal, sudah menjadi bekal awal sebelum ia berangkat meliput. Bahkan, ada tamsil menggugah didunia jurnalistik kita, “tak ada berita yang nilainya lebih dibanding nyawa”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dibuku ini, 168 Jam dalam Sandera (Memoar Jurnalis Indonesia yang Disandera di Irak, karya Meutya Hafid, berbagi cerita agar tugas suci jurnalistik tak sekadar mengantar nyawa dan kekonyolan. Meutya atau Mut saja, begitu penulis buku ini dipanggil, adalah reporter Metro TV berdarah Bandung, yang ditugasi meliput pemilu Irak, bulan Februari 2005, bersama juru kamera, Budiyanto. Dua rekan kerja ini pula adalah mantan korban penyanderaan oleh Mujahidin Irak, Jaussy Mujahidin, saat hendak meliput perayaan Asyura di negara tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meutya dan Budi disandera oleh kelompok militan Jaussy Mujahidin saat mobil yang mereka tumpangi untuk melakukan tugas jurnalistik selama di Irak, berhenti di pom bensin. Lalu, mereka digiring paksa menuju Gua Ramadi untuk dimintai keterangan lebih lanjut mengenai statusnya datang ke Irak. Satu demi satu jurus interogasi oleh kelompok Jaussy Mujahidin diluncurkan kepada kedua jurnalis tersebut. Penyanderaan dilakukan, sebab kelompok militan curiga atas utusan mata-mata AS.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify" lang="sv-SE"&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS,sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;Bekal Jurnalis&lt;br /&gt;Yang terpenting dibuku ini adalah buah refleksi penulis pasca sandera di Gua Ramadi selama 168 jam (hlm 202). Meutya merasa butuh betul akan bekal bagi jurnalis ketika hendak reportase di wilayah konflik ataupun bencana. Berkat pengalamannya disandera, Meutya kerap diundang berdiskusi oleh trainer perusahaan security consultant, AKE.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengalaman ekstrim Meutya, saat ia mereportase ledakan besar di  pusat Kota Bagdad, Tahrir Square. Ia dengan santai memegang serpihan bom, lalu ditunjukkan ke kamera, sembari berucap/menyiarkan ke pemirsa: “Inilah satu rangkaian bom yang digunakan untuk meledakkan pusat Kota Bagdad, hanya beberapa kilometer dari pusat komando pasukan koalisi.” Padahal, bom yang dipegangnya bisa saja meledak mengurai dan mengoyak-koyak tubuhnya, persis seperti serpihan daging korban yang berceceran dilokasi ledakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tantangan untuk memperoleh informasi dan visual dari dekat alasannya adalah “it’s not good enaugh, it’s not close enough”, tekanan untuk mendapat gambar eksklusif, hiruk-pikuk dilapangan, semakin membuat adrenalin meluap-luap, menjadikan pandangan seorang wartawan kabur (hlm 203). Dedikasi terhadap profesi, cinta kegiatan reportase, tanpa disadari menjadi pembenar untuk maju selangkah lebih dekat pada risiko yang bisa saja berakibat kematian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lontaran menggelitik, yang keluar dari mulut Budiyanto, rekan kerja Meutya:  “kalau di peluru itu tak ada nama kita, ya kita tak kan kena Mut.” Pernyataan Budiyanto itu merupakan ungkapan pasrah akan takdir. Padahal, tugas peliputan di zona merah, tak cukup berbekal keranuman psikis dan tubuh yang fit. Hal buruk, tak dapat diterka-sangka akan menghampiri kita secara tiba-tiba.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada lembaga  internasional yang menangani persoalan keamanan wartawan ketika meliput dikawasan konflik, yaitu INSI (International News Safety Institute). Aktivis dari lembaga tersebut mengungkap bahwa, modal utama jurnalis saat hendak meliput di zona konflik bukan peralatan komunikasi ataupun keamanan, melainkan knowledge, yakni pengetahuan atau pemahaman akan medan peliputan, baik wilayah maupun sosio-kultural warganya. “Knowledge is the most valuable safety material,” kata Peter Williams, wartawan CNN yang meliput huru-hara di Bradford, Inggris, tahun 2001.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan, kalau perlu bagi jurnalis sebelum pergi meliput di kawasan konflik, juga dibekali helm ataupun rompi anti peluru. Namun, lagi-lagi alasannya adalah tak cukup anggaran bagi perusahaan pers untuk membeli itu semua, atau alasan lain, jurnalis justru malah tambah ribet dan berat membawanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, jurnalis kudu paham betul kategori penyanderaan, sebab ini akan mempermudah langkah bebas dan selamat. Ada dua kategori penyanderaan, pertama, surprise attack (serangan dadakan), kedua, planned attack (penyanderaan terencana).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kasus Meutya dan Budiyanto masuk kategori pertama. Sedangkan kasus Ferry Santoro  dan alm. Ersa Siregar dari RCTI, yang disandera kelompok Gerakan Aceh Merdeka, bisa dimasukkan kategori kedua (hlm 213). Pada penyanderaan terencana, penyandera biasanya menjebak wartawan dengan iming-iming untuk mewawancarai atau mendapat peliputan eksklusif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terlebih juga, jurnalis mampu mengenali berbagai motif penyanderaan, mulai dari komoditas politik, komoditas ekonomi, balas dendam, sandera untuk jaminan keamanan bagi penyandera, hingga kemungkinan salah tangkap. Meski terkesan sepele, ketika berada dalam penyanderaan, mengenali motif adalah hal signifikan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku ini, banyak memuat potret pengalaman pahit alam-jagad jurnalistik. Berangkat dari semangat berbagi pengalaman antar rekan kerja jurnalis, buku ini layak dibaca siapapun. Semesta hikmah yang dapat kita petik dari buku ini adalah bagaimana pengalaman Meutya tak terulang kembali bagi jurnalis lainnya. Gaya penuturan buku ini yang lincah-renyah, meneguhkan ketangkasan ilmu jurnalistik Meutya di dunia leterasi. &lt;i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menyitir komentar Dian Sastrowardoyo untuk buku ini, “Mengharukan dan menyentuh...beberapa kali saya...tak kuasa menahan tangis. Tidak hanya bercerita tentang ketabahan dan ketangguhan..., memoar ini juga menyadarkan kita tentang pentingnya arti kepasrahan dan penyerahan diri kepada kuasa Tuhan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" lang="sv-SE"&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS,sans-serif;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1009294533582344733-1370839733990403082?l=indonimut.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://indonimut.blogspot.com/feeds/1370839733990403082/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1009294533582344733&amp;postID=1370839733990403082' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1009294533582344733/posts/default/1370839733990403082'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1009294533582344733/posts/default/1370839733990403082'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://indonimut.blogspot.com/2007/12/risiko-jurnalis-di-zona-peliputan.html' title='Risiko Jurnalis Meliput di Zona Merah'/><author><name>[A Qorib Hidayatullah]</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15367290909727515085</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_QWqh36EuAxs/SMw1P_rh7-I/AAAAAAAAAJo/W26QVuYW-Y4/S220/New+Image.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp0.blogger.com/_QWqh36EuAxs/R17V8875BQI/AAAAAAAAADU/D6Hnvc_VHAY/s72-c/03.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1009294533582344733.post-6925458032167004475</id><published>2007-12-12T00:05:00.000+07:00</published><updated>2008-01-13T00:43:02.930+07:00</updated><title type='text'>Pilot Project Masyarakat Sipil</title><content type='html'>&lt;a href="http://bp0.blogger.com/_QWqh36EuAxs/R4j7gUF9GrI/AAAAAAAAAGI/hKjMiFkiyQs/s1600-h/cover+sipil.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5154646306093603506" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 140px; CURSOR: hand; HEIGHT: 205px" height="320" alt="" src="http://bp0.blogger.com/_QWqh36EuAxs/R4j7gUF9GrI/AAAAAAAAAGI/hKjMiFkiyQs/s320/cover+sipil.jpg" width="177" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Judul Buku : Transnasionalisasi Masyarakat Sipil&lt;br /&gt;Penulis : Andi Widjajanto dkk&lt;br /&gt;Penerbit : LKiS Yogyakarta&lt;br /&gt;Cetakan : I, Januari 2007&lt;br /&gt;Tebal : xv + 250 hal&lt;br /&gt;Peresensi : A. Qorib Hidayatullah*&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Arus globalisasi tak dapat ditambat lagi, merangsek begitu cepat menjadi fenomena mutakhir terberi. Menjadikan dunia semakin terintegrasi, mengaburkan batas-batas negara, dan mengakibatkan arus informasi sangatlah cepat. Limit ruang, waktu, dan tempat antar negara-negara yang ada dibelahan terkecil dunia temukan pseudo-primordialismenya masing-masing. Kran informasi tersibak lebar, membawa corong domestik kepada tingkat global. Persoalan demokrasilah yang menjadi sorot interes masyarakat global, dijadikannya jamuan hidangan yang siap disantap ludes.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Atensi masyarakat global terhadap demokrasi, mewujud lewat gerakan-gerakan sosial yang dijadikan simbol solidaritas dan bentuk empati. Di Indonesia misalnya, agar tercipta negara demokratis, rakyat membikin kultur kritis guna menumbangkan rezim otoriter (orde baru). Kurang lebih dari 30 tahun Indonesia dipimpin oleh rezim otoriter Soeharto. Rakyat, lucurkan tari protes rezim Soeharto, saat Indonesia terjangkit krisis ekonomi regional yang terjadi pada dekade 90-an.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Buku ini, secara tematik dan kasuistik ditulis oleh para penulis berperdikat intelektual mumpuni berbasis Hubungan Internasional (HI) Universitas Indonesia. Mereka memiliki keyakinan, bahwa aktor demokrasi disuatu negara hingga diikuti negara lain, disebabkan keterikatan sosial semakin dekat. Dan lemahnya diplomasi dunia ketiga, hingga penggalangan kekuatan sipil terpecah-belah dengan ideologinya masing-masing menyebabkan keakutan problem demokrasi. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Demokrasi adalah sebuah kondisi dimana rakyat memiliki kesempatan secara aktif untuk menentukan nasibnya sendiri dengan mekanisme kompromi dari hak-hak inidividu yang mereka miliki. Proses transisi demokrasi demi kelancarannya, mencari faktor pendukung kuat yang dapat meminimalisir titik-titik rawan, yaitu dengan menghadirkan masyarakat sipil. Masyarakat sipil disini menjadi pilar utama yang membantu kelancaran transisi demokrasi.&lt;br /&gt;Masyarakat sipil pun memiliki beragam definisi tergantung dari kerangka teoritik, waktu, dan ideologi politik yang dipergunakan. Pemikiran kontemporer menempatkan masyarakat sipil dalam sektor nonprofit. Beda halnya dengan Gramsci, masyarakat sipil sebagai perwujudan hegemoni kelas penguasa yang berhasil mendominasi beragam aspek kehidupan masyarakat. Kehadiran masyarakat sipil lebih dilihat sebagai indikasi adanya krisis legitimasi penguasa (hlm 167). &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Garis jelas dan titik terang dari masyarakat sipil bukanlah institusi yang berorientasi pada kekuasaan dan bertujuan untuk maksimalisasi kapital. Ragam gerak masyarakat sipil tersebut tampak antara lain dari cara organisasinya saat berhadapan dengan pemerintah dan dunia internasional. Kelompok ini lahir dari rahim kesadaran untuk memperjuangkan nilai-nilai universal manusia yang tidak melihat pada perbedaan bangsa, status sosial, ekonomi, ideologi, agama dan identitas primordial lainnya. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Misalkan, lahirnya gerakan Greenpeace. Sebagai kelompok masyarakat sipil, gerakan Greenpeace mengusung isu-isu protektifitas ekologis. Yaitu, dengan melakukan perjuangan untuk menjaga kelestarian lingkungan dan masa depan alam. Gerakan ini melukiskan, bahwa apa yang dilakukannya merupakan benih-benih kesadaran universal tentang bahaya ekploitasi alam. Mengingat saat ini, kondisi kealaman kita sangatlah memprihatinkan hingga perlu refleksi-refleksi diri atas perilaku yang berkaitan dengan kealaman. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Gerak lain dari masyarakat sipil, erat-kaitannya dengan proses perdamaian tampak dari pilihan netralitas organisasi dalam membendung sebuah konflik. Melihat jumlah organisasi ini pun, yang bekerja sebagai juru damai terus mengalami peningkatan. Lebih 1500 organisasi masyarakat sipil yang terdaftar sebagai mitra kerja PBB (hlm 182). Peningkatan angka itu, tentunya menggambarkan organisasi ini yang memiliki misi dan tugas Internasional. Belum lagi, ditambah dengan jumlah organisasi masyarakat sipil ditingkat pada tataran lokal. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Di Indonesia, masyarakat sipil dipastikan mampu berkontribusi riil bagi proses resolusi konflik. Akan tetapi, dengan persyaratan mampu menawarkan empat tawaran integratif tentang proses transisional yang sedang dialami Indonesia. Tawaran tersebut meliputi proses pembangunan negara-bangsa, demokratisasi, perdamaian, dan pembangunan (hlm 192). Kerja berat masyarakat sipil di Indonesia akan muncul, ketika mengguritanya kekerasaan struktural yang dieksploitasi menjadi suatu kekerasan politik. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Berpijak pada salah satu cara yang ditawarkan Galtung, mengenai kekerasan struktural (structural violence) hingga mendapatkan legitimasi negara, yaitu melalui perubahan struktural (hlm 195). Perubahan struktural, bisa dimulai jika potensi kekerasan struktural yang ada disuatu sistem bisa diidentifikasi. Dengan demikian, dapat dirancang solusi-solusi yang mungkin diterapkan untuk menghilangkannya. Proses merancang solusi-solusi, akan memaksa negara secara kolektif mengeksplorasi sengketa dan menempatkan instrumen perang sebagai alternatif terakhir.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Gerak seru masyarakat sipil dalam buku ini, membuka cakrawala pemahaman akan ketunggalan gerakan masyarakat sipil yang kita tahu sekarang. Seperti Catholic Relief Services, CARE, dan Save the Children yang fokus kegiatannya mengenai bantuan kemanusiaan dan mempunyai maksud untuk mengentaskan derita masyarakat. Dan juga lembaga inipun, cenderung menerapkan strategi netralitas yang ketat, yaitu menetapkan peran mereka sebagai penyedia bantuan kemanusiaan bagi semua pihak tanpa memandang afiliasi politik, ideologi, agama, dan etnik dari suatu kelompok.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Era globalisasi kini membikin mudah masyarakat sipil membentuk jaringan kerja (network) dan agenda mulia bersama. Sehingga terbentuklah apa yang disebut sebagai kelompok global (global civil society). Menguatnya gerakan kelompok ini, lebih terlihat pada tahun 1999. Yakni, dengan melakukan protes terhadap perdagangan bebas dan menjadi pilar utama globalisasi.&lt;br /&gt;Lewat transnasionalisasi masyarakat sipil, memberi angin bersua harapan munculnya sebuah kekuatan baru yang dapat menghalau tindakan represif sebuah negara serta perdagangan bebas. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1009294533582344733-6925458032167004475?l=indonimut.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://indonimut.blogspot.com/feeds/6925458032167004475/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1009294533582344733&amp;postID=6925458032167004475' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1009294533582344733/posts/default/6925458032167004475'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1009294533582344733/posts/default/6925458032167004475'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://indonimut.blogspot.com/2007/12/parodi-budaya.html' title='Pilot Project Masyarakat Sipil'/><author><name>[A Qorib Hidayatullah]</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15367290909727515085</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_QWqh36EuAxs/SMw1P_rh7-I/AAAAAAAAAJo/W26QVuYW-Y4/S220/New+Image.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp0.blogger.com/_QWqh36EuAxs/R4j7gUF9GrI/AAAAAAAAAGI/hKjMiFkiyQs/s72-c/cover+sipil.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1009294533582344733.post-7717086356720397556</id><published>2007-12-11T23:49:00.000+07:00</published><updated>2007-12-16T08:51:25.015+07:00</updated><title type='text'>Galeri Makna [berselancar di dunia logo]</title><content type='html'>&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;&gt;&gt;A. Qorib Hidayatullah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp2.blogger.com/_QWqh36EuAxs/R2SDx0F9GgI/AAAAAAAAAEs/z2QiSNZh_WM/s1600-h/Punk.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 285px; height: 212px;" src="http://bp2.blogger.com/_QWqh36EuAxs/R2SDx0F9GgI/AAAAAAAAAEs/z2QiSNZh_WM/s320/Punk.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5144381566184397314" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-family: trebuchet ms;"&gt;Tafsir Ideologis Punk&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS, sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;Tiap dayaguna gaya hidup memiliki sistem resistensi masing-masing. Gerak perlawanan dibuktikan lewat simbol yang mereka pakai. Hasutan dan cemo’ohan menjadi bahasa gugat atas lingkungan beda dari mereka. Lazim, bila mereka terus berpangku pada adventus tanpa jeda, guna tunjukkan survival-eksis makna perlawanan. Mudah-mudahan simbol yang mereka pakai tak bergeser tafsir, tetap representasi dari perlawanannya. &lt;/span&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm;"&gt; &lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp3.blogger.com/_QWqh36EuAxs/R17Ars75BMI/AAAAAAAAAC0/GfLVOscKRJQ/s1600-h/design+baru+%28253%29.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 140px; height: 210px;" src="http://bp3.blogger.com/_QWqh36EuAxs/R17Ars75BMI/AAAAAAAAAC0/GfLVOscKRJQ/s200/design+baru+%28253%29.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5142759681532953794" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm;"&gt;&lt;span style=";font-family:Trebuchet MS,sans-serif;font-size:100%;"  &gt;&lt;b&gt;Konsepsi Absurd &lt;/b&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt;    &lt;p style="margin-bottom: 0cm;"&gt;&lt;span style=";font-family:Trebuchet MS,sans-serif;font-size:100%;"  &gt;Hidup memang tak bisa banyak menuntut. Sementara sikap menerima terus-menerus, terkadang menyeret kita pada jurang kesenjangan tanpa ujung. Seakan kebijakan negara memiliki bayang-bayang wajah bikinan yang tak mungkin berpihak pada kaum sekarat. Kini, hanya kekuatan pancaran tangan menengadah-mengemis, berharap perihal absurditas.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp3.blogger.com/_QWqh36EuAxs/R17Bas75BOI/AAAAAAAAADE/SHG9Wjj7YF4/s1600-h/Contortionist.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 235px; height: 188px;" src="http://bp3.blogger.com/_QWqh36EuAxs/R17Bas75BOI/AAAAAAAAADE/SHG9Wjj7YF4/s200/Contortionist.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5142760488986805474" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm;"&gt; &lt;/p&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm;"&gt;&lt;span style=";font-family:Trebuchet MS,sans-serif;font-size:100%;"  &gt;&lt;b&gt;Menembus Eksotika Tubuh&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;"&gt;&lt;span style=";font-family:Trebuchet MS,sans-serif;font-size:100%;"  &gt;Kelembutan, kecantikan, kegemulaian tubuh wanita hanyalah ilusif. Beragam makna melekat pada tubuh wanita, tak bisa dijadikan simbol kelemahan dan keterbelakangannya. Bukan perihal kodrati dari Tuhan, bilamana wanita berpredikat bodoh dan terbelakang. Hanyalah konstruksi sosial patrialkal, yang menambat kencangnya arus bebas (akses zona publik) dari wanita. Kekuatan wanita bukan saat dia merunduk malu, namun, bagaimana ia mampu mengapresiasi sejajar dengan laki-laki diwilayah publik.         &lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;"&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1009294533582344733-7717086356720397556?l=indonimut.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://indonimut.blogspot.com/feeds/7717086356720397556/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1009294533582344733&amp;postID=7717086356720397556' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1009294533582344733/posts/default/7717086356720397556'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1009294533582344733/posts/default/7717086356720397556'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://indonimut.blogspot.com/2007/12/galeri-makna-berselancar-di-dunia-logo.html' title='Galeri Makna [berselancar di dunia logo]'/><author><name>[A Qorib Hidayatullah]</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15367290909727515085</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_QWqh36EuAxs/SMw1P_rh7-I/AAAAAAAAAJo/W26QVuYW-Y4/S220/New+Image.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp2.blogger.com/_QWqh36EuAxs/R2SDx0F9GgI/AAAAAAAAAEs/z2QiSNZh_WM/s72-c/Punk.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1009294533582344733.post-2963342436888951338</id><published>2007-12-02T20:15:00.001+07:00</published><updated>2007-12-02T20:23:47.918+07:00</updated><title type='text'>HMI dan  Übermensch Kebudayaan</title><content type='html'>&lt;p style="margin-bottom: 0cm; text-align: left;"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana,sans-serif;font-size:100%;"&gt;&gt;&gt;A. Qorib Hidayatullah&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; text-align: left;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana,sans-serif;font-size:100%;"&gt;Aus!!! Term hantu yang ditakuti banyak orang. Peristiwa punyusutannya, akibat gesekan dengan benda-benda lain, ia tak banyak digemari, apalagi dijadikan istilah pemakaian, kecuali pada penggambaran kondisi yang benar-benar lumpuh tak berdaya (kecingkrangan), yang penuh pesimisme. Adakah peluang harap/ekspektasi??? Minimal hembusan angin segar yang mengipasi bara semangat agar bangkit berbalik, penuh optimisme???. Falsafah Semangka. Kendati di luar tampak hijau didalam tetap merah menyala. Lambang penuh optimisme penuh harap. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana,sans-serif;font-size:100%;"&gt;Jawaban pertanyaan diatas, “tergantung keberanian.” Berani banting setir atas kebiasaan buruk sehari-hari, berani melepas tradisi perilaku pasif, hingga berani tanggalkan zona nyaman yang tak memiliki kontribusi apapun. Harga sikap berani sangat mahal sekali, garansinya adalah bagaimana ia mampu menaklukkan dan mengontrol pergeseran nasib idealisme. Implikasinya, mereka tak gampang bertekuk lutut-sujud dihadapan dewa pragmatisme. Bermodalkan tangan kosong, mereka tunggu kiriman eksotika proyek. Tragis dan mengenaskan!!!&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana,sans-serif;font-size:100%;"&gt;Ada pilihan amalan dari sari karya Danah Zohar &amp;amp; Ian Marshal, &lt;i&gt;Spiritual Capital&lt;/i&gt; (2005), tentang kemendesakan &lt;i&gt;tabuh nyilih&lt;/i&gt; sikap transformatif. Kesadaran diri, spontanitas, terbimbing visi dan nilai, berjiwa holistik, kepedulian, menghormati keragaman, independen terhadap lingkungan, berpikir mendasar, pembingkaian ulang, mengambil manfaat dari kemalangan, kerendahan hati, dan ketergugahan/keterpanggilan. Kesemuanya, diharap menjadi pendulang karakter tunggal bertaring tajam, yang siap menghipnotis dan memengaruhi pada karakter orang lain.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana,sans-serif;font-size:100%;"&gt;Menyitir ungkapan arif-bijak, “hidup adalah pilihan.” Pilihan dalam hidup butuh proses. Proses dalam hidup butuh keranuman dan bernas menggelutinya. Pola ketergantungan dalam hidup menafikkan suatu proses, yang berujung perihal serba instan tanpa ikhtiar manusia. Hal niscaya dalam hidup, ketika mereka merdeka secara individual.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana,sans-serif;font-size:100%;"&gt;Nietzsche, memiliki tesis suci dalam menyikapi hal itu, yaitu lewat übermensch (adi/kuasa manusia). Ia mengidamkan terlahirnya varietas/roh unggul pada tiap-tiap jiwa manusia. Nantinya, übermensch diharap mampu menaklukkan segala rintangan, permasalahan, serta resiko hidup sebesar apapun (jasagen).    &lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana,sans-serif;font-size:100%;"&gt;Sidi Gasalba, menggubah beragam teori definisi budaya. Tapi, ia menyarikan secara padat, bahwa budaya, ialah hasil rasa, karsa, pikir, dan karya manusia. Ketika übermensch disandingkan dengan kebudayaan, maka terciptalah budaya yang berani berkata “ya” pada hidup (jasagen). Übermensch kebudayaan, mampu membikin nyata hal yang mustahil sekalipun. Harapan yang terbersit di imajinasi, bahwa mereka sekarang ingin mengubah dirinya, maka übermenschen hal itu mewujud.    &lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana,sans-serif;font-size:100%;"&gt;Disamping itu, übermensch kebudayaan merupakan konstruksi mental bagi mereka untuk menularkan genius keprigelan agar tercipta suasana aktif (tak tergantung pada orang lain/proyek) dengan bersikeras hendak mengubah tragika nasib menjadi rahmat. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify"&gt;    &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana,sans-serif;font-size:100%;"&gt;Rhenald Kasali, &lt;i&gt;Re Code: Change Your DNA &lt;/i&gt;(2007), mewarisi khasanah untuk meng-adi-kan manusia (übermensch): mengubah pola pikir dan perilaku lebih terbuka terhadap pengalaman baru, penuh dedikasi, asah kecerdasan srawung, setia pada kesepakatan (komitmen organisatoris), serta tahan uji hadapi segala bentuk tekanan. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana,sans-serif;font-size:100%;"&gt;Terakhir, pembiaran atas suasana yang tak baik, merupakan wujud dosa sosial. Dengan begitu, Tuhan tak lagi sungkan menghukum, sebagai konsekuensi logis atas sifat ke-Maha-anNya. Anjuran bagi hamba untuk saling sahut-menyahut, tegur-menegur antar sesama, adalah keacuhan (baca: wujud peduli, hirau) Tuhan agar hamba saling berbenah dan memperbaiki dirinya masing-masing. Manusia berpikir, Tuhan pun tertawa. Hahaha…[]&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1009294533582344733-2963342436888951338?l=indonimut.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://indonimut.blogspot.com/feeds/2963342436888951338/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1009294533582344733&amp;postID=2963342436888951338' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1009294533582344733/posts/default/2963342436888951338'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1009294533582344733/posts/default/2963342436888951338'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://indonimut.blogspot.com/2007/12/hmi-dan-bermensch-kebudayaan_02.html' title='HMI dan  Übermensch Kebudayaan'/><author><name>[A Qorib Hidayatullah]</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15367290909727515085</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_QWqh36EuAxs/SMw1P_rh7-I/AAAAAAAAAJo/W26QVuYW-Y4/S220/New+Image.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1009294533582344733.post-8357132817348582961</id><published>2007-11-30T00:46:00.000+07:00</published><updated>2007-11-30T00:50:53.199+07:00</updated><title type='text'>Surga Bumi Terakhir Terlahir Kembali</title><content type='html'>&lt;span style="font-style: italic;"&gt;pojok catatan untuk sanggar &amp;amp; komunitas baca Poestaka Rakjat Malang&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&gt;&gt;A. Qorib Hidayatullah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Gubahan naluriah manusia tak tertambat yang suka berkelompok (zoon politicon), kerap menghantarkan ia pada aktivitas yang bisa membidani agar letupan hasrat kecilnya terpenuhi. Kata kelompok disini perlu dikasih tanda petik (“”), menjadi “kelompok”, sebab beban makna tamsil yang diusung sangatlah berat dan hampir enyah dilakukan keumuman orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dilacak dari kajian subkulturnya, tak dinafi’kan, garapan proyek keberanjakan alam tradisionalisme menuju modernitas terbilang berhasil menanam benih-benih ego menjadi ego individualis-subjektif. Dan subkutur itupun menjadi wilayah pergeseran makna akan kebersaman dan mengubur filosofi “duduk bareng” diatas latar belakang diri yang berbeda-beda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, disinilah makna kata “kelompok” teruji. Disamping sebuah kata kudu memiliki ruang target kritis dan didudukkan secara diskursif, tak lupa pula soal arti kekuatan kata dibalik makna, yaitu kata “kelompok” dijadikan kata kerja, menjadi “berkelompok”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata kerja “berkelompok” pun, perlu kiranya disisipkan  tanda petik (“”), karena suatu kata kerja bisa saja bebas nilai (mengundang beragam interpretasi), tergantung pada siapa subjek yang melakukan. Nalar logikanya begini, akan muncul pertanyaan: “Apa yang sedang dilakukan oleh orang saat berkelompok?”. Mesti dapat ditebak jawabannya akan bermacam-macam, tergantung siapa orang memaknai, dan memiliki motif apa ia memaknai kata kerja dari “berkelompok” tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saking beranekanya pemahaman yang muncul dari kata kerja “berkelompok”, maka diperlukan tafsir atasnya. “Berkelompok” disini, bisa saja orang berkelompok bebas berbuat apapun. Bisa saja, ia berkelompok guna mempresentasikan ideologinya masing-masing lewat nongkrong dan ngopi di cafe atau warung, dan bisa juga berkelompok memperkokoh daya perlawanannya, dll.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata kerja “berkelompok” yang saya maksud disini adalah sekian orang (baca: komunitas) yang tapaki aktivitas dijalan sunyi, lengang, senyap, dan getir diruang kebersamaan yang tiada hijab apapun. Sebab, alam sekat dan batas oleh kelompok kami dianggap sebagai suatu keterbatasan, yang pada akhirnya membawa pada keterkungkungan pengetahuan. Dengan begitu, saya memberikan tanda petik diantara kata kerja berkelompok yang dimaksud.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari ulasan diatas, telah jelas bahwa komunitas/berkelompok kami berarus lain dibanding kelompok bikinan orang lain. Ruh tunggal kelompok kami adalah ruh kegelapan yang hanya ada satu pijaran cahaya lilin. Amanah kami, bagaimana tetap bisa menjaga cahaya lilin terus-menerus menyala meski pertaruhannya kena bakar sekalipun. Hal ini urusan komitmen dan tekad kami!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Nikmatnya serasa disurga&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Kami menganggap kelompok kami sebagai surga bumi terakhir yang terlahir kembali. Namun berbeda sekali dengan surga yang diiming-imingi Tuhan kelak diakhirat, surga kami tanpa hiasan bidadari cantik gemulai, tapi aksesorisnya melebihi itu semua. Letak bedanya, surga kami, diseluruh sudut ruangan malah dipenuhi teks-teks bacaan berupa buku-buku. Surga kami, berbentuk surga sejarah, surga ekonomi, surga sosial budaya, surga politik, hingga surga sastra serta surga filsafat. Cara menikmatinya, kelompok kami selalu mengkaji, membedah, dan menganalisis beragam surga buku dengan tema berbeda-beda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, anggur gnosis kami reguk, ekstase puncak dahsyat kami capai, dan ereksi dini pun tersalurkan. Hal ini, tak lepas dari keimanan kami yang mengimani bahwa surga dunia hanya ada pada surga buku dengan beragam corak-warna tema berbeda seperti tertera diatas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah, kegiatan kelompok kami, eksotika surga yang bergelut setia dibidang buku dan literasi. Prinsip kelompok kami cukup satu komitmen, yaitu berani berkata “ya” pada surga kami, dengan tidak bertekuk lutut pada nasib kebodohan dan keterbatasan pengetahuan. Meski hamparan nasib diruas jalan sunyi, lengang, getir, dan letih adalah pilihan mutlak, kendatipun harus kami jalani sepenuh hati. Kata terakhir pada surga kami, “mengakhiri segala-galanya bila perlu, namun bagaimana kelezatan buku bergizi yang tak tertandingi, serasa disurga saja…”.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1009294533582344733-8357132817348582961?l=indonimut.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://indonimut.blogspot.com/feeds/8357132817348582961/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1009294533582344733&amp;postID=8357132817348582961' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1009294533582344733/posts/default/8357132817348582961'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1009294533582344733/posts/default/8357132817348582961'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://indonimut.blogspot.com/2007/11/surga-bumi-terakhir-terlahir-kembali.html' title='Surga Bumi Terakhir Terlahir Kembali'/><author><name>[A Qorib Hidayatullah]</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15367290909727515085</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_QWqh36EuAxs/SMw1P_rh7-I/AAAAAAAAAJo/W26QVuYW-Y4/S220/New+Image.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1009294533582344733.post-980829828305358088</id><published>2007-11-18T05:52:00.000+07:00</published><updated>2007-11-18T05:57:47.653+07:00</updated><title type='text'>Malcolm X dan Übermensch Kulit Hitam</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp2.blogger.com/_QWqh36EuAxs/Rz9xqco8FnI/AAAAAAAAACs/rni8HXfadec/s1600-h/malcolm.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 132px; height: 179px;" src="http://bp2.blogger.com/_QWqh36EuAxs/Rz9xqco8FnI/AAAAAAAAACs/rni8HXfadec/s200/malcolm.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5133947074282002034" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Judul Buku    :    Malcolm X Untuk Pemula&lt;br /&gt;Penulis    :    Bernard Aquina Doctor&lt;br /&gt;Penerbit    :    Resist Book&lt;br /&gt;Cetakan    :    I, Mei 2006&lt;br /&gt;Tebal    :    xi + 186 hlm&lt;br /&gt;Peresensi    :    A. Qorib Hidayatullah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap manusia, dapat dipastikan berprakarsa sama, yaitu ingin mengangkat harkat dan martabat rasnya masing-masing. Abraham Maslow dalam teori kebutuhan dasar pokok manusia, mentesiskan bahwa manusia mengantongi rasa ingin dihargai oleh orang lain.Tentu, perjuangan membutuhkan ikhtiar gigih, anti letih, tahan getir, dengan mengasah kecerdasan srawung. Dalam hal ini, Malcolm X  meyakini kecerdasan itu hanya bisa didapat lewat lama-lama membaca buku, dan aktif bergiat diorganisasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perjuangan yang terus-menerus diasah hingga lancip pasti temukan ketajamannya sendiri. Ibarat pisau daging, apabila terus dipertajam akan mempermudah dalam pengirisannya. Begitu juga tentang kisah Malcolm X, yang telah mencicipi manis asamnya pergulatan hidup, hanya demi “pengakuan” atas ras dan keadilan hak-hak sipilnya. Sehingga, inilah nantinya yang menjadi tema sentral gagasan revolusionernya, hingga menghantarkan namanya dikenang dalam sejarah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syahdan, Malcolm X kecil sudah diwarisi benih sikap berani oleh sang ayah, yaitu Earl yang mati dibunuh. Ibarat aforisma kearifan popular: “Buah kelapa jatuh tak jauh dari pohonnya”, ini juga berlaku pada Malcolm X, ia juga mati kerena dibunuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malcolm X merupakan putra ketujuh dari pasangan Earl dengan Louise. Ia lahir pada bulan 19 Mei 1925 di Omaha, Nebraska. Dari sisi fisik, Malcolm X memiliki tampang yang tidak umum, karena ia berdarah campuran. Kakeknya dari pihak ibu berdarah Skotlandia, yang memberi Malcolm X kulit terang, rambut berwarna pirang-pasir, dan matanya mempunyai warna campuran tak biasa antara coklat, biru, dan hijau tergantung kondisi cahaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak kecil, Malcolm X telah menerima pelajaran-pelajaran hidup sederhana bahkan sengsara. Keluarganya yang miskin, kerap kali membuat ia kelaparan, karena tak cukup makanan untuk dimakan. Meski demikian, ia tak pernah mengeluh sedikit pun, sebab yang dianggapnya sebagai pelajaran penting kelak ketika ia dipertemukan oleh sang ayah dengan pemimpin karismatik, Marcus Garvey.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Dalam buku Malcolm X untuk pemula, karya teks ilustratif Bernard Aquina, Malcolm X digambarkan sebagai pemuda yang nekat dalam mengambil keputusan apa yang dapat dijadikan acuan hidupnya saat itu. Terbukti, ia membikin geng dengan kawan-kawannya guna melakukan perlawanan kecilnya.&lt;br /&gt;Tapi paling menarik dari kisah Malcolm X adalah hidupnya yang tak menentu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seiring ranumnya karakter, ia terus bergolak dinamis agar pencapaian utuh berpengharapan dapat teraih. Misalnya, ia menyempatkan diri untuk menjadi selebritas dilingkungan kulit hitam, padahal “profesi”  barunya ini sangat bertentangan dengan dunia yang ditapaki sebelumnya. Yaitu, dunia hitam-getir, penuh keterhimpitan, berpenampilan awat-awutan (gembel), serta berbau tak sedap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, berkat perkenalannya dengan Marcus Garvey, pendiri United Negro Improvement Association (Asosiasi Perbaikan Negro Bersatu) atau UNIA, adalah awal karir revolusinya untuk tunjukkan taring tajam kekritisannya guna mengkritik ketimpangan sistemik oleh kulit putih Amerika kepada kulit hitam Afro-Amerika.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semangat awal lahirnya organisasi UNIA, adalah untuk membangun masyarakat yang secara ekonomi yang tak lagi tergantung pada kulit putih Amerika, dengan cara membangun properti, industri, jasa-jasa, serta perdagangan. Perlawanan tanpa diawali intrik politik, seakan terkesan menabuh tong kosong nyaring bunyinya, sebab tiada isi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karir organisasi Malcolm X, dapat dibilang sering gonta-ganti, dengan melesat pindah dari organisasi yang satu ke organisasi lainnya yang dirasa lebih andal dalam mem-back up sepak terjangnya. Cukup lama berada di UNIA, ia beralih ke organisasi keislaman, yaitu NOI (Nation of Islam) dibawah kepemimpinan Elijah Muhammad.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malcolm X saat itu, sangat ta’at patuh atas titah-perintah yang diberikan oleh Elijah Muhammad kepadanya. Secara otomatis, melihat keseriusan Malcolm X dalam turut berda’wah melawan penindasan, Elijah tak sampai hati. Kemudian, ia angkat Malcolm X sebagai kawan kepercayaannya, dengan mengutusnya ke tempat-tempat yang dirasa perlu di advokasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu jalinan memang tak melulu mulus, tanpa putusnya estafet rantai perkawanan. Jalinan perkawanan Elijah dengan Malcolm X, akhirnya putus juga karena beberapa alasan. Elijah yang berstatus pimpinan NOI, melakukan skandal, yaitu menghamili perempuan-perempuan hingga punya anak. Bentuk konsekuensi tindak skandalnya, Elijah lalu dijebloskan kepenjara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Guna upaya pembebasannya, Malcolm X sebagai kawan karib turut membantu Elijah agar tak jadi didepak ke sel tahanan. Seribu cara pun dilakukan oleh Malcolm X, tapi upaya itu berakhir dengan sia-sia, karena Elijah memang nyata-nyata terbukti bersalah . Ia telah malanggar garis moral yang dibikinnya sendiri secara ketat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perpisahannya dengan Elijah, Malcolm X mengepakkan sayap ekspansi ke negara-negara Islam lainnya, yaitu Saudi Arabia. Selain itu juga, ia pun berhaji ke Makkah dan  memperluas link dengan tokoh-tokoh Islam terkenal. Disinilah ekstase keimanan Malcolm X terlihat bernas, ia semakin arif berkonsepsi dalam hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, Malcolm X kembali lagi ke Afro-Amerika. Sekembalinya, gagasannya semakin cemerlang, sehingga ia disebut sebagai nabi kebanggga kaum kulit hitam. Bahkan, ia tak ragu-ragu lagi menyatakan bahwa perlakuan kulit putih Amerika atas kulit hitam (Afro-Amerika) merupakan pengebirian atas hak sipil masyarakat. Usaha untuk menambat estafet penindasan tersebut, Malcolm X “mengemis” keadilan ke PBB, dan melakukan gerakan masif bersama antar kaum hitam. Inilah yang nantinya disebut dengan “kuasa kulit hitam.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membaca buku seri pengantar kajian tokoh Malcolm X ini, beragam raupan pesan perjuangan aktivasi demi pengakuan ras. Resiko yang akrab dengan istilah perjuangan atau revolusi, taruhannya adalah nyawa. Dan lagi buku ini, lewat imbuhan ilustrasi demi mempermudah pemahaman atas bacaan teks-teks isi, menjadi tarik tersendiri bagi pembaca. Terakhir, karena buku ini adalah buku kajian tokoh untuk pemula, sangat baik bila pembaca tak berhenti hanya dengan membaca buku ini. Selamat membaca!     &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-foote
